ORION

ORION
Mirana, Mengutuk



“Dasar orang-orang bodoh. Kalian tidak tahu keberadaanku dan mau melawanku? Heh, rasakan ini! Hahaha!”


Dalam kegelapan, rumah panggung. Ruang bawah tanah. Seseorang yang sedang asik tertawa sendirian, seraya ia menjahit sesuatu yang berbentuk seperti boneka dengan beberapa paku yang tergeletak di lantai berkayu.


Menikmati apa yang sedang ia lakukan, wanita bernama Mirana terus tertawa. Ia sama gilanya seperti Chameleon.


Tapi, meskipun pengkhianatan sudah terbongkar di depan mata, mereka tetap tak bisa melakukan sesuatu terkaitnya.


“Satu.”


Satu paku menancap di punggung boneka, sembari menyebut nomor satu, Ketua Radhika terluka di bagian tubuh yang sama. Darah menyembur cukup deras sampai membuat Ketua Radhika langsung ambruk begitu saja.


“Ketua Radhika?!”


“Apa yang terjadi? Tidak ada serangan sama sekali, ataukah ini ...berdasarkan kecepatan?”


“Jangan bercanda, tidak ada yang bisa menipu mataku.”


“Ha? Lalu apa? Kalian sendiri yang menyerangnya begitu?”


“Apa katamu?”


Kericuhan, kemalangan, saling mencurigai, itulah yang terjadi sekarang.


“Hentikan. Ini ulah Mirana, bukankah aku sudah bilang pada kalian sebelumnya?” sahut Gista.


“Apa?”


“Mirana telah menjadi potensi besar sebagai pengkhianat. Aku yang salah karena tidak bisa menemukan keberadaannya,” ucap Gista.


“Dua.” Sekali lagi Mirana menyebut, kali ini nomor dua. Dua paku tertancap di sebelah kaki dan sebelah tangan.


“Tidak, ini adalah salahku ...argh!!” Begitu menyelesaikan kalimatnya, Ketua Dharma pun langsung ambruk. Namun kesadarannya masih melekat.


“Ketua Dharma!”


Pertengkaran dimulai karena kesalahpahaman. Semua terjadi akibat satu orang. Sementara yang menikmati pertunjukkan terbuka ini hanya terduduk diam di dekat mereka, Chameleon.


Pria itu terlihat sangat menikmatinya. Lalu Iki, hanya bisa tersenyum puas kala tubuhnya terus remuk dan hampir menyatu dengan tanah pulau.


“Segera temukan dia!”


“Tiga.” Ketiga kalinya Mirana menyebut, dan targetnya ialah Ganendra. Terluka di bagian kedua pundaknya.


“Empat.” Penderitaan masih berlanjut, target keempat ialah Mahanta, diserang di bagian sebelah matanya.


“Lima.” Masih berlanjut. Mirana terlihat sangat menikmatinya, ia bahkan menusukkan salah satu paku ke bagian kepala sembari melangkah keluar dari persembunyiannya.


Hanya demi melihat targetnya yang terluka di bagian kepala, yakni Gista Arutala.


“He, Nona Gista. Sebentar lagi kepalamu akan ...duar! Begitu,” kata Mirana menunjukkan ekspresi kebahagiaan, seraya memperagakan telapak tangan yang seolah sesuatu akan meledak.


“Jangan terlalu percaya diri, Mirana.” Gista menyahut perkataannya, dengan sesuatu yang berwujud es mengelilingi tubuh Gista, tampak sesuatu itu menyentuh sesuatu yang tidak terlihat.


“Ah ...begitu. Ternyata Anda memiliki Iblis es. Pantas saja sulit matinya,” ucap Mirana yang seakan tak terkejut.


Benar, apa yang dikatakan oleh Mirana. Kekuatan Mirana yang tak berwujud sebenarnya tidak bisa dikatakan seperti itu. Sama seperti Gista, Mirana pun memiliki sosok Iblis yang mendiami kekuatannya; kutukan.


Iblis kutukan berwujud lebih gelap dan berasap sementara Iblis es berwujud patus es yang berkilau dengan mata kemerahan. Sesuatu yang tak terlihat ialah serangan dari Iblis kutukan telah ditangkap oleh Iblis es.


“Orion,” panggil Gista.


“Aku tahu,” balas Orion yang melesat masuk ke dalam.


Orion pun sejenis dengan mereka. Pada dasarnya kekuatan yang tak didiami oleh sesosok mahluk hanyalah pengguna kekuatan biasa seperti Mahanta dan lainnya namun sekarang, ada 4 pengguna kekuatan yang memiliki sosok-sosok mahluk tersebut. Termasuk Orion, sosoknya ialah Karura.


Burung Api yang melegenda, Api Abadi. Sekali tersentuh maka selamanya takkan pernah pulih kembali. Sosok yang mendiaminya terhitung tidak seperti Iblis melainkan sosok raja langit.


Kini, Orion telah mencengkram leher Mirana dan mengangkatnya ke atas dengan ekspresi yang begitu dingin.


“Ya ampun, pertunjukkan jadi membosankan karena Orion. Akankah aku bantu?” guman Chameleon.


Akhirnya setelah lama berdiam diri dan menonton, Chameleon kembali bergerak lagi. Wujud dari benang yang dililitkan, terbagi menjadi beberapa bagian dengan warna kehitaman. Meluncur ke arah target yakni Orion.


Gista terlihat sangat santai, itu karena ia tahu bahwa Orion akan melakukan sesuatu terkait serangan Chameleon.


Kedua sayap api mengepak dalam ruangan, meski terlihat beberapa benang menusuk punggungnya namun itu hanya punggung berapinya saja.


“A-ah, le-le-paskan ..ergh!” Mirana terlihat sangat kesakitan. Ya tentu saja, siapa pun takkan tahan dicekik setengah niat begitu.


Orion sudah mencekik lehernya, Mirana mengeluarkan liur dan bola matanya terlihat akan keluar. Dengan mendongakkan kepala ke atas ia sudah tak sanggup bertahan.


Kretek!


Hingga akhirnya menuju puncak, Orion mematahkan tulang leher Mirana. Sesaat setelahnya, ia langsung menjatuhkan wanita itu lalu melirik ke belakang dengan setengah rupa yang berwujud tengkorak.


“Eh? Wujud itu lagi. Sudah ah, itu menjijikan.” Chameleon yang melihatnya saja bergidik.


“Tuan Chameleon, Anda tahu sesuatu mengenai itu?”


“Daripada hal itu, Mr. Iki Gentle. Aku tidak bisa menyerangnya dengan kekuatan yang sudah berevolusi.”


“Memangnya Anda berniat untuk membunuh dan membangkitkannya?”


“Hm, ya. Niatnya begitu karena sekarang dia sudah tidak berguna. Tapi kekuatannya itu unik, aku ingin mengambilnya,” kata Chameleon.


“Seharusnya Anda jangan melakukan itu.”


Iblis mana yang bertahan dan manakah yang siap untuk mati. Mirana yang telah mati kini dibuat terbakar hingga menjadi abu oleh Orion seorang diri. Pria paruh baya yang dikenal ingin sekali cepat mati dan meninggalkan dunia ini, justru harus menghabisi anak muda yang memiliki ambisi sekonyol mengubah dunia menjadi permen.


“Ha, Chameleon. Untuk apa kau lahir?” Tiba-tiba Orion menanyakan hal yang ambigu begitu.


“Tidak sopan bertanya begitu tahu,” jawabnya yang langsung berpindah tempat, di hadapan Orion langsung.


Gista dan Ketua Dharma yang berusaha bertahan dalam kesadarannya langsung dibuat tercengang.


“Oh, apa kau sekarang tidak takut berhadapan denganku? Kau takut karena ada Api ini bukan?” ujar Orion.


“Ya, aku takut. Kau mengalahkan Iblis kutukan dalam sekali cekik. Sebenarnya siapa yang ada di dalammu?”


“Kau tidak melihatnya?”


“Tidak. Tidak sama sekali.”


Jari telunjuk Orion menunjuk dada bagian kiri tepat di mana jantung itu ada. Lalu berkata, “Kalau begitu coba rasakan?”


“Tidak, bodoh!” Chameleon langsung menyingkir dengan mengubah wujudnya menjadi ruh lagi.


Begitu ia menyingkir, Iki datang dan mengerahkan pukulan yang diselubungi aura hitam.


“Black Hole?” ucapnya terkejut.


“Orion, menghindar!”


BRAKKK!!


Iki memukulnya tidak sekuat tenaga melainkan memperkuat Black Hole tuk mendorong tubuh Orion jauh dari pulau. Namun Orion masih bertahan berkat kedua sayap yang membuatnya terbang.


“Cih, meleset.”


“Haha! Benar-benar musuh yang sepantaran. Hei, Gista? Mau tidak kerja sama denganku? Tinggalkan semua anak buahmu untukku makan lalu mari kita habisi iblis api satu itu?” ujar Chameleon.


“Anda tidak waras ya?” sindir Iki.


“Sesuai pernyataan anak buahmu, Chameleon. Kau tidak waras!” pekik Gista yang meluapkan amarahnya, menyibak lengan ke atas membentuk dinding es berkelok layaknya ombak di laut.


Chameleon dan Iki spontan melangkah mundur. Ombak es yang membeku kembali menjadi serpihan es, Gista melangkah tuk mengejar keduanya langsung.


Ia tidak bisa berdiam diri ketika semua rekannya terkapar. Namun, selain Radhika dan Ganendra, semuanya selamat. Gista meluapkan amarah karena sama sekali tidak bisa melindungi kedua rekannya yang gugur akibat kekuatan kutukan milik Mirana.


“Haha!! Seranganmu jadi sembarangan. Apa kau marah karena anak buahmu mati? Hahaha!” Tawa Chameleon yang mengejek, membuat Gista semakin geram.


Setiap kali tawa itu terdengar maka setiap itulah Gista menyerangnya dengan penuh amarah.


“Haha!! Kau dan semua orang tidak ada bedanya. Untuk apa melindungi manusia yang bahkan tidak pernah melihatmu sebentar saja?”


“Hei!!”


Tapi karena amarah membelenggunya, serangan itu tak pernah sampai pada targetnya.


“Pertahananmu lemah!” Iki menyergap dari belakang, dan langsung melancarkan serangan dengan mendorongnya sampai menubruk tubuh Chameleon.


“Lock!” sebut Chameleon seraya memeluk tubuh Gista. Muncul sebuah rantai perak yang mengikat tubuhnya.


“Biasanya dalam kondisi seperti ini, kau akan membunuhku.”


“Oh ya? Aku bisa saja begitu. Tapi kalau Presdir tahu bahwa kau mati ...apa yang terjadi ya? Haha!”


“Jangan bercanda!” Menggertakkan gigi yang kemudian berasap dingin muncul, Gista menatap tajam pada Chameleon.


“Apa yang kau lakukan? Memaki tidak ada gunanya.”


Ketua Dharma merasa tersiksa, namun berkat kekuatan Gista yang menghentikan pendarahan pada tangan dan kakinya ia masih bertahan hidup hingga saat ini.


“Ini karena aku lengah. Harusnya aku menyelidiki lebih dalam tetapi ...sudahlah, tak ada waktunya mengeluh!”


Ketua Dharma mengincar langsung Chameleon. Kesal karena kesalahan diri sendiri, segera ia membalas serangan yang setimpal.


Rantai emas yang jauh lebih berat dan tebal mengikat tubuh hingga menutupi wajah Chameleon. Sehingga membuat Chameleon sulit bergerak yang kemudian ambruk.


Gista yang sebelumnya bersandar pada tubuh Chameleon, kini ikut terjatuh namun sebelum Gista terbentur tanah, Ketua Dharma melepaskan ikatan rantai sehingga Gista dapat segera mundur dari sana.


“Ha, ternyata masih ada lalat yang hidup,” ucap Iki sembari melirik Ketua Dharma yang berada di belakang.


Tentu saja incaran Iki langsung terarah pada Ketua Dharma. Sorot mata yang tajam, jelas akan langsung mengincar kepala Ketua Dharma. Pria yang sudah tahu incarannya, ia langsung bergerak dan menjauh dari sana.


Beruntungnya serangan tak langsung Iki berhasil dihentikan langsung oleh dinding tanah Ketua Irawan.


“Ha, aku terselamatkan.”


“Anda baik-baik saja bukan?”


“Ya, tentu saja.”


Iki yang langsung mengubah arahnya, menghancurkan dinding sekali pukul lalu mengincar yang paling dekat.


WUSHHH!!


Namun angin tiba-tiba datang dan menghempas Iki hingga tubuhnya terikat oleh rantai selama dirinya mengudara. Berkat itu Ketua Dharma dapat menahannya setidaknya untuk sementara waktu.


“Gista!”


“Awas! Menyingkirlah!”


Orion mendorong tubuh Gista, ia kini berfungsi menjadi perisai hidup dengan dua sayap yang membantunya. Sedang Karura memperhatikan situasi yang ada di belakang mereka.


“Hei, Orion. Si maniak bunuh diri, sepertinya yang di belakang lebih butuh bantuan,” pikir Karura.


“Berisik!” teriak Orion yang kemudian memperluas jangkauan serangnya.


Hanya dalam beberapa waktu, terbuatlah dinding api yang mengitari mereka semua. Khususnya musuh merasakan panas yang berkali-kali lipat dari biasanya. Itu dikarenakan Orion sudah tahu ada di mana posisi kedua musuh tersebut.


“Gista, dengarkan.” Sementara Orion berhasil membakar Chameleon dan Iki hidup-hidup. Ia berbisik lirih pada Gista.


“Kita semua yakin, kekuatan evolusinya sudah mengacau di seluruh perkotaan. Di sana ada unit kedua-mu dan pria bernama Kruger Gisan, tolong pria itu sampai ke rumahnya.”


“Tunggu, memangnya kau mau ke mana? Black Hole tidak bisa membuat kita semua keluar dari sini!”


“Bisa! Ada aku!”


“Lalu, kenapa tidak lakukan saja? Kau juga bisa membunuh pria itu agar kekuatannya menghilang.”


“Ya, aku seharusnya bisa tapi dia bukanlah wujud aslinya.”


“Apa maksudmu berkata begitu?” tanya Gista semakin tak mengerti.


“Orion!! Belakang!!! Nona Gista!!” Jeritan Mahanta yang memekakkan kedua telinga, membuat Orion dan Gista tersentak kaget.


“Merunduklah!” Orion langsung menyadari arti dari jeritan Mahanta tersebut, ia spontan merangkul Gista dan membuatnya terduduk di tempat.


“Ada ap—”


Kalimatnya tersendat begitu api muncul di belakangnya. Sekelilingnya terdapat dinding api yang sempit namun menjulang tinggi.


“Chameleon menggandakan tubuhnya,” ucap Orion.


“Lalu pria yang disebut sebagai Mr. Iki Gentle, dia bukanlah wujud yang bisa aku kalahkan. Maksudku dari awal dia memang bukan manusia yang hidup. Dia sudah mati,” jelasnya.


Sontak saja Gista terkejut. Ia kemudian memprotes tindakan Orion.


“Lalu kenapa kau tidak katakan dari awal? Maka penyergapan ini takkan sia-sia apabila kita menyingkirkan pria itu!”


“Tidak bisa. Jika aku katakan, maka dia akan mengetahuinya. Tapi memang benar penyergapan ini telah kau lakukan sampai mereka tidak sadar, bahkan Iki juga tidak menyadarinya. Tetapi ...,”


Terlihat Orion enggan sekali mengatakannya. Gista yang tahu arti dari raut wajahnya, lantas merasa muak.


Gista mengepalkan tangan sekuat tenaga, api yang membara di sekeliling mereka berubah menjadi dinding es yang berkilau. Kemudian, Gista menghancurkan dinding yang sudah berubah unsurnya itu.


Menyingkir dari Orion ia berkata, “Aku tidak bisa bekerja sama dengan orang yang selalu menyembunyikan banyak hal.”


“Bagaimana denganmu sendiri? Kita berdua sama-sama saling merahasiakan sesuatu.”


“Lalu kenapa tak kau katakan saja tentang fakta pria itu?”


“Karena aku tidak bisa. Karena memang aku kekurangan bukti tentang dirinya.”


Iki dan Chameleon sudah mengincar mereka berdua begitu Api Abadi di sekitarnya telah menghilang. Kedua mahluk yang sama sekali tidak bisa disebut sebagai manusia kini sepenuhnya mengerahkan tenaga.


Bahkan Chameleon nekat menggunakan lingkaran penghisap jiwanya lagi. Dan Iki menggunakan kekuatan yang sama hanya untuk membuat lubang yang baru.


“Mereka berdua lebih dari monster!”


DUAKK!!


Orion dan Gista bergerak secara bersamaan, Orion memukul Chameleon mundur sementara Gista memukul mundur Iki dengan es yang cukup besar.


“Ini perasaanku saja ...tapi mungkin saja benar. Karena keduanya adalah jiwa yang sama,” jelas Orion.


Sebelum keduanya kembali bangkit, Orion kembali memperluas jangkauan serang. Seluas pulau yang kemudian semakin lebar hingga menyentuh lubang dalam ruang hampa.


“Aku turut berduka pada mereka berdua. Tolong segera menyingkir dari pulau agar tetap selamat.”


Setelahnya, muncul robekan besar pada ruang hampa akibat besarnya api berkobar.


Pada titik tertentu akan adanya untuk menyerah, karena itulah, setidaknya Orion menyelamatkan mereka semua.


“Jaga diri baik-baik.”


Setelah ucapan itu terdengar, muncul robekan besar di atas lubang hampa. Kobaran api yang merobeknya hingga terbuka celah untuk keluar. Angin yang menderu mulai menerbangkan mereka semua. Dua jasad, Mahanta, Ketua Irawan lalu Gista, Endaru dan Iki.


Ruang hampa mengalami kerusakan yang cukup parah dan akibatnya pulau yang tertelan pun dimuntahkan dari langit. Pulau yang jatuh tak seimbang, segera Gista melakukan sesuatu dengan membuat lapisan es yang tajam guna mencegah kerusakan pada pulau.


“Wah, wah, kau bahkan mampu merobek hukum dari Black Hole.”


“Black Hole, lubang hitam, ruang hampa. Memang benar jika memikirkan itu benar-benar nyata. Tapi selama aku bisa merobek ruangnya maka itu tak jadi masalah bukan?”


“Ha, yang kau katakan benar.”


Pulau terjatuh kemudian, kembali ke asalnya. Di mana langit dan laut terpampang jelas di depan mata saat ini.


“Jadi kau ingin—”


Belum selesai Chameleon berucap, ia langsung diserang dari dekat menggunakan tinju api yang secara membabi buta. Serangan itu sepenuhnya hanya terarah pada Chameleon seorang.


“Hei, hei! Aku belum selesai bicara.”


Pertarungan mandiri yang mengandalkan terkuat dari yang terkuat. Ini pertarungan sesama monster iblis, entah sebutan mana yang paling pas namun ini akan menjadi penentu.


“Orion.”


Wujud Chameleon berubah menjadi Orion. Perawakan yang sama, ekspresi, postur dan seluruh gerakannya pun sama sehingga setiap kali Orion menyerang maka wujud itu akan langsung mengetahuinya.


“Kemampuan yang curang!” teriak Orion lantas menjaga jarak darinya.


Tak hanya sekadar menjaga jarak saja, Orion pula menggunakan kekuatannya dari dua arah. Api bergerak lurus tanpa sumbu, pergerakannya yang tak terpengaruh oleh angin laut justru terlihat semakin membahayakan khususnya bagi Chameleon.


Pria yang menjadi kriminal dunia saat ini, Chameleon lantas terdesak. Sama sekali tidak bisa berkutik, ia hanya bisa sepenuhnya terdorong mundur karena daya kekuatan yang amat besar.


Rumah panggung terbakar oleh api, lalu terlahap oleh bayangan hitam dan merusaknya begitu cepat. Berlari di atas papan yang sama, tak membuat keduanya saling merugi atau saling diuntungkan.


Pergerakan yang terbatas kini berakhir ketika rumah panggung sudah terbakar habis. Serangan intens dari Orion pula seolah tak terhentikan, Chameleon hanya bisa bertahan dari perisai yang dibentuk dari kekuatan peniru. Mulai dari perisai es, tanah ataupun hal lainnya. Ia sesekali meniru kekuatan Ketua Dharma hanya untuk menahan pergerakan Orion dalam beberapa waktu saja.


“Sepertinya aku memang sangat kesulitan bahkan hanya untuk menahanmu sebentar saja ya, Orion.”


“Kalau begitu menyerahlah!”


Pusaran api terbentuk dan ukurannya semakin besar hingga membuat hutan terbakar. Rerumputan yang dipijaknya telah menjadi abu, menyisakan tanah yang menjadi kering untuk selamanya.


“Aku sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Hei, Orion!”


Mengubah kembali wujudnya, dari ruh dan manusia lagi sesaat setelah ia mendekati Orion. Pusaran api lenyap ketika ia menggunakan kekuatan es. Mampu membekukan api dalam sekejap.


“Ini belum berakhir, Chameleon!”


Prang!


Pusaran api yang membeku telah pecah menjadi beberapa keping, Orion tak menyisakan banyak waktu hanya untuk membuat Chameleon merasa santai. Sekali lagi ia menyerangnya secara membabi buta, tinju ia layangkan selama puluhan kali dan saat itu Chameleon hanya bisa bertahan dengan kedua tangannya sendiri.


“Asap!”


Begitu tinju Orion melambat, untuk sesaat ia melihat celah lalu ia mengubah dirinya menjadi asap. Asap tak biasa, ini adalah kekuatan Ramon.


“Aku sama sekali tidak tahu mengenai anak magang.”


Kekurangan informasi, membuat Orion harus bergerak mundur. Tetapi Chameleon tentu takkan membiarkannya begitu saja, ia langsung mengejar dalam kondisi tubuhnya setengah berasap yang pada akhirnya asap itu telah mengepung keberadaan Orion.


“Asap ini memang bukan asap biasa.”


Setelah tahu hanya dengan menghirupnya sebentar, Orion lantas menggunakan kedua sayapnya. Ia melesat terbang ke atas demi menghindari kepulan asap yang mengitari dirinya di bawah.


“Ternyata kau jauh lebih pandai.”


“Simpan saja pujianmu itu!”


Orion menyerangnya dari atas, setiap bulu pada sayapnya terus terlempar dan sesekali menusuk tubuh Chameleon. Untuk yang entah ke berapa kalinya Chameleon berubah-ubah, kini gilirannya mengubah diri menjadi Mahanta. Angin yang dihasilkan cukup besar bahkan lebih dari yang bisa dikendalikan oleh Mahanta sendiri.


Angin menghempas tubuh Orion, memaksanya mundur sampai ke ujung pulau. Dan dalam sekejap Chameleon menyusul dengan kekuatan berpindah tempat.


BUAKK!!


Tinju besar dari Ketua Ganendra muncul hingga Orion terjatuh ke laut. Setiap detik ia terbalas dengan kekuatan yang curang, Orion tentu tahu melawannya sendirian adalah hal yang mustahil.


Tetapi, ia tak berpikir bahwa ini akan cepat berakhir.


“Pemikiranmu mengenai tentangku dan Mr. Iki, sebenarnya bisa salah dan bisa benar. Jika menurutmu kami berdua saling terhubung maka itu juga benar.”


Chameleon dalam wujud Iki, pria yang pernah membunuh Orion. Yang berarti juga mengetahui ingatan Iki.


“Hm, pantas saja aku merasa aneh. Ternyata target yang membuat Mr. Iki terus diingatnya adalah kau. Tapi ini masih aneh, aku melihat seseorang bersama Iki setelah membunuhmu.”


Orion berenang dari tepian lain, lalu keluar dari sana dan bergegas tuk kembali menyerangnya dari belakang. Namun insting Chameleon sama meningkatnya. Ia langsung tahu dan menahannya dengan genggaman tangan.


“Seseorang itu siapa?” tanya Chameleon.


“Sejak tadi mengoceh. Apa kau tak bosan?” Tak menanggapi perkataan Chameleon, Orion kembali menyerang.


Kaki yang sudah lama berapi-api telah membuat setengah tubuh Chameleon terbakar hebat. Sama sekali tak bisa dipadamkan kecuali dengan es yang sebenarnya hanya bisa dibekukan saja.


“Kenapa sejak tadi kau selalu—”


TAP!


Orion menginjak kedua kaki Chameleon sembari mencengkram kedua pundaknya secara bersamaan. Sorot mata yang tajam tak kenal ampun, kini seakan-akan telah menembus jantungnya. Chameleon menyeringai.


“Kenapa seranganku setengah-setengah? Sejak tadi aku hanya ingin memanfaatkan partikel es yang ada di dalam tubuhku.”


“Oh.”


Cengkeramannya semakin menguat ketika bara api terlihat jelas di kedua lengannya. Bahkan sampai membakar hingga ke ujung rambut membuat sosoknya tak terlihat seperti manusia pada umumnya. Wujud setengah tengkorak berapi.


“Aku akan membakarmu di tungku besar ini.”


“Kau membuatku terpana. Sejujurnya sejak tadi aku berpikir apakah kau sedang mengorbankan dirimu demi semua orang?”


“Aku tak berniat menjadi pahlawan ataupun penjahat yang berkedok orang baik. Aku di sini sebagai Ayah dari anak-anakku,” tutur Orion.


Wujud Karura yang besar tampak berdiri di belakang Orion. Sosoknya yang bersayap lebar dan besar, paruh yang lancip dan kedua mata yang unik tengah menatap Chameleon.


“Jika kau masih bertahan hidup dari Api Abadi, maka aku akan mendatangimu sekali lagi!” ungkapnya sesaat sebelum pulau itu akhirnya menjadi lautan api.