ORION

ORION
Kegigihan atau Obsesi Sima Dalam Serangan



☠BAB 84


Di sebuah penginapan, salah satu kamar yang dipakai Orion dan Owen menjadi sangat berisik. Namun entah kenapa tidak ada seorang pun yang datang menegur.


Sima, wanita itu pun semakin lama semakin agresif dalam menyerang dengan sebilah pisau kecil itu. Tajam dan bentuknya tidaklah lebih dari pedang yang dimiliki oleh Orion, akan tetapi karena goresan meliputi tubuh serta pisau Sima terasa seperti diasah kembali.


Ketika itu, Orion berada di sudut ruangan namun ia melompat ke samping tak lama setelah terpojok lalu melayangkan senjata tepat menuju ke leher Sima.


“Aku berharap kita tidak lagi bertemu. Tapi, kau terlalu banyak tahu soal Chameleon? Jika iya, maka jangan sampai—”


Syut! Sima mengayunkan kembali senjatanya. Orion salah berpikir, harusnya ia tak menghentikan serangannya begitu saja.


“Kau tidak berhak bicara,” ucap Sima.


“Hm, ternyata tidak bisa diajak bicara.”


Penyesalan tiba-tiba, Orion merasa sedikit linglung dengan perasaan seperti ini. Rasanya seperti terjebak di dalam kabut yang tebal dan jalanan aspal yang basah.


Tidak nyaman.


Cruak!


Serangan demi serangan Sima layangkan dengan ringan. Orion sedikit demi sedikit melangkah mundur dan menghampiri Owen.


Ketika kakinya menyentuh tubuh Owen, Orion berhenti melangkah dan seketika api menjalar ke sekeliling Owen. Membakar habis goresan yang terhubung pada Sima.


“Pak Owen, masih sadar? Aku berharap bapak segera pergi dari sini. Karena ...”


Tidak sempat ia melanjutkan ucapannya pada Owen, Sima kembali menyerang Orion tanpa henti.


Slash! Tanpa sadar, lengannya bergerak mengayun dari bawah ke atas. Membentuk sabit bulan yang melesat ke arah Sima.


Namun Sima memiliki insting yang cukup liar, ia menghindar tepat setelah sabit itu hendak menyerangnya. Dan sebagai ganti, serangan Orion merusak dinding begitu dalam.


“Pak Owen?”


Lagi-lagi, ketika Orion mengalihkan pandangannya walau hanya sebentar saja, Sima kembali menyerang. Kini Sima menggunakan setiap goresan yang muncul dari wajah ke seluruh tubuhnya.


Bergerak seperti akar menjalar, menuju posisi Orion dengan cepat. Menjerat kedua kaki sampai tubuhnya tak seimbang sampai ia tersungkur jatuh.


“Ergh! Kakiku terasa patah,” gumam Orion mengerang kesakitan.


“Tentu saja. Setiap manusia yang terkena dengan seranganku akan merasakan penderitaan yang luar biasa. Hingga kau berpikir akan lebih baik kau mati,” ujar Sima.


Pisau itu diturunkan, sekilat cahaya yang silau menunjukkan keberadaan Sima dalam ruangan dengan lampu yang berkedip-kedip.


Ruangan ini sepenuhnya dikendalikan oleh Sima. Orion tak sanggup berdiri, sedangkan Owen kini tengah terduduk dalam kondisi tak sadarkan diri. Mungkin, sebentar lagi akan berakhir.


Penyesalan terberat Orion adalah, tidak pernah sekalipun berniat membunuh meski lawan berniat akan hal itu, tapi setidaknya Orion merasa sudah diselamatkan berkat darah yang mengalir dalam tubuhnya.


Insting yang menyuruhnya untuk, "Melarikan diri!", namun tak pernah Orion lakukan karena obsesinya terhadap Chameleon dan segudang informasi.


Sima mengacungkan senjata lebih dekat ke arah Orion. Kemudian berkata dengan nada mengancam, “Anak Api, kau berada di pihak siapa? Jika berada di pihak mereka, maka aku takkan sungkan lagi dengan pisau yang akan menyayat lehermu ini.”


“Memangnya kenapa? Aku berada di pihak manapun, juga bukan urusan kalian!” pekik Orion dengan sorot mata yang tajam.


Blar! Kedua kakinya terbakar oleh api, yang kemudian merambat ke setiap goresan dan lantai. Orion menepis tangan Sima, dan segera ia bangkit dengan kaki pincang.


Ia menghilangkan sebilah pedang pada tangan kirinya. Dan hanya memfokuskan pada sebilah pedang pada tangan kanan, bentuk dari pedang itu kian memanjang.


Trang! Senjata mereka kembali beradu dalam udara. Orion tak dapat membuat Sima mundur dengan cara ini.


“Aku tidak bisa mati di tanganmu saat ini," kata Orion.


Tiba-tiba Orion terjatuh, dan membuat posisi Sima sedikit tidak seimbang karena sebelumnya menahan pedang Orion. Orion lantas mengambil kesempatan ini, dengan tinju api mengarah ke ulu hati.


Meski tidak seberapa kuat daripada Mahanta, tinju api miliknya dapat membuat tubuh Sima lunglai. Sesaat pandangannya tak lagi mengarah pada Orion, seraya bergerak mundur, Sima memegangi perutnya.


“Huh, mengerahkan banyak kekuatan pun akan menjadi sangat percuma.”


Owen telah sadar, ia menepuk pundak Orion sembari berucap, “Kau benar. Dia sangat sulit diatasi daripada bawahan rekan Chameleon yang lain.”


Owen terlalu mengeluarkan banyak darah di sekujur tubuhnya. Tapi ia masih terus memaksakan diri dengan kembali berdiri dan berhadapan dengan Sima.


Owen mengambil langkah ke depan, mengayunkan senjata berupa tongkat.


Duak!! Kepala Sima terpukul begitu keras, hingga telinganya berdenging sesaat setelah serangan itu. Kedua matanya terbelalak terkejut, kemudian terjatuh.


“Nona, sama sepertimu yang takkan sungkan menghadapi anak kecil. Aku pun takkan sungkan menghadapi seorang wanita,” ucap Owen membalikkan kalimat Sima.


“Peganggu, selalu saja ...ada pengganggu,” gerutu Sima di ambang kesadarannya.


“Berhenti di sana, Pak Owen! Serangannya ada di bawah kakimu!” Orion memperingatkan Owen.


Owen terkejut, ia lantas menyeret langkahnya mundur. Sembari menatap ke bawah, dan melihat setiap goresan yang hendak menyerang dirinya.


Setelah beberapa saat, Sima pun bangkit dari sana. Napasnya terengah-engah seraya ia memegangi kepalanya yang sakit.


Ia sedikit berlari menuju Owen dengan pisau di tangannya. Orion lantas menendang betis Owen dengan sengaja.


Gubrak! Dengan begitu Owen terjatuh dan jangkauan serang Sima lenyap seutuhnya.


“Maafkan aku Pak Owen!” teriak Orion seraya melayangkan sebilah pedang memanjang.


Mata pedang terbakar, sekilas Sima terlihat panik dan kedua kakinya tanpa sadar melangkah mundur untuk menjaga jarak.


Api itu terus membakar dan menggerus mata pedang hingga ampas meleleh jatuh seperti tetesan darah.


Api berwarna kejinggaan itu kini berubah menjadi merah, Orion menyerangnya dengan pedang terbakar secara vertikal lurus. Ia lakukan dalam satu detik, waktu tersingkat yang baru pertama kali ini lakukan.


Yang Orion incar adalah kedua matanya namun sepertinya sedikit mustahil. Karena terlalu dangkal, Sima hanya terluka di bagian mata kanannya.


Dan bukannya Sima mundur, ia justru semakin agresif. Melompati tubuh Owen, lalu menerjang ke arah Orion.


Srak!


Celah di antara mereka terbuka, goresan yang menyerupai resleting itu membuat keberadaan Sima lenyap. Setelah beberapa saat, Sima membekap mulut Orion dari belakang bersamaan menyayat lehernya.


Crash!! Darah keluar dengan deras, teriakan Orion pun terbenam lantas Sima membekapnya kuat. Ia meronta-ronta kesakitan.


Luka Orion cukup parah namun tak dapat ia lakukan apa pun. Kecuali kembali menyerang Sima. Bilah pedang itu berpindah ke siku tangannya, menusuk tubuh Sima sampai menembus ke punggung.


Owen menarik tubuh Orion, lalu memukul Sima dengan tongkat yang sama lagi.