
Tiba-tiba pria bertopeng hitam ini menyerahkan senjata, yang tidak terbayangkan, pria itu memberikannya semudah memberikan setumpuk uang.
“Ada apa dengan ini?”
“Ini senjata yang pernah diproduksi oleh sebuah organisasi gelap,” ucap Tuan Gerhana Bulan sembari mengacungkan jari telunjuk ke depan bibir.
“Lalu maksudmu dengan memberikan benda seperti ini? Aku katakan saja mulai sekarang bahwa aku tidak akan pernah menyentuh barang seperti ini,” ujar Orion menolak pemberiannya.
“Sudahlah. Dengarkan saja dulu apa yang akan aku katakan pada kalian. Benda ini diproduksi oleh organisasi gelap, kalian tahu apa sebutannya. Mafia.”
Kata terakhir yang keluar dari mulut pria ini sontak membuat Orion dan Endaru terkejut. Mereka terdiam dengan merasakan kengerian seolah-olah mereka bertemu dengan organisasi gelap itu.
“Kalau begitu ini berbahaya. Kenapa kau memberikannya pada kami?” Sekali lagi Orion bertanya.
“Sudah kubilang, dengarkan aku lebih dulu. Dan organisasi seperti itu diketuai oleh pria yang ada di kertas gambar ini,” ungkap Tuan Gerhana Bulan seraya menunjuk sketsa gambar pria itu lagi.
Orion semakin terkejut mendengarnya. Ia mengaga seraya melihat sketsa gambar itu sekali lagi, dalam benaknya berpikir apakah itu mungkin? Secara pria yang digambar ini adalah pemain kecapi dikenalnya.
“Entah kenapa aku tidak percaya.”
“Haha! Tentu saja. Aku sendiri juga tidak percaya. Tapi aku sudah melihatnya sendiri, melihat wajah ketua dari organisasi itu. Nah, bagaimana? Apa kau akan menerimanya?” Tuan Gerhana Bulan mengulurkan tangan.
“Kalau aku menolak, pasti kau akan membunuhku.” Spontan Orion mengatakannya, sekaligus ia menyindir.
“Haha! Benar juga.” Pria itu kembali tertawa seolah ini lelucon. Sejujurnya Orion kesal menghadapinya namun ia harus pandai menahan diri.
“Kalau begitu apa kau tahu di mana lokasi terakhirnya? Atau markas dan sejenisnya?” tanya Orion secara langsung tanpa basa-basi lagi.
“Iya. Aku tahu. Terakhir kali, lebih tepatnya 3 bulan lalu aku menemukannya di perbatasan negara. Lokasinya berdekatan dengan laut. Setidaknya dengan ini kau bisa menebak di mana tempat yang paling ujung,” ujarnya.
“Baiklah kalau begitu.”
“Kau menerimanya begitu mudah. Padahal mencari orang itu tergolong susah. Mau kau jadi berperan detektif pun pastinya membutuhkan bukti atau jejak yang tertinggal dari orang itu,” celetuk Tuan Gerhana Bulan.
“Yang kau katakan benar. Tapi kau 'kan juga akan mencari seseorang. Meskipun tidak secara langsung, karena yang akan kau cari adalah bawahannya. Pria berkumis tipis, namanya Jinan.”
Untuk sesaat pria ini terdiam. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu seraya menyangga dagunya. Beberapa kali ia menatap meja lalu beralih pandang ke arah Orion.
“Hm, kau bilang dia membawa alat pancing?” tanyanya seraya menarik uluran tangannya.
“Ya. Benar. Jangan bilang kau mengenalnya,” pikir Orion.
“Tidak. Tidak sama sekali. Aku tidak tahu soal itu. Tapi baiklah, aku akan mencarinya. Mungkin akan lama, apakah tidak apa?” tanya Tuan Gerhana Bulan seraya ia kembali mengulurkan tangan.
Orion menerima uluran itu, mereka pun berjabat tangan.
“Bagiku tidak masalah. Kita sama-sama sedang mencari seseorang. Sementara kita dibuat kesusahan oleh orang yang sedang kita cari. Maka dari itu, menukar pekerjaan dengan pekerjaan orang lain mungkin akan membuat ini lebih mudah,” tutur Orion.
Menjalin kesepakatan dengan aman. Mereka saling bertukar pekerjaan juga peran. Agar kepala aman, Orion mau tak mau harus melakukan hal ini. Walaupun agak beresiko akan tetapi ini juga merupakan keputusan yang terbaik.
“Kemudian, senjata ini aku berikan padamu untuk berjaga-jaga. Terserah kau atau pria yang ada di belakangmu,” ujar Tuan Gerhana Bulan seraya menunjuk pria di belakang Orion.
“Maaf saja. Aku ataupun —”
“Ah, rupanya dia pria yang sangat menyukai senjata. Ya?” pikir pria itu seraya melipat kedua lengan ke depan dada.
“Tetapi, pria ini ...” Orion jelas merasa cemas lantaran ini berhubungan dengan Endaru. Bayangkan pria yang sombong dan ceroboh ini memegang senjata, tidak, sama sekali tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi ke depannya apabila Endaru memegang senjata itu.
“Kenapa? Kau tidak percaya padaku?” Endaru menatap sinis Orion yang juga menatapnya begitu.
“Ya,” singkat Orion.
“Kalau begini, bagaimana? Aku akan mengajari pria itu cara menggunakan senjata,” ujar Tuan Gerhana Bulan memberikan saran.
Demikian, Endaru mendapatkan senjata itu. Wajahnya sumringah padahal sebelum ini ia sangat marah karena diperlakukan tidak sopan.
Tuan Gerhana Bulan atau pria bertopeng hitam itu membawa mereka ke lantai bawah, di mana lapangan tembak berada di Gerhana Bulan sekarang. Ruangannya cukup luas, namun sedikit menyeramkan.
“Apakah tidak masalah melakukannya di malam hari?” tanya Orion.
“Tidak masalah. Tidak akan ada orang yang mendengar suaranya. Karena di sini di samping kedap suara pun juga gedung terpisah dari gedung lainnya yang ada di sekitar,” tutur Tuan Gerhana Bulan menjelaskan.
Endaru tampak sangat bersemangat, bahkan ia diajari oleh salah seorang yang sebelumnya mengepung mereka. Tapi, bagi Endaru kalau sudah tidak mengancam maka kewaspadaannya akan melonggar secepat ini. Tak habis pikir, ini pula salah satu hal yang membuat Orion cemas. Namun hanya bisa menghela napas.
“Endaru, berjanjilah satu hal padaku. Jangan pernah membunuh seseorang. Lagi,” ucap Orion pada Endaru yang tengah bersiap pada posisinya untuk menembak di sana.
“Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Endaru sembari melepas peredam suara pada telinganya.
“Ya. Jangan pernah membunuh seseorang lagi,” ucap Orion sekali lagi. Sesaat Orion menghela napas dan kembali berucap, “Kau tidak ingin mendekam dalam penjara, bukan?”
Kemudian Endaru kembali memasang peredam pada telinganya lalu berkata, “Kalau aku tidak bisa melindungimu karena mendekam di penjara, maka aku berjanji takkan melakukan hal itu.”
Dor!
Endaru menarik pelatuk, peluru melesat cepat dari kelihatannya dan itu menembus titik sasaran paling tengah. Tembakannya sangat akurat.
“Pasti kebetulan,” pikir Orion.
“Haha, yah kurasa mungkin ada campuran tangan dari kekuatannya?” celetuk Tuan Gerhana Bulan yang tertawa.
Setelah menembakkan peluru itu, Endaru lantas tertawa. Tawanya jauh lebih besar, terdengar ia menyombongkan diri seolah semua fans-nya ada di depannya saat ini.
“Bagaimana, Orion?” tanya Endaru sembari menyunggingkan senyum.
“Hm, ya. Bagus juga,” ucap Orion yang sebetulnya ingin memuji.
Namun, sebetulnya Endaru menggunakan kekuatan.
“Aku meringankan peluru itu sehingga kecepatannya bertambah. Dan kalau sampai titik sasaran itu sebenarnya cuman kebetulan,” ungkap Endaru dengan jujur.
“Tapi itu bagus. Kau bisa melihat pelurunya, bagiku itu bagus. Tidak, sungguh luar biasa.” Barulah Orion memuji ketika Endaru merendah diri.
“Hahaha! Benar 'kan? Aku hebat!” Dan Endaru justru semakin bersemangat.
Tampaknya pujian Orion membuat Endaru berlatih lebih keras. Ia terus berlatih untuk memfokuskan diri. Yang terkadang berhasil dan juga terkadang gagal.