
Di waktu yang sama. Ade datang ke ruangan Ibunya, Aria.
“Ada apa, Ade?”
Aria menyambutnya dengan lembut seraya merentangkan kedua tangan tuk memberi Ade sebuah pelukan. Akan tetapi Ade hanya masuk dan menutup pintu.
Ade tetap berdiri di sana dengan tundukkan kepala. Pikiran Ade sedikit kacau, berkali-kali ia berpikir mengapa kakinya melangkah masuk kemari. Tapi sudah terlanjur ia masuk.
“Ibu, apa Ibu masih ingat dengan apa yang terjadi padaku?” tanya Ade dengan tatapan tajam namun ragu.
Walaupun masa lalu memang tidak bisa diubah, begitu pula dengan rasa sakit yang tidak bisa ia lupa. Hanya melangkahkan kaki masuk saja sudah menunjukkan seberapa beraninya Ade untuk berhadapan langsung dengan Ibunya.
“Yang terjadi padamu ...itu,” lirih Aria sembari mengigit jarinya dengan cemas.
Berhadapan dengan seorang pembunuh. Ibu yang telah membunuh anaknya sendiri meski itu tidak secara langsung pun.
“Sebenarnya apa yang kamu bicarakan, Ade? Bukankah kita sekeluarga selalu hidup damai. Meskipun tanpa Ayah kandungmu,” ucap Aria lirih.
“Tidak. Keluarga kita tidak bahagia. Dan Ayahku Faisal, benar?”
“Ah, itu benar juga.”
“Lalu, Ibu hampir membunuhku. Apa Ibu tahu?”
Mendengar ucapan Ade, seketika Aria terkejut. Tangannya gemetaran, dan bahkan ia sudah tidak sanggup untuk menatap anaknya itu.
“Ibu tidak ingat,” ucap Aria.
Mendengarnya membuat Ade menggerutu kesal. Ia menundukkan kepala seraya mengepalkan tangan dengan kuat. Kesal juga benci namun dirinya tidak bisa marah.
“Maafkan Ibu, nak. Ibu tidak mengingatnya sama sekali. Ibu juga sempat khawatir, masa lalu yang bagaimana sampai keluarga kita hancur berantakan.”
Aria menahan tangisnya sebisa mungkin. Namun begitu ia menutup wajah dengan telapak tangannya, isak tangis pun tak tertahankan. Ia menangis sejadi-jadinya.
“Memang Ibu saat itu tidak waras. Kadang baik dan kadang juga memperlakukan aku dengan kasar.” Ade menatap kedua telapak tangannya yang gemetar. Dan air mata pun berjatuhan dengan deras.
Masa lalu pelik. Keduanya sama-sama menderita hingga akhirnya mati. Namun takdir justru mempertemukan Ibu dan anak itu sekali lagi, seolah ada hal yang harus diperbaiki oleh mereka di masa lalu.
“Ayah, bagaimana dengan kabarnya?” tanya Ade sambil mendekatkan diri lalu mengguncang tubuh Aria.
“Ibu tidak tahu. Ibu juga mati di tangan Ayahmu sendiri. Itulah satu-satunya yang Ibu ingat. Tapi dia bukan Ayah kandungmu, Ade.”
“Ade juga tahu hal itu, Ibu. Ayah Ade yang bernama Faisal itu bukanlah Ayah kandungku. Melainkan Orion, nama itu 'kan?”
“Kenapa bisa tahu?” tanya Aria terkejut.
“Aku juga tidak tahu, Ibu. Hanya saja aku melihat ingatan tentang pria itu. Pria itu sedang melihat Ibu dan Ayah pergi bersama. Jadi aku berpikir—”
Ade tak sempat melanjutkan perkataannya lantas Aria langsung memeluknya dengan erat. Isak tangis masih terdengar di antara mereka. Ruangan juga menjadi hangat.
“Ade benar. Orion, itulah nama Ayah kandungmu. Ibu berpisah dengannya, dan saat baru saja menikah dengan pria lain, barulah Ibu memilikimu dan sudah terhitung 3 bulan,” ujar Aria menceritakan.
“Jadi benar. Lalu sekarang di mana? Di mana Ayah?” tanya Ade dengan antusias.
Sudah lama Ade mencari keberadaan Orion. Bahkan Orion sendiri pun enggan bertemu dengannya lantaran yang Orion tahu bahwa Ade adalah anak Aria dengan suami barunya.
“Ibu juga tidak tahu. Terakhir kali kami bertemu sepertinya ketika Ibu meninggalkannya seorang diri,” tutur Aria seraya melepaskan pelukannya.
“Saat Ibu yang dibilang kembali bangkit. Ibu bertemu dengan seorang anak kecil, dia begitu mirip dengan Ayahmu,” imbuh Aria.
Ade terus mendengar cerita apa saja yang Aria katakan kepadanya. Termasuk anak kecil yang begitu mirip dengan Orion, dan kenyataannya itu adalah Orion. Tetapi mereka tidak tahu fakta ini.
Keduanya hanya bisa pasrah dan berharap bahwa Orion akan mengunjungi mereka berdua. Entah Orion tahu atau tidak, mereka akan tetap menunggu sampai kapan pun.
“Ibu bilang, Ibu dibunuh oleh Ayah Faisal. Lalu apakah Ibu benar-benar tidak tahu bagaimana keadaannya?” tanya Ade.
“Tidak, Ade. Ibu tidak ingat kecuali dia yang membunuh Ibu. Tapi sepertinya itu berhubungan denganmu, ya? Apakah Ibu dulu sangat keras terhadapmu? Jika iya maka Ibu akan mengubah sikap itu sekarang,” celoteh Aria.
Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan kembali berkata, “Tidak! Kalaupun tidak memperlakukan kasar. Mulai sekarang Ibu akan terus memperlakukan Ade selayaknya seorang ibu. Dan tenang saja, Ibu sudah cukup waras sekarang.”
Mungkin karena Aria seperti bertemu kembali dengan Orion saat bertemu dengan anak itu. Aria kembali sedia kala. Tak ada tanda-tanda bahwa dirinya sedang sakit mental.
Ade melihat Ibunya berbeda dari yang ia ketahui. Itu membuatnya sangat lega.
“Syukurlah kalau begitu, bu. Aku akan pergi, ya.”
Ade kemudian membalikkan badan setelah mencium tangan Ibunya. Ia tersenyum kemudian sesaat sebelum pergi.
“Pergi ke sekolah seperti biasa?”
“Oh, Ibu tahu? Maafkan aku Ibu. Sudah lama tidak berjumpa, jadinya malah di waktu yang mepet. Dan sekarang Ade harus bersekolah karena tidak ingin terlibat jauh dengan Organisasi ini.”
Ade kemudian menganggukkan kepala setelah Ibunya lalu pergi ke sekolah.
Terhitung hampir 2 bulan, Ade bersekolah. Dan pagi ini, ia menyempatkan serta memberanikan diri tuk bertemu dengan Ibunya, Aria. Memang waktu yang tidak pas, akan tetapi Ade saat itu juga secara kebetulan melewati ruangan Aria.
“Karena kami tidak punya rumah. Jadi harus tinggal di sini. Walaupun gratis, aku masih tidak enak pada orang-orang di sini jadi sebisa mungkin, setelah pulang sekolah aku akan bekerja part-time.”
Ade bersekolah pun karena dibayari oleh Grup Arutala. Atas dasar keinginan Arutala sendiri, serta Presdir yang ikut turun tangan secara tidak langsung.
Ade berjalan kaki untuk menuju ke sekolah barunya. Langkah riang dengan wajah sumringah membuatnya tetap semangat seraya mengingat wajah Ibunya yang bahagia.
Klontang!
Melewati jalan tikus adalah kebiasaan Ade menghindari jalan raya. Namun sepertinya ada suara yang mengganggu Ade. Suara itu persis ada di belakangnya.
“Siapa?!” teriak Ade bertanya seraya menoleh ke belakang dan berhenti berjalan.
Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya kaleng kosong yang menggelinding ke sudut jalanan. Ade sempat berpikir ada seseorang yang secara tak sengaja menendang kaleng itu, tapi kenapa tidak ada seorang pun di sana?
Ade bertanya-tanya dalam pikirannya. Siapakah di sana dan sedang melakukan apa. Tetapi pada akhirnya karena sudah tidak tahan, Ade lantas berjalan cepat. Secepatnya ia harus sampai ke sekolah.
“Perasaan aneh apa ini? Sepertinya aku dibuntuti. Tapi kenapa? Firasatku juga sangat buruk. Bagaimana kalau benar-benar ada seseorang yang mengikutiku?”
Ade terus bergumam-gumam seraya mengigit jarinya. Perasaan gelisah dan takut bercampur aduk tak karuan. Debaran jantungnya terdengar begitu keras, sampai-sampai Ade tidak sadar bahwa ia berjalan ke arah yang salah.
Ade kembali bergumam. Kali ini ia terus mengulangi kata, “Bagaimana ini? Bagaimana ini?”