
“Saya akan mengurus pria lumpur!” ujarnya tersenyum lantas berlalu pergi.
Hendrik memiliki perlawanan yang cukup kuat jika dibandingkan dengan lainnya, lumpur mungkin lunak tapi sekali tertimbun akan membuat seseorang kehabisan napas. Terlihat seperti kekuatan milik Ramon saja, yang bersifat gas atau berkabut panas dingin tak menentu itu.
“Asap sepertimu bisa apa hah?”
“Ha! Justru aku yang harusnya berkata begitu, lumpur seperti bubur gosong itu bisa apa melawan asap mematikan! Jangan lupakan apa kekuatanku!”
Meski nyatanya Hendrik dapat meloloskan diri sebelum ini, tapi selanjutnya mungkin akan sulit. Terlihat jelas bagaimana Hendrik mengambil sikap, setelah didorong hingga tersungkur, ia justru menjauh dari Chameleon.
“Dia bertindak sendiri karena percaya ada nomor dua di dekat tuan mereka?” pikir Ramon.
“Hm, benarkah begitu?” pikirnya lagi, yang masih meragukan.
Berdiam saja takkan membuat pria berotak otot itu menang, melupakan yang mungkin saja akan terjadi ke depannya, Ramon melesat maju tuk menyusul Hendrik yang berlari menjauhinya.
“Kemari kau, pengecut!” Sembari berteriak, semangatnya semakin membara.
“Pengecut katamu? Dia meremehkan aku hanya karena aku berlari darinya?” Beberapa saat kemudian, Hendrik menyunggingkan senyum, tampak ia memiliki rencana cerdik guna melawan anak magang tersebut.
***
“Sepertinya pemanah itu sudah ditumbangkan.”
“Jangan lengah, Runo. Kamu tetaplah di sini, mengerti?”
“Ba-baik! Anda akan pergi?”
Srakkk!
Tanpa menjawab, Gista melesat dengan lapisan es di bawah kedua kakinya. Menggunakan lapisan es tuk membentuk jalannya sendiri, seolah-olah ia tengah berseluncur sekarang.
Jalanan batu es yang licin dan halus itu perlahan menghilang sesaat setelah Gista sampai lebih dekat dengan Chameleon.
“Lama tak jumpa Nona Gista. Apakah kau bisa mengalahkanku hanya dengan membawa sedikit orang?” ledeknya.
Gista sama sekali tidak menjawab, ia hanya sejenak melihat ke atas. Mata mereka saling bertukar pandang dengan kebencian yang amat mendalam. Walau sejujurnya lebih terarah ke dalam perasaan dendam pribadi.
“Kau memilih untuk bisu?” Chameleon kembali berbicara, seraya ia mengangkat jari telunjuk ke atas, mengarahkan penduduk dengan berkekuatan itu tuk menyerang sosok wanita yang berada di belakang mereka.
Tetapi, sebelum semua boneka yang dikendalikannya menyerang, Gista sudah lebih dulu bertindak, ia membekukan mereka sekaligus dengan jalanannya. Sekarang terlihat seperti dinding batu es terukir dekorasi manusia.
“Dari awal kau terlihat menahan diri. Apakah demi menyisakan kekuatan untuk pertahananmu? Demi melindungi anak-anak itu? Rekanmu?” ujar Chameleon tersenyum.
Lagi-lagi Gista tak menjawabnya. Hanya dengan melihat wajahnya sekarang, semua orang akan tahu bahwa dirinya sedang marah saat ini juga. Tak terkecuali dengan Chameleon, yang memang sengaja memancing emosinya.
Gista membentuk beberapa batu es bagai bilah tombak yang tajam namun juga besar, tanpa ragu lagi, ia mengarahkannya pada Chameleon.
Dan pada saat yang bersamaan pula, seseorang memainkan alat musik petik dan dengungan suaranya pun menghasilkan serangan balasan. Dalam sekali petik, semua tombak yang dibuat Gista hancur dalam sekejap, kini tersisa serpihan es saja.
Sontak saja Gista terkejut. Saking ia terlalu berfokus pada Chameleon, ia tak menyadari ada beberapa orang lain lagi di dalam mobil yang kini sudah berhenti bergerak.
Selain sopir yang juga adalah boneka Chameleon, kemungkinan besar di bangku belakang sekarang adalah bawahannya yang lain.
“Kau ya?”
Melancarkan serangannya kembali, Gista beralih dengan mengincar mobil itu, membuat pedang es yang lebih besar sampai menembus dan membelah kuda besi menjadi dua.
“Wah, kau menghancurkan mobil ini?”
Tiga orang selain sopir terlihat, salah satunya adalah Orion.
“Gista?”
Tetapi karena ada Chameleon, tak mungkin jika Orion akan membantu mereka. Dan terutama, gelang ini akan mengikatnya hingga mati, yang awalnya hanya ada di kedua pergelangan tangan, sekarang ada juga di lehernya.
“Sebelum waktunya, aku harus pergi dari sini,” ucap Orion.
“Hei, kau mau melarikan diri?!” pekik Jinan mendelikkan mata.
Lalu, Pemain Kecapi yang sebelumnya telah menghancurkan serangan Gista akan segera menyerangnya lagi.
“Ketua Arutala cukup hadapi dia saja!” teriak Ketua Irawan dari kejauhan, ia melesat di antara mereka, lantas menyeret Pemain Kecapi pergi dengan gundukan tanah menjulang tinggi.
“Datang lagi dia,” gerutu Jinan.
“Jinan, jangan lepaskan Orion, kau paham?” ucap Chameleon memperingatinya.
“Ya, Tuan Chameleon.”
Jinan menjauh dari Gista bersama Orion yang terikat kail pancing. Sementara Ketua Irawan telah mengusir Pemain Kecapi pergi, sedang Gista berhadapan dengan Chameleon lagi.
“Pada saat-saat seperti ini, bukankah akan lebih baik kita mengenang masa lalu?” celoteh Chameleon.
Gista menyerang bahkan ketika bunglon itu berbicara, berbagai serangan yang dibentuk menggunakan es kerap kali ia lakukan demi menyerang Chameleon habis-habisan.
Tetapi, kemampuan Chameleon yang dapat meniru siapa pun beserta kekuatannya itu sungguh merepotkan. Kali ini ia mengambil wujud Gista, lantas membalas serangan dengan bentuk yang sama pula seperti Gista.
“Ck! Orang ini!”
Jengkel menghadapi Chameleon, Gista akhirnya menyerah. Ia mengibaskan lengannya dari belakang ke depan, ibarat menyapu angin, dinding es dengan bentuk runcing di atasnya datang.
Membekukan setengah tubuh Chameleon, lalu kembali ia menyerang dengan pedangnya.
“Kau lupa siapa aku? Nona Gista?” Betapa merepotkannya, karena sekarang Chameleon mengambil wujud udara.
Gista berdecak kesal, di tengah kekesalannya pun ia masih memikirkan cara untuk mengalahkannya.
Plak!
Gista menepuk kedua tangannya dengan keras, dalam sekejap udara yang adalah Chameleon terjebak dalam kurungan es.
“Kau akan berubah jadi apa? Sampai kapan aku harus meladenimu bermain raja-rajaan?” ujar Gista mengerutkan kening.
Retakan muncul tepat di kening Chameleon. Seringai di wajahnya tak pernah menghilang, tanda ia akan melakukan sesuatu untuk ini.
“RUNO! MERUNDUKLAH!!”
“B-BAIK!!” Runo yang masih gugup, tetap menjawab dengan lantang, mengerti akan perintah Gista.
Kurungan yang dibuat Gista memang tidak ada pengaruhnya, seberapa banyak lapisannya tetap takkan mengubah unsur kekuatan Chameleon yang tak masuk akal itu.
Ia kembali ke wujudnya seorang pria berperangai buruk, alis tebal, mata bulat hitam yang menonjol dan seringainya menampakkan sedikit taring di balik bibir tipis itu.
“Apa yang aku lakukan, ini!” tunjuk Chameleon pada atas kepalanya, perlahan sesuatu muncul dari sana.
“Lingkaran itu!?”
Bertambahlah rasa terkejut Gista, menghadapi Chameleon sekarang itu terlalu cepat, mereka baru saja beradaptasi dengan negara lain, tapi sudah harus melakukan perlawanan sebesar ini?
Lingkaran yang berada di atas kepalanya, bisa disebut sebagai lingkaran penghisap jiwa. Begitu itu muncul, maka semua orang bisa-bisa mati tanpa hitungan detik.
“TUTUP TELINGA DAN MATA KALIAN!!” teriak Gista seraya ia melompat mundur ke belakang.
Tanpa mendekati Runo dkk, ia membentuk dinding es yang hanya terdapat dirinya dan Chameleon seorang. Sementara ia juga membuat perisai hidup di sekeliling rekan-rekannya.
**
Kota S-Frans, benar-benar dibuat menjadi medan pertempuran. Sudah beberapa arah mata angin yang diblok selama pertarungan terpisah berlangsung.
Masing-masing dari anggota NED berusaha keras agar tidak melibatkan penduduk kota. Lalu, Gista saat ini justru melakukan hal yang sebaliknya.
“Kau ...sampai kapan harus bermain seperti ini?”
Banyak penduduk sudah menjadi boneka Chameleon, tak hanya dibuat bergerak bahkan Chameleon menyempurnakan mereka dengan adanya kekuatan. Seperti, kelompok NED, sekelompok orang yang telah bangkit dari kematian mereka.
Walau hal itu berupa fakta, tetapi tetap saja, tiada kebebasan penduduk di sana. Terpaksa, Gista menyerangnya, dengan membekukan mereka. Lalu kembali memfokuskan serangan sepenuhya pada Chameleon, namun Chameleon menggunakan senjata pamungkasnya yang lain.
Dan itu cukup familiar di mata para kelompok Gista khususnya.
“Matilah!! Gista! Kau takkan bisa lari dari takdir terkutukmu!”
ZRUUUNGGGG!!!
Suara berdengung panjang mengitari dinding es yang menjulang tinggi di tengah jalan perkotaan. Sepenuhnya mengukung Chameleon, tapi di satu sisi Gista juga dirugikan karena Chameleon telah mengeluarkan lingkaran penghisap jiwa itu.
“Apa Ketua Arutala berusaha untuk memblokir serangannya ...sendirian?” pikir Runo mencemaskan.
Lingkaran yang bukan sekadar lingkaran biasa, akan sepenuhnya menghisap energi atau tenaga hingga membuat tubuh mengering kurus, tidak ada bedanya dengan menghisap jiwa atau nyawa itu sendiri. Kekuatan yang benar-benar gila, di luar nalar.
“Aku merasakan banyak orang yang hendak datang kemari. Tapi aku tidak akan membiarkannya,” ucap Runo dengan mata terpejam.
Ia berusaha untuk membantu Gista, dengan mengamankan banyak orang yang mungkin akan datang kemari. Lalu melindungi mereka yang telah memasuki area pertempuran ini.
Runo menggunakan salju beku, dinding yang sama namun lebih besar mengitari kawasan pertempuran, namun tak termasuk dengan Mahanta ataupun Ketua Meera yang sudah terpisah sangat jauh. Dinding yang setinggi gedung-gedung pencakar langit pun akhirnya berhasil dibuat, dan takkan ada seorang pun yang masuk ataupun keluar.
Serta Runo membantu sifat pertahan, dinding perisai hidup yang ada untuk para penduduk yang tengah bersembunyi di balik gedung-gedung tertentu, ataupun rumah mereka.
Dengan begitu, Gista dapat fokus hanya ke satu musuh saja, yakni Chameleon!
“Ketua Arutala! Anda baik-baik saja?” tanya Ketua Irawan yang berada di atas dinding es Gista.
“Apa yang terjadi dengan lawanmu?”
Beberapa menit sebelumnya, sesaat sebelum Gista mendekati Chameleon. Pada waktu itu Ketua Irawan telah menimbun Hendrik yang tengah bersembunyi di lumpurnya. Lalu mendorong jauh Iki hingga benar-benar berada di arah mata angin timur. Berkat kecerdikannya, ia pun sampai ke titik keberadaan Chameleon berada lalu menyingkirkan satu pengganggu yakni Pemain Kecapi.
Menggunakan gundukan tanah, Pemain Kecapi sulit berkutik, dirinya bahkan sudah pasrah hingga akhirnya jatuh ke jalan.
“Tunggu, aku dari awal sulit bergerak karena Pahlawan Kota itu. Dan aku sama sekali tak berniat melawan kalian, ini murni karena Chameleon mendesakku,” tutur Pemain Kecapi berusaha menjelaskan bahwa statusnya sekarang bukanlah musuh maupun sekutu.
“Kalau benar begitu, pergilah!”
Ketua Irawan membiarkannya karena tahu kondisi tubuh Pemain Kecapi yang sedang dialaminya sekarang. Benar-benar kacau.
Itulah mengapa Ketua Irawan sekarang dapat berdiri bersama Gista.
“Kerja bagus. Bagaimana keadaan luar?”
“Sepenuhnya aman berkat Anda dan Runo,” jawab Ketua Irawan.
“Begitu, baguslah. Tutup mata dan telinga jika ingin membantuku.”
“Baik!”
Menutup mata dan telinga secara bersamaan, benar-benar merepotkan. Tapi harus dilakukan agar senantiasa selamat dari lologan maut yang tengah memekak saat ini. Sekitaran dinding bagian dalam es, terdapat aura gelap dan dapat dirasakan ada hawa membunuh yang cukup kuat. Manusia biasa pasti langsung mati.
Dan kini mereka harus menumpukan dua indera ketika melawan musuh terberat.
Dalam kondisi seperti itu, mereka harus bagaimana?
“Kalian menutup mata dan telinga, itu percuma lho. Memangnya kalian akan tahan dengan menutup panca indera yang begitu penting?”
Kehadirannya saja sudah cukup kuat, terlebih ia datang dengan mencolok sebagai gubernur Nicholas. Tapi, semua yang menjadi topengnya kini lenyap, dan hanya tersisa seorang penjahat kriminal tingkat tinggi, Chameleon!
“Nanti kalian mati lho?” celotehnya.
“Nanti jadi kurang asik, dong?” lanjutnya.
“Ya, terserah. Lagi pula kalian kuat,” tutup Chameleon.
Sejak tadi memang kerjaannya hanya mengoceh panjang lebar, tapi kepekatan auranya itu sangat kuat bahkan membuat Gista harus menahan pergolakan dalam hatinya saat ini.
“Kalian yang tak bergerak akan mati!”
ZRAKK!!
Ada tebing es menyeruak, memisahkan mereka berdua. Kini, mereka berdua menggunakan perasaan, insting dari hawa membunuh yang kuat itu. Memanfaatkannya guna merasakan serangan Chameleon, lalu menghindar dan kemudian menyerang.
Gista dan Ketua Irawan bergerak bersama, berlari ke depan dengan kecepatan yang hampir sama, mereka berdua kemudian mengeluarkan kekuatannya dari dasar tanah maupun udara.
Menyiapkan serangan ganda dari bawah serta atas secara bersamaan. Chameleon yang terlihatnya seperti tikus terpojok, pun memilih tuk melesat maju dengan memotong tebing lantas menyerang Ketua Irawan.
Kali ini, yang datang cakaran milik hewan buas. Tipe monster yang seharusnya sulit untuk ditiru.
“Heh, pandai juga kau menghindar!”
Dengan hati tenang, Ketua Irawan mengelak dari setiap serangan dangkalnya. Beberapa saat kemudian sadar, serangan datang dari arah belakang. Ia nyaris lupa bahwa musuhnya ada dua sekarang.
“Apa? Aku menyentuh sesuatu ...” gumam Runo tak percaya dengan apa yang ia sentuh secara tak langsung.
Ia merasakannya apa yang disentuh oleh serpihan salju yang perlahan turun dari langit. Inilah kekuatan anak magang, Runo. Salju es, tipe kekuatan yang sama seperti Gista, serangan tapi tidak dengan pertahanannya yang kurang.
Lalu di saat yang bersamaan, Chameleon setidaknya merasakan hal aneh pada lingkaran miliknya. Lingkaran yang spesial ini, tiba-tiba saja kehilangan setengah pengaruhnya yang bahkan rasanya akan berkurang setiap menit lagi.
“Ada apa ini?” tanya Chameleon bingung pada dirinya sendiri. Saat itu ia masih belum menyadarinya.
“Dia melemah!” pekik Gista dan Ketua Irawan secara bersamaan seraya membuka kedua mata dan telinga mereka kembali.
Kedua ketua itu langsung tahu bahwa kekuatan Chameleon melemah, lalu mengambil kesempatan langka ini untuk menyerangnya habis-habisan.
“Ketua Irawan, serang secukupnya seolah kau sedang bertaruh nyawa. Karena sebentar lagi kita akan mundur,” ucap Gista padanya.
“Baik, saya mengerti!”
Serangan langsung pun terarah langsung pada Chameleon yang lengah dalam sedetik itu. Gundukan tanah beruncing bagai bukit terjal lalu tebing es berbentuk bilah tombak maupun pedang ibarat sungai beku telah datang menyerang.
Sesaat Chameleon tercengang, ia tak bisa berhenti terkejut dan tersenyum selebar-lebarnya.