
Pertarungan itu berlangsung cukup lama. Jalanan yang semakin sepi karena malam sudah larut pun membuat kebebasan di antara mereka.
Orion berlari mengejar Mr. Iki Gentle lagi. Serangan yang bahkan tidak diprediksi itu juga datang, hanya angin sebagai tanda serangan itu akan datang.
Bergegas Orion menghindar dan kembali berlari mengejar Mr. Iki hingga ia dapat meraihnya. Api menggelora membentuk sebuah lingkaran yang kemudian mengikat kedua lengan Mr. Iki ke belakang.
“Hm, Api Abadinya ada di tangan kanan tapi dia sama sekali tidak menggunakannya, ya?” gumam Mr. Iki Gentle. Ia dengan mudahnya melepaskan ikatan api itu lalu menerjang Orion dengan sebilah belati di tangan kanannya.
Trang!
Mau tak mau Orion harus bergerak secara insting liar mengendalikannya. Memutuskan untuk menggunakan pedang merah itu untuk menahan bilah belatinya. Sudah begitu tenaga Mr. Iki Gentle terlalu kuat.
“Wah, aku berpikir kau seharian hanya duduk di depan komputer saja. Tapi ternyata jago bertahan, ya. Sudah begitu badan yang dulu kecil dan kurus pun berubah menjadi sedikit lebih besar.” Mr. Iki Gentle berkomentar.
“Iya, kau pikir aku selama ini hidup hanya menghabiskan waktu yang sama seperti dulu lagi? Sudah aku bilang 'kan bahwa aku sedang ada urusan dengan Chameleon.”
Orion mengayunkan, sekaligus mengarahkan arah belati itu ke samping. Di waktu yang sama pula ia mengeluarkan api dari kaki kanannya dan mulai mengelilingi tubuh pria itu.
“Api yang sama,” ucap Mr. Iki seraya mengibaskan tangannya dan membuat api itu lenyap tak tersisa.
“Haa ...benar-benar merepotkan daripada Chameleon. Aku heran mengapa Chameleon yang menjadi bos kalian,” oceh Orion seraya menghela napas.
Tap, tap!
Orion menjaga jarak beberapa langkah darinya. Memanjangkan ujung belati serta membakar tangan kanannya lebih kuat. Teknik memperkuat diri, yang hanya bisa digunakan oleh tipe penyerang, pertahanan, atau penyerang sekaligus pertahanan.
Ketika Orion kembali mendekat seraya melayangkan tinju, seketika ia terhenti karena senjata ditodongkan ke arahnya. Kemudian Orion memotongnya tepat setelah Mr. Iki menarik pelatuk.
Dor!
“Mustahil kau bisa menyamai kecepatan peluru. Tapi pada akhirnya, peluru itu tidak berhasil mengenaimu,” kata Mr. Iki Gentle. Menjatuhkan selongsong peluru lalu membuang senjata yang sudah terbagi menjadi dua itu lagi.
“Sebenarnya ada berapa senjata yang kau punya?” tanya Orion dengan heran.
Dengan cepat Orion kembali mendaratkan pukulan ke leher, ia berniat untuk mengincar jakun namun tubuhnya justru terdorong mundur oleh angin.
“Anginnya tidak melukaiku? Aneh sekali kekuatannya. Kalau Mahanta mungkin akan menggunakan angin untuk menghambat gerakan lawan sekaligus membuat angin itu tajam. Tapi dia sedikit berbeda.”
Orion meraba-raba ke sekujur tubuhnya, tampaknya ia masih ragu apakah angin itu tidak melukainya ataukah tidak. Kemudian bangkit dan kembali menerima pukulan disertai sayatan dari belati Mr. Iki Gentle.
Tap!
Orion menangkis tangan kanan itu, membuatnya turun ke bawah lalu menggunakan tangan kanannya tuk membalas serangan.
“Jangan menghindar,” ucap Orion yang melihat kepala Mr. Iki miring, menghindari pukulannya.
“Kalau aku tidak menghindar pasti kepalaku jadi abu,” sahut Mr. Iki Gentle.
Jduak!
Mr. Iki menggunakan tendangan lutut ke arah dagu. Orion yang menerimanya mulai merasakan sakit di kepala hingga semua yang ia lihat tampak berbayang-bayang. Seolah langit berguncang.
“Lututmu itu keras sekali!” pekik Orion mengerutkan kening lantas membenturkan kepalanya pada pria itu.
Tepat setelah keduanya sama-sama terguncang akibat kepala mereka saling berbenturan, Orion lantas mundur beberapa langkah serta berusaha untuk tetap mempertahankan posisi berdirinya.
“Ah, tengkorak ...tengkorak ...tengkorak kepalaku bisa retak!”
“Makanya jangan menghalangiku!”
“Aku tidak punya kuburan semenjak aku mati! Kau tahu?” sahut Orion seraya menyeret kaki kanannya mundur.
Gedubrak!
Mr. Iki Gentle terjungkal ke belakang usai seutas tali yang terhubung dengan kaki kanan Orion mengikat kakinya hingga terjatuh ke jalanan.
“Curang!”
“Hah! Aku mahir dengan apiku berbagai macam bentuk.”
“Dasar pria tua yang kolot!”
“Kau yang kolot!” Sekali lagi Orion berteriak, ia tak terima jika dirinya dihina lebih jauh.
Mereka kembali saling beradu senjata, terkadang juga pukulan, tendangan dan kekuatan yang sebentar-sebentar muncul lalu hilang begitu saja. Mereka membuat banyak orang bertanya-tanya, heboh akan perkelahian di pinggir jalan tersebut.
Api yang meliuk-liuk bagai ular, seolah mereka sedang menunjukkan atraksi kecil. Serta terkadang Mr. Iki Gentle yang mengayunkan belati sekaligus pukulan pun tak kalah hebat, lantas setiap kali ia mengayunkan pukulannya terlihat seperti bintang jatuh dalam sekelebat.
“Cincin api!” sebut Orion. Cincin api melingkari tubuh Mr. Iki. Ganti dari tali, mengikat kuat tubuh target seiring target meronta lebih kuat.
Dalam keadaan seperti itu, Mr. Iki Gentle tetap melancarkan serangannya yang tak kasat mata. Melesat bagai peluru, tajam hingga mengikis api di lengan kiri Orion.
Orion kembali maju usai cincin api itu melemah.
“Aku memang mahir dalam pembentukan tapi sulit mempertahankan wujudnya,” gumam Orion.
Duak!
Cincin api terlepas, Orion mendaratkan pukulan bertubi-tubi. Niatnya agar Mr. Iki Gentle tak dapat membalas serangan, namun itu mustahil. Sesaat pria itu menatap Orion dengan tajam dan lurus.
Dalam sekejap goresan luka muncul dari bagian atas secara horizontal. Darah menyembur keluar tak terhenti.
Panik, Orion kembali menjauh sejauhnya. Hingga jarak di antara mereka semakin melebar.
“Karura, aku akan membakar kulit luarnya untuk menutup luka. Bilang padaku jika apinya sampai masuk ke dalam tubuh.”
“Baiklah, aku mengerti.”
Api membakar kulit luarnya secara hati-hati namun cepat. Merasakan rasa sakit yang menjalar, nyeri tak tertahankan hingga ia berusaha keras tuk menahan jeritannya.
Sedangkan Mr. Iki Gentle kini hanya berdiri diam sembari memandang apa yang tengah dilakukan oleh Orion sekarang.
“Api Abadi. Percikannya jauh berbeda dengan api biasa. Mustahil Chameleon bisa mengambil api itu, makanya dia menyuruhku untuk membunuhnya, ya? Tapi apakah membunuh dia adalah keinginan Chameleon yang sebenarnya?”
Sementara itu, beberapa Pejuang NED melintas. Mereka mengabaikan Orion, dan hanya terus berlari dengan cepat menuju ke suatu tempat.
“Rekan Chameleon? Itu artinya kristal es Gista sudah meleleh. Tapi seharusnya Gista dan lainnya sudah sampai,” gumam Orion.
Rekan Chameleon sudah terbebas dari kristal es milik Gista. Kini, mereka semua mengejar kendaraan Gista dkk.
Ketika itu, Orion terpikirkan suatu hal.
“Di mana Chameleon? Aku sama sekali tidak mengetahui keberadaannya? Harusnya dia datang kemari, tapi apakah kali ini dia membiarkan rekannya melawanku sendiri?”
Tidak pernah Chameleon melepas Orion dengan membiarkan rekannya. Dan ini adalah kali pertama, yang seakan Chameleon percaya dengan Mr. Iki Gentle.
“Karena kuat, ya.”