
Orion hanya berdeham seraya mendengar setiap perkataan Endaru. Sayap berapi membentang luas, mekar dengan indahnya pun percikan api terlihat seperti bintang-bintang berjatuhan.
“Orion, apa yang akan kau lakukan?”
“Entahlah,” ucap Orion malas seraya mengepalkan tangan kanannya.
Di antara yang lain, Chameleon memilih untuk mengincar satu persatu dari mereka yang pada akhirnya kalah dalam satu kali serangan.
Dari belakang, Chameleon mencekik leher Ketua Irawan dengan erat. Ketua Irawan mengerang kesakitan seraya memukul-mukul lengan Chameleon.
“Ayo, tirulah kekuatan yang aku punya. Kau pun harusnya bisa melakukan hal yang sama denganku. Ada apa, Janu? Hm?”
Terdengar merendahkan sekaligus menyindir, Ketua Irawan pun enggan menjawab segala pertanyaan darinya.
DUAR!
Ledakan yang cukup ekstrem melempar tubuh Ketua Irawan menjauh dari sisi Chameleon. Sedangkan Chameleon saat ini pun hanya terdiam tanpa sedikitpun luka karena ledakan tersebut.
“Kok bisa kau tidak terluka?” tanya Orion keheranan.
“Mungkin karena aku sedang melampaui batasanku?” celetuk Chameleon seraya mengibaskan tangannya dan mengeluarkan sebilah pedang panjang berwarna kemerahan.
Orion menyerang Chameleon dengan bulu dari sayapnya tanpa henti. Semua bulu itu pun menusuk tubuh Chameleon.
“Orion, jangan kau lupakan lukamu!” teriak Endaru menerjang mereka.
Endaru sengaja menengahi mereka lantaran ia berniat agar Orion menjauhi Chameleon untuk sementara.
“Hei, sudah tahu terluka tapi kau masih memaksakan diri?” oceh Endaru menggerutu.
“Kenapa itu jadi masalahmu?” tanya Orion tak mengerti.
Endaru berdecak kesal. Ia kemudian mengeluarkan kekuatan penuhnya. Tertuju pada Chameleon seorang.
Tanpa gerakan istimewa, gravitasi berkali lipat lebih kuat itu mampu menekan keberadaan Chameleon hingga bertekuk lutut di jalanan beraspal. Tatkala embusan angin terasa di ruang hampa, raut wajah Chameleon berubah menjadi gelap.
Gelap karena kesal. Kesal pada Endaru yang mampu membuatnya seperti ini.
“Seluruh jalanan ini hancur karena kekuatanku. Apakah saat ini tubuhmu masih bisa bertahan, hei bunglon!” ketus Endaru.
“Iya, kau jauh lebih kuat. Perkembanganmu sangat pesat. Terutama saat kau menggunakan teknik bela diri,” ucap Chameleon tersenyum tipis seraya menatapnya.
Lingkaran yang berada di atas kepala Chameleon semakin membesar. Terlihat seperti mahkota, berpendar indah menghiasi ujung rambutnya. Setelah beberapa saat ia kemudian bangkit. Secara bersamaan, sebuah pedang es muncul di tangan Endaru.
Gista berjalan cepat menghampiri mereka. Dari pandangannya yang menatap Endaru, sudah jelas ia menyuruh Endaru untuk menusuknya. Namun saat itu, bukan karena ragu melainkan karena seperti ia dijadikan bawahan yang hanya bisa melakukan perintah dari majikan.
Tetapi Endaru tahu bahwa tidak ada jalan lain. Selain dengan menusuk Chameleon dengan pedang milik Gista.
“Dasar!”
Ia menusuk tubuh Chameleon yang pada saat itu tidak bisa bergerak sepenuhnya karena pengaruh kekuatan Endaru. Getaran di antara mereka sungguh kuat, sehingga Orion tidak dapat melakukan apa pun yang berguna.
Ketika pedang itu menembus tubuh Chameleon, Orion merasakan firasat buruk.
Tiada luka pada Chameleon berwujud ruh. Hanya saja pandangan Chameleon dan Endaru sama-sama kosong seolah tertelan oleh sesuatu.
“Apa yang terjadi?” tanya Ketua Irawan.
Sembari memapah tubuh Ketua Meera dan menutup luka dengan es, Gista berkata, “Aku tidak tahu. Tapi tenang saja.”
Ketua Irawan semakin kebingungan dengan yang telah terjadi saat ini. Ia melihat pemandangan di mana seolah waktu mereka terhenti tapi di sisi lain juga mengalir.
Dan kemudian Orion berwajah gelisah saat menatap wajah Endaru yang nampak sudah tidak sadarkan diri dengan mata terbuka. Pedang Gista juga masih digenggamannya kuat sehingga sulit untuk dilepas.
“Endaru!” panggil Orion sembari mengguncangkan tubuhnya.
“Eh?” Orion bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Endaru saat itu. Sesaat jantungnya berdebar kencang, ia kembali mengeluarkan darah segar dari semua luka yang ia miliki.
Malam itu, Endaru kembali sadar namun dengan lingkaran di atas kepalanya. Wujud Chameleon yang sebelumnya tertusuk pedang pun lenyap menjadi serpihan debu.
Tubuh Endaru diambil alih oleh kesadaran Chameleon. Kejadian yang bahkan sulit dicerna oleh semua orang.
“Kau bahkan membiarkan anak ini menjadi umpan serangmu?” tutur Chameleon seraya mencengkram lengan Gista.
Gista nyaris tercekik olehnya, karena itulah ia menghadang dengan lengan tangan sehingga lengannya lah yang dicengkeram oleh Chameleon.
“Bukan dia. Tapi Orion lah yang kujadikan sebagai umpan guna memancingmu.”
Gista mengibaskan lengan yang dicengkram olehnya. Lalu melangkah mundur dan dengan beberapa kristal es melayang-layang di udara. Tangan kanannya pun berubah menjadi lapisan es.
“Begitu rupanya.”
Chameleon yang telah terdorong mundur karena hempasan angin dingin, ia segera memposisikan diri kembali dengan sebuah pedang di tangannya.
“Jadi itu maumu, ya.”
Seraya mengertakkan gigi, Gista juga mengeluarkan sebilah pedang berwarna kebiruan. Keduanya langsung bergerak secara bersamaan, menyerang dengan sisi pedang yang tajam.
Trang!
Antar pedang yang beradu dalam gerakan yang sama, menjadikan lengan mereka bergetar. Tidak lama setelah mereka sama-sama melancarkan serangan, Chameleon mulai menggunakan kekuatan Endaru.
Telinga Gista mendengar dengungan kuat. Pijakannya di jalanan menjadi hancur. Sekujur tubuh Gista pun merasakan getaran yang terus menekannya ke bawah.
“Apakah kau berusaha untuk membunuh seseorang lagi dengan pedang itu?” Chameleon berbisik.
***
Sementara waktu, pandangan Ketua Irawan yang masih sadar saat itu hanya tertuju pada pertarungan sengit antar Gista dan Chameleon yang mengambil alih tubuh serta kesadaran Endaru.
Orion berada di ambang batasnya sekali lagi. Karena penyembuhan menggunakan Api Abadi itu tidak cukup dan hanya berlaku selama beberapa waktu. Kini, ia kembali ke titik semula.
“Kenapa harus sekarang?”
Kedua kaki Orion sudah tidak sanggup lagi untuk menahan bebannya. Ia ambruk seketika dengan tubuh gemeteran kuat. Bukan karena pengaruh kekuatan Endaru melainkan karena tubuhnya sendiri yang sudah sekarat.
“Hm, sudah kubilang untuk tidak bergerak, bukan?”
Kesadaran Orion semakin menurun. Dan seseorang datang menghampiri tuk memanfaatkan kesempatan ini.
“Perintah Tuan Chameleon adalah membawa pria dengan lengan berapi. Akan tetapi menurutku, seharusnya kau lenyap saja.”
Pria dengan pakaian serba tertutup. Terlihat jari jemarinya mengeluarkan listrik. Ketika ia duduk berjongkok dan hendak mengarahkan listrik itu ke tubuh Orion, ia terkejut saat mata Orion terbuka.
“Apa?!”
Grep!
Orion mencengkram pergelangan tangan pria itu namun anehnya tidak ada arus listrik yang menyambar ke tubuh.
“A-a-a!”
Pria itu tergagap sejadi-jadinya. Kaget sekaligus ketakutan begitu sadar bahwa tangannya digenggam dengan menggunakan tangan kanan berapi Orion.
Hendak berteriak seraya meronta kuat. Akan tetapi sekujur tubuh pria itu berubah menjadi hitam. Angin menerpanya bagai debu tanpa sisa.
“Hah, pria ini sama sekali tidak masuk akal. Sudah aku bilang juga padanya kalau yang seperti mereka itu seharusnya dibunuh saja.”