ORION

ORION
Gedung Dengan Isi yang Kacau



Bayangan dirinya sendiri berubah menjadi gumpalan hitam yang bergeliat, itu terlihat seperti air yang mendidih atau bahkan bisa saja beracun. Orion yang masih terdiam di sana, karena lengah ia mudah didapatkan.


Seseorang membekap mulutnya dari belakang, seluruh tubuhnya terkunci karena gumpalan hitam di bawahnya membuat ia tenggelam. Ia meronta-ronta, terkejut dan berusaha melepaskan diri.


Namun sudah terlambat, ketika Meera hendak meraihnya bersamaan dengan genangan air di bawah kedua kaki, Orion menghilang setelah tenggelam ke dalam gumpalan itu.


“Orion! Astaga! Apa yang aku lakukan?! Aku malah membiarkannya sendiri, hei kalian! Cepat cari Orion ke segala penjuru yang ada di rumah ini! Cepat!” teriak Meera histeris.


Ia pula menggunakan teknik memperluas jangkauan serang, kedalaman air tidak sampai ke mata kaki mereka. Meera menggunakan teknik ini untuk menemukan Orion yang entah dibawa ke mana.


“Ck! Andai saja, aku tidak membiarkan dia sendiri. Sudah begitu ...apa-apaan kekuatan itu! Sungguh tidak masuk akal. Apalagi aku tidak pernah berhadapan dengan bawahan Chameleon yang itu. S*al!” amuk Meera, sakit kepala rasanya begitu memikirkan soal Jhon.


“Anda tidak perlu marah sampai seperti itu. Nona Meera, anak itu memiliki kekuatan api, jadi saya rasa dia bisa mengandalkan kemampuannya sendiri agar dapat keluar dari genggaman musuh,” celetuk asisten yang berusaha menenangkan Meera.


“Sok tahu! Kau juga cepat cari sana! Nona Gista Arutala bisa marah jika anak itu tidak pulang besok!” Meera justru semakin kesal.


Di kedalaman menyerupai laut lepas. Air keruh berwarna kehitaman, seolah tercemar limbah. Pemandangan yang begitu mengerikan, mengingatkannya akan laut yang pernah tercemar hingga membuat ikan-ikan mati mengenaskan.


“Urgh ...”


Orion mengerang kesakitan juga tak bisa bernapas seperti ini. Dirinya semakin tenggelam ke dasar, dan rasanya sulit untuk bergerak. Semakin lama semakin sesak. Juga mati rasa.


Seseorang memanggilnya ketika ia berusaha keras untuk menggerakkan seluruh tubuhnya.


“Siapa namamu?” Itulah yang terdengar, berbisik dengan suara menggaung di telinga.


Zrashh!


Bersamaan dengan arus air yang bergerak ke dalam, sekelebat bayangan muncul dan merasuk ke dalam tubuhnya. Dalam waktu singkat, tiba-tiba ia berada di halaman gedung.


Kedua tangannya menggenggam erat sesuatu yang basah dan menusuk. Ternyata hanya rerumputan hijau, namun ada hal yang janggal.


“Airnya tidak bening. Tapi hitam?”


Air hitam lah yang membasahi rerumputan itu. Ternyata yang ia lalui sebelumnya benar-benar nyata, termasuk saat ia dibisiki sesuatu oleh seseorang.


Orion kemudian meraba-raba ke seluruh bagian tubuhnya. Nampaknya ia merasakan sesuatu yang bergerak dalam tubuh, bukan hal normal seperti peredaran darah, detak jantung ataupun napas. Melainkan sesuatu yang lain.


“Orion! Akhirnya ketemu juga!”


Meera menghampiri Orion yang tengah duduk di halaman, terlihat sangat cemas sampai-sampai air matanya mengalir keluar tanpa sadar.


“Nona Meera?”


“Ya, ini aku. Padahal ini di luar, kamu masih merasa ini gelap?” pikirnya seraya menengadah ke langit.


“Daripada itu, di mana Jhon?” tanya Orion lantas bangkit dan membiarkan darah menetes dari luka jari telunjuknya.


“Bukankah Jhon bersamamu? Kamu ditarik Jhon ke bawah, masuk ke dalam bayangan lalu menghilang begitu saja.”


Menurut Meera begitu bahkan mereka juga sangat kesusahan saat mencari Orion dan Jhon yang pada saat itu menghilang. Beruntungnya tidak mempengaruhi waktu di dunia nyata, yang bisa saja jadi berbeda.


Orion mengobarkan api hingga menjulang lebih dari sebelumnya. Apinya merajalela, sekilas terlihat seperti ada wajah di tubuh api itu sendiri, Meera yang melihatnya seketika bergidik sesaat.


“Tidak,” singkat Meera sembari berwaspada di sekitar. Mengeluarkan sedikit dari kekuatannya jika Jhon kembali muncul.


Antisipasi yang sia-sia karena Meera hanya memperhatikan sekitar mereka saja. Namun ternyata, siapa sangka kalau Jhon malah keluar dari bayangan Orion sendiri.


“Dia benar-benar keluar dari tubuhku. Berani-beraninya masuk tanpa seijinku,” geram Orion.


Jhon lantas segera menghindar dari bayangan Orion. Ia menjauh dari mereka berdua seraya membuat perisai di sekitar menggunakan bayangan Jhon sendiri.


Meera segera mengambil tindakan, ia melangkah cepat seraya melayangkan tinju kepada Jhon. Hingga jatuh tersungkur begitu mudahnya, Meera tidak berhenti sampai di sana, ia mengangkat lalu melempar tubuh Jhon masuk ke dalam ruangan yang gelap.


Jduak! Kepala Jhon sampai terbentur salah satu barang di dalam sana. Orion membelalakkan kedua mata lantas terkejut dengan tindakan Meera barusan.


“Ha?” Ia masih terdiam dan berdiri di sana. Dan setelah beberapa saat ia tersadar kembali setelah Meera mengajak Orion masuk ke dalam.


“Orion, kita obati dulu lukamu. Jhon untuk saat ini, pasti sudah ditahan oleh orang-orangku,” ucapnya percaya diri.


Mereka pun masuk ke dalam. Dan benar saja Jhon sedang tidak sadarkan diri. Tubuhnya diikat tali dengan kencang dan semua luka bekas pukulan dari Meera juga asistennya tetap dibiarkan begitu saja.


Orion duduk di salah satu kursi dan membiarkan ahli medis menangani luka di jari telunjuknya.


“Apa hanya ini saja?”


“Iya. Aku hanya terluka di jari telunjuk,” jawab Orion sambil menganggukkan kepala.


Setelah dipikir-pikir, Meera adalah ketua Grup yang terbilang sangat andal. Jhon yang terlihat kuat di mata Orion jadi sangat lemah jika berhadapan dengan Meera. Bahkan Jhon juga tidak sempat menyentuh Orion seutuhnya karena dirinya.


“Nona Meera sangat kuat sekali.” Orion memuji.


“Tentu saja. Nona adalah ketua yang diandalkan oleh Nona Arutala. Jadi dia harus kuat baik dari segala kekuatan fisik, mental atau bahkan saat menggunakan kekuatannya.”


Setelah beberapa saat, Jhon akhirnya sadar. Betapa terkejutnya ia tengah dikelilingi banyak orang dengan tatapan tajam dari atas. Seolah mereka memandang Jhon sebagai serangga.


“Hah, akhirnya bangun juga! Nah, sekarang katakan siapa kau? Dan siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini?”


Meera langsung memberinya pertanyaan tanpa menunggu waktu yang lama. Jhon hanya terdiam tanpa ekspresi yang jelas.


“Kenapa dia hanya diam saja? Apa dia bisu?” kecam Meera merendahkan Jhon.


“Sejak kami bertemu pertama kalinya, dia tetap begitu. Tak pernah berbicara sama sekali. Pria aneh,” sindir Orion.


“Jhon, apakah itu namamu? Lalu siapa atasanmu? Apakah Chameleon?” Lagi-lagi, Meera kembali bertanya dengan antusias. Tapi Jhon tak menjawabnya sama sekali, bahkan menunjukkan sedikit reaksi saja tidak.


“Ya, sudahlah. Aku memang tidak ahli dalam hal urusan seperti ini. Karena Jhon bukan tipe pesulap, kupikir dia takkan lagi bisa menggunakan kekuatan selain bayangan miliknya.”


Meera berpikir begitu seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Beruntung tidak rusak, sebab Meera hendak menghubungi seseorang.


Dan, ketika Meera tak lagi beralih padanya. Jhon seketika bersuara. Terdengar lirih, seperti tertawa.


“Kenapa lagi dia?”