ORION

ORION
Bertindak Kelewat Batas Jadi Disegani



Setelah murid bermasalah kini Orion menemui seorang murid lelaki yang memiliki masalah di keluarganya. Toni, itu adalah namanya. Murid yatim piatu dan kemudian diasuh oleh bibi dan pamannya.


Bibi Toni semena-mena terhadapnya. Seenaknya menyuruh berkerja dan juga bersekolah. Mereka yang berniat memudahkan keuangan justru membuat mental Toni turun. Stresnya memuncak hingga akhirnya ia berniat melompat dari lantai tiga.


Tapi kejadian itu berhasil dicegah oleh Orion serta guru-guru yang memberitahukannya. Toni berhasil ditenangkan dan ia pun mengutarakan segala masalahnya.


“Itu, aku akan melakukannya!”


Melaporkan kejadian ini pada pihak yang bertanggung jawab, itulah satu-satunya cara agar Toni terlepas dari segala beban masalahnya.


“Bersekolah dengan giat. Lain kali, apa pun masalahnya kamu ceritakan saja pada orang terdekat. Dan jangan sampai kamu memutuskan untuk bunuh diri seperti itu, mengerti?”


“Iya, pak!” jawabnya dengan berteriak semangat.


Orion keluar dari ruangan, namun beberapa guru terlihat mengikuti dirinya dari belakang. Mereka masih berwajah gelisah padahal masalah juga sudah selesai.


“Ada apa lagi ini?” tanya Orion, menoleh ke belakang.


Salah satu guru menjawab, “Saya mendengar bahwa Anda adalah bagian dari pemerintah. Apa itu benar?”


Sebelum dijawab oleh Orion, lantas beberapa guru mulai mengeluh soal sesuatu.


“Jika benar. Maka tolong bantu saya.”


“Ini tentang kebijakan—”


Berbagai keluhan yang sulit dimengerti saling tumpang tindih satu sama lain. Guru-guru itu merengek padanya tanpa membuat Orion celah sedikitpun.


“Tunggu ini sebenarnya ada apa?”


“Pak! Kalau Anda benar-benar bagian pemerintah, maka tolong katakan pada mereka agar kami dan para murid mendapatkan bantuan. Meja, kursi juga sebagian tak layak!”


“Pak! Itu benar! Dan tak hanya itu—”


Siapa yang mengatakan bahwa Orion bagian dari pemerintah, sedangkan Grup Arutala saja tidak pernah mengungkapkan hal tersebut. Situasi ini cukup membingungkan dan aneh.


Drap! Drap!


Orion menghindari mereka dengan tergesa-gesa. Sebisa mungkin ia tidak menjawab semua pertanyaan mereka untuk saat ini.


Lagi-lagi masalah yang ia hadapi cukup rumit. Terutama ketika mereka meminta bantuan saat mengetahui Orion bagian dari pemerintah. Walau secara tak langsung, Orion tetap bagian dari Grup Arutala yang terhubung langsung dengan pemerintahan.


Yang itu artinya memiliki kuasa lebih tinggi. Bahkan mungkin lebih tinggi dari pejabat sekalipun.


“Kenapa aku juga harus mengurus hal-hal yang tidak berkaitan denganku. Meskipun memang itu benar, tapi aku tidak bisa melakukan seenak jidatnya, dasar!”


Tak! Tak!


Orion menggerutu kesal, amarah menggelenggak dalam hatinya sembari mengetuk-ngetuk punggung ponsel yang didekatkan pada daun telinga.


Ia menunggu panggilan menuju Mahanta tersambung. Namun tampaknya Mahanta sangat sibuk sehingga berkali-kali telepon itu tidak tersambung atau bahkan di luar jangkauan.


“Ah, ke mana lagi? Mahanta, jawablah!”


“[Orion?]”


Akhirnya terangkat juga sekarang. Mahanta pun terdengar sangat kelelahan dari helaan napasnya yang berat.


“Hei, Mahanta! Bukankah aku datang ke sekolah ini hanya sebagai guru pengganti selama satu pekan saja?” tanya Orion dengan kesal.


“[Tentu saja. Memangnya ada apa? Identitas kita semua berada di balik bayangan. Dan di dunia mereka, kita sudah dianggap mati.]” Mahanta menjawab.


“[Tunggu, apa? Aku, tidak! Bahkan Nona Gista tidak bilang pada mereka tentang hal itu! Kami bersumpah!]” Mahanta berteriak lantas benar-benar tidak membeberkan identitas mereka sendiri pada orang-orang biasa.


Muncul sebuah tulisan dari lantai, "Aku lah yang mengatakan itu pada mereka."


Sontak Orion terkejut. Tulisan ini muncul begitu saja tanpa pemberitahuan apa-apa.


“Chameleon?”


“[Orion, kau bilang apa barusan?]”


“Chameleon ada di sini,” ucap Orion mengulang kembali perkataannya.


Dinding di sepanjang lorong bergerak tak wajar. Seolah-olah ada sesuatu yang tengah berjalan di dinding. Orion mengejarnya, dan kemudian mengambil kursi yang secara kebetulan ada di luar kelas.


Prang!!


Orion melempar kursi itu menuju ke sosok tak wajar tersebut, namun itu berakhir memecahkan kaca jendela. Beruntung tak ada seorang pun di sekitar sana ataupun yang sedang di bawah.


“[Orion, kau tak apa? Aku akan segera ke sana.]”


Chameleon ternyata tak hanya sekadar melintas ke tempat ini, melainkan menetap untuk sementara waktu. Lantas dirinya kembali menemukan Orion dengan mudah.


Hal itu sudah Orion duga sebelumnya. Cepat atau lambat Chameleon akan datang. Dan sekarang lah saatnya.


“Pak Orion!”


Banyak dari murid dan guru yang berhamburan menuju ke asal suara. Di mana kaca jendela tersebut sudah pecah, dan kursi yang terjatuh ke bawah setelah terlempar di jendela. Ini sangat mengejutkan bagi mereka.


“Pak Orion! Ada apa? Apakah bapak marah karena permintaan saya? Maafkan saya! Saya mohon! Jangan pecat saya!”


Banyak guru yang mengatakan kalimat yang serupa dengan itu. Namun Orion hanya berwajah masam dan menatap ke arah luar jendela. Setelah beberapa saat, kehadiran serta sosok bergeliat di dinding sebelumnya telah menghilang.


“Ck! Kenapa dia harus mengatakan itu pada orang-orang biasa. Padahal dia tahu aku tidak bisa menjawabnya! Apa dia sengaja? Untuk membingungkan diriku?” gumam Orion dilanda kecemasan.


Tak habis rasanya masalah datang secara beruntun. Hal yang amat mengesalkan kini justru kembali datang. Yakni, Chameleon. Entah apa maksudnya membeberkan identitas Orion pada guru saat ini.


“Dia tidak berencana untuk—”


“Pak!” Panggilan seseorang menghamburkan isi pikirannya dalam sekejap.


“Bapak tidak apa-apa? Astaga! Ada apa ini? Kaca jendelanya pecah!” Guru yang baru saja datang pun terkejut.


“Ya, saya tidak apa-apa. Tadi ada sesuatu yang mencurigakan. Maafkan saya yang telah memecahkan kaca jendelanya. Saya akan menggantinya secara pribadi,” ucap Orion menjelaskan situasi yang telah terjadi.


Lekas Orion pergi dari sana dan menuju ke luar gedung sekolah. Dengan tetap panggilan dengan Mahanta tersambung, mereka bertukar kata mengenai keberadaan Chameleon saat ini.


“[Kau dengar aku?]”


“Ya. Aku mendengarmu. Tapi Chameleon hilang lagi. Sesaat aku menemukannya dalam wujud dinding. Dia itu mahkluk apa sebenarnya?”


“[Baiklah. Tunggu saja di sana. Dia juga mengincarmu, 'kan? Jadi keberadaannya tidak jauh dari sana. Aku juga akan segera datang.]”


Mahanta saat ini berbicara sembari beranjak dari tempatnya, lantas masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan kecepatan sedikit cepat.


Waktu serasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Siang yang panas, terik matahari menyengat dari atas kepala pun membuat Orion pening. Untuk saat ini tak ada tanda-tanda keberadaan Chameleon lagi.


“Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa di tempat ini. Sebisa mungkin aku harus menghindari pertarungan di sini.”


Lantas bergegas keluar dari sekolah. Ia melirik ke segala arah tuk memastikan seseorang tidak mengikutinya. Dan berharap bahwa Chameleon akan muncul.