ORION

ORION
Raiya Meera-Kota B-Karta



Gista memanggil Orion untuk datang ke ruangan kerjanya. Di sana ternyata tidak hanya Gista saja, melainkan wanita berkulit coklat yakni Ketua Grup Raiya Kota B-Karta juga datang.


“Orion, Meera Raiya, sebelumnya kamu pernah mengobrol dengannya, bukan? Katanya, dia akan mengajakmu ke tempatnya berada.” Gista berbicara.


“Apa?!” Suara Orion meninggi, ia sangat terkejut hingga membelalakkan mata.


Orion sangat terkejut begitu mendengar Meera akan membawanya ke kota B-Karta dalam situasi yang masih belum jelas. Lantaran urusan dengan pria misterius Jhon maishlah belum usai.


Sedangkan, Gista dan Mahanta terlihat tak bisa berkata apa-apa lagi setelah Meera datang. Terutama Mahanta, ia terlihat paling khawatir dari lainnya.


“Aku tidak bisa apa-apa setelah orangnya datang langsung. Ini hanya sebentar, kupikir juga tidak masalah,” ucap Gista dengan tenang.


“Tapi! Aku ...tidak bisa!” pekik Orion, wajahnya berkeringat lantas panik dan juga cemas.


Lantaran, hal ini akan menyulitkan ia sendiri. Sebab Orion bukanlah anak kecil melainkan orang tua penyendiri. Mendengar bahwa dia akan dibawa, sudah begitu sulit untuk menolak dari Meera yang memohon-mohon dengan mengatupkan tangan.


“Kumohon, Orion. Karena kamu adalah anak kecil yang pertama kali bergabung di Organisasi utama NED, jadi kupikir kami bisa membantumu dan semua orang-orangku pun penasaran denganmu,” pinta Meera dengan wajah memelas.


“Ta-tapi, Nona Gista. Aku sedang sakit, benar?” sahut Orion, memanfaatkan sakitnya sebagai alasan.


“Tapi kamu sudah berjalan-jalan. Jadi mungkin tidak apa?” pikir Gista lalu menyeruput teh.


“Hah, baiklah sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Tapi aku tidak bisa menggunakan kekuatanku berlebihan karena itu mohon maklumi,” ucap Orion dengan pasrah.


Orion sekali lagi menghela napas panjang. Sembari memejamkan mata sebentar, ia kembali mengatur napas sedemikian rupa agar tidak membebankan pikiran ini.


Dan kemudian menatap ke arah Gista. Orion akan membicarakan hal lebih penting dari ini.


“Nona Gista, sebelumnya aku mengerjakan tugas Raka. Putri seorang pejabat yang terlihat tidak waras, ada kemungkinan dia dikendalikan. Aku menemukan sebuah jarum yang kemudian terbakar dan lenyap tanpa abu. Tapi siapa sangka, aku bertemu seorang pria bernama Jhon yang mengaku sebagai bagian dari Grup Arutala.”


Benar saja, seperti reaksi Fani sebelumnya. Mereka semua sangat terkejut saat mendengar pernyataan ini dari Orion. Ini akan menjadi masalah besar, kalau Pejuang NED liar mengaku sebagai bagian dari Organisasi.


Penipuan, perampasan atau hal lainnya bisa dilakukan oleh mereka yang dengan sembarangan menyebut nama terutama nama Arutala yang terkenal.


“Aku tidak pernah menyangka ada orang yang sangat berani menggunakan namaku. Bisa kamu jelaskan bagaimana ciri-ciri dia?” tanya Gista dan kembali menatap Orion.


“Jhon, pria bermasker hitam. Selain itu aku tidak tahu pastinya. Namun, kekuatannya mungkin ada dua. Satu api yang sama seperti diriku lalu yang kedua adalah bayangan,” jelas Orion.


“Pemilik dua kekuatan? Ini baru pertama kalinya, apa kamu benar-benar yakin?” tanya Gista memastikan.


“Di satu sisi aku tidak yakin apa benar. Tapi dua kekuatan yang berbeda itu jelas ada. Dan lagi, bayangan itu mampu menghapuskan kekuatanku!” Orion meyakinkan bahwa apa yang ia lihat tidaklah salah.


“Mahanta, aku memintamu untuk pergi ke tempat di mana Orion melakukan tugasnya. Kemungkinan besar, dia masih ada di sekitar sana,” pinta Gista seraya ia bangkit dari kursi.


Mahanta pun akan segera melakukannya, ia pamit undur diri dan kemudian Meera menghampiri Orion.


“Orion, soal itu ...jangan sampai kau terlibat lebih jauh,” kata Meera kepada Orion.


“Apa yang dia rencanakan?” Orion bertanya-tanya dalam hati, berpikir curiga terhadap tindak-tanduk Gista.


“Orion, pergilah ke kota B-Karta bersama Meera. Di sana kamu akan banyak belajar. Untuk masalah ini, biarkan kami yang mengurusnya,” ucap Gista. Ia kemudian berjalan menuju rak buku yang di sudut ruangan.


***


Terik matahari yang cukup panas telah berada di atas kepala. Sangat menyengat hingga rasanya kulit akan terbakar. Suara nyaring yang berasal dari stasiun terdengar menggaung dari kejauhan.


Tak lama setelah suara itu, kereta dengan laju kecepatan tinggi ke rendah datang melintas, lalu berhenti dan pintu di setiap gerbong terbuka bersamaan.


“Karena hari ini mobilku rusak karena tak sengaja aku menabrakkannya ke tiang, akhirnya kita terpaksa memakai kereta,” ujar Meera bercerita.


“Ketua Raiya, Anda yakin membawaku seperti ini? Masalahnya aku hanya anak kecil,” ucap Orion merendahkan diri.


“Itu bukanlah masalah. Dan panggil saja aku Meera, itu akan membuat kita menjadi lebih akrab,” pikir Meera tersenyum lantas menggandeng tangan Orion dan pergi masuk ke dalam kereta.


Kereta lebih cepat dari bus, itulah yang Meera pikirkan ketika kendaraan pribadinya rusak dan tak bisa pergi ke mana-mana.


Sebelumnya, Meera sudah berinisiatif untuk membawa Orion ke kota B-Karta yang menjadi wilayahnya. Juga ia sangat penasaran dengan kekuatan Orion, terutama hal yang lebih membuatnya penasaran ketika Orion terbaring di samping tubuh Pahlawan Kota, tempo hari.


Pastinya, Meera atau bahkan ketua lain memikirkan hal sama, "Orion bertarung melawan Pahlawan Kota."


Kota B-Karta, salah satu kota besar selain J-Karta. Gedung-gedung di sana tidak cukup banyak dan sekilas tidak terlihat berbeda dari kota besar biasanya. Namun kota ini punya banyak jalan menanjak, bahkan kediaman atau gedung milik Raiya pun harus dilalui jalan semacam itu dengan taksi.


Meskipun sangat menanjak, jalan itu cukup lebar sehingga banyak kendaraan berlalu-lalang di jalan tersebut. Ini tidak menyusahkan, hanya saja terlihat menakutkan. Jika jatuh, pasti akan berguling ke bawah.


Klap! Meera menutup pintu mobil. Mereka telah sampai ke gedung bertingkat yang berdiri di lahan datar. Gedung yang terlihat seperti sebuah pabrik. Entah kenapa nuansa di sekitar sana terlihat lebih menakutkan.


”Nah, kita sudah sampai, Orion. Ini kantor cabang dari Organisasi NED. Kamu pasti sebelumnya berpikir bahwa kami memiliki organisasi yang berbeda, 'kan? Tapi sebenarnya hanya ada 4 organisasi dari 8 ketua, sisanya hanya pengikut salah satu dari mereka saja.”


“Ya, aku tidak begitu terkejut sih. Daripada tempat yang terlihat menakutkan.”


Gedung yang berdiri sendiri dan dikelilingi hutan, tidak ada bangunan lain selain gedung itu sendiri.


”Jangan ketakutan begitu, Orion.”


“Aku tidak ...”


“Aku masih penasaran dengan Jhon. Mungkin aku saja yang berpikir seperti ini, kalau Jhon adalah rekan Chameleon,” pikir Meera memotong kalimat Orion tiba-tiba.


“Chameleon? Apa maksudnya?” tanya Orion.


“Eh, kamu tidak tahu soal dia?” Meera terkejut dan tak percaya bahwa Orion tak mengenalnya.


“Nona Gista bahkan tidak memberitahumu?” imbuh Meera menambah rasa terkejut saat Orion menggelengkan kepala. Meera menaikkan sebelah alis lantas menatap Orion dengan heran.