
Lift bergerak cepat ke bawah. Mereka dibawa ke suatu tempat yang disebut ruang bawah tanah. Endaru bilang, ruang ini pernah dijadikan bunker atau penyimpanan barang berharga dan sejenisnya.
Namun, karena lift itu sudah tertutup dan mereka terjebak di ruang bawah tanah, serta kehadiran dua musuh yang tidak terduga. Mereka saling menghindar dan melawannya dalam kegelapan. Sampai Orion dan Endaru saling bertubrukan.
Duak!
“Hei! Apa yang kau lakukan?!” pekik Orion yang kini kepalanya terbentur ke bawah.
Hal ini karena Orion bertabrakan dengan Endaru, sehingga Endaru tidak sengaja menggunakan gravitasi pada Orion yang adalah rekannya sendiri.
“Hahaha! Lihat! Mereka lucu sekali!” Suara dari pria tengkorak itu terdengar sedikit menggaung.
“Uh, maaf Orion. Aku tidak sengaja. Lagipula kenapa kau berada di sini? Bukankah tadi kita berjauhan?” pikir Endaru seraya membantu Orion berdiri.
“Aku juga tidak tahu.”
Syak! Syak!
Tepat setelah Orion bangkit dari sana. Meski dalam kegelapan, sekilas dua orang terlihat di sekitar mereka. Dengan sinar merah sebagai patokannya.
Orion dan Endaru menyadarinya. Mereka segera melompat mundur. Dengan begitu kedua musuhnya tidak dapat menyerang mereka detik itu.
Orion membentuk beberapa bola api yang melayang-layang di udara. Sesaat setelah itu, bola-bola api menyebar ke seluruh ruangan. Sehingga tidak terlalu gelap, membuat mereka dapat melihat dua musuh itu.
Klang! Klang!
Salah satu musuh yang melawan Endaru sebelumnya, memiliki rahang bagian bawah yang terbuat dari besi. Ia membuka-tutup mulutnya seolah-olah hendak menerkam mangsa dengan rahangnya yang seperti itu.
Inilah mengapa Endaru tidak berkutik melawannya. Sebab Endaru sedikit merinding, apalagi setelah disebut,
“Monster! Aku tidak menyangka akan ada monster di sini!” teriak Endaru, yang secara reflek mengeluarkan kekuatan gravitasi pada dua musuh di depan.
“Hei! Sadarkan dirimu!” pekik Orion sembari mengguncang tubuhnya.
Pria tengkorak itu kembali tertawa, dan anehnya ia dapat bergerak walau hanya salah satu lengannya saja. Bergerak seperti kaki, mengarah ke Orion seorang diri.
Prak!
Orion menginjak lengan itu akan tetapi, beberapa tulang lantas muncul. Menjalar ke kaki hingga ke tubuh bagian atasnya dengan cepat. Saat itu juga Orion tanpa pandang bulu menghancurkannya dengan api.
“Kau ini benar-benar masih hidup?” tanya Orion yang terheran-heran.
“Khe ...khe! Aku benar-benar hidup kembali, kok. Hanya saja tidak se sempurna yang kau bayangkan.”
Pria tengkorak melesat ketika pengaruh kekuatan itu terlepas. Tangan yang diinjak Orion kembali menyatu dengan tubuh pria itu. Sebilah belati kembali digenggamnya, mengayunkannya ke arah wajah.
“Aku jadi bingung,” ucap Orion seraya menahan lengan bertulang itu.
“Tenagamu cukup kuat juga, ya.”
Tru ...tuk!
Lengan itu kembali terlepas dari tubuhnya. Lantas pria itu menggunakan tendangan pada kaki, Orion menghindar ke balik pilar besar.
Beberapa saat ia berada di sana dengan mengambil ancang-ancang selagi pria itu terlihat seperti merogoh-rogoh sesuatu.
Di sebelah Orion, terdapat Endaru yang kini jatuh terpeleset oleh suatu genangan air. Dirinya yang masih syok akan keberadaan manusia bak monster tersebut, lantas monster yang dimaksudnya pun melancarkan serangan dengan menindih tubuh Endaru. Rahang bagian bawah itu terbuka lebar, dan hendak menerkam Endaru hidup-hidup.
“AAAAA! MONSTER!”
WRRRRR!
“Dia malah tidur di saat seperti ini. Benar-benar merepotkan. Padahal manusia lebih seram dari mereka. Apalagi yang pandai bermain kata,” gerutu Orion seraya mengeratkan tali yang menjerat tubuh pria berahang besi tersebut.
“Hah? Ada apa?” Tiba-tiba Endaru terbangun. Saat melihat musuh yang masih berada di depannya, Endaru reflek merangkak mundur.
“Jangan tidur kau! Endaru! Lakukan apa pun untuk membuatnya tumbang!” pinta Orion.
Endaru menganggukkan kepala selama beberapa kali. Lantas bangkit dan membuat tekanan pada dua musuh yang ia lihat di bawah penerangan bola api.
Pria tengkorak yang sebelumnya, telah melesat ke arah mereka pun mendadak berhenti lalu jatuh membentur lantai. Udara kian menepis seiring waktu, membuat mereka tak dapat bergerak seinci pun.
“Gakh! Aku pikir aku akan mati,” ucap Orion seraya terduduk lemas. Akhirnya ia bisa bernapas dengan lega.
“Jangan bicara seperti itu! Tapi apakah ini baik-baik saja?”
Terlihat dua musuh tak lagi bergerak. Tak sadarkan diri dengan mulut menganga lebar. Endaru pun akhirnya dapat melepas pengaruh kekuatan itu dengan tenang.
“Apa yang kau maksud, Endaru?” tanya Orion tidak mengerti.
“Maksudku, apakah tidak apa melakukan ini di luar wilayah kita?” Endaru menjelaskannya kembali.
“Itu ...kurasa tidak masalah. Karena pria dengan wajah tengkorak itu bilang, mereka adalah Phantom Gank yang barusan dibicarakan oleh Nyonya Ash. Mereka juga adalah kriminal semua,” ujar Orion.
Endaru terdiam dan berpikir kembali. Mengenai Phantom Gank yang sudah meresahkan penduduk di negara ini. Meskipun begitu, sepertinya tidak ada seseorang yang berhasil menangkap mereka atau mungkin memilih untuk tidak memperdulikan.
“Kemungkinan besar Phantom Gank itu ada banyak.”
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
Gratak!
Suara yang sama ketika lift mengalami keanehan. Reflek mereka berdua menoleh ke arah lift itu berada. Tapi setelah menunggu selama beberapa saat, tampak tidak ada yang aneh ataupun yang terjadi setelah suara tersebut.
“GRAAA!” Raungan keras pada seorang pria berahang besi, kembali bangkit dan membuka lebar mulutnya. Lantas mengincar Orion yang berada dekat dengannya.
Bruk!
Endaru membuat tubuh pria itu kembali terbating di lantai. Disusul oleh rekan musuh, datang secara tiba-tiba dari arah belakang Endaru.
Pria tengkorak menyergap hanya dengan sebilah belatinya. Namun ketika Orion datang menghampiri, apinya mulai keluar.
“Dasar, yang satu itu sulit dilawan.”
Orion kembali menangkap lengan yang memegang belati itu. Lantas kedua api di antara mereka saling membakar satu sama lain. Api yang sekilas sama namun jauh berbeda karena dari segi penggunaan.
“Kau tahu ini api apa?”
“Api apa? Aku tidak peduli asalkan aku membakarmu,” ucap pria tengkorak itu dengan memiringkan kepala seolah mematahkannya. Ia kemudian menjulurkan tangan kirinya ke wajah Orion.
“Kau akan menyesal karena telah menyentuh wajahku,” ucap Orion.
Blaaarr!
Wajah Orion terbakar namun itu bukan karena api milik pria tengkorak tersebut melainkan apinya sendiri. Dengan api miliknya, pria tengkorak lantas terkejut. Hendak ia kembali menarik lengannya namun dirinya sudah berakhir dengan sekujur tubuh dilumuri api.
Ketika dua musuh itu tidak lagi bergerak untuk yang kedua kalinya. Datang seseorang asing lagi dari lift yang baru saja terbuka. Seorang pria bertubuh kecil dengan rambut disisir rapi.
“Siapa?”
“Rekan mereka lagi? Kenapa ada banyak sekali, bahkan sampai masuk ke ruang bawah tanah. Memangnya ada yang berharga?” celoteh Endaru seraya berwaspada terhadap langkah orang itu.