ORION

ORION
Dr. Eka



Dr. Eka


Senja telah tiba. Menunjukkan langit berwarna jingga yang begitu pekat. Orang-orang yang sangat sibuk mulai terlihat lebih sedikit dari saat siang sebelumnya.


Orion melatih kekuatannya selagi ia sedang sendirian di kamar. Terkadang selaput api membungkus sekitar tubuhnya, dan juga membuat bermacam-macam bentuk api. Sebisa mungkin, ia harus mengingat momen tersebut agar ke depannya tidak lagi merepotkan banyak orang.


Karena saat menggunakannya, Orion merasa tidak efektif. Semenjak melihat orang lain bertarung, ia selalu merasa bahwa orang itu menggunakannya dengan tanpa insting melainkan penuh strategi.


“Hal yang paling aku inginkan ...tentu saja sebuah pedang!”


Ia kemudian membentuk api itu menjadi pedang yang panjang. Sangat berapi-api dan membuatnya hangat.


“Tapi, aku tidak tahu cara menggunakan pedang. Karena dulu pekerjaanku hanyalah sekedar pegawai kantoran yang hanya duduk sambil berpikir,” sambung Orion dengan helaan napas.


Dan kemudian ia menyadari sesuatu dari perkataannya. Yang duduk sambil berpikir, lalu bagaimana jika bertarung sambil berpikir?


“Tunggu, bukankah itu hal dasar? Setiap permainan juga begitu. Dan mereka sebagai pemain juga tidak pernah asal-asalan menjalankan karakter mereka. Benar 'kan?” tutur Orion tengah berbincang sendiri dengan bayangannya.


Klek! Suara pintu kamar terbuka. Seseorang datang berkunjung. Orion pun segera menghentikan latihan mandirinya.


“Kau harusnya beristirahat, nak.”


“Dari tadi aku bertanya-tanya siapakah dia? Dokter ya?” batin Orion berpikir.


“Jangan terlalu memikirkan sesuatu begitu keras, Orion. Apalagi berlatih seperti tadi, itu mungkin akan membuatmu semakin buruk,” ujarnya mendekat.


“Maafkan saya, dok. Saya hanya ingin membiasakan diri saja,” balas Orion dengan canggung.


“Aku adalah Eka, dokter di rumah sakit besar yang dikepalai oleh Pak Adi Caraka. Dan kau dirawat di sini selama orang-orang yang bertanggung jawab akan datang menjengukmu.”


“Baik, terima kasih.”


“Pak kepala di sini mendirikan sebuah organisasi di bawah organisasi utama NED. Organisasi Medical Life-Essence. Dia bersama dengan rekannya termasuk aku menjalani beberapa penelitian terhadap beberapa tipe yang dimiliki setiap Pejuang NED yang ada,” ujarnya menjelaskan tanpa keraguan sedikit pun.


“Anda adalah dokter yang juga Pejuang NED?” tanya Orion.


“Ya, benar. Akulah yang membuat fisik dan mentalmu kembali sehat. Meskipun sebelumnya kau terlihat baik-baik saja, tapi ketika masuk ke dalam rumah sakit, kau terlihat gelisah.”


“Kemampuan Anda sangat berguna sekali. Itu terlihat seperti pasien yang gila kembali normal seperti biasa, bukan?” tutur Orion memuji namun dengan kata-kata yang terdengar ambigu.


“Hahaha, perumpamaanmu terdengar aneh sekali!” Eka tertawa bahak-bahak.


“Ah, maaf. Saya tidak sengaja berkata begitu,” kata Orion yang kembali merasa canggung.


“Lalu, apa yang Anda maksud dengan tipe itu?” sambung Orion bertanya.


“Di setiap Pejuang NED, mereka memiliki tipe dari kekuatan yang dimiliki. Yang pertama tipe pesulap yang selalu memakai trik unik, yang kedua adalah tipe penyihir, dan tentu saja tipe ini si tukang sihir,” jelas Eka dengan bersemangat.


“Saya rasa saya pernah mendengar itu sebelumnya.”


“Ya, kau benar. Ada tiga tipe lainnya yang terbilang cukup umum, seperti penyerang, bertahan lalu penyerang dan bertahan sekaligus,” imbuh Eka lalu menganggukkan kepala beberapa kali.


“Dan lalu yang ketiga ...”


“Hah? Ada yang ketiga juga?” sahut Orion tak sengaja memotong kalimat Eka. Ia terkejut.


Eka kembali tertawa lalu kembali menjelaskan.


“Haha, ya, ada. Yang ketiga adalah tipe monster. Kau pasti tahu apa yang dimaksud monster, 'kan?” ujarnya sambil terkikik, senyum tipis seraya menaruh jari telunjuknya di bibir.


Eka, dokter ini memiliki aura yang cukup mengerikan. Tak sekalipun ia menjelaskan bagaimana kekuatannya, ia justru lebih tertarik ketika bercerita tentang tipe kekuatan yang dimiliki setiap Pejuang NED.


“Orion Sadawira, itu namamu, 'kan? Aku pikir tipe kekuatanmu adalah penyerang? Yah, mungkin kalau penyerang dan bertahan juga berarti menguasai teknik memperluas itu.”


Setiap Eka berbicara, ada perasaan tak nyaman dalam benaknya. Ia berharap Eka segera pergi dari sini dan membiarkan Orion sendirian. Tetapi cerita demi cerita tak kunjung habis, dan itu membuatnya sakit kepala.


“Anda tahu sesuatu tentang penyusutan tubuh?”


Menjengkelkan. Orang ini sangat menjengkelkan, tetapi ada kalanya Orion harus memanfaatkan orang yang suka bercerita tentang penelitiannya sendiri.


“Penyusutan tubuh? Apa maksudmu adalah, seseorang dewasa berubah ke usia mudanya?” tanya Eka memastikan apa yang dimaksud oleh Orion.


“Ya, saya punya teman dan dia mengalami hal itu. Jadinya, saya pikir mungkin Anda dapat membantu saya,” celetuk Orion berbohong namun wajahnya terlihat meyakinkan.


Eka berdeham, ia tengah berpikir apakah ada sesuatu yang mungkin dapat menjawab pertanyaannya. Lalu memutar tubuhnya ke belakang, menundukkan kepala dan kemudian berbalik badan menghadap Orion lagi.


“Ada satu Pejuang NED yang seperti itu. Kasusnya dia memiliki darah langka yang mengalir, apa kau pernah dengar tentang darah itu sebelumnya?”


“Ya, saya tahu itu. Darah penghubung jiwa dan raga. Itu bisa membangkitkan nyawa manusia yang sekalipun sudah menjadi tulang-belulang.”


“Dia memiliki darah itu. Awalnya dia memiliki tubuh sehat dan bugar saat pertama kali bangkit dan tidak ada perubahan jelas pada tubuhnya. Tapi seiring waktu, ketika darahnya terus diperas untuk membangkitkan banyak nyawa, tubuhnya menyusut lalu mati.”


Semudah itu kata-kata "mati" terlontar dari bibir Eka yang sebagai dokter. Dan sekali lagi itu membuat perasaannya menjadi tidak nyaman.


“Meskipun darahnya sangat berguna. Tapi sangat tidak manusiawi kalau mereka terus menggunakannya, 'kan? Itu mengerikan,” sambung Eka dengan tatapan sendu.


“Dia mati setelah tubuhnya menyusut dan karena darahnya terus diperas?”


Ungkapan Orion terasa tidak mempercayai perkataan Eka. Namun kalau benar begitu, jadi selama ini ia sebenarnya bangkit di tahun ke-berapa?


Lantas tubuhnya menyusut karena darahnya digunakan oleh siapa? Tentunya berjumlah sangat banyak sehingga membuat tubuh Orion menyusut seperti ini. Itulah yang terbesit dalam pikirannya setelah berpikir panjang mengenai pernyataan Eka sebelumnya.


“Ada apa Orion?” tanya Eka, ketika ia melihat Orion gelisah.


Orion sama sekali tidak menatap Eka meski ia saat ini sedang berhadapan dengannya. Seolah-olah ia menatap jauh dari realita yang ada. Tersungging senyum licik dari wajah Eka setelah itu.


Kemudian ia mendekatkan bibir ke telinga Orion. Berbisik langsung padanya, “Aku jadi penasaran. Apakah karena kau mengalami itu juga, makanya kau bertanya padaku?”


Sensasi merinding membuat bulu kuduk Orion berdiri saat itu juga, dapat ia rasakan seberapa besar mara bahaya yang berada di dekatnya sekarang.