
Sekelompok yang berjumlah 3 orang. Mereka adalah murid yang sebulan lalu telah dikeluarkan dari sekolah. Alias teman buruk Roni yang bahkan Roni sendiri tidak pernah menganggapnya.
Di samping mereka memberikan pengaruh buruk, mereka pula lah yang sengaja memberikan dukungan pada murid lain tuk memprovokasi dirinya.
Maaf pun takkan sampai pada mereka. Yang diperlukan hanyalah saling baku hantam. Tentu saja, ketiga orang ini benar-benar bukan tandingan apalagi kemarin saja mereka habis babak belur.
“Kalian masih belum mengerti, ya? Aku lebih kuat dari kalian. Tapi kenapa terus-terusan menghadang jalanku seperti ini? Orang-orang akan menganggap diriku preman kalau kalian kalah dariku. Apa perlu aku mengalah?”
“Heh, memangnya kami tidak tahu seberapa kuat kau? Tapi terakhir kali kuingat, meski kau kuat dan jago bertarung bak singa, kau sekarang lebih kuat dan tidak masuk akal!”
“Apa maksudmu?”
“Ini maksudku!!”
Serentak mereka melayangkan pukulan dari segala sisi. Roni terkepung dan hanya bisa menahan pukulan mereka dengan dua lengan. Bagian belakang sama sekali tidak terlindungi, namun, meskipun mereka menyerangnya pun akan percuma.
Duak!!
Pukulan keras dari punggung, Roni seharusnya tumbang namun tetap berdiri dengan kokoh.
“Nah ini! Monster!”
DUAGH!!
Sekali gerakan, Roni menghajar mereka dengan lutut serta kedua tangannya. Mereka bertiga kembali tumbang namun masih memiliki kesadaran.
“Ugh! Haha! Bisamu bertarung saja tanpa memperhatikan apa yang kami persiapkan sekarang. Lihat?”
Salah seorang dari mereka menunjukkan ponsel yang dalam keadaan merekam. Roni hendak merebutnya namun mereka sigap dan kembali menyembunyikan ponsel dalam kantung jaket.
“Sebelumnya aku mengarahkan kamera itu langsung ketika kau sibuk menghajar dua temanku, khu khu!”
“Kemarikan! Kau mau apa dengan itu!?” pekik Roni yang panik.
“Heh, aku ingin kau keluar dari sekolah. Kalau kutunjukkan ini pada kepsek, maka kau tahu apa yang akan terjadi.” Ia menyeringai.
“Lakukan saja! Lagipula aku tidak keberatan!”
“Oh, ya? Lalu bagaimana kalau begini, ku laporkan pada Ibumu?”
“Jangan!!”
Buak!!!
Roni melayangkan pukulan tepat pada wajahnya. Giginya rontok mengeluarkan darah serta wajahnya menjadi lebam keunguan.
Tap!
Seseorang menepuk pundak Roni dari belakang, sontak Roni secara reflek menyerang namun berhasil ditahan dengan mudah.
“Ini aku, Roni.” Orion telah datang. Kedatangannya sungguh terlambat.
Roni mengepalkan tangannya serta mengigit bibir bawah lantas menundukkan kepala dalam-dalam. Ia menatap wajah dari ketiga orang yang terpapar dengan tatapan tajam dan penuh amarah. Luapan energi yang setiap manusia memilikinya, kini Roni memilikinya dengan berlimpah ruah.
Lebih dari manusia biasa. Roni jelas adalah seseorang yang mengalami kebangkitan, NED (Near-death Experience) atau mati suri.
“Jangan memukul mereka lagi. Aku tahu kamu sangat membenci mereka tapi bukan begini caranya.”
Roni merangkak, ia merogoh-rogoh pakaian orang itu, setelah menemukan ponsel yang berisi rekaman ia pun segera mengambil memori ponsel lantas membanting ponsel itu ke jalan.
“Roni, kamu tahu sesuatu yang terjadi pada tubuhmu?” tanya Orion memastikan sesuatu.
“Hei, apa yang terjadi pada tubuhku? Katakan!”
Mendengar respon Roni, tampaknya Roni sudah memahami apa yang dimaksud Orion sebelum ini.
“Jadi maksudmu aku telah mati suri?”
“Ya. Energimu berlimpah, berkali-kali lipat dari orang biasa. Dan dapat kupastikan kalau kekuatan yang kamu punya itu berkaitan dengan perisai, pertahanan,” jawab Orion.
“Apa aku betulan jadi zombie?” pikir Roni dengan tubuh gemetar takut.
“Cara berpikirmu cukup lucu. Tapi tidak begitu juga, Roni. Kita masih memiliki akal sampai saat ini, 'kan?” celetuk Orion.
Sesaat Roni terdiam. Ia bangkit dari sana dan menghadap Orion dengan wajah serius.
“Apa maksudmu dengan kita? Jangan bilang kau sama sepertiku? Seperti orang-orang yang memiliki kekuatan super di komik superhero?” Mata Roni berbinar-binar. Tampaknya ia sangat mengagumi tubuhnya yang berubah.
“Ya, apa yang kamu lihat sebelumnya itu bukan cosplay. Bukan buatan atau sejenisnya melainkan tanganku berubah karena kekuatan itu,” jelas Orion dan seketika Roni semakin bersemangat. Matanya semakin berbinar.
“Jangan terlalu anggap enteng tentang hal ini. Karena tak lama lagi, aku akan membawamu ke suatu tempat.”
Tap, tap!
Orion lantas membalikkan badan dan pergi. Roni yang masih sangat penasaran pun mengikutinya.
“Apakah masih ada banyak orang yang memiliki kekuatan seperti kita?” tanya Roni.
“Ya.”
“Lalu, ke mana kau akan membawaku pergi? Hei, katakan!” tanyanya bersemangat.
“Tempat yang disebut sebagai Organisasi NED. Grup Arutala. Kami menyebut fenomena ini sebagai NED, dan orang yang bertarung demi suatu tujuan disebut Pejuang NED. Artinya pun sama dengan mati suri.”
Orion menjelaskan sebagian hal yang perlu diketahui oleh Roni. Mulai dari Organisasi serta seluk-beluk tentang NED. Di mana satu dunia terasa terbagi menjadi dua. Dunia biasa dengan dunia NED.
Bertarung pun memiliki tujuan tertentu, semisalkan menemukan Pejuang NED liar, di mana mereka semena-mena menggunakannya serta tidak tergabung dalam grup mana pun. Mereka patut diwaspadai dan sebisa mungkin semua Grup dalam Organisasi utama NED harus merekrut mereka.
Tak terkecuali dengan Grup Chameleon. Grup mereka terbilang tidak tercatut dalam organisasi utama melainkan mereka memiliki tujuan jahat. Villain di dunia NED.
“Jika kamu bertemu atau ada orang yang menyebut nama itu di depanmu. Maka jawablah bahwa kamu tak mengerti dan berpikirlah bahwa Chameleon adalah hewan. Cukup itu saja.”
Orion memperingati Roni akan hal tersebut. Lantaran ia merasa cemas apalagi Roni diambil oleh Chameleon.
“Dia kriminal? Apa saja yang dia lakukan?” tanya Roni penasaran.
“Kamu tidak perlu tahu. Yang perlu kamu lakukan sebelum aku menjemputmu lagi, harus belajar dengan sungguh-sungguh jika tidak maka kamu akan tahu yang akan terjadi nanti,” ancam Orion padanya.
Mata yang sendu namun terkesan menukik tajam. Suara yang biasa serta seringai di wajahnya pun seketika membuat Roni bergidik.
“Tapi aku ingin pulang hari ini,” ucap Roni.
“Jika ingin menenangkan diri, maka itu terserah padamu. Tapi kamu harus ingat pesan Ibumu dengan baik.”
“Ternyata kau mendengar perbincangan kami dari awal, ya,” celetuk Roni mengerutkan kening.
Ketika Roni dan Orion berjalan bersama. Seorang wanita dari kejauhan memanggil nama Roni lantas berlari menghampiri.
Dan ternyata adalah Ibu Roni. Ia tampak khawatir, sesekali ia memeriksa tubuh serta wajah anaknya. Meyakinkan bahwa anaknya tidak apa-apa.
“Ibu syok mendengarmu dihajar dengan beberapa orang. Kamu nggak terluka? Apa kamu berhasil melarikan diri?”
“Iya, Ibu. Aku baik-baik saja berkat om ini,” ujar Roni sembari menunjuk Orion.
Tebakan Orion, Ibu Roni sama sekali tidak tahu bahwa anaknya selalu berkelahi bahkan mungkin mengira anaknya sangat lemah. Dan penampilan Roni yang terlihat garang itu hanyalah sekadar penampilan, agar Roni tidak diganggu.
Pemikiran Ibu dan anak yang sama. Sama-sama lugu.