ORION

ORION
Terjebak di Ruang Bawah Tanah



Ada masalah yang serius ketika mereka mulai merasakan guncangan kuat di dalam lift. Lift itu juga bergerak terus ke bawah, bahkan saat menekan tombol darurat saja tidak berfungsi, bahkan respon sedikit pun tidak sama sekali.


“Jangan bilang Nyonya Ash itu menjebak kita?” tuduh Orion secara sembarangan.


“Mana mungkin! Nyonya Ash itu mungkin punya kuasa di sini dan 5℅ di antara mereka itu pun tidak akan membuatnya sembarang berulah. Apalagi ketika aku yang dikenalnya juga di sini.” Endaru menyangkal. Ia percaya bahwa ini bukan ulah Nyonya Ash.


“Saat ini hanya dia yang aku curigai!”


Gradak! Dak!


Sekali lift itu berguncang dan bergerak ke bawah dengan lebih cepat. Mereka merasakannya, hingga sesaat kedua kaki mereka melayang.


Duk!


Ketika kecepatan lift menurun, Orion dan Endaru terjatuh dan menabrak dinding lift bagian belakang. Punggung mereka merasakan nyeri sesaat usai guncangan tersebut.


“Ini aneh! Apa di sini ada hantunya?” celetuk Endaru seraya mengigit jari.


Terlihat ia yang tengah memojok dengan menundukkan sedikit tubuhnya, ia juga merentangkan kedua tangan memegang dinding seraya melirik ke sekeliling di sana.


“Hei! Masa' kau takut dengan hantu! Chameleon saja kau tidak takut. Payah!” pekik Orion seraya berusaha menekan semua tombol di lift.


“Sembarangan! Chameleon itu berwujud tapi hantu itu 'kan tidak! Memangnya kau takut?”


“Aku lebih takut dengan ular daripada hantu. Hei! Endaru, lakukan sesuatu dengan kekuatanmu!” pinta Orion yang berteriak dengan keras.


Ting!


Kecepatan lift yang bergerak turun semakin pelan lalu berhenti dan kemudian terbuka. Orion dan Endaru yang banjir keringat itu seketika duduk dengan lemasnya.


“Kupikir kita akan mati kegencet bagian atas lift,” gumam Orion.


“Jangan bicara hal yang menyeramkan seperti itu!” pekik Endaru yang saat ini masih ketakutan hingga tubuhnya gemetaran tak karuan.


Bahkan ketika Endaru mencoba untuk berdiri saja sudah sangat kesusahan, ia harus bergantung pada dinding lift lalu berjalan keluar. Kemudian disusul oleh Orion.


“Tempat apa ini?” Orion bertanya-tanya lantas tempat yang mereka kunjungi saat ini sangatlah gelap.


Tiada penerangan sama sekali. yang ada hanya beberapa pilar terlihat dari dekat. Seperti tempat parkir untuk kendaraan. Namun sepertinya hanya ada kekosongan dan gelap sekarang.


“Ini mustahil. Bagaimana bisa ada di ruang bawah tanah?” ujar Endaru berkeringat dingin.


“Apa? Ruang bawah tanah katamu?”


“Iya, ini jelas-jelas ruang bawah tanah. Tapi aku tidak menyangka kalau hotel memiliki tempat seperti ini. Biasanya tempat ini dijadikan bunker atau sejenis tempat penyimpanan barang berharga.” Endaru menjelaskan.


Situasinya cukup berbahaya. Dan lagi, sekarang mereka didatangi oleh beberapa orang asing dari kegelapan di ujung sana. Yang jauh, tiba-tiba datang dengan sinar merah.


“Orion,” panggil Endaru dengan berbisik.


“Aku tahu. Jaga belakang, aku akan ada di depanmu.”


Ting!


Pintu lift kembali tertutup dan kemudian kembali ke atas meninggalkan mereka berdua di tempat gelap sekarang.


SYAT!


Sekilas, tebasan melingkar datar tertuju pada Orion. Hal itu terjadi tiba-tiba sesaat satu cahaya merah menghilang dari sana. Sehelai rambut Orion berjatuhan usai serangan dadakan itu.


“Orion!”


Srang!


Dengan cepat Orion menyiapkan lengan berpedang merahnya. Kemudian ia mendapati seorang pria yang berada dekat dengan mereka.


Pria itu setengah duduk berjongkok dengan belati di tangan kanan. Wajahnya tidak jelas, hanya saja terlihat seperti tidak ada kulit yang ada hanya memperlihatkan tengkorak kepala itu saja.


Sebelum pria tengkorak itu kembali bergerak, Endaru menggunakan kekuatan gravitasi, menekan tubuh pria itu hingga jalanan retak.


Sraaaa!


Api membara dari tubuhnya, untuk sesaat Endaru melepas pengaruh gravitasi. Dan dalam waktu singkat, pria itu menerjang ke arah mereka. Orion dan Endaru bergerak ke arah yang berbeda, menghindari tusukan belatinya.


“Dasar Endaru, karena masih syok karena lift dia jadi kaku dengan berhadapan dengan orang-orang ini.” Orion menggerutu seraya membuat api mengelilingi kedua kakinya.


“Khe khe! Tampaknya karakteristik kekuatan kita sama, ya!” teriak pria itu lantas kembali melesat dengan cepatnya, ia melompat di saat posisi tubuhnya merunduk sedikit ke bawah.


Menyerang Orion dengan sebilah belati yang kemudian terbakar oleh api dan membuat bilahnya semakin panjang. Orion lantas menjaga jarak beberapa langkah, menendang tangan sehingga membuat bilah belati itu terjatuh ke tanah.


Dalam hitungan detik, api Orion yang tidak bisa dibedakan kini mulai melahap tubuh pria tengkorak. Ibarat sumbu sudah terpasang, dan siap untuk membakar tubuhnya.


“Uwaaahh!! Apinya panas sekali!” teriaknya seraya mengayunkan-ngayunkan tangan yang terbakar.


“Tapi bercanda!” imbuhnya kemudian menatap Orion sambil terkikik seolah mengejek.


Tangan yang semula terbakar itu lantas putus. Ia kemudian maju kembali dengan gerakan yang sama, kali ini pria itu menggunakan tinju berapi.


“Uh, kau ini sebenarnya apa? Tanganmu sampai copot begitu memangnya tidak sakit?” ujar Orion yang seketika merasa jijik saat melihat itu.


“Ha! Aku ini adalah bagian dari Phantom Gank! Kriminal dengan harga tinggi, 100 batang emas pun tidak cukup untuk membayarku!” pekiknya yang membongkar identitas sendiri.


“Hei! Bodoh! Kenapa malah diberitahu, sih?” pekik salah seorang yang kemungkinan besar adalah rekan pria tengkorak tersebut.


Dan rekan mereka salah satunya sedang melawan Endaru di sudut kanan. Berjauhan dengan posisi Orion sekarang.


“Phantom Gank?” Mendengarnya, membuat Orion teringat dengan peringat Nyonya Ash.


Entah ini kebetulan atau memang ada unsur kesengajaan oleh pihak seseorang yang ikut campur tangan dalam hal ini. Namun yang pasti, ini adalah situasi yang cukup berbahaya karena kurangnya informasi tentang Phantom Gank.


“Yang isinya kriminal semua itu?”


“Iya, iya.” Pria tengkorak itu menganggukkan kepala selama beberapa kali seolah tengah dipuji dan ia sangat senang.


Orion menabrak pilar di belakang, reflek ia menoleh dan memperhatikan sekitar. Tanpa sadar pria tengkorak kembali menerjang dengan apinya.


Tap!


Tapi mudah ditangkap hanya dengan tangannya. Sudah begitu Orion menangkap lengan dengan tangan kanannya yang di mana ada Api Abadi.


Ssshhh!


“Aaw! Panas!” teriak pria tengkorak yang bergeliat kesakitan. Ia kemudian berjalan mundur dan meninggalkan lengannya terputus.


“Eh?!” Reflek, Orio. membuang lengan tengkorak itu sembarangan. Merasa geli serta bergidik karena hawa sekitar yang seolah mendukung kekuatan musuh.


Rasanya seperti terjebak di lift kedua.


Endaru pula merasakan hal yang sama seperti Orion. Sehingga mereka terus bergerak mundur sembari mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Namun akan tetapi, serangan yang tidak terlihat ditambah lagi ruangan yang gelap membuat mereka sama-sama kesulitan.


Syak! Syak! Syak!


Langkah kaki mereka seolah tergores oleh jalanan. Sebentar-sebentar kedua mata bersinar merah itu berkilau, dan tepat ketika jarak di antara mereka semakin mendekat, sinar merah itu pun menghilang.


Jduak!


“Ah? Siapa?”


“Kau? Endaru!”


Pada akhirnya karena tidak terlalu memperhatikan dalam kondisi gelap, mengakibatkan pundak mereka berdua saling berbentur tiba-tiba.