ORION

ORION
Villa Di Tengah Padang Tandus II



Sekeliling dapur mendapati kerusakan yang cukup parah di bagian meja serta kursi pendek di bawahnya. Runo yang masih dalam keadaan tersungkur itu kemudian menunjuk ke arah samping Endaru.


“A-awas! Di di-di, di belakang!” Ucapan Runo terbata-bata saking ketakutannya terhadap sesuatu di dekat Endaru.


“A ...ah! Anjing! Ada seekor anjing!” teriak Endaru yang kemudian terkejut saat menoleh ke sebelahnya. Sontak Endaru menyingkir dari sana.


Mereka hanya mendapati seekor anjing. Tetapi itu bukan anjing peliharaan biasanya. Melainkan anjing serigala dengan tubuh hampir sebesar tubuh Mahanta.


“Astaga!” Orion terlambat bereaksi terkejut saat melihat tubuh seekor anjing sebesar itu.


Ramon pun menghindar lantaran ciut ketika dihadapkan dengan seekor anjing yang bahkan bisa melahapnya itu. Tak terkecuali Runo yang sebelum ini telah tersungkur dan mengigigil ketakutan, Runo kemudian terbaring lemas dan tak sadarkan diri di tempat.


“Runo, sadarlah!” pekik Orion seraya menghampirinya.


Anjing itu terus menggeram dan kadang menggonggong keras. Lalu berjalan dengan menatap tajam Endaru di tempat. Setelah beberapa saat, anjing itu melompat ke arah Endaru dengan cepat.


“Guk!” Anjing itu menggonggong sekali lagi, Endaru terpaku di sana. Lantas Mahanta meraih anjing itu dan menariknya ke belakang.


“Jangan nakal, anjing pintar!” ucap Mahanta tegas.


Keadaan menjadi tenang usai Mahanta menangkapnya. Meskipun anjing itu meronta-ronta, memberontak dan bahkan hendak menyerang Mahanta. Sesaat setelah Mahanta mengelus ujung kepala sambil berusaha menenangkan dengan perkataannya, anjing itu langsung diam dengan kedua telinganya yang menurun ke bawah.


“Apakah sudah aman?” tanya Endaru.


Wajah mereka terkecuali Mahanta masih sangat panik hingga mulut mereka mengaga lebar. Bahkan sempat frustasi ketika Endaru hendak diamuk oleh anjing tersebut.


”Oh, iya. Sepertinya tidak masalah.” Mahanta terus memanjankan anjing itu dengan elusan tangan.


“Wah, dia sangat pintar dalam menghadapi hal seperti ini, ya. Tidak aku sangka,” kata Orion.


“Aku tidak terlalu berpengalaman. Hanya saja aku pernah menjinakkan anjing militer juga melatihnya,” tutur Mahanta.


Seketika semuanya tercengang mendengar pernyataan Mahanta barusan. Sebagai pelatih atau penjinak anjing militer, sudah pasti itu sangat luar biasa. Dan fakta ini baru diketahui oleh mereka terutama Orion.


“Aku bertaruh, hanya Nona Gista yang mengetahui hal itu,” pikir Orion.


“Bukan maksud menyembunyikan. Hanya saja kalian tidak pernah bertanya, 'kan? Haha,” ujarnya membalas dengan gelak tawa di akhir.


Anjing itu tiba-tiba melepaskan diri dari Mahanta, ia kemudian berlari ke salah satu ruangan yang berada di lantai atas. Setelah beberapa saat, ia turun sembari membawa sebuah foto berbingkai di mulutnya.


“Dia mengambil sebuah foto.”


Ia kemudian meletakkan foto itu ke hadapan Mahanta. Lalu duduk sambil menggoyangkan ekor dan menjulurkan lidahnya.


“Kau sedang mencari majikanmu, ya?”


Mahanta mengerti apa maksud anjing itu menyodorkan sebuah foto berbingkai. Foto seorang pria dengan seragam lengkap tentara.


“Pemiliknya adalah orang ini?” tanya Orion pada Mahanta seraya mengambil foto tersebut.


“Iya. Dia pemiliknya. Tapi mungkin dia hilang,” pikir Mahanta.


“Aku jadi teringat dengan cerita Ramon. Jangan bilang dia sudah jadi hantu.” Begitu Orion menyebut hantu, Endaru terkejut.


“Bisa jadi,” ucap Mahanta setuju atss perkataannya.


“Apa aku pernah melihatnya di suatu tempat? Aku merasa familiar dengan pakaian itu. Tapi di mana lebih tepatnya?” batin Orion yang berpikir bahwa ia pernah melihat pria itu di suatu tempat.


“Tunggu.” Mahanta menghentikan langkahnya lantaran ia tak mau jika anjing itu akan mengalami hal sama sepertinya kemarin.


Karena tidak tahu di mana keberadaan pria itu sekarang. Juga, daratan yang begitu luas akan menyesatkan perjalanan.


”Ada apa Mahanta?” tanya Orion.


“Anjing ini sepertinya ingin mencari majikannya lagi.”


“Kalau begitu biarkan saja.”


“Bisa aku melepasnya. Tapi bagaimana jika pria itu mendatanginya?” ujar Mahanta sangat cemas.


“Kalau begitu kita sekalian saja pergi. Badai juga sudah reda, dan langit sudah terang.”


Dengan saran Orion, mereka pun akhirnya pergi dari villa bersama anjing yang sudah berjalan lebih dulu.


“Tunggu, anjing pintar!”


Mahanta bergegas mengejar anjing yang sejak tadi berjalan tanpa melihat arah melainkan hanya mengendus jalanan saja. Sesekali ia menoleh ke depan atau samping kadang juga menoleh ke belakang, lalu kembali berjalan dengan mengendus jalanan lagi.


“Anjing itu aneh,” ucap Endaru yang berada di belakang.


“Jangan protes. Anjing juga biasanya seperti itu.”


Kabut mendadak muncul dalam perjalanan mereka yang membuntuti anjing. Dalam hitungan detik, kabut kembali menghilang dan anjing yang sebelumnya berada di sisi Mahanta telah menghilang.


“Eh? Di mana anjingnya?”


“Jangan tanya aku Mahanta. Kau yang berada di sampingnya. Memangnya kau tidak melihat?” ujar Orion ketus.


“Tunggu. Kalau kabut muncul, bukankah itu artinya dia akan datang?” sahut Endaru mengingat cerita Orion dan Mahanta.


Namun tak ada seorang pun yang menjawab karena tidak tahu apakah pria itu akan kembali muncul atau tidak. Berlama-lama di sini pun takkan mendapatkan jawaban juga mungkin akan memancing keberadaan pria itu.


Sehingga mereka pun segera melanjutkan perjalanan. Tepat sebelum melangkah kembali, Mahanta melihat jejak hewan di bawahnya.


“Ikuti jejak hewan ini saja.”


Jejak itu berjalan belok-belok, hingga jejaknya berhenti di setengah jalan. Namun keberadaan si anjing tetaplah tidak terlihat di depan mata. Mahanta menjadi sangat bingung, ke mana dan mengapa anjing itu hilang sekarang.


“Apa sebelum ini, anjing itu ada di dapur?” tanya Runo. Sebelum ini ia hilang kesadaran karena anjing itu, dan tampaknya ia juga masih sangat ketakutan.


“Tidak ada. Tapi mungkin di lewat dari pintu belakang saat pintunya terbuka lebar.” Mahanta menjawab.


Jejak hewan berkaki empat itu berhenti di dekat sebuah parit. Seperti ada yang menghapusnya, mungkin angin. Parit yang dipenuhi banyak mayat prajurit berjejer di bawah sana pun tidak menunjukkan ada tanda-tanda bahwa anjing itu pernah di sana.


Orion membalikkan badan, membelakangi parit dengan perasaan tak nyaman. Ketika yang lain sedang memeriksa sesuatu dari para mayat itu, secara tak sadar setetes darah Orion dari luka lengan kanannya jatuh ke salah satu kerongkongan prajurit yang ada di sana.


“Lebih baik kita pergi saja dari perbatasan. Percuma mencari ke daerah yang segini luasnya,” ujar Orion berjalan menghampiri mereka yang tengah sibuk sendiri-sendiri.


***


Pergi dari perbatasan. Namun anjing itu baru sampai menuju parit. Entah dari mana saja dia hingga baru saja sampai padahal ia lebih dulu mendahului. Ia mengendus bau yang tak asing lagi baginya, lantas meraung dengan menutup kedua telinga itu. Sesekali ia menjilat salah prajurit di sana dengan tatapan sedih.