ORION

ORION
Pertunjukkan Opera II & Tuan Gerhana Bulan



Di luar gedung opera.


“Bagaimana tawaranku? Aku ingin sekali kalian mampir karena sudah lama tidak ada tamu berkunjung akhir-akhir ini.” Tuan Gerhana Bulan mengajak mereka untuk bertamu ke rumah.


Sebelum ini, sudah banyak musibah menimpa mereka. Bahkan semenjak datang ke negara ini, bertemu musuh tak terduga. Bahkan sempat melawan rekan Chameleon yakni Jinan. Juga Phantom Gank, yang entah kenapa mereka pula mengincar Orion.


Hal-hal seperti ini, entah mengapa Orion berpikir bahwa Tuan Gerhana Bulan dapat menjawabnya. Dan Endaru sepertinya juga sependapat. Namun, Tuan Gerhana Bulan ini adalah Saint atau Pejuang NED juga, jadi mereka tidak dapat lepas atas kecurigaan meski tak berdasar sekalipun.


“Kami akan memikirkannya kembali,” ucap Orion.


Ponselnya bergetar pendek, Orion merogoh saku jas miliknya, ia mengambil ponsel yang sebelumnya bergetar itu. Ia mendapatkan sebuah pesan dari Mahanta, melampirkan sebuah foto seorang pria dengan alat musik tradisional.


Fotonya nampak usang. Dan Mahanta saat itu berpesan, "Apakah pria ini yang dulu pernah bersama denganmu?" Yang merujuk pada Orion.


Mahanta menyinggung yang telah berlalu, di mana Orion pergi bersama pemain kecapi itu ke suatu tempat yang pernah dijadikan markas oleh Chameleon.


“Kenapa dia bertanya ini? Bukankah aku sudah bilang saat itu, bahwa dia tidak ada hubungannya,” batin Orion sembari menyimpan kembali ponselnya.


“Ngomong-ngomong, Tuan Gerhana Bulan. Anda adalah saint atau Pejuang NED dari sebutan kami. Apakah Anda bisa dipercaya setidaknya untuk saat ini?” Tiba-tiba Dr. Eka berbicara padanya.


Lantas pria bertopeng hitam itu pun menjawab dengan sedikit tertawa lirih, “Aku tidak tahu apa maksudmu tapi bisa diartikan bahwa kau mencurigai kami, ya?”


“Kami, ya?” gumam Dr. Eka.


“Bodoh, jangan berkata seperti itu,” sahut Endaru.


“Sudah, jangan dibuat ribut hanya karena masalah ini.” Orion menyeret tubuh Endaru ke belakang agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Orion menatap pria itu dengan santai lalu berkata, “Kami tidak bermaksud untuk seperti ini. Akan tetapi, tindakan itu diperlukan mengingat di sini berbeda dengan negara kami. Jadi, tidak masalah bukan?”


Seketika pria bertopeng hitam terdiam. Bungkam, bisu dan tak lagi bicara apa-apa. Sembari berdeham ia memalingkan wajah.


“Baiklah. Aku mengerti,” ucapnya seraya menulis sesuatu di memo miliknya. Kemudian ia merobek kertas yang baru ditulisnya itu dan memberikannya pada Orion.


“Ini, alamatku.”


Setelah Orion menerima secarik kertas itu. Tuan Gerhana Bulan bersama beberapa orang bertopeng itu pergi meninggalkan mereka.


“Aku akan mencari telepon umum.” Orion pula sepertinya ingin sendirian untuk saat ini.


Orion pergi sembari membawa catatan itu. Ke telepon umum yang berada dalam kotak. Ia menghubungi Mahanta agar dapat berbicara lebih leluasa dan tidak dapat didengar oleh siapa pun.


“Mahanta, apa maksudmu memberikan pesan itu?” tanya Orion.


“[Saat itu aku terpisah denganmu. Dan aku menemui seseorang yang sedang mencari keberadaan pria itu. Dan, tiba-tiba aku teringat laporan Ketua Radhika mengenai dirimu bersama seorang pria pemain suatu alat musik.]”


“Oh, jadi maksudmu. Kau bertanya apakah pria itu adalah pria yang sama seperti foto yang barusan kau kirim?”


“[Iya.]”


“Kau terlalu jauh, Mahanta. Jangan usik dia, dia tidak ada hubungannya. Tapi kalaupun kau ingin tahu kebenarannya.” Orion menelan ludah sesaat sebelum bicata. Ia melanjutkan, “Baiklah ...aku akan menjawab, dia pria yang sama.”


“[Aku hanya memastikannya saja. Karena Nona Gista bilang, dia adalah rekan Chameleon. Jadi ini bisa dijadikan kesempatan menemukan ekor Chameleon.]”


***


Usai mengubungi Mahanta. Orion bergegas kembali menemui Endaru dan Dr. Eka. Mereka menunggu di halte bus.


“Ya, aku tahu. Tapi kalau menjauh, yang ada kita tidak akan semakin dekat dengan Chameleon.”


“Atas dasar apa kau berpikir bahwa ini ada hubungannya dengan Chameleon lagi?”


“Kau sendiri. Kenapa berpikir ini jebakan? Pastinya jebakan yang kau maksud itu jebakan dari Chameleon, 'kan?”


“Ya, itu ada benarnya.”


“Aku pass. Tidak akan ikut, dan aku akan carikan penginapan murah, ya?”


Orion mengangguk. Membiarkan Dr. Eka untuk pergi, menaiki bus yang barusan datang. Sementara Orion akan pergi bersama dengan Endaru. Malam ini juga.


Pukul 9 malam.


Letak Gerhana Bulan berada, di antara banyaknya gedung tinggi yang ada. Gedung itu cukup tinggi tapi tidak lebih dari gedung opera sebelumnya.


“Orion, aku mendengar suara musik di dalam.”


Orion dan Endaru sekali lagi dikejutkan oleh Tuan Gerhana Bulan, kali ini topengnya sedikit berbeda namun tetap berwarna hitam. Pria itu menyambut kedatangan mereka berdua, lantas mempersilahkan masuk.


Suara musik yang tak biasa, serta beberapa tempat terdengar ramai oleh teriakan orang-orang di beberapa sudut ruangan.


“Tempat apa ini?” tanya Endaru seraya menoleh ke segala arah. Ia kebingungan karena tempat ini terbilang cukup aneh.


“Kasino.” Tuan Gerhana Bulan yang sedikit mengerti ucapan Endaru pun menjawab.


Endaru terkejut saat mendengar bahwa tempat ini adalah kasino. Kasino, tempat judi. Lantas Orion menghela napas, ia merasa bersalah karena telah membawa Endaru.


“Maafkan aku Endaru. Seharusnya aku tidak membawamu kemari,” ucap Orion dengan kening berkerut.


“Kenapa minta maaf? Ini cuman tempat yang bahkan di negara kita masih ada meskipun sangat kecil. Tapi tenang saja, aku tidak tertarik untuk bermain seperti itu,” ucap Endaru berwajah riang seperti biasa. Rupanya ia menganggap ini enteng.


“Ehem, tenang saja. Kita akan ke lantai atas yang lebih ruangannya lebih tenang,” kata pria itu.


***


Terdapat beberapa ruangan di lantai atas. Dan salah satunya sekarang digunakan oleh mereka. Hadir dalam kecanggungan meski Tuan Rumah tidak membawa orang-orangnya ikut masuk kemari.


“Aku akan langsung mengatakannya saja. Saint Ken meminta bantuanku untuk melakukan sesuatu. Katanya kau punya hadiah untuk kepalamu sendiri.”


“Tidak. Aku sama sekali tidak mempunyai hadiah. Hanya bisa dibilang, kebetulan diincar?” sangkal Orion.


“Oh, dan kudengar dari Saint Ken bahwa kau mencari seseorang yang berkaitan dengan benda berupa serbuk atau bubuk putih. Apa aku salah?” tanya pria itu.


“Iya.” Bawah mata Orion berkedut, ia terkejut karena pria yang berada di hadapannya mengetahui hal tersebut.


“Lalu, apa kau tahu itu?” tanya Orion kepadanya.


Tuan Gerhana Bulan menggelengkan kepala. Lantas menjawab, “Seseorang itu sepertinya sedang diburon oleh Organisasi kalian, ya. Bahkan dia melarikan sampai ke negara ini. Tak kusangka ada yang berani.”


“Aku memintamu untuk menjawab pertanyaanku. Karena waktuku tidaklah hanya untukmu seorang, Tuan Gerhana Bulan. Jadi, jawablah. Apakah kau tahu itu? Tahu siapa atau bahkan di mana orang yang sedang aku cari?” Sekali lagi Orion bertanya.


“Ketahuilah kalian berdua, benda berbahaya itu sudah tersebar luas bahkan sebelum orang yang kau cari datang ke negara ini,” ungkap Tuan Gerhana Bulan dengan menyipitkan kedua matanya dari balik topeng.