ORION

ORION
Endaru Tersesat



Di satu sisi, Endaru yang saat ini sedang berada di lapangan luas. Terlihat dari sana, pandangannya menuju jalan mulus, rumput hijau serta langit biru yang membentang luas.


Setelah beberapa saat Endaru mengaguminya, ia kemudian mendengar suara. Seperti saat telinganya berdenging. Terasa getaran yang cukup kuat di bawah kedua kakinya juga sekarang.


Druduk! Druduk!


“Eh?!”


Begitu Endaru menoleh ke belakang, ia mendapati pesawat yang hendak lepas landas. Dan kini telah melaju cepat menuju ke arahnya. Endaru merasakan berbahaya yang cukup jelas di depannya sekarang, ia lantas bergegas menuju ke arah lain.


Setelah ia rasa sudah menjauh dari pesawat tersebut. Endaru akhirnya menemukan bandaranya. Ia pun segera masuk ke dalam, ajaibnya juga lolos dari penjagaan.


“Hah, hah ...kenapa aku ada di sana saat itu, ya? Beruntung aku masih punya telinga untuk bisa mendengar suara berisik itu.”


Endaru mengatur napas seraya bersandar pada sebuah kursi yang ada di sekitarnya. Bahkan Endaru sendiri juga bingung kenapa ia berada jauh dari toilet yang berada di ujung paling belakang.


“Itu dia!” Terdengar suara teriakan seorang pria di antara banyaknya kerumunan.


“Ori—! Akh!”


Belum sempat ia memanggil nama Orion yang datang menjemput. Justru Endaru mendapatkan tendangan khas darinya langsung.


“Ke mana saja kau? Hah?” tanya Orion dengan mengamuk.


“Aku sudah berulang kali ke sana dan kemari. Bahkan sampai mengelilingi tempat ini. Tapi tidak mungkin 'kan kau berada di jalur penerbangan pesawat?” oceh Orion yang tak ada habisnya.


“Ma-maafkan aku. Aku juga tidak ...tahu,” lirih Endaru yang tengah mengerang kesakitan seraya memegang kaki yang sakit.


“Jangan banyak alasan, ayo cepat pergi sebelum kita tertinggal!”


Amarah Orion semakin lama semakin tersulut jadinya. Mereka kemudian bergegas untuk pergi. Orion mengawasi Endaru dari belakang, agar tidak terjadi hal serupa seperti sebelumnya.


“Dari toilet saja kau tiba-tiba hilang. Memangnya kau segitu inginnya berkeliling?” celoteh Orion dengan mengerutkan kening.


“Aku juga inginnya begitu. Tapi aku tidak jadi, dan entah kenapa aku tiba-tiba berada di jalannya pesawat yang itu!” jelas Endaru menegas seraya mengangkat bahu.


“Ya, ya aku tahu itu ...aku ta– apa? Kau berada di jalur penerbangan pesawat? Apa kau tidak waras?”


Tap!


Langkah Endaru berhenti, ia menoleh ke belakang dan menatap Orion dengan tatapan serius sembari berkata, “Aku juga tidak tahu kenapa aku ada di sana.”


“Yah, wajar sih. Orang yang nyasar pasti akan selalu lupa. Kadang mereka juga akan sering mengatakan hal seperti ini, "Aku tadi lewat jalan yang mana ya?", atau, "Aku di mana?", begitu.” Orion mengoceh kembali.


Sedangkan Endaru, kerutan di dahinya semakin nambah. Tatapan seriusnya juga semakin tajam. Lalu membalikkan badan dan berjalan lagi setelah keheningan berlanjut selama beberapa detik.


“Apa? Kau marah? Dasar bocah! Padahal kau sendiri yang merepotkan orang lain. Seharusnya aku dan lainnya lah yang marah, tahu!”


“Jangan panggil aku bocah, dasar kakek tua!”


***


Berada di pesawat. Beberapa menit sebelum keberangkatan. Ketika Orion dan Endaru masuk ke dalam, terlihat ada beberapa orang yang ia kenali.


“Orion, kemari!” Ketua Irawan memanggil, sepertinya ia ingin Orion duduk di sebelahnya.


“Apa?”


Ketika itu, Orion masih belum sadar akan sesuatu. Hanya saja ada firasat buruk, namun entah karena apa nanti atau bahkan sekarang.


“Orion, katamu?” Salah seorang pria bertanya. Ia lantas bangkit dari tempat duduknya lalu menatap pria jangkung yang sebelumnya menyebut nama Orion.


“Eh, iya? Ada apa? Oh, mungkinkah aku terlalu berisik? Kalau begitu maafkan aku,” kata Ketua Irawan sambil mengatupkan kedua tangan ke depan.


“Orion?” Sekali lagi pria itu menyebut namanya sembari menoleh ke depan.


Mata pria itu kini tertuju pada Endaru yang hendak duduk di bangkunya. Tepat setelah itu, ia kemudian berjalan menghampirinya.


“Ada apa?” tanya Endaru dengan dahi berkerut. Ia masih marah rupanya.


“Kau yang namanya Orion?” tanya Hery, tunangan Gista.


Sebelum ini, Orion telah mendapat secarik kertas berisi pesan ancaman dari Hery. Tunangan Gista yang benar-benar keras kepala. Begitu pun dengan Gista, waktu itu pernah sekali saat Orion masih berada di wujud anak kecil, dirinya digunakan sebagai perisai.


Berkata bahwa Orion dengan wujud anak kecilnya itu adalah anak Gista dengan seorang pria lain. Pria lain itu juga adalah Orion sendiri. Artinya, Orion sekarang adalah anak sekaligus kekasih gelapnya Gista.


Bisa gawat kalau Hery bertemu dengan Orion sekarang. Terburu-buru Orion merangkak ke tempat duduk Ketua Irawan. Banyak penumpang lainnya menggelengkan kepala saat melihat Orion berjalan seperti itu.


“Huh, selamat.” Orion menghembuskan napas seraya mengelus dada. Untuk sesaat jantungnya berdebar cepat.


***


Setelah beberapa jam kemudian. Usai keberangkatan, akhirnya mereka tiba di suatu negara dengan hukum liberal. Sebut saja negara GL. Di sini memang banyak sekali Pejuang NED, semuanya terlihat jelas dan sangat terang-terangan.


Tidak seperti di negara asal mereka. Yang mengharuskan untuk bersembunyi di balik bayang-bayang Presdir.


Siang dengan cuaca yang panas. Mereka memberhentikan sebuah taksi untuk mereka naiki. Tapi karena satu saja tidak cukup, maka mereka akan menunggu satu taksi lewat lagi.


“Tidak ingin naik kendaraan lain? Seperti bus?”


“Ini saja. Kami juga sedikit terburu-buru, kalau begitu kami berangkat.”


Ketua Irawan, Meera, Runo dan Ramon pun akhirnya pergi dengan taksi untuk menuju ke sebuah hotel, tempat peristirahatan sementara.


Sedangkan ketika yang tersisa tengah menunggu. Endaru tiba-tiba melepas jaket berlengan pendeknya.


“Hei, Orion! Aku titip ini!” kata Endaru sambil menyerahkan jaket itu pada Orion.


Lantas Endaru pergi menuju ke sebuah tempat yang berada di belakang mereka.


“Dia ingin ke toilet lagi, ya?” pikir Orion.


“Iya, pasti begitu. Pom bensin juga dekat di sini. Tapi dia tidak akan nyasar, 'kan?” ucap Mahanta gelisah.


Namun Orion tidak lagi bisa berkata apa-apa jika yang dikatakannya akan terjadi.


“AAAAAAHHH! APA YANG KALIAN LAKUKAN?”


Dan masalah itu benar-benar terjadi.


Plak!


Mahanta dan Orion secara serentak memukul dahi. Lalu menghela napas panjang begitu mendengar jeritan dari seorang pria.


“Endaru, apa yang kau lakukan?”


Tepat setelah mereka berdua datang menghampiri Endaru. Terlihat tubuh Endaru diangkat hingga kedua kakinya tidak menapak ke tanah.


“Hei, ini teman kalian? Dasar! Perhatikan, teman kalian ini mesum!”


Dua petugas di sana memergoki perilaku Endaru yang hendak masuk ke toilet perempuan. Namun Endaru menyangkal bahwa itu tidak ada unsur kesengajaan melainkan ia benar-benar tidak tahu kalau itu adalah toilet perempuan.


“Seharusnya anak ini ditinggal di bandara saja.”


“Aku setuju.” Orion menganggukkan kepala.


“Hei! Hei! Turunkan aku! Mereka ini apa? Goblin? Dragon? Tolong aku! Cepat!” teriak Endaru histeris.


Endaru berteriak sebelumnya pun karena ia terkejut karena tubuhnya tiba-tiba terangkat. Padahal hanya sesama manusia tetapi ia mengira bahwa yang mengangkat tubuhnya adalah semacam monster.


“Hei, kalian kenal 'kan?” Salah satu petugas itu kembali bertanya.


Serentak Orion dan Mahanta berkata, “Tidak!” Lalu memalingkan wajah.