ORION

ORION
Gerhana Bulan Tutup Usia



Waktu seolah melambat, tak hanya padam listrik namun juga hujan datang dengan deras. Perkotaan dihujani oleh sedikitnya batu es dari awan beku. Orion bersiap untuk menunaikan tugasnya, namun tetiba ia merasa merinding sesaat karena merasakan kehadiran seseorang yang akan mendatanginya cepat atau lambat.


Langkahnya yang hendak menuju ke lantai bawah, di mana tempat kasino yang masih ramai harus tertunda. Padahal saat ini adalah waktu yang tepat karena Tuan Gerhana Bulan akan lengah di waktu yang membuatnya senang bermabukkan minuman keras.


“Sepertinya aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu, Chameleon.”


Beralih ke jendela yang kemudian ia buka lebar, ia turun ke bawah dengan sayap berapinya dengan cepat menuju ke seseorang yang hendak mendatangi gedung kasino ini.


Beberapa bawahan Chameleon yang masih berkumpul di tempat yang sama pun terkejut, mereka hendak mengejar namun Chameleon menyuruh mereka untuk tetap tenang.


“Jangan ikuti dia. Aku tahu dia akan pergi ke mana,” kata Chameleon dengan tersenyum.


Ia pasti telah merencanakan sesuatu, sebab dirinya pun membuat pemanah yang kini menjadi anggota terakhir dari kelompoknya berada di atas gedung, anak panah bersiap membidik Endaru yang tengah berlari di bawah hujan deras sembari membopong Pemain Kecapi di pundaknya.


“Hei, lepaskan aku!” teriak Pemain Kecapi. Ia terus memberontak meski itu akan memperburuk keadaannya.


Namun, melarikan diri ataupun berpasrah diri sama-sama tidak menguntungkan bagi si Pemain Kecapi. Alasan ia memberontak dari pundak Endaru yang sejak tadi membopongnya adalah karena tekanan dari Chameleon yang sebetulnya posisinya masih jauh dari sana.


“Aku harus tetap membawamu sebagai hadiah. Jadi berhentilah memberontak!” pekik Endaru.


Dan ada salah satu alasan mengapa Pemain Kecapi sulit melarikan diri dari bocah ini, tak lain adalah karena kemampuan Endaru yang merepotkan. Bahkan saat ini pun, dirinya masih dalam kondisi pada pengaruh kekuatan mengatur gravitasi di sekitar tubuhnya.


“Mana mungkin aku mau dibawa begitu saja! Cepat turunkan aku, atau aku—”


“Alat musikmu sudah aku buang. Kau mau apa? Memainkannya dengan angin? Jangan bercanda! Menggerakkan jari saja kau sudah kesusahan. Sudah, berhentilah memberontak!”


Mendengar ucapannya, seketika membuat Pemain Kecapi berdecak kesal. Ia akui ia tidak bisa melakukan apa pun sekarang.


Pemanah itu telah bersiap menarik busurnya, kini tersisa melepaskan anak panah ke target yang telah terkunci sejak tadi.


Ada sedikit keraguan di dalam anak panahnya, terasa ia tidak ingin membidik namun ini adalah perintah dari Chameleon.


Ia berdecak sesaat sebelum akhirnya ia melepaskan anak panah tersebut.


SYATT!


Dan dalam sekejap, bersamaan dengan turunnya anak panah itu, seseorang melesat dan berpasang badan untuk Endaru.


“Siapa?!” Endaru terkejut.


Hanya untuk sesaat, anak panah beradu dengan sabit pedang yang mengkilap. Bagai darah beralas kaca, sabitnya berkilau di bawah gelapnya malam dan rembulan berkabut.


“Dia itu!”


Sudah pasti pemanah tahu itu siapa, begitu pun Endaru yang reflek berhenti bergerak karena keterkejutannya mendapati seorang pria.


“AYAH!”


“Hentikan panggilan itu, bodoh!” ketus Orion.


Orang yang menghalangi serangan jarak jauh dari pemanah ialah Orion. Sontak saja, baik Pemanah, Endaru maupun Pemain Kecapi pastilah terkejut karena kehadirannya yang tidak disangka-sangka.


“Hei, Endaru! Sebentar lagi kau akan berdekatan dengan gedung itu! Cepat pergi sebelum dia datang!” Baru saja muncul kembali, kini Orion pun pergi tanpa menunggu jawaban dari Endaru lagi.


***


Orion secepatnya kembali ke gedung, dan tentu saja keberadaan Endaru bukan lagi menjadi pusat perhatian. Sebab mereka semua sudah tahu siapa orang yang menghampiri Orion saat-saat sebelumnya.


“Urusanmu selesai?” tanya Jinan yang berada di luar gedung.


“Ya, maaf.”


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Orion bergegas masuk ke dalam. Kasino masih sibuk, banyak tamu yang masih bermain karena hanya di tempat itu sajalah yang listriknya menyala. Tentu saja mereka bersenang-senang bahkan sampai memutuskan untuk berinap tak peduli berapa lamanya mereka di sana.


“Dia menyuruhku untuk melakukannya saat dia sedang dalam kondisi mabuk? Entah ini mengundang masalah ataukah tidak. Karena melenyapkannya itu tidak perlu dilakukan di depan umum.”


Membunuh bukanlah perihal mudah, dan Orion bukanlah spesialis di bidang tersebut. Ini jelas-jelas keahlian Mr. Iki Gentle, tapi betapa sedihnya karena ia yang harus melakukannya dan bukan si Iki itu.


“Ya sudahlah.”


Tap, tap!


Melangkah dengan cepat, menerobos di antara kerumunan, suara bising di setiap sudut gedung di lantai satu sungguh membuatnya pusing kepala. Tapi, melupakan hal itu, ada hal yang harus ia lakukan. Kebetulan yang akan ia lenyapkan bukanlah kawan.


“Tuan Gerhana Bulan, bisa ikut sebentar denganku?” tanya Orion.


“K-kau! Mau ke mana?” lanturnya.


“Ikut denganku, aku membutuhkan bantuanmu.”


Walau menyuruhnya untuk ikut, tapi Orion tidak benar-benar berniat untuk membawanya ke suatu tempat. Alhasil, ketika Tuan Gerhana Bulan beranjak dari tempat duduknya, baru selangkah ia maju ke depan langsung tumbang tak sadarkan diri.


“Tuan Gerhana Bulan!”


“Wama terkejut!”


Dua anak buahnya langsung datang menghampiri, Ripia dan Wama si penyuka permen manis. Lantas Orion tersenyum tipis.


“Apa yang terjadi?” tanya Orion berpura-pura untuk tidak mengetahuinya, padahal dirinya yang telah melakukan sesuatu pada si Gerhana Bulan itu.


“Jangan banyak omong! Bawakan tandu!”


“Oke!”


Sesuai yang diminta, Orion membawakan tandu agar mereka berdua dapat membawa Gerhana Bulan menuju ke ruangannya yang ada di atas. Setelah Gerhana Bulan terbaring di atas tempat tidurnya, Ripia dan Wama terkadang terlihat mondar-mandir seperti orang yang sedang mencari sesuatu, namun sebenarnya mereka hanyalah menunggu agar dokter yang tengah memeriksa keadaan majikannya.


“Mereka tidak sadar kalau aku masih ada di sini? Ini waktu yang pas untuk menyalahkan orang lain.”


“K—”


“Ssstt!” Orion berdesis pelan sembari mengacungkan jari telunjuk ke depan bibir tuk memberi isyarat agar dokter itu diam sebentar.


Lalu, setelah Orion mendekat, ia mengayunkan lengan ke atas tubuh Gerhana Bulan. Hanya dalam waktu singkat, api mulai membakar tubuhnya dan kemudian berubah menjadi abu.


“Hei, apa yang—”


“Maafkan aku yang harus melakukan ini,” sahut Orion memotong kalimat sang dokter yang kebingungan.


Dalam sekejap pula Orion pergi melewati jendela, begitu ia keluar, abu yang membekas berupa jasad Tuan Gerhana Bulan pun lenyap tanpa sisa. Sontak saja dokter yang menyaksikan pemandangan aneh tersebut pun terkejut, sampai ia terjatuh dari posisi berdirinya.


Bruk!


Wama dan Ripia yang panik saat mendengar suara keras itu, lekas keduanya masuk ke dalam.


“Hei, kau ke manakan Tuan Gerhana Bulan?!” tanya Ripia dengan mengamuk seraya menarik kerah pakaian sang dokter.


Malam hujan dengan langit berkabut menutupi rembulan malam seakan telah terjadi gerhana bulan. Riwayat hidup sang pemilik gedung kasino pun akhirnya tamat malan ini juga.


Sesaat setelah Orion pikir urusannya selesai, namun betapa terkejutnya ia melihat Endaru yang bukannya menjauh justru mendekati gedung kasino ini.


Sesaat setelah Orion pikir urusannya selesai, namun betapa terkejutnya ia melihat Endaru yang bukannya menjauh justru mendekati gedung kasino ini.


Ruangan Chameleon.


“Semuanya berjalan lancar, yah ...walau ini tak semudah yang aku kira,“ ujarnya.


Keberadaan Endaru semakin mendekat, dan ini akan jauh lebih berbahaya jika terus dibiarkan. Setelah masuk ke dalam, bergegas Orion menutup jendela, tetapi sayangnya belum sempat melakukan hal itu justru Orion terserang lebih dulu.


Duak!!


Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menabrak dagu Orion, sampai-sampai Orion dibuat pusing lantas berjalan mundur dengan sempoyongan.


“Eh? Apa?”


“Sesuatu? Tidak, itu manusia?!” jerit Jinan terkejut.


Dan pada saat yang bersamaan, gelang yang mengikat kedua pergelangan tangan Orion pun terikat dengan kencang.


“Aduh!” Orion mengerang kesakitan tak seperti biasanya, sudah cukup baginya menahan sakit dan sekarang rasanya sangat keterlaluan bagi orang tua seperti Orion ini.


Endaru telah datang, ia menggunakan gravitasi tuk menarik tubuhnya sendiri hingga ke jendela yang terbuka ini. Ia tersenyum lebar seakan senang karena telah menemukan ruangan Chameleon.


“Hoi, Anton atau apalah namamu itu! Kita sudah sampai!” teriaknya dengan girang seraya melempar tubuh Pemain Kecapi itu ke arah bawahan Chameleon.


Endaru pun masuk ke dalam ruangan dengan heboh, ia adalah orang yang keras kepala. Kegilaannya sudah bukan di batas orang normal lagi.


“Endaru?!”


“Pahlawan Kota!”


“Wah, wah, kita kedatangan tamu tak diundang nih. Hei, Orion, apa kau yang mengundangnya secara tak langsung?” tanya Chameleon.


“Sama sekali aku tak berniat anak itu mati,” jawab Orion seraya mengelus dagunya yang memar.


“Oh, hei! Orion! Kau baik-baik saja! Yah, tak kusangka kita akan bertemu lagi,” sapa Endaru banyak omong dan tanpa dosa.


Dalam batin Orion memaki, jelas ia ingin sekali Endaru segera pergi dari sini tapi lihatlah, ia sama sekali tak mengindahkan perkataan Orion. Percuma mengajaknya berbicara seperti orang normal.


“Tuan, kami akan segera—” Sera angkat bicara namun kalimatnya terpotong saat Chameleon beranjak dari tempat duduknya dan mengangkat tangan kiri ke depannya.


“Aku ingin tahu, alasan apa yang membuat Pahlawan Kota datang kemari?”


“Lihat!” Endaru menunjuk Pemain Kecapi yang tampaknya tak bisa bergerak lagi. “Aku datang kemari sambil membawakan hadiah untukmu, bunglon!” lanjutnya dengan bersemangat.


“Oh, kau menembaknya dengan peluru yang diberikan oleh Gerhana Bulan?” Sekali lagi Chameleon bertanya seraya melirik si Pemain Kecapi.


“Maaf, ya. Sejak awal aku tidak pernah menembaknya dengan peluru yang diberikan. Aku menggunakan sepotong besi kecil, jadi itu hanya menyangkut di otot mata kakinya,” jelas Chameleon.


“Sayang sekali. Padahal jika kau menggunakan peluru itu, maka dia tak perlu tersiksa.”


“Bukan hobiku menyiksa orang lemah tak berdaya,” ucap Endaru sambil mengangkat jari telunjuknya, ia mengeluarkan sepotong besi yang berada di luka Pemain Kecapi, tuk membuangnya.


“Kedatanganku kemari sebetulnya hanya ingin Orion kembali ke sisi kami. Tapi sepertinya aku datang di waktu yang salah, seharusnya aku datang saat kau sedang sendirian, bunglon!” imbuhnya menegaskan.


“Tapi melihatmu meremehkan diriku,” gumam Endaru seraya memejamkan kedua mata.


Untuk sesaat hening, bawahan Chameleon pun bersiap jika mereka akan diberi perintah tuk menyerang. Namun, mereka lupa akan satu hal.


Ruangan, seluruh lantai yang ada di gedung ini bergetar hebat. Kekuatan mengendalikan gravitasi milik Endaru yang kuat akhirnya digunakan, ia bahkan mampu menekan keberadaan mereka semua, namun terkecuali dengan Orion.


'Dasar bodoh!' maki Orion dalam batin.


Kesal karena tindakan Endaru yang ceroboh, bahkan menantang mereka semua tuk bertarung, Orion lekas bergerak dengan tubuh berselimutkan Api Abadi, ia meraih kerah kemeja Endaru.


Hanya berselang beberapa detik, Endaru dapat mengerti gerak bibir Orion tanpa bersuara. Yang kemudian Endaru terlempar keluar menembus kaca jendela oleh Orion seorang diri.


Kepergian Endaru mengubah gedung itu kembali normal, tidak ada getaran maupun tekanan. Mereka pula telah kembali bernapas seperti biasanya.


“Cih, padahal aku ingin menghabisinya!” gerutu Jinan.


“Orang dengan tangan buntung sepertimu bisa apa,” cerocos Caraka.


“Hei, kalian semua diamlah!” sahut Sera.


Malam ini akan menjadi malam yang panjang, Chameleon pun tahu itu. Sejak tadi raut wajahnya tak berubah, itu berarti menandakan bahwa Endaru masih berada di sekitar gedung ini.


“Jangan terlalu dikhawatirkan, Chameleon. Pahlawan Kota memang kuat tapi dia bodoh. Suatu saat kekuatannya mungkin bisa dimanfaatkan ketika dia sendiri tidak sadar itu terjadi,” ujar Orion.


“Tak usah kau beritahu pun aku mengerti, Orion.


Gerhana Bulan sudah mati, kini tersisa Ripia, Wama, Ken dari Emblem Priest dan beberapa bawahan yang dimiliki oleh Gerhana Bulan jauh sebelum mereka bertemu dengan kelompok Chameleon.


Adanya banyak bawahan tersisa dan anehnya Chameleon tak berniat membunuh mereka semua. Tak seperti biasanya, dan itu membuat Orion berpikir dua kali lipat tentang rencana Chameleon yang tidak diketahui sampai saat ini.


***


Stasiun, gerbang bagian depan.


“Ramon, Runo! Kalian berdua sudah berada di sini sejak tadi?”


Akhirnya, Mahanta dan Ketua Irawan datang. Tanpa Dr. Eka yang sampai saat ini dirinya masih berada di penginapan dengan tenang.


“Ah, Pak Mahanta! Anda sudah datang. Bagaimana dengan Ketua Arutala?” tanya Runo sumringah.


“Maaf, aku datang terlambat,” ucap Gista yang baru saja sampai. Ada sisa-sisa pembekuan es di sepanjang jalan dan kedua kakinya yang perlahan-lahan menghilang, tersisa uap dinginnya saja.


Hal itu menandakan bahwa Gista berlari dengan menggunakan kekuatannya sehingga tidak memakan waktu hingga dua jam sesuai aslinya.


“Anda akhirnya datang juga!” seru Mahanta bersyukur.


“Ya. Jadi, di mana anak itu?”


Ramon dan Runo segera membawa Ade dan Ketua Meera untuk mempertemukannya dengan Gista dan lainnya. Berhubung stasiun adalah tempat yang dipenuhi banyak orang meski dalam keadaan gelap, mereka semua berhamburan keluar ke halaman, segera anggota NED yang tersisa saat ini berpindah ke suatu tempat.


“Tunggu sebentar, bagaimana dengan Pahlawan Kota?”


Dan benar juga, beruntungnya Runo memberitahu suatu hal yang nyaris terlupakan oleh mereka semua. Pahlawan Kota bernama Endaru saat ini masih sulit dihubungi, dan batang hidungnya juga belum muncul hingga detik ini.


Secara bersamaan, mereka kecuali Runo menghela napas pendek.


“Ya ampun, dia benar-benar merepotkan.” Mahanta menggerutu.


“Dia pasti sudah membuat kekacauan. Semoga saja Orion tidak terbebani,” harap Ketua Irawan.


“Pria yang aneh,” ucap Ramon menyebut Pahlawan Kota begitu.


Gista tak berkomentar apa pun, sebab bingung bagaimana cara mengatasi orang yang disebut-sebut sebagai Pahlawan Kota.


Lantas, Gista menunjuk tanah yang sudah bertuliskan pesan terbuat dari es miliknya.


Kemudian berkata, “Aku sudah memberinya pesan, asalkan dia datang ke stasiun ini,” ucap Gista.


“Oh, ide bagus, Nona Gista! Pahlawan Kota sudah tahu titik pertemuannya, jadi dia akan datang kemari dan melihat pesannya.”


“Bagus!”