
Seperti pahlawan kesiangan yang telah lama diceritakan secara turun-temurun. Entah memang kebiasaan atau hanya sekadar bergaya saja, Endaru datang terlambat.
Tapi, salah satu penyebab ia sedikit terhambat dari satu ke sisi adalah tangannya sendiri. Ia kesulitan bergerak karena belum terbiasa hanya dengan menggunakan satu tangan saja.
Namun, lama-kelamaan ia mudah terbiasa jika langsung turun ke medan pertempuran seluas ini. Pertama, ia muncul di daerah barat daya dari sudut kota S-Frans. Ia membantu Ketua Meera yang saat itu hampir dihujani puluhan anak panah dari bidikan tak wajar di atas sana.
Lalu, kemunculan yang kedua, ia menahan pergerakan bawahan Chameleon yang saat itu tengah mengejar anak magang bernama Runo. Setidaknya sekali ia menggunakan kekuatan penuh sekuat tenaga untuk mereka, demi menahannya. Lalu Endaru pula tidak sadar bahwa serangannya barusan telah membebaskan Orion yang berada dalam bayangan Chameleon.
Saat itu juga Chameleon melemah akibat serangan tak langsung dari kepingan salju Runo yang terjatuh dari langit, menyentuh lingkaran penghisap jiwanya.
Ini sudah jelas takdir. Bukan hanya sekadar kebetulan. Karena mereka semua, Orion dapat meloloskan diri. Setidaknya untuk sekali ini saja.
“Kalian sama sekali tidak pernah belajar ya?”
Kali ini, ia benar-benar menunjukkan batang hidungnya pada musuh. Dalam mata, Endaru sama sekali tak menemukan keberadaan Chameleon, tapi secara perlahan ia merasakan keberadaannya akan segera mendekat kemari.
Sebelum itu, ia pun langsung melancarkan serangannya. Membuat tekanan langsung pada bawahan Chameleon. Banyak dari mereka yang kepalanya terbentur ke jalan, satu tak sadarkan diri (Jinan) lalu dua terluka parah (Sera dan Hendrik) kemudian Iki yang masih bertahan dengan mengorbankan kedua tulang lututnya.
“Eh? Yang satunya lagi juga menghilang?”
Setelah dilihat baik-baik, rupanya Endaru melupakan satu orang lagi.
“Oh, kau mencariku? Sepertinya udara di sini tidak kau sentuh ya?”
Dan sekarang orang itu sedang terbang, Adi Caraka yang menggunakan kekuatan api.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Endaru menatapnya sinis, dan sekejap mata Caraka terjatuh, ia nyaris menghantam jalan dengan kecepatan tinggi. Namun saat itu ia dapat berhenti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan karena Endaru.
“Aku masih baik hati 'kan? Aku menghentikanmu tepat sebelum kepalamu jatuh ke bawah. Kau akan mati. Aku yakin Gista dan lainnya akan menyukainya tapi Ayah tidak suka.”
“Ayah? Siapa yang kau bicarakan?”
“Ayahku, Orion. Dia tidak akan membuat musuhnya mati dalam sekejap.” Endaru melempar tangan ke arah kiri, dan itu mengarahkan tubuh Caraka ke atas sungai mengalir.
“Andai ada laut, maka aku akan menenggelamkanmu di sana.”
“HEI!!”
BYUR!!
Aliran sungai tidak terlalu deras, tapi tetap saja Adi Caraka yang lemah terhadap air akan tersiksa di sana. Ia harus berenang secepatnya karena api dalam air sama saja sudah mati.
“Kekuatanku melemah karena bocah itu menggunakan kekuatannya ya? Ck, benar-benar kurang ajar!”
Begitu sudah berenang ke tepian, ia baru sadar bahwa tubuhnya sudah terseret ke daerah lain yang dialiri sungai. Dan paling mengerikannya adalah, di dekatnya terdapat air terjun mengalir ke bawah.
Sementara Endaru harus berurusan dengan Iki sebagai sisa di antara mereka.
“Sepertinya akan mudah menyerang kalian. Beruntungnya aku karena aku menyerang kalian di saat sudah dibabak-beluri oleh yang lainnya,” ucap Endaru.
Berjarak 3 meter dari posisi, Endaru mengacungkan senjata ke arah Iki.
“Kau tahu itu takkan mempan untukku 'kan?” ujar Iki yang masih tertahan di sana.
“Entahlah. Aku tidak tahu apa kekuatanmu,” kata Endaru acuh.
DOR!
Endaru telah menarik pelatuknya, dalam beberapa waktu akan menembus bagian tubuh Iki, tapi sesaat akan mendekat, terlihat ada sebuah lubang hitam kecil yang menghalangi.
Menyadari hal itu dari jarak jauh, lantas Endaru mengubah posisi peluru yang ia benar-benar gunakan, menikung dengan tajam sampai berada di belakang tubuh Iki.
“Apa-apaan ...kau melihatnya?!”
Iki melemah karena satu peluru telah menembus tubuh Iki. Segera Endaru membuat tubuh Runo melayang ke arahnya, ia membawanya pergi dan berkumpul ke tempat yang jauh lebih aman. Setidaknya jauh dari berbagai titik bekas medan pertempuran sebelumnya.
***
“Wama! Aku pikir kau akan menyerangku, tapi tak kusangka kau akan membawaku pergi. Eh, tunggu! Jangan bilang kau akan membawaku ke hadapan Chameleon?”
“Candy!”
“Aku tidak mengerti kenapa kau menjawab itu. Jadi setidaknya jawablah aku dengan jawaban yang seharusnya kau jawab,” ucap Orion jengkel.
“Candy!”
“Candy, candy, candy, candy! Hanya itu yang kau kata ...kan?”
Orion baru saja teringat bahwa Wama pada dasarnya memang seperti ini.
“Oh, benar. Kau itu menginginkan permen ya? Tapi aku tidak punya. Jangan bilang kau membawaku hanya karena menagih permen yang telah aku janjikan padamu?”
“Candy, Candy!” jawab Wama dengan sumringah, ia menganggukkan kepala beberapa kali. Nampaknya benar Wama hanya menginginkan hal itu, wajahnya yang seram kini terlihat kegirangan.
“Namamu, Wama, benar? Aku ingin meminta tolong padamu sebentar, pergi ke sebelah sana.” Orion meminta seraya menunjuk ke sebelah kirinya.
Dengan cepat mengerti, Wama bergerak ke arah yang ditunjuk. Lalu berhenti di depan sebuah toko yang sedang ditutup.
“Maaf, Wama. Aku masih belum bisa membawakanmu permen yang sangat kau sukai itu. Tapi nanti aku akan bawakan. Pertama, aku ingin tahu di mana temanmu yang lain, seperti Ken?” tanya Orion.
Orion ingin tahu apa yang terjadi pada Ken, karena tidak muncul saat Chameleon dan bawahannya bergerak secara terbuka seperti ini. Terutama, malam itu juga Orion sama sekali tidak melihatnya, yang ada hanya Endaru.
“Candy?” Meski Wama mengatakan kata-kata yang sama, namun jelas terlihat raut wajah itu menandakan kebingungan.
“Wama, kau tidak tahu di mana dia?”
Wama menggangguk pelan. Mata bulatnya kini menyipit.
“Begitu, sayang sekali. Aku berharap setidaknya dia cepat mati sih ...” ucap Orion tanpa sadar.
“Candy?” Wama sekarang mendelikkan matanya. Ia tampak marah.
“Ah, maaf. Bukan maksudku berkata seperti itu.”
Sekarang, ia ingin pergi tuk menyelamatkan rekan-rekannya namun gelang ini membuatnya kesulitan. Jika berada dekat dengan mereka maka Orion akan kehilangan kedua tangannya. Meski ia tak peduli, tapi tangan itu masih penting tuk digunakan.
“Bagaimana ini?” gumam Orion seraya menatap gelangnya.
Wama tiba-tiba saja mendekatkan dirinya pada Orion, lalu gigi-gigi yang bertaring itu lantas menghancurkan semua gelangnya termasuk yang melingkar di leher Orion.
“Hah?”
Spontan ia terkejut, melangkah mundur. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya, namun yang barusan itu sungguh menakjubkan. Orion sendiri tidak bisa menghancurkan atau membakarnya dengan Api Abadi, namun Wama bisa melakukannya hanya dengan gigi.
“Candy,” ucap Wama seraya menyodorkan kertas berlipat di genggaman tangannya.
Melihat Wama memberikannya pada Orion, maka Orion pun segera mengambil lantas membuka kertas itu.
“Peta?”
***
Dinding es yang runtuh, jalan yang rusak, kuda besi yang terbelah menjadi dua telah terbakar oleh api. Sisa dari gundukan tanah yang terlihat menyatu dengan jalanan. Lalu sedikit salju yang hampir menyentuh atas kepalanya lagi.
Semua hal-hal yang aneh, ialah kekuatan yang dikeluarkan oleh manusia ini, semuanya telah berjuang hanya untuk mendesak Chameleon. Sulit untuk membunuhnya apalagi hanya menangkapnya. Dua pilihan itu sudah sangat sulit, namun bukan berarti mereka akan menyerah begitu saja.
Chameleon, penjahat kriminal tingkat atas yang sudah diburon dengan banyak nama dan wajah palsunya. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu bagaimana rupa wajah aslinya. Yang sering Chameleon gunakan wajahnya adalah seorang pria berambut merah bernama Dicky lalu beberapa wajah anggota NED untuk menipu dan seorang pria yang tampak lebih muda dari semuanya.
Entah itu wajah milik siapa, namun semuanya jelas tahu bahwa itu masihlah wajah palsunya. Chameleon adalah penjahat yang sudah menghancurkan kota Y-Karta di negara Id. Lalu menjadi presiden di negara itu dengan wajah presiden yang mati terbunuh olehnya.
Dan sekarang, menjadi gubernur bernama Nicholas yang hendak mencalonkan diri sebagai presiden di negara asing. Tujuan kekanak-kanakkannya ialah, menjadikan seluruh dunia menjadi dunia yang dipenuhi oleh orang-orang berkekuatan super.
Tetapi, menjadi gubernur hanyalah pembuka di pertengahan rencananya. Ia mengambil sebagian dari tubuh para anggota NED untuk sesuatu. Lalu, diketahui ada pengkhianat lainnya dan ia adalah seorang ketua. Ketua ini menempati posisi paling akhir, terdengar dan terlihat lemah di luar namun sebenarnya kekuatan yang wanita itu miliki sangatlah merepotkan.
“Mirana, apa kau masih di rumah?”
[“Ya. Saya sedang menunggu Anda.”]
Benar, namanya Mirana. Ketua Mirana yang memiliki kekuatan seperti santet dan sejenisnya. Sebelum pergi ke negara GL, diketahuinya posisi Chameleon adalah berkatnya, namun siapa sangka bahwa itu adalah bagian dari rencana sang pengkhianat bersama Chameleon.
Sungguh tak terduga. Satu persatu muncul pengkhianat. Ini benar-benar membuat Organisasi NED mengalami banyak kerugian.
“Aku paling membenci diriku sendiri di sini. Ah, tapi aku sedang menunggu lainnya untuk berkumpul.”
Uap dingin berhembus menutupinya dalam beberapa saat. Chameleon yang tengah berbincang dengan Mirana melalui antar telepati, kini kembali tersenyum sembari menatap jalanan yang terdapat bercak darah.
Tiada Gista maupun Ketua Irawan di sana, karena dua-duanya atau bahkan semua yang telah dikalahkan telah dibawa oleh Endaru menuju ke suatu tempat. Chameleon tak menghentikannya karena sengaja, bahkan ia berpasrah diri karena kekuatan Endaru menahannya sampai kedua kaki Chameleon tertanam di jalanan beraspal sekarang.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya bawahan Chameleon datang dengan tanpa membawa Runo, justru Iki membopong Jinan dan Caraka yang tak sadarkan diri. Sementara Sera dan Hendrik terluka cukup parah di bagian kening mereka. Pemulihan Sera saja sampai tersendat dan membutuhkan banyak waktu agar kembali pulih nantinya.
“Wah? Kalian semua terluka begitu. Pahlawan Kota lagi?”
“Ya, maafkan saya, Tuan Chameleon.”
“Ya sudahlah. Yang terpenting kita mendapatkan sedikit dari bagian mereka. Ini bagus untuk percobaan, tapi aku pikir kita akan membutuhkan keahlian Caraka?”
“Sayang sekali pria bodoh ini tidak sadarkan diri karena jatuh dari air terjun yang tinggi, Tuan.” Iki angkat bicara.
“Haha, ya sudahlah. Ayo pergi.”
“Tetapi bagaimana dengan pria salju itu? Kami gagal menangkapnya.”
“Tidak apa. Aku sudah menikmati hari-hariku yang sekarang. Aku puas,” ucapnya seraya memandang langit dengan senyum lebar kegirangan.
***
Di suatu tempat, halte busway yang sedang tidak ada jam operasional aktif hari ini. Tempat yang cukup sepi itu tiba-tiba kabut datang dan menyelimuti sekitaran tempat ini.
“Apa ini? Apa cuacanya memang seaneh ini?” pikir Endaru seraya melihat serta menyentuh kabut tersebut.
Gista, Ketua Irawan, Runo, Ketua Meera dan Mahanta tengah duduk dalam kondisi tak sadarkan diri. Hanya Endaru yang saat ini benar-benar sadar, dan kebingungan karena adanya kabut aneh ini.
“Hei, Mahanta! Kenapa kau malah ikut-ikutan tidur? Perasaan sebelumnya kau masih sadar, apa kau lelah?” tanya Endaru.
Namun Mahanta sama sekali tidak menjawabnya. Hal yang barusan Endaru katakan itu benar, bahwasanya Mahanta sebelum ini masih sadarkan diri namun entah kenapa saat didatangi lagi justru terlelap begitu cepat.
“Karena aku bingung, apakah kabutnya tidak berbahaya? Ya, selama ini aku baik-baik saja sih. Ya, sudahlah,” kata Endaru lalu duduk di bangku dekat sana. Entah apa yang ia tunggu, namun ia tetap tenang dalam kondisi berkabut seperti ini.
Setelah beberapa saat, di balik kabut berjalan mengitari halte ini terdapat siluet seseorang. Perlahan warna hitam yang didominasi kabut tak berwarna itu mulai menunjukkan rupa yang Endaru kenali.
Sosok itu berpikir dalam benaknya, 'Wajah dan tubuh ini sepertinya tidak asing. Lantas mengapa?' Ia bertanya pada tubuhnya sendiri.
“Ah, kau! Ayah?!”
Sosok tersebut lantas terkejut karena Endaru memanggilnya begitu.
“Kau tak seperti biasanya. Kau apakan rekan-rekanku?” tanyanya sambil menunjuk Gista dkk.
Sosok tersebut menampilkan tubuh dan wajah Orion yang sangat dikenali banyak orang terutama para anggota NED.
Tentu saja Endaru akan mengenalinya, namun Endaru merasa aneh dengan Orion yang ada di hadapannya saat ini.
“Ayah, apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti,” sahut Endaru seraya mendekatinya.
Tak peduli seberapa dekat Endaru dengannya, kabut tetap memisahkan mereka seolah sosok Orion itu enggan menampakkan dirinya.
'Siapa sebenarnya dia? Kenapa Pak Orion yang ada dalam benaknya?' batinnya bertanya-tanya dengan rasa curiga pada Endaru.
“Hei, Ayah! Ini aku! Masa' kau tidak mengenaliku, hei! Orion!!” teriak Endaru.
“Berisik! Siapa kau sebenarnya, brengsek!” Orion memaki.
“Eh?!”
Sontak saja Endaru tercengang, tak biasanya Orion memaki seperti ini. Dan kemudian ia kembali menduga-duga bahwa sosok yang menunjukkan Orion saat ini bukanlah Orion yang sesungguhnya.
“Heh, Orion takkan berkata begitu, bodoh! Siapa kau sebenarnya?!” jeritnya bertanya dengan tangan mengepal, bersiap menyerang secara fisik.
“Justru aku yang harusnya bertanya, siapa kau?! Kau apakan rekan-rekanku, hah?!” sahutnya dengan nada meninggi.
“Hei, kau! Jangan berpura-pura bodoh di depanku! S*alan! Akan aku habisi kau!” teriaknya lagi sambil berlari ke arahnya.
“Tunggu! Dia itu Ramon!” sahut Mahanta yang tiba-tiba saja sudah terbangun dari tidur siangnya.
“Hah?!” Dengan masih emosi, namun akhirnya Endaru berhenti bergerak lalu menoleh ke belakang sembari mengernyitkan dahi.
“Seperti yang aku katakan, dia itu Ramon. Anak magang, kau tidak ingat? Hei, Ramon. Kau juga, tidak ingat dia siapa?” tanya Mahanta.
Setelah itu, kabut menghilang. Dan sosok yang menunjukkan rupa Orion telah berubah ke wujud aslinya, Ramon.
“Eh, apa maksudmu, Pak?” tanya Ramon bingung, namun dengan wajah yang menahan amarah terhadap Endaru.
“Pria ini Pahlawan Kota, Endaru.”