
Ruangan yang dipenuhi bau yang kurang nyaman. Unit Kesehatan Sekolah. Ruangan yang cukup sepi, karena yang bertugas di sana sedang memiliki urusan di luar. Dan hanya menyisakan seorang murid laki-laki yang berdiri di jendela.
Meratapi nasib buruknya dengan membayangkan yang tidak-tidak, ia menatap ke bawah dari luar jendela dengan pandangan kosong.
Setelah beberapa saat ia memejamkan mata dan air mata mengalir, membasahi wajahnya. Ia mencodongkan tubuhnya ke depan. Menjatuhkan diri dari lantai 3 itu.
Srek!
Mengira dirinya akan jatuh ke bawah dalam waktu beberapa detik, namun ternyata saat ia membuka kedua mata dirinya masih menggantung di antara jendela.
“Mau apa kamu?”
Terdengar suara seorang pria yang menyadarkan dirinya kembali ke kenyataan. Kerah bagian belakangnya nyaris robek karena seseorang menariknya dari atas.
Pria itu, Orion lantas bergegas menarik tubuhnya agar tidak terjatuh. Membuatnya duduk di lantai, lantas menatapnya tajam.
“Kamu mau apa barusan?” tanya Orion sekali lagi padanya.
Beberapa murid dan guru yang berada di luar UKS pun seketika menghela napas lega. Satu-dua orang terduduk di lantai saking leganya hingga tubuhnya lemas tak bertenaga.
Lain halnya dengan murid itu, ia tetap duduk di lantai dengan tundukkan kepala tanpa bergerak sedikitpun. Bahkan pertanyaan Orion juga tidak digubris.
“Nak, siapa namamu? Bicaralah,” ucap Orion yang berusaha untuk membuatnya buka mulut.
Ia mengguncang tubuhnya selama beberapa kali, dan terus memanggilnya. Bahkan guru serta teman-temannya yang memanggilnya saja tidak disahut sama sekali.
“Katakan sesuatu, apa kau ada masalah? Atau sesuatu terjadi?”
Banyak luka lebam di mana-mana. Dan paling banyak ditemukan di bagian lengan dan kakinya. Untuk sesaat, murid itu akhirnya mendongakkan kepala. Menatap semua wajah di sekitarnya.
“Ingin minum?” Guru laki-laki menyodorkan segelas air putih namun murid itu menggelengkan kepala tanda menolak.
“Setidaknya katakan apa yang terjadi padamu?” Orion kembali menanyakannya.
“Aku cuman lelah. Lelah bekerja dan bersekolah setiap hari. Aku lelah! Huweee!!!”
Semula terdiam dan kemudian menangis tiba-tiba. Murid ini hanya mengatakan dua kalimat lalu menangis serta menjerit. Seolah-olah semua orang sedang menganiaya dirinya, padahal tidak.
“Ya, ampun! Hei Toni! Jangan cengeng begitu! Katakan yang jelas!” pekik salah satu temannya.
“Aku disuruh sekolah tapi juga bekerja. Siang malam tidak pernah berhenti kecuali sarapan atau makan siang. Aku lelah, kenapa aku harus melakukan ini sepanjang hari?” celetohnya sembari menangis terus-menerus.
Kehidupan yang memprihatinkan sekali. Bagi Toni, ia bersekolah namun juga bekerja sepanjang hari. Para guru juga baru mengetahui hal ini termasuk semua luka lebam yang didapat karena Toni bekerja terlalu keras.
Plak!
Orion menampar wajah Toni dengan keras. Seketika, tangisnya serta ocehannya berhenti dalam sekejap. Kini, mata mereka tertuju pada Orion. Sedangkan Toni tercengang dengan muka pasrah seraya memegang wajahnya yang baru saja ditampar.
“Membunuh diri sendiri itu bukan cara untuk menyelesaikan masalah. Apapun masalah yang kamu miliki,” tutur Orion menasehati.
Semuanya terdiam. Sesaat ruangan menjadi hening dalam sekejap. Orang-orang yang di luar merasa penasaran namun enggan untuk masuk.
“Kamu mencoba untuk melakukan hal itu tadi, apa aku salah?”
Toni tak lagi menjawab dan air matanya justru kembali mengalir. Namun saat Orion menatap dengan tajam, ia terburu-buru menyekanya.
“Orang tuamu yang menyuruhnya?” Orion kembali bertanya.
“Maaf pak sebelumnya. Terima kasih karena sudah membantu anak ini. Dan dia memang ada masalah, tapi berkali-kali saya mencoba untuk bertanya pasti dia hanya menangis saja. Lalu, dia yatim piatu. Sekarang dia diasuh oleh bibi dan pamannya.”
Salah seorang guru yang merupakan wali kelas Toni menjelaskan. Orion cukup memahami itu, dan hal ini bisa saja dilaporkan tapi anak itu sama sekali tidak menginginkannya.
Malahan, dia terus menuruti perintah bibi nya itu. Termasuk bekerja.
“Itu perlakuan yang tidak adil. Daripada mengeluh seperti ini, kenapa kamu tidak melaporkan ini lebih awal?”
“Ma-maaf aku. Aku pun juga membutuhkannya. Maksudku membutuhkan uang,” jawab Toni dengan terbata-bata.
“Seharusnya kamu bilang saja. Bahwa kamu tidak ingin bekerja dan hanya berfokus untuk sekolah. Pikirkan masa depanmu, nak! Jangan pernah menyerah!” tegas Orion sembari mencengkram bahunya dan menatapnya dengan serius.
“Ini cukup lucu. Aku bilang padanya untuk jangan menyerah sedangkan aku di masa lalu persis seperti dirinya,” batin Orion.
Itu benar. Orion tidak berbeda jauh dengan murid ini. Segala masalah, beban dan hal-hal beratnya ditanggung namun ia mengakhirinya dengan bunuh diri. Jika dipikir kembali pun, Orion yang sekarang juga masih belum berubah.
Keinginannya untuk mati. Melarikan diri dari kenyataan, itulah sifat Orion yang sudah muak dalam kehidupannya.
“Aku berharap dirimu tidak mengalami hal yang sama sepertiku. Karena itu bertahanlah dan lakukan apa yang kamu bisa selama masih hidup,” bisik Orion kepadanya.
Ibarat saling mendengar perasaan satu sama lain. Orion menahan isak tangis, namun sebaliknya Toni kembali menangis dengan kencang. Seolah menggantikan Orion menangis.
Begitu pun para guru dan teman-teman sekelasnya yang datang mendengar semua ungkapan Toni yang menjadi masalahnya. Mereka banjir tangis, merasa bersimpati, mendukung serta menghiburnya dengan baik.
“Baiklah, pak, bu. Saya akan pergi, sisanya—”
“Tunggu!” teriak Toni. Ia menarik ujung lengan kemeja Orion yang hendak pergi dari UKS.
Isak tangisnya masih terdengar walau lirih. Ia berusaha keras untuk menahan tangisnya ketika ia hendak membicarakan sesuatu pada Orion.
“Bantu aku. Karena bapak sudah menggagalkan rencana saya untuk lompat dari jendela, maka bapak harus membantuku!” ujarnya menegas, ia meminta tolong seraya mengusap ingusnya.
“Membantu? Apa yang harus aku lakukan untukmu? Aku tidak berkewajiban untuk itu,” katanya dengan dingin.
Sontak semua orang di sana menatap Orion dengan heran. Melihatnya, entah mengapa Orion merasa seperti penjahat dan menelantarkan murid.
“Hah, oke. Baiklah. Aku tidak terlalu bisa menyelesaikan masalah. Membantu pun sepertinya tidak akan membuat perubahan drastis. Jadi jangan terlalu berharap padaku.”
Orion menghela napas pendek lantas mengangkat tubuh Toni agar ia berdiri dengan tegak. Sorot mata yang belum sepenuhnya menyerah itu membuat Orion tampak mempercayai dirinya.
“Dia memiliki perasaan dan nasib yang sama denganku dulu. Tapi dia masih memiliki api semangat, bukan api kematian,” celetuk Orion membatin seraya tersenyum tipis.
“Pertama, apa yang sebenarnya kamu inginkan? Katakan semuanya, termasuk hal-hal konyol yang kamu sukai.”
“Aku ingin bersekolah dan mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Bermain, membaca novel, komik dan menonton sebuah film. Aku tidak akan bekerja sebelum mentalku siap,” jawab Toni dengan membusungkan dada yang kaku.
“Kalau begitu lakukanlah. Bilang pada bibi atau pamanmu. Kalau perlu pergilah dari rumah dan cari tempat untukmu bernaung. Kalau perlu laporkan saja mereka yang telah memaksa anak sepertimu harus pergi bekerja!”