
Beberapa saat sebelumnya, Orion yang tengah terbaring dengan pulas tiba-tiba terbangun karena suatu hal. Tampaknya ia merasakan sesuatu.
Sehingga Orion pun bergegas mengenakan pakaiannya dan berlari keluar dari rumah Arutala.
“Aku merasakan keberadaan Chameleon berada dekat di daerah ini. Kenapa aku jadi sepeka ini?” tanyanya dengan wajah gelisah.
Beberapa anggota Grup Arutala yang terkejut karena Orion tiba-tiba keluar pun, segera mengikuti langkahnya secara diam-diam. Mereka semua mengangguk pada sesama rekan, dan kemudian mengatur jalan yang kemungkinan akan dituju oleh Orion.
Dan itu karena hal yang terjadi pada Ade sekarang. Ade tersedot ke bawah sesaat setelah dirinya menginjak sesuatu hitam itu.
Pria yang berada di dekat Ade, beruntungnya ia masih menggenggam kuat tangan Ade agar tidak masuk ke dalam lubang itu. Ia berusaha untuk mengangkatnya namun tiba-tiba saja serangan dadakan dari arah belakang membuat genggaman tangan mereka terlepas.
“Madeira!”
Di satu sisi ia tidak sengaja melepas genggamannya sehingga membuat Ade masuk ke lubang hitam itu. Dan di satu sisi punggungnya pun tersayat oleh suatu benda yang tajam.
Srat!
Pria itu segera bangkit dari sana. Kemudian melirik ke segala arah tuk menemukan keberadaan orang itu lagi. Sembari berteriak seolah menantang seseorang itu, lantaran ia sudah tidak tahan jika terus diteror seperti ini.
“Jangan setengah-setengah kalau kau ingin membunuhku!”
***
Sedangkan apa yang terjadi pada Ade. Entah mengapa ia berada di suatu tempat yang lain. Dirinya bersandar pada dinding salah satu rumah, perlahan-lahan ia membuka mata dan sadar seutuhnya.
“Ugh, kepalaku rasanya sakit sekali.” Ade mengeluh sakit di bagian kepalanya.
Tepat setelah ia terbangun, ada seseorang lagi yang sedang berdiri di depan Ade. Pria dengan tubuh yang sedikit besar dengan helai jubah disampirkan di lengan kanannya.
“Punggung yang aku lihat di mimpi,” gumam Ade. Setelah beberapa saat ia kemudian bangkit lantas terkejut.
“Sudah bangun?”
Pria itu kemudian menoleh ke belakang, memastikan Ade telah terbangun dan baik-baik saja. Yang tidak lain adalah Orion.
“Ayah?” Ade terkejut heran sekaligus merasa senang. Karena ia berpikir bahwa Ayahnya sudah ingin bertemu dengannya.
“Apa? Ayah? Sepertinya kamu salah orang,” ucap Orion dingin.
Tap, tap!
Mendengar Orion yang masih dingin, Ade pun kecewa. Keduanya berjalan berdampingan tanpa sekalipun bicara. Situasi yang hening. Keluar dari jalan tikus, mereka bertemu dengan beberapa anggota Arutala. Mereka telah datang menjemput ternyata.
“Mereka anggota Grup Arutala, bukan? Nah, sekarang masuklah ke dalam mobil itu.”
“Tunggu, tapi aku tidak ingin pulang. Aku ingin bersekolah,” rengek Ade.
“Bersekolah? Oh, aku tahu. Ini pasti karena bantuan Nona Gista, ya. Tapi untuk saat ini tak cukup aman buatmu untuk berkeliaran. Meski hanya sekolah pun, tolong, jangan dulu.”
“Kenapa melarangku!?” amuk Ade.
“Masih tidak ingat apa yang terjadi padamu?” singgung Orion.
Hal itu membuat Ade tersentak. Ia juga mengingat kembali tentang terakhir kali yang terjadi padanya sebelum bertemu dengan Orion. Orion kemudian membalikkan badan dan meninggalkan Ade.
“Ugh, aku juga tahu itu bahaya. Tapi aku juga ingin bersekolah. Hah, kenapa jadi seperti ini?” gerutu Ade lantas masuk ke dalam mobil.
Sementara Ade pulang. Orion berkeliling ke sekitar jalan tikus dan sekitarnya. Ia hendak mencari Chameleon, yang sebelumnya ia merasakan keberadaannya walau hanya sebentar saja.
“Singkat saja, kau peka karena kekuatanmu yang meningkat. Atau lebih tepatnya insting. Yah, aku sendiri juga kaget karena kau bisa melakukan itu,” ujar Karura.
“Insting, ya?” Orion jadi teringat bahwa dirinya adalah pemilik darah langka. Darah penghubung jiwa dan raga.
Kemudian Orion berhenti berjalan saat menemukan jejak pertarungan di jalan tikus. Terdapat beberapa goresan dari benda tajam di sekitar jalan ataupun benda yang ada di sana.
“Kalau Chameleon sering menggunakan kekuatan Jhon berupa bayangan hitam. Maka ini jejak pertarungan orang lain,” celetuk Orion seraya meraba goresan tersebut.
“Ternyata di sini lagi!” teriak seseorang yang berada di depan Orion langsung.
“Apa?” Terkejut, ia segera bangkit dari sana lalu melangkah mundur seraya mengeluarkan sebilah pedang merah di lengan kirinya.
Syat!
Kecepatannya menyamai Orion, sehingga gerakan di antara mereka saling berbentur. Sebagai hasil, wajah dari mereka berdua sama-sama tersayat dalam waktu sekejap.
“Huh? Ternyata bukan dia.”
Orang itu juga terkejut. Karena sebelumnya ia berpikir bahwa Orion adalah orang yang dilawan sebelumnya namun ternyata bukan.
“Apa maksudmu?” tanya Orion menoleh ke belakang dan menatapnya waspada.
“Aku mengincar seseorang. Soalnya dia menganggu banget. Ini atas perintah Tuan Jinan, jadi kuharap kau tidak akan ikut campur,” katanya sembari menunjuk Orion.
Langsung Orion melesat menuju ke arahnya sesaat setelah mendengar nama Jinan dari mulutnya. Orion mengayunkan lengan kiri, mata pedang kemerahan pun menusuk tubuh pria itu.
“Bilang pada orang itu, jangan menyerang siapa pun lagi. Atau aku akan mendatanginya lagi,” ucap Orion dengan nada mengancam.
“Ugh!” Mengerang kesakitan, ia pun tetap membuat tubuhnya berdiri tegak seraya menarik belati itu dengan tangan kosong.
Crak!
Sebelum orang itu sendiri yang melepasnya, Orion lantas mencabutnya lebih cepat. Ia benar-benar tidak ragu untuk melukai seseorang. Apalagi amarahnya tersulut setelah mendengar nama Jinan yang sama-sama tidak waras seperti Chameleon.
“Argh! Ternyata kau pria yang memiliki Api Abadi. Heh, entah ini beruntung atau sial, ya? Karena kau sama sekali tidak menggunakan Api Abadi,” celotehnya seraya berjalan mundur sempoyongan.
“Aku tidak mengincar titik vitalmu. Jadi, asalkan kau menutup lukanya dengan benar, maka pasti kau akan tetap hidup,” sahut Orion.
“Awas kau!” amuk pria itu lantas berlari pergi menjauhi Orion. Sampai darah yang mengucur itu terus membuat jejak, namun Orion tidak peduli. Ia bahkan tidak mengejarnya lagi.
Namun setelah beberapa saat pria itu berlari pergi. Dari kejauhan, ia berteriak sesuatu hingga membuat Orion tercengang.
“Hei, kau! Kau pasti tidak tahu kalau anakmu sedang dalam bahaya, ya?!”
Segera Orion menghubungi salah satu kontak di ponselnya. Namun sebetulnya itu adalah ponsel milik Mahanta. (Ponsel Orion hilang semenjak terbangun di hotel berkelas)
“Ha-halo? Ah, maaf! Saya ingin ...apa?”
Ketika ia mendengar jawaban yang menerima panggilan Orion saat itu. Ia kembali dibuat terkejut lantaran mereka bilang pada Orion bahwa jemputannya baru sampai di jalan tikus.
“Hah!? Jangan bercanda! Kalian baru sampai? Sedangkan anak perempuan itu sudah masuk ke dalam mobil seseorang. Tidak aku sangka aku akan tertipu!”
Orion terus menggerutu kesal. Tapi ini juga kesalahannya karena tidak memastikan dengan benar apakah orang-orang sebelumnya adalah anggota Grup Arutala atau bukan.
Orion pun bergegas keluar dari jalan tikus. Segera ia masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopir untuk mengejar mobil hitam selain ini.