ORION

ORION
Perekrutan Paksa



Tak disangka ia justru bertemu dengan salah satu rekan Chameleon yang lain. Terlebih seorang pemancing, yang bahkan berat Orion mampu ia tarik begitu mudah. Tambah lagi orang aneh di sini.


Melihatnya mampu menarik tubuh Orion. Lantas Orion berpikir bahwa ini adalah kesempatan terbaik untuk mati. Benar, keinginannya untuk mati kembali terlintas dalam benak.


“Begini, aku meminta tolong padamu untuk membunuhku, bagaimana? Itu tidak sulit buatmu, 'kan?”


“Apa!?” Sontak terkejut, pria itu mengerutkan dahi tanda tak percaya sekaligus heran terhadap apa yang barusan ia dengar tadi.


“Iya. Tolong bunuh aku. Ambil jantungku dengan kail pancing itu!” tegas Orion dengan wajah datar.


Sesaat suasana di antara mereka hening. Tak ada pembicaraan usai Orion meminta untuk dibunuh. Padahal, kalau dilihat dari situasi, seharusnya Orion memohon ampun agar nyawanya tidak dihabisi. Tapi ini malah sebaliknya.


“Kau bercanda, ya? Mana mungkin ada orang yang mau mati begitu saja. Ah, kau pasti sedang merencanakan sesuatu? Tentu saja itu untuk melawanku, benar?” pikirnya secara logis.


Pria itu mengira bahwa Orion sengaja mengatakan itu untuk melakukan rencana di baliknya. Tapi saat melihat raut wajah Orion yang datar, dan menatapnya tanpa keraguan, pria itu akhirnya mengerti.


“Ha, dasar!” Ia menepuk jidat lalu menggelengkan kepala.


“Kau tidak ingin melakukannya?” tanya Orion yang jelas kecewa.


“Hei, dengar! Tuan Chameleon memintaku agar membawamu ke tempat beliau. Tapi kau ingin mati? Nah, sekarang coba kau pikirkan. Kalau kau ikut denganku bersama dengan Chameleon maka apa pun untukmu akan terkabul!”


“Kalau begitu aku boleh ikut denganmu lalu mati?”


“Aduh! Aku salah bicara, maaf,” tuturnya seraya membuka telapak tangan ke depan.


Lantas ia kemudian berdiri dan memandang jalanan di bawahnya. Sesekali ia menghirup dan membuang napas. Bersiap untuk menjelaskan sesuatu.


Kemudian kembali menoleh padanya lalu berkata, “Hidup dan matilah untuk Tuan Chameleon. Kelak, harta, kuasa, wanita dan lain-lainnya akan kau dapatkan dengan mudah.”


“Ha? Hidup seperti itulah yang sangat membosankan. Makanya aku ingin mati secepatnya,” sahut Orion dengan jengkel.


“Apa? Pria ini sungguh tidak waras. Kenapa pula dia merasa bosan dengan semua itu?” batin pria tersebut.


Tentu, bagi semua orang menginginkan hal lebih. Dari segala harta, kuasa, status atau hal-hal lainnya. Namun tidak bagi Orion, baginya itu adalah algoritma biasa yang membosankan.


“Bangun, makan, kerja, tidur lalu bangun lagi. Apa kau tidak merasa bosan dengan itu? Sama halnya dengan memiliki kekuasaan, harta dan lain-lain. Sekalinya kau punya, kau akan merasa puas tapi lama-lama jadi kebosanan karena banyaknya harta.”


Tap!


Orion bangkit dari duduknya lantas menarik kerah pakaian pria tersebut.


“Aku muak!”


“Oh, begitu. Lalu kenapa kau tidak menggunakan Api Abadi-mu saja? Api itu bisa menghanguskan semuanya 'kan?” ujarnya seraya melepas cengkraman tangan Orion darinya.


“Itu sudah aku lakukan. Tapi tidak bisa,” jawab Orion sembari memalingkan wajah.


Di satu sisi Orion juga teringat bahwa dirinya memiliki darah langka dan karena itu juga ia sangat kesusahan. Karena instingnya selalu membuat dirinya melarikan diri dari segala ancaman yang berbahaya.


“Dia pasti menggertak. Karena kudengar Grup Arutala terang-terangan mengincar Tuan Chameleon. Jadi pria ini pun juga melakukan hal sama. Sudah pasti ada sesuatu.” Begitulah yang pria itu pikirkan dalam benak.


“Kalau begitu lompatlah dari gedung ini!” Seraya menunjuk ke arah bawah, ia tersenyum. Menyuruh Orion untuk lompat dari gedung.


“Kau pasti bisa melakukannya, benar? Katanya kau ingin sekali mati,” imbuhnya lantas melipat kedua lengan ke depan dada.


“Bisa saja sih. Yah, ini kesempatan yang jarang kutemukan,” katanya seraya berjalan mendekat ke pinggir.


Tanpa memperpanjang waktu lagi, Orion lantas menjatuhkan dirinya dan tetap membuka matanya lebar-lebar.


Srak!


“Kau betul-betul g*la!” pekiknya mengamuk lantas menarik tubuh Orion kembali ke atap.


“Kenapa malah menghalangiku?” Raut wajah Orion berubah menjadi kesal. Lantas dirinya lagi-lagi dihalangi. Padahal saat itu, ada kesempatannya.


“Tuan Chameleon tidak mengijinkan diriku untuk membunuhmu apalagi dengan sengaja membuatmu terbunuh bahkan oleh orang lain sekalipun,” jawab pria itu seraya menggertakkan gigi.


Semakin kesal lah Orion kepadanya. Dan setelah beberapa saat mereka bertukar tatap dengan tajam, Orion merasakan hawa yang begitu mencekam.


Jantungnya berdebar lebih kencang, semilir angin yang ia rasakan pun terasa sangat buru-buru bergerak. Orion merasa bahwa marabahaya datang di sekitarnya.


“Insting dari darah ini mulai bergerak lagi. Tidak seperti saat aku hendak bunuh diri. Jangan bilang Chameleon?” duga Orion dengan bergumam lirih.


“Tuan Chameleon!” Pria itu juga ikut terkejut, ketika Chameleon keluar dari bayangannya dengan mengambil wujud seorang Dicky.


“Bagaimana hasilnya? Apa dia mau ikut denganku?” tanya Chameleon.


“Persetan denganmu! Aku tidak akan ikut denganmu apa pun yang terjadi!” pekik Orion menudingnya dengan penuh amarah. Dan ia melangkah mundur saat itu juga.


“Tuan Chameleon! Anda tahu ini akan terjadi, benar? Lalu kenapa tidak dibunuh saja!? Dia itu tidak bisa diajak bicara!” ujarnya mengadu kesal.


“Semua temanmu juga berkata seperti itu,” sahutnya santai.


“Lalu, kenapa Anda tidak memilih untuk melakukan itu saja!?”


“Ya, memang dia suka bunuh diri. Tapi kalau begini, bagaimana?”


Masih berada dalam bayangannya, Chameleon menarik tubuh seseorang dari dalam bayangan. Dan memperlihatkan seorang murid lelaki yang Orion kenal.


“Orion, aku sudah lama mengawasimu. Termasuk hari ini, awalnya kau hanya pria dengan wujud anak kecil yang mungkin saja berniat menipu dan menjebakku yang sering kali menculik anak-anak.”


Bruk!


Chameleon mendorong tubuh murid tersebut dan melepaskannya. Ia kemudian keluar dari bayangan dan berjalan sambil menarik tubuh murid itu lagi.


“Aku berpikir kau orang yang aneh sampai ingin mati segala karena alasan hidup membosankan. Namun, kurasa ini akan sedikit membangkitkan rasa kepedulian yang melebihi diri sendiri,” imbuhnya.


Chameleon mengarahkan tubuh murid itu ke samping. Yang di mana ia akan menjatuhkannya dari atas atap gedung.


“Roni.”


Mata Orion membulat, terkejut sekaligus panik. Selama beberapa detik ia berusaha keras untuk tetap tenang. Dan ia melesat begitu cepat, sampai pada Roni dan menjauhkannya dari Chameleon.


Chameleon terkejut karena tangan yang barusan memegang pakaian murid itu tiba-tiba menghilang. Lantas Orion sudah mengambilnya, atau dengan kata lain diselamatkan.


“Lihat? Dia tidak peduli dengan dirinya sendiri. Justru menyelamatkan orang lain yang dirasa lebih berharga.” Chameleon merasa puas.


“Apa maksud Anda, Tuan Chameleon?” Si pemancing itu tidak mengerti.


“Kira-kira akan sebagus apa dirinya ketika menjadi peliharaanku? Anjing penjaga setia, itulah sebutannya. Yang merelakan nyawa hanya demi seseorang, itulah yang aku suka dan sangat tertarik kepadanya!”


Chameleon lantas tertawa, senyum lebar dan ekspresi yang merasa puas akan sesuatu itu menandakan kebahagiaan dirinya.