ORION

ORION
Saling Mengetahui dan Saling Berpura-pura Tidak Menyadari



Semua hal yang dulu pernah ia pikirkan tiba-tiba menjadi gelap. Tanpa ujung yang terlihat, semuanya menjadikan harapannya pupus. Seolah sehelai benang yang terbagi menjadi dua, Orion kaget dengan pernyataan Endaru yang mengatakan bahwa ia tak memiliki darah itu.


Lalu, apa yang dimaksud oleh Gista Arutala kepadanya? Orion ingat betul kalau Gista pernah berkata kalau apa yang ia rasakan pada dalam tubuh Orion itu sama dengan tubuh Endaru.


“Aku jadi bingung. Kenapa Gista berkata bahwa kita itu sama? Apa kau tahu?” tanya Orion dengan wajah bingung, cemas dan panik.


“Apa maksudmu? Kalau wanita itu bilang kita sama, maka bukan berarti itu tertuju pada darah. Aku yakin itu adalah hal yang berbeda,” pikir Endaru.


“Ah, ini jadi buntu. Aku benar-benar tak mengerti kenapa dia bilang begitu padaku?” gerutu Orion seraya mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


“Jangan pesimis begitu. Aku tahu kau bertanya apakah aku memiliki darah langka pasti karena ingin tahu penyebab tubuhmu menyusut, bukan?” sahut Endaru.


“Kau tahu?”


“Jelas saja aku tahu. Darah juga bagian dari tubuh, dan saat ini hanya itu menjadi kelainan pada tubuhmu. Tapi aku tidak tahu soal itu juga, maaf.”


“Tidak perlu meminta maaf. Ah, sudahlah. Untuk urusan ini aku benar-benar tak begitu yakin apakah aku harus terus mencari kebenarannya? Aku hanya ingin bersantai saja,” celetuk Orion.


“Aku tak yakin kau bisa bersantai semudah itu. Jika kau sudah menginjak dunia NED, sudah dipastikan nasib kita sama semua,” ucap Endaru tanpa omong kosong. Ia sangat serius saat membicarakan hal tersebut.


“Kau ingin berkata bahwa aku tak bisa hidup seperti dulu lagi?” pikirnya dengan kesal.


“Tergantung. Mengenai permasalahan antara aku denganmu, yang katanya wanita itu pernah bilang padamu kalau kita adalah sama. Mungkin kota kelahiranku, akan membantumu mendapatkan jawabannya,” tutur Endaru. Ia berniat membantu sesuatu.


“Kenapa kau mau membantuku?” tanya Orion penuh curiga.


“Tidak ada alasan, anggap saja balas budi. Dan aku akan mengatakan satu hal padamu. Bahwa aku pernah mati dua kali ditambah karena dirimu tempo hari.”


Pernyataan Endaru barusan terdengar sangat berbahaya. Endaru yang pernah mati dua kali, entah bagaimana bisa ia hidup mungkin saja dengan darah penghubung jiwa dan raga. Tapi tak mungkin Orion akan tanya di mana ia mendapatkannya, Endaru pun tak mengatakan apa-apa selain fakta tersebut.


“30 tahun yang lalu, kematianku yang berulang sampai dua kali. Atau mungkin kota kelahiran yang di mana dunia NED pertama kali terbentuk, aku cukup yakin jawaban yang kau cari ada di sana,” pikir Endaru dengan penuh keyakinan.


“Tapi tentu saja, aku enggan menceritakan itu semua langsung. Akan lebih baik kau ke sana saja, inilah hal yang harus aku lakukan untuk membalas budi karena telah membuatku hidup kembali dengan darah itu,” imbuh Endaru.


Sorot matanya yang tajam membuat Orion percaya bahwa ia tidak membohongi dirinya. Tapi apakah bisa dipercaya begitu saja? Bagaimana kalau dia berbohong?


Hal-hal yang Orion khawatirkan inilah yang membuat firasat tak enak kembali muncul.


“Kota Y-Karta. Itu adalah kota kelahiranku.”


Meskipun Endaru mengatakannya, entah kenapa Orion jadi tidak berminat. Hasil instan yang ia harapkan dari Endaru juga sudah percuma.


“Maaf saja, Endaru. Aku tidak berminat mencari masalah. Firasatku buruk semenjak aku bertemu denganmu lagi,” kata Orion. Lalu ia bangkit dari sana dan hendak pergi.


“Sebelum pergi, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Itu adalah tempat yang akan membuatmu lupa sejenak bahwa kau adalah orang tua di masa lalu,” ajak Endaru kepadanya.


Dan tempat yang mereka tuju adalah Warnet Cafe. Tempat di mana para anak-anak ataupun orang dewasa bermain komputer dengan internet sekaligus kafe yang menyediakan makan dan minuman ringan.


Tempat itu sangat mencolok, sekilas terlihat seperti ruangan dalam kantor yang banyak komputer dan pegawai yang bekerja.


“Ini tempat yang sangat tidak cocok untukku, Endaru,” ucap Orion.


“Sudahlah, bocah tua. Kau terlalu kolot untuk jaman sekarang. Mumpung masih hidup, akan lebih baik kita menikmati hari ini,” kata Endaru dengan semangat mencari komputer senggang sambil menggenggam tangan Orion.


“Anak ini memang masih sangat labil. Kadang marah, kadang senang, kadang juga bersemangat. Tapi ekspresinya hampir tidak pernah berubah, dingin sekali. Dan kediktatorannya tidaklah hanya sebatas rumor saja,” gumam Orion yang pasrah di bawa ke sana kemari.


Setelah mereka berhasil menemukan tempat yang kosong, segera Endaru mengambil alih kendali komputer itu. Ia dengan sigap mencari permainan yang ada di dalam sana dan segera memainkannya dengan sangat antusias.


“Bukankah sekarang sudah jamannya modern dengan menggunakan laptop?” pikir Orion.


“Laptop untuk orang bekerja, kalau komputer itu baru digunakan untuk bermain game!” tegasnya menyeringai.


Sesaat, wajahnya terlihat mengerikan. Jari jemari Endaru pun tak berhentinya bergerak, lantas Orion yang penasaran akhirnya memutuskan untuk melihat permainan itu.


“Kau mengajakku kemari hanya untuk membuatku semakin suntuk. Dan kau malah asik sendiri dengan permainan tembak-tembakan,” gerutu Orion.


“Jika aku sudah selesai baru giliranmu,” kata Endaru dengan pandangan serius menatap layar komputer.


“Aku tidak meminta giliran,” gumam Orion yang rasanya semakin bingung saat menghadapi Endaru.


Di sela-sela permainannya itu. Endaru mengatakan sesuatu pada Orion. Dan terdengar begitu pilu meski kata-katanya tak selalu mengarah ke masa lalu yang kelam.


“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku jadi begini padamu, 'kan? Aku akan menjelaskannya bahwa ini karena aku merasa simpati padamu juga,” ucap Endaru dengan sudut mata menurun lalu mengerutkan keningnya.


“Apa maksudmu?” tanya Orion tidak mengerti.


“Setiap darah langka masuk ke tubuh orang lain, maka orang yang menerima darah itu akan kembali hidup. Tapi di satu sisi, orang itu juga merasakan penderitaan si pemilik darah tersebut,” jelas Endaru berwajah datar.


Tak! Tak! Jari jemarinya semakin bergerak cepat, permainannya akan menuju puncak. Ketika itu, bukanlah sorot mata yang membara namun sendu entah apa maksudnya.


“Aku merasakan penderitaanmu, semua luka yang kau derita baik fisik maupun mental juga. Terakhir kali aku tidak menyukaimu karena kau sok menasehati dan dengan berani menyinggung soal 30 tahun yang lalu.”


“Wah, aku baru mengetahui hal itu.”


“Tapi ternyata kau bukanlah orang tua yang seperti itu. Kini aku jadi tahu kenapa kau selalu menghindari setiap masalah,” imbuh Endaru.


“Masalah itu tak perlu kau ungkit. Jika kau sudah tahu, sama sepertimu yang berharap aku tak lagi menyinggung 30 tahun lalu, maka aku pun berharap padamu untuk tidak menyinggung tentang diriku yang kelam,” pinta Orion.