ORION

ORION
Kendali Api Abadi, Berada di Tangan Orion Sepenuhnya



Janu Irawan, selaku salah satu ketua yang berada di wilayah Kota Y-Karta. Alasan ia datang tentu saja karena berita Api Abadi yang lenyap. Orion menjadi satu-satunya kecurigaan dan itu benar.


“Orion, semua sudah masuk?”


“Ya!”


Karena banyak orang yang ingin diangkut, pada akhirnya Ketua Irawan menyewa sebuah truk terbuka. Meletakkan mereka semua yang dalam kondisi tak sadar di bagian belakang.


“Orion, aku masih penasaran kenapa kau bisa mengambil Api Abadi begitu mudahnya?” tanya Ketua Irawan seraya menginjak pedal gas.


“Fokuslah menyetir, Ketua Irawan. Rawan kecelakaan kalau kita berbincang di tengah perjalanan,” kata Orion sembari mengalihkan pandangan ke luar.


“Hanya sebentar saja. Kumohon jawablah.”


“Baiklah kalau Ketua Irawan memaksa. Sebenarnya pun saya tidak ada niat begitu. Akan tetapi karena suatu hal, secara terpaksa saya mengambilnya. Atau mungkin lebih tepatnya diserahkan.”


“Diserahkan? Maksudmu kau menerima Api Abadi karena Api Abadi sendiri menyerahkan dirinya padamu?” tanya Ketua Irawan.


“Iya, itu benar.”


Persoalan ini rasanya tak lebih penting dari bisikan seseorang. Orion masih terpikirkan tentang ajakan temu pada Chameleon. Entah ini jebakan atau hal lain namun firasatnya buruk.


“Apa Anda akan menghukum saya?” pikir Orion.


“Tidak. Justru itu membuatku lega karena yang membuat Api Abadi bertekuk lutut bukanlah sembarang orang ataupun rekan dan Chameleon itu sendiri.”


“Terima kasih atas kemurahan hatinya,” ucap Orion merasa lega.


“Jadi, bagaimana rasanya?”


“Katanya hanya sebentar. Tolong fokuslah untuk menyetir selagi masih selamat dalam perjalanan,” ketus Orion.


Makin hari terlewati maka makin banyak pula misteri. Inti Api Abadi membuatnya tak merasakan efek yang jelas ketika memberikan darah langka pada seseorang.


Itu menjadi kabar terbaik yang pernah ada. Karena setidaknya Orion masih hidup. Selain itu ia pula harus secepatnya menguasai kekuatan Api Abadi untuk mengembalikan wujud aslinya, yang adalah seorang pria dewasa.


Belum lagi selain permasalahan Chameleon. Adapun keluarganya yang kembali bangkit. Istri lalu kemudian anaknya. Namun Orion meragu apakah anak itu adalah anak kandungnya ataukah anak dari suami kedua istrinya.


***


Mereka sampai di kediaman Arutala. Mahanta datang menyambut mereka, sekaligus tak menyangka bahwa ada Ketua Irawan di sini.


“Selamat siang?”


“Ya, selamat siang, Ketua Irawan!” ucap Mahanta dengan serius seraya menjabat tangannya dan mendongakkan kepala untuk menatap Ketua Irawan.


Saking tingginya bahkan Mahanta saja harus mendongakkan kepala.


Mereka masuk ke dalam sembari berbincang-bincang dan menaruh para tahanan di ruang bawah tanah. Kemudian Mahanta menjamunya di ruang tamu, saat itu Orion juga mengikut.


“Maafkan saya, Ketua Irawan. Sampai harus dibantu untuk mengangkut mereka ke dalam. Saya jadi merasa tak enak,” kata Mahanta seraya menggarukkan kepala yang tidak gatal.


“Hiya, bagiku tidak masalah.”


“Seperti biasa Anda mengatakan kata-kata kebanggaan itu haha,” kata Mahanta kemudian tertawa.


“Ngomong-ngomong ke mana Nona Arutala?” tanya Ketua Irawan.


“Maaf sebelumnya. Nona Gista tidak bisa menyambut kedatangan, apalagi anggota lain juga cukup sibuk karena masalah di mana-mana.”


“Ah, aku cukup mengerti.” Lantas Ketua Irawan berdeham.


“Tuan Mahanta, apa saya boleh pergi?” tanya Orion dengan berbisik.


Geplak!


Tiba-tiba saja Ketua Irawan memukul punggung Orion lagi. Padahal sebelumnya ia berada persis di hadapannya dan sedang duduk tenang.


“Aku perlu bicara denganmu Orion.”


“Tadi 'kan sudah bicara,” kata Orion dengan kening berkerut.


“Hanya sebentar.”


“Api Abadi yang kau bentuk, apakah ada perubahan? Sebelumnya kita sedang membicarakan hal ini benar?”


“Ah, sudah kuduga,” gumam Orion.


“Orion?”


“Saya akan ke kamar belakang terlebih dahulu.”


Orion pergi meninggalkan mereka. Tentu saja itu bukan hanya sekadar alasan untuk berdalih. Ia pun juga enggan mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan yang tidak ia mengerti sepenuhnya.


Zrashh!


Membuka air keran sekencang-kencangnya, Orion lantas membasuh wajah serta berkumur-kumur.


“Darahnya masih keluar,” batin Orion.


Ia memuntahkan kumurannya yang berdarah. Bekas gigi yang patah dan tercabut itu sungguh sangat menganggunya. Namun butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkannya. Beruntung Mahanta tak mengetahui bahwa ia terluka lagi.


Dagu yang lebam pun tidak terlalu terlihat jika mendekat.


“Ugh, sakit sekali. Meskipun orang dewasa, pasti luka ini tetap sakit dan fatal jika mengenai lidah sekaligus.”


Ia berkaca, menatap sendu pada pantulannya sendiri. Terlihat wajah yang tampak sedikit berbeda, semula mungil dan kini berubah sedikit demi sedikit menjadi remaja.


Luka goresan pun juga berpengaruh, hampir sepenuhnya sembuh tanpa jejak.


“Hah, menjengkelkan.”


Setelah beberapa saat ia merasa lesu. Menundukkan kepala sembari menggerutu kesal. Orion masih terpikirkan banyak hal termasuk ajakan temu dari Chameleon.


“Hei, kenapa malah melarikan diri?”


”Ah, astaga!” teriak Orion.


Gubrak!


Karena terkejut, Orion jatuh terpeleset. Detak jantung terdengar keras, hampir saja ada yang melayang di sini.


“Maaf, Orion. Aku sama sekali tidak berniat melakukan hal ini. Maaf, ya,” kata Ketua Irawan sembari menolongnya.


“Pria ini benar-benar! Sejak tadi dia selalu mengangguku,” batin Orion menggeram kesal.


Hawa di sekitar Orion jadi terpengaruh. Terlihat kehitaman tanda bahwa ia kesal. Apalagi dengan raut wajah yang sulit dikendalikan.


“Ahaha, maaf ya. Aku hanya ingin bicara padamu sebentar. Soal Api Abadi, apa yang terjadi setelah kau berhasil menelannya?” tanya Ketua Irawan dengan tawa.


“Tidak tahu. Saya hanya merasa bahwa kekuatan saya berlimpah. Lalu, bisakah Anda menjawab apa kekuatan Anda sebenarnya?” balas Orion bertanya dengan ketus.


“Aku ini sejenis tipe pertahanan dan penyerangan. Kemampuanku adalah peminjam dengan cara menginjak bayangan orang itu maka aku dapat meminjam kekuatannya secara langsung.”


“Entah kenapa terdengar curang.”


“Benar sekali. Tapi ini masih misteri. Bahkan aku bisa melipatgandakan kekuatan yang kupinjam, hehe,” kata Ketua Irawan sambil tertawa.


“Saya pernah dengar kalau asal-usul kekuatan ini karena dewa-dewa kuno. Dan perlu Ketua Irawan ketahui bahwa Api Abadi memiliki inti kekuatannya sendiri,” tutur Orion.


“Ya, aku tahu.”


“Jadi Anda sudah tahu rupanya,” sinis Orion.


“Jangan menatapku begitu. Inti Api Abadi itu terhitung kuat. Jika kau bisa mengendalikan, menguasi dan menggunakan kekuatannya sepenuhnya maka semua Pejuang akan kesulitan melawan dirimu.”


Apa yang dikatakan oleh Ketua Irawan bukan mengada-ngada. Orion juga tahu, apalagi ketika ia bertemu dengan sosok mahluk bersayap Karura bersama Ki Moko.


Kedua sosok tersebut juga pernah bilang hal yang sama. Kemudian merujuk pada dewa Agni. Karakter kuno.


“Bahkan untuk Chameleon?”


Sembari mengigit jari ia mengatakan yang diutarakannya sebelum ini. Orion kemudian menundukkan kepala dengan tatapan kesal.


“Ya.”