ORION

ORION
Api Abadi



Langit malam tergantikan dengan langit yang cerah. Awan putih menghiasi, terasa sejuk dengan embusan angin menerpa mereka.


“Orion Sadawira, apa ini?” tanya Owen, mengerutkan kening.


Kondisi Owen membaik dan ia diperbolehkan untuk pulang. Lalu sekarang, ia sedang menatap heran pada pakaian dengan pola bunga dan berwarna cerah yang sedang ia pegang saat ini.


“Karena pakaianmu itu sudah rusak, jadi apa boleh buat. Hanya itu yang menarik buatku, tak masalah 'kan?” ujar Orion menganggap santai.


“Hah, ya ampun. Ini norak, dipikir kita akan berlibur ke pantai, ya? Dasar,” gerutu Owen seraya menghela napas. Tak habis pikir bahwa Orion akan membawakan pakaian mencolok seperti itu.


“Sudah pakai saja. Lalu kita keluar sekarang,” ucap Orion.


“Ya sudah kalau begitu. Dan, tujuanmu sudah selesai?” tanya Owen seraya mengenakan pakaian itu secara terpaksa.


“Masih ada hal yang ingin aku lakukan. Tapi Pak Owen tak perlu tahu.”


“Memangnya sepenting itu? Kau bahkan mengincar Api Abadi, tapi untuk apa sebenarnya? Jika kulihat, itu api yang biasa saja,” celetuk Owen.


“Memang bagi Pak Owen seperti itu. Aku pun sama. Tapi, ada sesuatu yang membuatku tertarik. Dan urusanku juga sedikit berhubungan dengan itu.”


Semalam mereka sudah cukup beristirahat. Harusnya begitu, namun leher bekas luka Orion sedikit berdenyut sakit. Rasa nyeri masih ada, meskipun sudah diobati.


“Seseorang sudah datang menjemput?” tanya Owen.


“Ya, mereka mungkin sudah sampai,” kata Orion seraya menoleh ke kanan.


Ketika mereka menuju ke penginapan untuk mengambil barang-barang tersisa, banyak penduduk sekitar memperhatikan dengan tatapan antusias, jijik dan benci.


Orion menatap sinis pada mereka semua. Sesaat ia merasa aneh namun setelah matanya melihat seorang pria yang familiar, ia pun mengerti.


Seraya berdeham Orion bergumam, “Hm, apa rumor buruknya sudah sampai ke telinga para atheis.” Lalu tersenyum kecil.


Owen yang memperhatikan ekspresi Orion lantas bertanya, “Sedang apa?”


Orion menggelengkan kepala. “Tidak.”


Banyak yang sedang asing bergosip di depan mereka. Ada yang bilang bahwa Orion dan Owen adalah pembawa malapetaka. Ada pula yang berpikir bahwa keduanya adalah pengikut aliran sesat.


Padahal kalau dipikir-pikir, aliran sesat itu ada di sini. Yakni mereka, para penduduk yang menyembah Api Abadi.


“Sejak tadi, aku perhatikan kau seperti kurang sehat. Apa kemarin belum cukup tidur? Anak-anak harus tidur dengan cukup,” ujar Owen merasa gelisah setiap kali melihat Orion yang celingak-celinguk.


“Aku tidur cukup. Aku hampir tiap hari tertidur, kok. Jadi tenang saja.”


Di sela-sela perjalanan dan gunjingan dari para penduduk. Orion mendengar pembicaraan orang lain yang tampaknya berbeda topik. Bukan gunjingan terhadapnya melainkan pembicaraan Pahlawan Kota.


“Pahlawan Kota sudah jarang mampir ke kotanya sendiri. Apa dia melupakan kita?”


“Entahlah. Pahlawan Kota juga mempunyai urusan banyak, jadi bersabarlah.”


“Ya, setidaknya Pahlawan Kota sudah membebaskan kota ini dengan sekuat tenaga.”


“Jangan bahas hal yang sudah berlalu. Itu sudah tidak berlaku!”


Salah satu dari mereka membicarakan Pahlawan Kota dengan ketus. Entah karena ia bosan atau sebaliknya, benci.


Orion berhenti melangkah. Pandangannya tertuju serta pendengaran yang tajam itu seketika membuat kedua kakinya melangkah dan menghampiri mereka.


“Mau ke mana?” tanya Owen sembari menahan lengannya.


“Aku ke toilet sebentar. Tadi aku melihatnya di perjalanan. Toilet umum,” jawab Orion.


“Baiklah. Hati-hati, karena wanita itu masih hidup.”


Sedangkan Orion pergi, begitu Owen telah sampai ke penginapan, ada satu kendaraan terpakir di depannya. Dan ternyata itu adalah Mahanta dan satu anggota lainnya.


Mahanta terkejut saat mengenali anggotanya mengenakan pakaian yang begitu mencolok.


“Kau memakai pakaian ini, apa tidak malu?” sindir Mahanta sembari mencengkram kedua pundaknya.


Owen terkejut sekaligus merasa nyeri ketika pundaknya dicengkram seperti itu. Tapi ia berusaha untuk menahannya selagi bisa, terlihat ia sangat panik dan tubuhnya pun gemetar sampai tak bisa berkata apa-apa.


“Sa-saya ...ini karena pakaiannya rusak,” jawab Owen terbata-bata.


“Oh, ya. Di mana Orion?” tanya Mahanta seraya melepas cengkraman serta membalikkan badan, lalu melirik ke arah penginapan.


“Maaf, tapi Orion sedang ke toilet umum. Menunggu sebentar saja, dia pasti akan kembali. Tenang saja Tuan Mahanta,” tutur Owen dengan perasaan lega.


“Apa? Kenapa kau tidak menunggunya?” tanya Mahanta berwajah kesal, ia menatap wajah Owen lebih dekat.


“Dia anak yang memiliki karakter dewasa. Saya cukup yakin, bahkan tanpa saya pun—”


Pak! Mahanta kembali mencengkram kedua pundak Owen, lantas menatapnya tajam.


“Hah!? Apa katamu? Orion itu, kalau dia bilang pergi pasti perginya dari siang sampe besok siang lagi. Dia memang suka begitu! Makanya aku sangat cemas.”


Mahanta mengoceh-ngoceh panjang lebar lantaran ia semakin kesal. Terutama tanpa kehadiran Orion saat ini saja, membuatnya sangat cemas berkepanjangan. Sebab Orion sudah banyak terluka karena beberapa pertarungan sebelumnya.


“Kali ini apa yang dia lakukan!?”


Kedua anggota Arutala itu pun menggelengkan kepala. Mereka sudah tahu kalau Mahanta sangat suka dengan anak-anak, dan kekhawatirannya terhadap mereka pun sudah menjadi hal biasa. Akan tetapi, kekhawatiran Mahanta saat ini melebihi dari yang biasanya.


Drap! Drap!


Mahanta pergi menuju ke suatu tempat, di mana toilet umum itu berada. Sebisa mungkin Mahanta harus cepat menemukannya, karena tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi ketika Orion sedang sendirian.


“Mohon tunggu, Tuan Mahanta! Biarkan saya saja yang mencarinya!” teriak Owen mengejar Mahanta.


“Orang terluka tidak usah banyak bicara!” sahut Mahanta.


“Apa? Anda sudah tahu rupanya!” ucapnya kaget.


“Tentu saja Tuan Mahanta tahu. Kau memakai pakaian serba pendek sudah begitu ada motif bunga dengan kain sedikit tipis. Semua lukamu terlihat jelas,” sahut anggota Arutala yang berada di belakangnya.


***


Di sisi lain. Orion tengah menguping pembicaraan beberapa penduduk. Mereka yang masih sempat-sempatnya membicarakan soal Pahlawan Kota, Endaru.


“Masih sama. Tapi tidak ada hal yang penting. Ngomong-ngomong aku baru ingat, harusnya aku mengatakan tempat di mana Api Abadi itu berada pada Endaru,” celetuk Orion.


“Dan karena ini kota Y-Karta, aku menjadi penasaran terhadap apa yang terjadi pada 30 tahun yang lalu. Dia bilang tidak masalah aku menyelidiki sendiri, bukan?” sambungnya lirih.


Merasa tidak mendapatkan apa pun soal identitas Endaru. Ia pun menuju ke suatu tempat, yakni tempat di mana Api Abadi itu berada.


Api Abadi, yang banyak orang bilang kalau api itu tidak bisa dipadamkan. Karena penasaran dan mumpung masih sepi, Orion lantas mencoba untuk mengguyur api itu.


Byur!


“Tetap hidup. Kupikir cuman legenda ternyata ini betulan terjadi di dunia nyata,” gumam Orion seraya menyunggingkan senyum.