
“Psikopat!” teriak Endaru dan kembali menekan tubuh Chameleon dengan kekuatan gravitasinya.
Sraaaaakk!!
Pada akhirnya langkah Orion terus terseret mundur. Beberapa dari mereka mencoba untuk menghentikannya namun Orion mengisyaratkan mereka tuk membiarkannya saja.
Karena Orion memiliki sebuah rencana. Maka Gista mencoba untuk mempercayainya dan ia pun kembali melawan Chameleon dengan yang lain. Pedang ilusi yang mampu membuat musuh kebingungan, bahkan jika hanya dengan itu pun Chameleon juga tidak dapat berkutik lagi.
Sementara Orion terus ditarik mundur karena benang baja melilit lehernya hingga berdarah-darah. Ia melompat ke belakang, mendaratkan tendangan begitu posisinya lebih dekat dengan Jinan.
Jduak!
Tepat ke dagu, Jinan terdorong mundur hingga benang kembali terulur lebih panjang.
“Ugh! Lama-lama kelamaan kepalaku bisa saja terputus ini!”
Dalam celah yang sempit, Orion menggunakan kesempatan itu untuk merobek benang baja dengan Api Abadi dalam posisi ia masih mengudara.
“Benar-benar pria yang merepotkan,” gerutu Jinan lantas menarik benang baja itu kembali tanpa membuat leher Orion terlilit lagi.
“Kau lah yang merepotkan. Kenapa ikut campur? Padahal sedikit lagi aku bisa membakarnya!” sahut Orion dengan jengkel.
Setelah kakinya menapak ke tanah. Orion lantas mengepal kedua tangannya dengan di atas pinggang. Salah satu teknik bela diri pukulan yang pernah diajarkan oleh Endaru, akan Orion gunakan pada Jinan.
“S*al!” Jinan memaki seraya meludah ke sembarang tempat. Ia kemudian menyeka darah di sudut bibir lalu mengayunkan alat pancingnya.
Srrkkk!!!
Benangnya kembali memanjang, Orion bergegas mempercepat langkah demi langkah. Menghindari ujung pancing agar tidak terkait lagi.
BUAK!
Sekali pukulan dari kepalan tangan kirinya mampu membuat Jinan terlihat kelabakan. Ia kembali menarik benang pancingnya. Membenarkan posisi lantas menggunakan alat pancingan itu menjadi pedangnya.
“Tidak akan semudah itu, Jinan.” Orion menggeram kesal lantas menangkis serangannya dengan sebilah pedang merah.
“Ya. Karena tangan kananku sudah hilang. Maka dari itu aku melemah.”
Dak!
Jinan kali ini menggunakan tendangan kaki, dan Orion bertahan dengan kedua lengan ke depan wajah sehingga ia tidak terlalu terkena dampaknya.
Tetapi, sesosok seseorang datang dari arah belakang. Hawa yang membuat sekujur tubuh Orion bergidik hingga ia lengah.
“Terima ini!” pekik Jinan kembali mengayunkan alat pancingnya sekali lagi.
Karena Orion sempat menoleh ke belakang, sehingga ia mendapatkan luka sayatan yang cukup dalam dan itu mengenai luka sebelumnya. Sehingga rasa sakit pun bertambah.
“Orion, ikutlah denganku!” Suara Chameleon terdengar, kedua kaki Orion seperti tersandung batu, ia kemudian terjatuh setelah Chameleon mengincar kedua kakinya.
“Huh? Kenapa tiba-tiba. Ada apa—”
Di saat yang bersamaan, lapisan es muncul di sekitar mereka berita. Orion kehabisan kata-kata dengan raut wajah Gista dkk yang tampak sangat kelelahan.
“Apa? Kau mau tahu kenapa mereka sulit menangkapku?”
Orion tidak menjawab apa-apa.
Lantas Chameleon kembali berkata, “Aku berhasil menirukan gaya Nona Arutala. Maksudku, pedang ilusinya.” Lalu tersenyum.
“Ah, pantas saja.”
Orion saat itu masih belum memahaminya. Antara karena kekuatan Chameleon yang selalu menirukan kekuatan seseorang ataukah karena lingkaran yang berada di atas kepalanya.
Berpikir bahwa mereka cepat kelelahan karena energi mereka diserap, itulah hal yang masuk akal. Tapi tindakan dan sikap Chameleon seolah menyangkal itu semua.
“Begitulah. Teta—”
SYAT!
Dalam posisi terbaring Orion menebas tubuh Chameleon. Namun yang ia tebas hanyalah berupa kabut saja. Menandakan bahwa ia berada di pengaruh ilusi Chameleon.
“Tipe ilusi-nya Gista. Padahal dia hanya menyentuhku, bukan menusukku dengan pedang ilusi. Kekuatannya bukan main,” gumam Orion lantas beranjak dari sana.
Jinan bersiap dengan mengarahkan pancingannya ke depan. Ia hendak menyerang namun Orion saat itu tidak begitu memperdulikan keberadaan Jinan tepat setelah Chameleon menghilang.
Orion lantas mengulurkan tangan ke atas selama beberapa saat. Lalu kemudian menurunkannya, dan seketika ia berwajah gelisah.
“Tadinya aku berniat menghancurkan ruang ini. Tapi aku teringat di luar sana banyak sekali orang. Aku takut jika mereka di luar sana juga kena imbasnya,” batin Orion.
Jinan mengarahkan ujung pancing ke leher Orion sembari berkata, “Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Tetapi bukankah seharusnya kau menyerah saja. Kau juga ...pasti tahu apa yang terjadi ketika kekuatan Tuan Chameleon dikeluarkan sepenuhnya.
“Aku pribadi tidak masalah karena aku menginginkan kematian. Namun tidak untuk mereka,” sahut Orion.
“Seperti biasa, ya.” Terdengar suara Chameleon lagi dari belakang. Sontak Orion menoleh, mendapati Chameleon yang hanya berdiri di belakangnya saja.
Tanpa ragu dan ia reflek memegang suatu benda yang berada di tengah lingkaran tersebut. Ia menegangnya dengan tangan kanan langsung tanpa ragu.
“Argh! Panas sekali!” Orion menjerit kesakitan. Lantaran tangan yang adalah Api Abadi itu justru kepanasan saat memegang sesuatu benda di sana.
Ini tidak masuk akal!
“Bunuh saja dia. Aku tak cukup yakin dia mau bersama dengan kita. Maka dari itu bunuh selagi ia ragu membunuh seseorang!” titah Chameleon.
Semua rekan Chameleon yang mendengar perintah Chameleon lantas beralih menuju Orion seorang. Semua dari Pejuang NED yang berada di pihak Organisasi NED pun mengejar mereka yang berlari ke arah Orion.
“Baik! Tuan Chameleon!”
Tampaknya Orion telah dijadikan sasaran empuk mulai sekarang. Ia segera bergerak mundur menjauhi mereka terutama Jinan dengan benang bajanya.
“Orion! Menjauhlah! Keluar dari sini!” teriak Endaru menyuruh Orion untuk kabur.
“Kalau bisa sih sudah kulakukan dari awal. Tapi masalahnya, mereka semua menyerang diriku!” sahut Orion dengan jengkel.
Lapisan es mengikuti gerakan Orion yang selalu melompat ke sana dan kemari lalu berlari tanpa arah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Sisi kanan dan kiri pada lapisan es itu pun memunculkan sebuah kristal es yang runcing. Menahan pergerakan semua rekan Chameleon yang terus mengejar Orion saat itu juga.
Mahanta ikut mengejar rekan Chameleon bersama dengan Endaru. Ketua Irawan dan Dharmawangsa pun memusatkan serangan pada rekan Chameleon yang bergerak terlalu jelas.
Rantai dan tanah yang saling beriringin terus menyerang dan menghentikan pergerakan mereka. Namun itu hanya untuk sementara waktu.
Tap! Tap!
Dua langkah ke depan, dengan semua rekan Chameleon tak lagi mengejar karena berhasil ditahan oleh para Ketua dan lainnya. Akan tetapi keberadaan Chameleon menghilang.
“Ke mana dia?” Orion bertanya-tanya dengan napas berat seraya melihat ke segala arah. Ia terus menoleh ke sisi kanan dan kirinya namun tidak menemukannya.
Sampai saat itu,
“Ternyata kau benar-benar berhati mulia. Bahkan tidak sanggup membunuh salah seorang rekanku. Pecundang!”
Suara Chameleon terdengar di kedua telinganya.
“Belakang!” teriak Orion sembari menoleh ke belakang.
Chameleon dalam bentuk tak berwujud itu kembali mengatakan, “Di dunia NED, kau harus membunuh sebelum dibunuh!”