ORION

ORION
Sima Kembali Datang dan Menyerang!



Sima menggunakan kedua kakinya untuk menahan bantingan angin. Mahanta berwajah kesal, sepertinya ia sangat marah. Orion yang melihatnya pun kebingungan karena datang tiba-tiba sudah begitu menarik tubuhnya ke belakang.


“Orion! Kau tak apa-apa?” tanya Mahanta, cemas.


“I-iya. A-aku baik ...baik saja,” jawab Orion terbata-bata.


“Lalu, kenapa ada orang asing yang tiba-tiba menyerangmu?” tanya Mahanta sembari mengalihkan pandangan pada Sima.


Wanita yang hampir saja tersungkur itu kemudian kembali bangkit. Mengangkat lengan dengan senjata di tangan. Sorot matanya menukik tajam, mengarah pada mereka berdua.


“Dugaanku, aku tadi bertemu Chameleon yang memakai wajahmu. Semua gestur dan segala hal yang kau miliki benar-benar mirip,” jelas Orion.


“Chameleon? Dia ada di sini?” Mahanta sekilas tidak percaya.


“Aku tidak begitu yakin.”


Sraakkk!!


Goresan-goresan muncul dan menjalar ke posisi Orion seorang. Jangakauan serang yang meluas, membuat goresan itu tampak seperti akar pohon yang tumbuh dengan cepat.


Orion sedikit panik, namun ia tetap menerobos garis yang kemudian menyentuh kedua kakinya.


“Ada peganggu. Tapi prioritas tetaplah nomor satu.”


Crak! Crak!


Goresan yang menyentuh kedua kaki Orion itu membuatnya terluka. Seperti ia disayat oleh benda-benda tajam. Semakin ia melangkah rasanya sangat berat.


“Orion, apa yang kau lakukan!?”


“Wanita ini mungkin tahu sesuatu tentang Chameleon! Aku tak membuang-buang waktuku lagi!”


Jarak di antara mereka semakin dekat. Orion menyilangkan lengan ke depan, kedua bilah itu pun mengeluarkan sayatan yang juga berapi. Dalam sekejap, serangannya benar-benar dapat mengenai wajah hingga ke tubuh Sima.


Orion menyeret langkahnya menyamping. Memastikan sesuatu, dan goresan itu kembali menyerangnya. Bahkan sampai ke tubuh bagian atasnya.


Drap! Drap!


Mahanta berlari menuju Orion. Melihat kondisi Orion yang tidak begit stabil, namun sulit membuatnya mundur di kala serangan Sima sudah menjeratnya, Mahanta segera mengambil tindakan.


Angin yang ia gunakan jauh lebih kuat dan besar daripada sebelumnya. Tangan kekar itu tak sedang memegang apa-apa. Melainkan hanya segumpalan angin yang dikumpulkan pada satu titik.


Sima beralih pandang menuju Mahanta. Mungkin bagi Sima ini adalah kesempatan.


“Jangan lakukan apa pun lagi, Nona!”


Sembari berteriak, Mahanta melayangkan tinju ke ulu hatinya. Ia memperkuat tinju itu dengan angin yang barusan dikumpulkan.


Duar! Seolah itu adalah ledakan, nyatanya hanya angin menghempas Sima yang seketika ia tak sadarkan diri dengan sedikit memuntahkan darah.


“Ukh, goresan ini nyata,” ucap Orion lirih.


Sembari memandang goresan yang masih ada di sana. Orion berpikir heran mengapa wanita itu mengincarnya. Bahkan serangannya pun berniat membunuh Orion.


“Orion, kau benar-benar tidak apa-apa, 'kan?” tanya Mahanta agaknya ia terkejut.


“Daripada itu. Bukankah harusnya kau mengkhawatirkan wanita yang barusan kau hajar tadi? Sepertinya dia tidak berniat terbaring di sana.”


Orion menunjuk ke depan. Memperlihatkan Sima yang saat ini berdiri dengan bola mata memutih. Kesadarannya hilang namun tubuhnya dapat bergerak, seolah dikendalikan sesuatu.


“Ewh, itu seperti boneka tali,” ucap Mahanta jijik.


“Aku pun heran begitu juga padamu yang mampu menghajar wanita tanpa ragu,” kata Orion seraya berdiri tegap memandang Sima dari kejauhan.


“Musuh tetaplah musuh,” ucap Mahanta terkesan dingin.


“Ngomong-ngomong apa kau Mahanta yang asli?” tanya Orion tiba-tiba. Ia rupanya masih mencurigai Mahanta.


“Apa? Aku Mahanta yang asli! Yang asli!” teriaknya jengkel.


“Pergi ke panti asuhan lalu kau datang untuk bertemu denganku yang katanya ingin pergi ke rumah informan, tapi saat aku hendak mengambil kendaraanku, kau tiba-tiba datang dan bilang akan menunggu di kafe.”


Orion tersentak saat mendengar pernyataan Mahanta. Kini situasi menjadi sangat jelas, kapan Mahanta palsu datang menggantikan. Yakni saat Mahanta datang dengan mobil.


“Kalau begitu, kendaraannya adalah miliknya sendiri?” pikir Orion.


Srak! Sima kembali melesat, ia mendorong salah satu kakinya agar dapat melesat lebih cepat. Bola mata yang sebelumnya memutih pun kembali seperti semula.


“Prioritas, Anak Api!”


“Huh, apa yang dia bicarakan?”


Trak! Orion menahan bilah pisaunya dengan bilah miliknya. Tenaga Sima sungguh kuat, seolah Orion tengah melawan seorang pria yang kuat.


Mahanta mencekik leher Sima tanpa ragu. Tatapannya sedikit sinis, amarah makin memuncak.


“Jangan meng ...ganggu!” pekik Sima, seraya mengayunkan pisau itu ke arahnya.


Sima menyerang bagian pergelangan tangan Mahanta, akan tetapi cekikan Mahanta semakin lama semakin kuat. Ia merintih kesakitan lantas mengangkat satu tangannya lagi.


Angin berpusat pada satu titik, sesaat Orion mengambil tindakan sebelum Mahanta melakukan sesuatu yang lebih dari itu.


Orion mengayunkan senjata dan sekali lagi melukai wajah Sima. Goresan Sima bertambah, entah itu luka ataupun kekuatan yang ia miliki.


Sima melangkah mundur setelah cengkraman Mahanta melemah.


Udara yang jelas tak nampak itu kini terbuka di hadapan mereka. Tubuh Sima menghilang, seolah lenyap tanpa sisa.


“Ke mana dia!?” tanya Mahanta dengan kerutan di dahi.


“Jangan sampai dia terbunuh!” pekik Orion.


“Kenapa harus aku lakukan. Toh, aku tahu betul wanita seperti apa dia itu.”


“Kesempatan tidak akan datang berkali-kali. Berpikirlah dengan kepala dingin, ini tidak seperti Mahanta yang aku kenal,” ujar Orion seraya menepuk punggung Mahanta.


Seketika Mahanta tersadar. Beberapa kali ia mengedipkan mata lalu melirik ke sekelilingnya.


“Ah, maaf. Aku emosi sesaat. Kau benar Orion, dia pasti tahu sesuatu tentang Chameleon. Aku gegabah maaf, karena tadi kau terluka ...aku ...”


Nampaknya Mahanta sangat mencemaskan keadaan Orion sehingga tak sadar bahwa kemarahan itu membuat seseorang hampir meregang nyawanya.


“Kau marah karena aku terluka? Hm, aku memang bertubuh anak kecil yang sangat kau sukai. Tapi aku bukanlah anak-anak,” lirih Orion.


“Tapi tetap saja. Rekanku ...”


“Lagi pula, aku seringkali terluka. Aku juga tak layak dilindungi,” ucap Orion dengan suara rendah.


“Jangan berkata begitu, Orion. Tapi apa itu artinya kau percaya bahwa aku ini Mahanta yang asli?” pikir Mahanta.


“Mungkin?” singkat Orion. Ia masih meragu sebab ia baru saja tertipu.


Apalagi penampilan, sifat dan hal lainnya benar-benar sangat mirip. Tidak ada yang berbeda sekalipun ...


“Aku baru ingat,” ucap Orion seraya memegang kepalanya.


Ia teringat sesuatu, ketika Mahanta palsu (Chameleon) datang bersamanya ke rumah informan.


“Kau 'kan tidak pernah bertemu dengan Dr. Eka secara langsung. Kau baru bertemu setelah Nona Gista membawanya, 'kan?” tanya Orion.


“Iya itu benar. Dia dokter, kalau dilihat dari jasnya. Memangnya kenapa?”


“Apa kau tahu kekuatan Dr. Eka? Atau mungkin kau sudah dengar dari Nona Gista atau Endaru sebelumnya?”


Mahanta menggelengkan kepala dan berkata, “Aku sama sekali tidak mendengar apa pun dari mereka. Apalagi Pahlawan Kota, dia tidak mungkin mau bicara denganku.”


“Itu sudah cukup membuktikan siapa kau. Kau adalah Mahanta yang asli,” tutur Orion penuh keyakinan.