ORION

ORION
Pertarungan yang Sengit II



Orion menarik tubuh Ketua Meera masuk ke dalam salah satu toko kecil. Di sana, mereka bersembunyi di balik pot besar sehingga tidak terlihat oleh orang-orang di luar toko dari kaca jendela.


“Sepertinya wanita itu telah pergi dari sini.”


Mereka berdua bernapas lega. Kemudian mengambil tempat duduk untuk beristirahat selagi bisa.


“Ternyata benar, ya. Chameleon ada di kota ini. Entah beruntung atau justru s*al,” gerutu Ketua Meera yang bersandar seraya mendongakkan kepala ke langit-langit ruangan.


“Anda bermulut kasar juga rupanya. Lain kali tolong diperhatikan kita berada di mana sekarang,” sindir Orion yang kemudian menenggak secangkir kopi hitam.


“Ah, maaf. Maafkan aku,” ucap Ketua Meera yang kemudian tertawa kecil.


“Ngomong-ngomong, kita bahkan belum sempat berkenalan. Saya Raiya Meera,” kata Ketua Meera mulai memperkenalkan diri.


“Benar juga. Saya melupakan hal itu karena terlalu berfokus pada tujuan kita, ya. Kalau begitu, perkenalkan. Saya Ori ...on.” Dan Orion baru menyadari, bahwa tak seharusnya ia menyebut namanya sekarang.


Ia lupa bahwa sekarang, dirinya sudah berubah ke wujud asli. Sedangkan ketika ia masih berada di wujud seorang anak kecil, Orion sudah memperkenalkan diri kepada beberapa ketua.


“Ori? Yon? Jadi, siapa nama Anda? Bisa diulang?” tanya Ketua Meera, justru semakin penasaran.


“Daripada itu, Ketua Meera. Mulai sekarang anggap saja saya adalah seseorang yang menghilang begitu urusan Chameleon berhasil dituntaskan,” kata Orion.


“Baiklah, kalau begitu.”


“Ketua Meera. Saya masih tidak tahu keberadaan Pak Mahanta. Di mana dia?” tanya Orion.


“Mahanta sedang berada di tempat yang katanya ada air mancurnya. Sebelumnya saya hendak pergi untuk menjemput Mahanta tapi begitulah yang telah terjadi,” jelas Ketua Meera.


“Sampai dikejar Sera, wanita monster itu ya?” gumam Orion.


“Iya. Tetapi sebelum bertemu dengan Sera, saya bertemu dengan banyak orang yang bertopeng menyeramkan. Mereka menyebutkan diri sebagai Phantom Gank,” ungkap Meera.


Beberapa saat Orion terdiam begitu lama sembari memandangi secangkir berisi setengah kopi yang tersisa. Memikirkan kembali, pelelangan Undergrown yang saat itu pernah didatangi oleh Phantom Gank juga.


“Anda hanya berdiam diri saja?” tanya Ketua Meera seraya memandangi wajah Orion lebih dekat.


“Maafkan saya Ketua Meera. Saya tidak bermaksud untuk diam saja,” kata Orion reflek menghindar dari tatapan Ketua Meera.


Draak!


Orion menggeser kursi ke belakang, ia kemudian berdiri sembari menatap ke luar jendela.


“Apa yang sedang Anda cari? Ataukah kita akan pergi?” tanya Ketua Meera lantas bangkit.


“Iya. Saya merasakan firasat buruk pada Pak Mahanta,” ujar Orion berwajah gelisah.


Orion membuka pintu, dan belum sempat ia melangkah keluar, dirinya kemudian mendapat sambutan dingin dari suara seseorang yang berada di luar toko.


“Anda sudah membayar minumannya?” tanya Ketua Meera yang berada di belakang.


“Itu gratis. Lagipula mereka tidak menjual kopi di tempat bunga,” jawab Orion.


Di sela-sela pembicaraan antara Orion dengan Ketua Meera. Samar-samar Orion mendengar bisikan seseorang itu, suaranya begitu lembut. Umumnya adalah wanita yang memiliki suara selembut ini. Hingga terngiang-ngiang di telinga Orion.


“Sampai kapan aku harus menunggu kalian selesai kencan? Cepat keluar dan matilah di tanganku.” Itulah beberapa perkataan wanita yang didengar oleh Orion sekarang.


Klinting!


Lonceng di atas pintu berbunyi begitu Orion menutup rapat pintunya. Sontak, ia berlari ke arah sebaliknya dari arah suara tersebut sembari menggandeng Ketua Meera tanpa banyak bicara lagi, ia terus saja berlari dengan cepat.


“Ketua Meera, maafkan saya yang lancang.”


Wanita yang dimaksud tentu saja adalah Sera. Wanita itu masih berlari lebih cepat dari mereka berdua. Merasa mustahil, bahkan setelah Ketua Meera mengunakan trik yang sama.


“Kekuatan air itu tidak cukup berguna kalau tidak pada tempatnya,” ujar Sera lantas melompat sangat tinggi hingga mencapai jendela di lantai 5 pada gedung.


“Hah?! Lompatannya terlalu tinggi!” pekik Orion berteriak histeris. Ia berhenti melarikan diri sehingga Ketua Meera yang digandengnya menabrak tubuh Orion.


“Ya, ampun. Kalau mau berhenti bilang-bilang, dong!” amuk Ketua Meera.


“Mohon maafkan saya. Saya tidak sengaja. Dan, bukankah melarikan diri juga percuma saja?” pikir Orion seraya mengeluarkan sebilah belati pendek merah yang melekat pada lengan kirinya.


“Aku tahu itu, aku juga sempat tewas. Ah! Awas menghindar!” teriak Ketua Meera seraya mendorong tubuh Orion ke jalanan beraspal.


DUAAAAK!


Lagi-lagi kedua kaki Sera berpijak pada tanah sampai menghancurkannya hingga menjadi beberapa puing. Berhamburan ke mana-mana bahkan juga memecahkan kaca jendela yang berada dekat dengannya.


Serta, nyaris mengenai Ketua Meera, namun setidaknya ia dapat bertahan dengan menggunakan kekuatan air membentuk perisai padat.


Perlahan, air mengalir—mengitari tubuh Sera yang masih berdiam diri di posisinya. Berniat mengikat tubuh Sera.


“Tunggu! Jangan gunakan kekuatan api Anda!” pinta Ketua Meera pada Orion yang hampir menggunakan kekuatannya pada Sera di saat itu juga.


“Saya akan mengurungnya hidup-hidup sesuai perintah Ketua Arutala,” imbuh Ketua Meera.


Air yang mengalir kini sepenuhnya mengurung tubuh Sera. Kurungan air itu seolah hidup, airnya terus mengalir ke atas dan ke bawah seolah berada dalam arus yang deras.


Zrashh!


Tetapi, tangan Sera mencuat keluar dari kurungan air yang dibuat Ketua Meera.


“Bukankah hewan berbulu membenci air?”


“Sejak kapan Anda melihat kalau wanita itu berbulu?” tanya Orion pada Ketua Meera.


“Hanya sekilas saja. Dia juga tipe monster, 'kan?” sahut Ketua Meera.


Sekelebat bayangan hitam keluar dari kurungan hitam. Kurungan air dilenyapkan, menggenang ke sekitar jalanan yang ada. Lalu, keberadaan Sera saat ini terlihat jelas. Berada di dinding suatu gedung.


“Menyingkirlah! Ketua Meera!”


Orion melesat ke arah Ketua Meera. Sebilah belati memanjang, membentuknya sebuah pedang hingga panjangnya melebihi lengan Orion. Mata pedang tertuju pada Sera yang turun dari sana dengan cepat.


Sraang!


Dengingan kecil terdengar saat cakar dan mata pedang beradu dalam beberapa waktu setelahnya. Segera Orion menyingkir seraya mengayunkan pedang ke arah sebaliknya, sehingga tubuh Sera mengikut ke arah ayunan pedang Orion.


“Hei! Kemari!” pekik Ketua Irawan yang mengarahkan Ketua Meera dan Orion ke suatu jalan agar terhindar dari serangan Sera kembali.


“Jangan membuang waktu dengan bawahannya!” teriak Endaru yang tengah membopong Runo ke pundak.


“Ketua Meera, bergegaslah menghampiri Ketua Irawan. Saya akan mengurus ini sebentar!”


Orion mengangkat jari jemari menghadap ke atas. Pembentukan api padat, seketika duri-duri merah muncul dalam jumlah yang cukup banyak. Serta membuat tubuh Sera yang berada di atasnya pun terjebak dan tertusuk.


Drap! Drap!


“Oh, ini boleh juga. Ternyata efek ketika melihat game yang dimainkan Endaru cukup berguna juga,” gumam Orion lantas bergegas pergi dari Sera si wanita tipe monster.