ORION

ORION
Datang Ke Markas Kelompok Chameleon



Ketua Radhika datang untuk menghentikan perginya Orion bersama orang asing. Ketua Radhika sangat antusias, namun dirinya tidak bisa mendekat ketika angin berembus lebih kencang.


Hawa di sekitaran sini sangat dingin. Dini hari dengan setengah bulan yang masih nampak, tanpa bintang membuat suasana menjadi suram.


“Bagaimana rencanamu? Betulan tidak ingin mundur?” Si pemain kecapi itu kembali bertanya, ia hendak memastikan tujuan Orion.


“Aku tidak mau mundur ketika sudah setengah jalan begini,” tutur Orion.


“Baiklah kalau begitu. Padahal aku menunggu juga tidak masalah.”


Jari jemarinya sudah berada di atas senar kecapi. Ia memainkannya dengan santai namun begitu menyentuh tempo sedikit meninggi, hempasan angin kembali mereka rasakan.


Terutama untuk Ketua Radhika yang terkena dampak yang jauh lebih besar. Suara yang dihasilkan dari petikan kecapi tersebut kian membesar dan membuat semua besi-besi yang saling menempel jadi hancur menjadi serpihan.


“Ukh, siapa orang di samping anak itu?”


Ketua Radhika bertanya-tanya. Sempat ia melangkahkan kaki tuk semakin mendekat namun tetap saja sulit, kedua kakinya terus terseret mundur sedikit demi sedikit.


Pandangannya juga terhalang, angin yang menerpa dirinya membuat ia harus menyilangkan kedua lengan ke depan wajah. Ia sangat berusaha keras untuk menghampiri mereka.


“Ayo pergi sebelum dia mengetahuinya lebih lanjut.”


Ketika angin dan suara yang sangat keras itu perlahan berhenti. Sontak terkejut, begitu ia membuka mata lebar-lebar. Ketua Radhika sama sekali tidak melihat keberadaan baik Orion maupun salah seorang yang menemaninya.


***


Gedung dengan dinding yang tinggi dan luas. Bahkan gerbang masuknya saja sudah sangat besar. Mereka berdua masuk ke dalam namun tiada seorang pun atau barang yang terlihat di sana.


“Di sini sangat sepi.”


“Lihatlah ke celah di sekitarmu. Di sana kau akan menemukan hal menjijikan itu.”


Orion penasaran dengan yang barusan dibicarakan olehnya. Sehingga ia pun mencari celah di sekitar terutama bagian dinding yang tidak terlihat seperti dinding sungguhan.


“Apa saja yang sebenarnya dia lakukan di sini?”


Sekilas Orion merasa tak percaya bahwa apa yang dilihatnya adalah kenyataan. Di balik dinding yang ia intip, terdapat banyak orang yang dikurung. Itu membuatnya terlihat seperti hewan peliharaan.


Rantai di pergelangan tangan, kaki lalu leher mereka pun terlihat sangat menyakitkan. Mereka meronta-ronta dan bahkan ada yang berteriak, menangis serta memohon untuk dilepaskan. Namun juga ada yang pasrah.


“Suaranya terhalang dinding, makanya aku jadi tidak tahu.”


Melihatnya sama sudah membuat Orion geram. Sampai-sampai ia menggaruk dinding hingga membekas jejaknya. Kesal namun sebisa mungkin ia harus menahan diri sebelum bertemu dengan Chameleon.


Tap, tap!


Langkah mereka terdengar nyaring, mendengung sesaat. Tanda tak ada seorang pun di ruangan tersebut. Di bagian ujung ruangan terdapat sebuah pintu yang menuju ke atas. Menyerupai lift.


“Kita akan ke atas, karena biasanya dia ada di ruangannya sendiri. Dan jangan terlalu kaget dengan apa yang kau lihat nanti.”


Hanya berselang waktu beberapa detik saja, mereka sampai ke lantai atas. Pintu terbuka dan warna yang memenuhi lorong bukanlah warna yang gelap, hitam ataupun abu-abu melainkan warna krem cerah.


Orion tetap saja terkejut karena perubahan antara lantai bawah dengan lantai di atasnya. Banyak ruangan dengan pintu coklat dan ada sebaris tulisan berupa nama. Seperti ruangan kamar pribadi.


“Bagaimana aku tidak akan terkejut kalau begini ceritanya. Sebenarnya apa yang dia rencanakan dengan membuat setiap lantai mempunyai kesan yang berbeda,” ujar Orion sembari melihat ke sekelilingnya.


“Aku tidak tahu alasannya.”


Menghabiskan banyak waktu hanya untuk berjalan di lorong yang luas dan panjang. Mereka tengah menuju ke ruangan, yang di mana Chameleon selalu berada di sana setiap waktu jika tidak ada hal yang ia kerjakan.


Setelah setengah jalan menuju ruangan tersebut. Seseorang melewati dirinya dari arah depan. Seorang pria dengan tubuh kekar, sekilas ia pikir itu adalah Mahanta namun ternyata bukan.


Dari pakaiannya yang berkerah hitam namun kemejanya berwarna putih. Terlihat di salah satu telinga terdapat alat bantu dengar. Orion tidak hanya memperhatikan apa yang ia perhatikan terhadap pria asing tersebut.


Namun, entah mengapa ia merasa merinding ketika pria itu berjalan melewatinya. Hawa yang mencekam seolah Orion mendekati kematian sekali lagi, ada rasa ketika ia tengah terluka. Napasnya menjadi sesak.


“Sudah sampai.” Si pemain kecapi itu berbisik pada Orion. Seketika ia tersadar dalam lamunannya.


“Iya.”


Dan baru saja, ia masuk ke ruangan. Hawa yang luar biasa lebih menekan dari pria sebelumnya pun dapat Orion rasakan. Bahwa tekanan yang seakan-akan membunuh ini hanya ditujukan pada Orion seorang.


“Akhirnya kau datang. Bahkan sebelum dua hari terlewat, ya.”


Chameleon menggunakan identitas lainnya lagi. Ia berpakaian serba rapi bak direktur dalam perusahaan. Sama sekali Orion tidak bisa mengenalinya jika auranya tidak dikeluarkan seperti ini.


“Pantas saja aku sama sekali tidak menyadari bahwa Mahanta yang saat itu adalah dia. Ck, benar-benar orang yang merepotkan,” batin Orion menggerutu.


Kedua tangannya mengepal kuat. Namun tatapannya sangat datar, ia sedang kesal namun pandai menyembunyikan mimik wajah. Terutama ketika ia sedang mengingat apa saja yang telah dilakukan Chamaleon saat ini, tentu Orion takkan mudah mengendalikan emosinya.


“Chameleon, bisakah kau katakan apa maumu?” tanya Orion.


“Seperti yang aku katakan sebelumnya. Bergabunglah denganku,” ujar Chameleon sembari mengulurkan tangan.


“Kau bukanlah menginginkan diriku melainkan kekuatan Api Abadi-ku. Lantas apa yang akan aku dapat dan apa yang harus kulakukan selama bergabung denganmu?”


“Hehe, seperti biasa kau selalu bisa menebak pikiranku dalam sekali pandang. Dan apa yang akan kau lakukan, cukup bertarunglah denganku maka kau akan mendapatkan apa yang kau mau,” ujar Chameleon dengan sedikit tertawa.


“Oh, ya?”


“Iya, aku jamin. Harta, wanita, kehidupan santai atau lainnya? Aku akan kabulkan semuanya,” tutur Chameleon.


Chameleon hanya memperhatikan Orion seorang. Bahkan keberadaan si pemain kecapi saja tidak ditanggapi bahkan melihat saja tidak. Sesuai dugaan Orion sebelumnya.


“Ternyata kau sama sekali tidak ragu dengan perkataanmu itu,” ucap Orion.


Lantas ia memejamkan mata sebentar. Sesaat ia merasakan angin melewati tubuhnya. Setelah itu, percikan api muncul. Perlahan berubah menjadi api yang berkobar tenang mengelilingi tubuh Orion.


“Sekali lihat saja aku tahu. Bahwa kau sama sekali tidak berniat untuk menghentikan tindakan hinamu itu.”


Orion membuka mata, sorot mata yang tajam tertuju pada Chameleon. Api berkobar di kedua lengannya, berwarna kemerahan dan kemudian memadat, membentuk bilah pedang yang panjang.


“Sia-sia aku melakukan perjalanan jauh kemari. Chameleon,” tukas Orion.