ORION

ORION
Pesan Untuk Bertemu



Langit-langit keputihan tanpa polesan sedikitpun. Burung berkicau ria di luar dengan sayap yang mengepak kencang. Semilir angin di pagi hari begitu sejuk rasanya, mendapati ia berada di dalam sebuah kamar. Terbaring dengan merasakan rasa sakit yang hampa.


Orion tengah terbaring dengan banyak perban putih membelit tubuhnya, ia terbangun dengan pandangan kosong. Perlahan-lahan ia mulai merasakan seluruh tubuhnya. Selama beberapa kali ia mengedipkan kedua mata dan memastikan dirinya masih hidup dan sadar.


“Sudah bangun?”


Terdengar suara yang familiar baginya. Orion pun membelalakkan kedua mata dan menatap seorang wanita yang sedang duduk di samping ranjangnya.


“Aku menunggumu selama 2 hari 2 malam. Bagaimana keadaanmu?” Gista bertanya setelah ia menyeruput secangkir teh hangat.


Wanita itu ternyata Gista. Gista Arutala. Ia sudah menunggu Orion sadar.


“Aku ...baik-baik saja,” ucap Orion dengan suara yang lirih.


“Oh, begitu. Baguslah.” Seperti biasa caranya ia bicara terdengar tidak peduli.


Orion meraba-raba sekujur tubuhnya. Termasuk tangan yang sedang ia genggam sendiri. Semuanya sudah kembali sedia kala. Ke wujud seorang anak kecil dengan tubuh mungil. Sejujurnya Orion sangat kecewa akan hal ini, namun jika ia menunjukkan wujud seorang dewasa maka entah apa yang akan terjadi sekarang.


“Orion, adakah hal yang masih membuatmu sakit?” tanya Gista.


“Tidak ada. Yah, hanya saja masih sedikit kaku. Ngomong-ngomong apa yang terjadi sebelumnya? Apakah lukaku begitu parah?” Orion balik bertanya mengenai kondisi yang sebenarnya.


“Tubuhmu terbakar karena kekuatanmu sendiri, nyaris saja kamu menjadi abu. Lalu, 3 tulang rusuk patah dan organ dalammu terutama paru-paru mengalami malfungsi karena tulang rusuk yang patah itu menusuknya. Kamu juga kehilangan banyak darah karena luka-luka itu.”


Orion tercengang mendengar itu langsung dari Gista. Tak menyangka lukanya sangat parah, dan bisa saja ia mati karena tulang rusuk yang menusuk paru-parunya.


“Jadi karena itu aku kesulitan bernapas,” gumam Orion.


“Iya tapi di sisi lain tidak juga. Karena penyebab utamanya adalah Pahlawan Kota, benar? Karena dia yang mengendalikan gravitasi di sekitarmu, maka itulah yang terjadi,” sahut Gista.


“Ternyata Anda tahu ...”


Gista tersenyum sembari menatap Orion dengan tatapan ramah. Ia kembali menyeruput teh lalu setelah itu ia meletakkannya di atas meja.


“Orion. Mengenai siswi yang kamu bicarakan waktu itu, aku sudah menyelidikinya kemarin. Dan hasil yang kudapatkan, siswi yang bernama Lily ternyata tidak sesuai dugaan.”


Orion sangat syok saat mendengar Gista mengetahui nama siswi yang ia maksud. Padahal sebelumnya ia tak pernah menyebut nama Lily.


“Kini aku jadi lebih mengerti kenapa kamu menyembunyikan hal ini. Lily memang pada dasarnya tidak bisa tumbuh selayaknya anak-anak yang sedang berkembang. Dia permanen seperti itu. Dan dia juga selalu mogok kelas bahkan sempat dinyatakan tidak lagi sekolah,” lanjut Gista.


“Aku tidak pernah menyebut nama siswi itu,” sahut Orion sembari mengepalkan tangan.


“Dia tidak bisa tumbuh karena memang pada dasarnya tubuh Lily cacat. Dia mogok kelas pun itu terjadi selama 20 tahun terakhir,” kata Gista yang tidak menggubris perkataan Orion sebelumnya.


“Nona Gista, aku—”


Tidak hanya menggubris bahkan kini Gista terang-terangan memotong kalimat Orion dengan ucapannya.


“Itu terjadi karena Lily tidak bertemu dengan kenalannya lagi. Karena sudah lama meninggal, Lily akhirnya depresi,” sahut Gista.


Melihat Orion tak bergeming dan hanya menundukkan kepala. Seraya melirik ke arah Orion kemudian berkata, “Itu kau 'kan, Orion Sadawira?”


“Semenjak kekacauan yang kamu buat. Karena ada waktu sebentar, aku memutuskan untuk menyelidikinya. Beruntung tidak memakan waktu cukup lama, hanya sekitar 3 jam aku mencari informasi siswi itu,” jawab Gista.


“Cepat sekali, ya. Apa memang banyak orang kota yang suka sekali menggosip tentang diriku, ya?” gerutu Orion berwajah kesal.


“Jangan begitu. Tetapi setidaknya apa yang kamu duga ternyata tidak benar. Itu membuatmu lega, 'kan?” pikir Gista.


“Mengenai apa maksudmu?”


“Tentu saja kamu berpikir jika Lily tidak kunjung tumbuh besar maka itu artinya dia adalah Pejuang NED. Tapi untungnya bukan,” jelasnya dan membuat Orion menatap Gista dengan tatapan tajam.


“Sejak kapan kau tahu?” Orion bertanya mengenai hal yang lain.


Gista hanya terdiam dan menatapnya kebingungan. Orion yang melihat itu pun jadi merasa jengkel, jelas bahwa Gista berpura-pura untuk tidak tahu apa yang dimaksud Orion.


Lantaran ini berkaitan dengan identitas Orion sendiri. Jika Gista saja sudah mengetahui nama siswi yang ia maksud tempo hari, maka sudah pasti Gista mengetahui siapa Orion yang sekarang ini.


“Lily adalah siswi yang selama ini aku maksud. Dan kau benar bahwa aku sebelumnya berpikir kalau Lily sama seperti kita. Dan aku bersyukur ternyata bukan begitu,” celetuk Orion sembari tersenyum tipis.


Setelah beberapa saat ia kembali merenungkan tentang Lily, berpikir bahwa karena ia meninggalkannya, Lily jadi berubah.


“Dan mendengar Lily jadi sering mogok kelas karena aku ...” gumam Orion lantas melihat ke arah luar dari balik jendela dengan tatapan sendu.


“Tidak perlu dipikir panjang, Orion. Lily memang pada dasarnya memiliki mental lemah,” ucap Gista dengan mudahnya.


“Terserah mau bagaimana tanggapanmu terhadap Lily. Aku berterima kasih. Dan aku sekali lagi bertanya, sejak kapan kau mengetahuinya?” Terdengar Orion sedikit marah.


“Tadi sudah kukatakan, aku tahu dari 2 hari yang lalu. Hanya butuh—”


“Bukan itu maksudku! Tapi kapan kau tahu tentang aku?!” tegas Orion bernada tinggi.


Sebelum menjawabnya, Gista menghela napas panjang. Akhirnya pun ia mengatakan hal itu sejujur-jujurnya.


“Aku tahu bukan karena hasil penyelidikan soal Lily. Melainkan aku sudah tahu cukup lama. Apa kau tak mengingat? Kita ini dulu kenalan semasa kuliah.”


Orion seketika terkejut. Tak menyangka Gista sudah tahu dari awal, nampaknya kecurigaan Orion benar nyatanya.


“Aku tidak begitu mengingatmu.”


Gista hanya tersenyum dengan kening berkerut. Mungkin ia kecewa karena dirinya tidak diingat dengan baik. Namun sebaliknya, Orion masih larut akan masalah Lily.


Orion yang sudah lama mati, justru membuat Lily depresi. Padahal Orion tidak ada niatan begitu, lantas ini semua sudah terlanjur. Tak ada gunanya dipikir dan tak dapat kembali ke masa lalu.


“Lily sudah membaik. Mentalnya kembali stabil, dan kau tak perlu khawatir,” ucap Gista yang tak ingin membuat Orion semakin sedih.


“Sekarang sudah tak lagi bersikap sopan? Dengan panggilan, "kau", ya?” Orion menyindir. Sedangkan Gista hanya terdiam dengan tawa yang hambar.


Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu ruangan, segera ia masuk setelah Gista mempersilahkan. Seorang pria dengan bando di kepalanya datang untuk memberitahukan sesuatu.


“Saya mendapatkan pesan dari Pahlawan Kota, Endaru untuk Orion Sadawira. Katanya, dia ingin bertemu.”