
Bayangan yang sebentar berhenti lalu pergi meninggalkan jejak darahnya. Sebuah serangan dari Orion, ternyata Jhon bisa dilukai saat ia berada dalam bayangannya sendiri.
Lalu, sesuatu tak terduga telah terjadi pada Orion. Setelah ia menyerang Jhon, ketika itu seluruh badannya terasa menyengat panas. Pandangannya memburam dan kepalanya sakit seperti habis dipukuli. Salah satu telinga Orion berdenging kencang dan menambah rasa sakitnya seiring berjalannya waktu.
Bruk! Orion ambruk sesaat setelah Jhon melarikan diri dari mereka. Teriakan dari mereka tak lagi terdengar, meski ada banyak orang yang sedang mengkhawatirkannya saat ini.
Setelah beberapa saat, dalam napas yang terengah-engah itu, ia merasa berjalan namun kedua kakinya sedang tidak bergerak. Tampak lingkaran api mengelilingi tubuhnya, tanpa sadar Orion melakukan hal seperti ini.
“Orion, bisakah kau matikan apimu ini? Rasanya memang hangat apalagi di malam yang dingin ini tapi ...lama-kelamaan jadi panas.”
Seseorang mengajaknya berbicara. Barulah ia tersadar bahwa ia sedang digendong oleh seseorang. Beberapa kali Orion mengedipkan mata dan memastikan kesadarannya.
“Suara itu, Mahanta, ya?”
“Iya, dasar.”
Mahanta membawa Orion ke tempat di mana ia memakirkan mobilnya. Karena sebelum ini, ia tidak tahu di mana letak gedung Raiya sehingga terpaksa berhenti di suatu jalan dan memutuskan berjalan untuk mencari letak gedung tersebut.
“Orion, kau masih bangun? Kau sudah tidak apa-apa, 'kan?” Mahanta bertanya.
“Iya, tidak masalah.” Orion menjawabnya dengan wajah lesu dan mengantuk.
Kini, mereka berada dalam mobil. Mahanta segera tancap gas, kala itu jalanan terlihat sangat sepi. Suasana malam jadi terlihat lebih jelas daripada sebelumnya, terasa sepi dan menyeramkan seperti biasa.
Pewangi lavender dalam mobil tercium sangat harum dan membuat Orion nyaman. Melihat Orion yang hanya duduk tenang seperti itu, justru membuat perasaan Mahanta semakin gelisah.
“Orion, apa kau jadi seperti ini karena ada seseorang yang mengejarmu?” tanya Mahanta.
Masih dalam kondisi setengah sadar Orion menjawab, “Iya, begitulah. Seseorang yang bernama Jhon.“
“Asal kau tahu, Jhon bukanlah nama aslinya. Nona Gista yang bilang kepadaku. Tetapi, untuk apa dia mengejarmu?”
Orang yang lebih dekat dengannya pun mungkin tidak akan tahu apa tujuan Jhon kepada Orion. Justru yang mengetahuinya sekarang hanya Gista, Meera dan orang-orangnya. Termasuk Pahlawan Kota.
Karena Orion tak tahu apakah Mahanta sudah tahu atau belum, maka Orion akan menjawabnya dengan jawaban yang seolah belum pasti.
“Tugas yang diberikan oleh adikmu, aku menemukan jarum di kepala putri pejabat. Dan entah kenapa jarumnya tiba-tiba pindah ke jari telunjuk, aku baru mengetahui hal ini saat di tempat Nona Meera.”
“Tak aku sangka akan terjadi hal seperti itu. Maafkan aku, aku harusnya ikut denganmu saja agar dia tak berani macam-macam,” pikir Mahanta dengan gelisah dan merasa bersalah.
“Kau terlihat seperti Nona Meera saja. Sok mengkhawatirkan orang lain padahal kau sendiri banyak urusan,” sindir Orion sambil memejamkan mata.
“Harusnya semua orang begitu, 'kan?”
“Ngomong-ngomong, Mahanta. Apa Jhon itu bukanlah Chameleon? Aku mengira begitu sebelumnya tapi Nona Meera menyangkalnya,” ujar Orion.
“Aku tidak tahu pasti bagaimana rupa si Jhon itu. Apalagi Chameleon ...eh!?” Sontak Mahanta terkejut karena Orion mengetahui soal itu.
Saking terkejutnya, mobil Mahanta sampai oleng dan nyaris kehilangan kendali dalam beberapa waktu.
“Ma-maafkan aku Orion. Karena kaget, aku jadi tidak bisa berkata apa-apa,” ucapnya dengan terbata-bata.
“Jangan kaku begitu kalau bicara. Aku tahu kalau kau mengetahui bahwa umurku sudah tua,” sahut Orion.
Mahanta pun terdiam dan tak lagi bicara apa-apa. Situasi di antara mereka semakin lama semakin canggung saja.
Setelah beberapa saat, Mahanta melihat sesuatu yang berada di belakang mobilnya. Ia merasa sesuatu berwarna hitam tengah mengejarnya.
“Orion, lihat ke belakang, apakah itu yang kau maksud?” tanya Mahanta dengan wajah serius.
Orion yang sebelumnya sangat mengantuk pun akhirnya terpaksa membuka kedua matanya sekali lagi. Dan ketika itu ia sangat terkejut.
“Jhon! Jhon yang mengejar! Cepat tancap gas lebih dari ini!” pekik Orion.
Bayangan itu terus mengejarnya dan Mahanta pun tancap gas, laju kendaraan semakin cepat. Semakin lama mereka mengulur waktu, maka semakin cepatlah bayangan itu.
“Aku akan menggunakan kecepatan maksimal!”
Mahanta melajukan kendaraan lebih cepat dari sebelumnya. Ia melakukannya agar tidak lagi terkejar oleh bayangan itu.
“Tak aku sangka dia terus mengejarku seperti ini!”
Tentu saja ini menjadi semakin membingungkan, tujuan Jhon yang ingin menangkap Orion namun kenapa saat itu ia kabur? Dan sekarang kembali mengejar?
Entah apa rencananya, tapi itu terlihat seperti trik. Setelah serang lalu kabur, ini sudah yang ketiga kalinya Jhon melakukan hal seperti itu.
Laju kendaraan beroda empat semakin kencang, mesin bekerja lebih keras begitu juga dengan pengemudinya yang selalu memperhatikan ke depan lalu ke belakang untuk memastikan bayangannya.
Lampu merah yang berada di bagian belakang mobil itu seketika menyala begitu terang dan silau. Terutama saat mobilnya berjalan dengan kencang.
Mereka berada di jalan tol yang amat sepi dengan hutan di sekeliling mereka. Tak menutup kemungkinan di sekitar sana terdapat jurang.
Tetapi, ketika laju kendaraan sudah sulit dikontrol, tibalah sebuah truk dari belakang yang juga mengemudikannya begitu kencang. Terlihat tubuh truk sedikit bergoyang.
Bruak!! Truk itu pun menabrak mobil mereka, keadaan di dalam jadi berguncang hebat dan membuat Mahanta kesulitan. Jika ia berhenti, entah apa yang mungkin terjadi selain dilindas oleh truk.
Sekali lagi, Mahanta menancap gas lebih keras. Membuat mobil itu berjalan cepat serta menghindari area di sekitar truk yang kemudian terjatuh.
“Orang g*la!”
Mahanta membanting stir di kala ia merasa detak jantungnya berdetak lebih cepat. Terutama saat bayangan masih mengejar mereka dengan langkah gesitnya.
Akan tetapi, berniat menjauh selagi bisa justru membuat mereka semakin kewalahan. Terdengar suara ledakan dari bawah mobil, melihat mobil yang hilang kendali lagi seperti ini, sudah jelas ban mobil kena getahnya.
Dan api itu muncul dari samping mobil yang dikendarai oleh mereka. Api yang bergerak bersama mobilnya.
“Ban mobil terbakar?”
“Hei, Orion! Pegang yang kuat!”
Mobil sedan dari depan mereka muncul. Sekilas terlihat bahwa tak ada sopir di dalamnya. Membuat Mahanta menelan ludah karena dibuat terkejut.
BRAK! Mahanta menghantam mobil sedan yang nyaris menabraknya dengan angin yang besar hingga mobil itu terbang lalu jatuh terguling.
Dan di saat bersamaan, Mahanta hilang kendali akan mobilnya sendiri. Mereka menabrak pembatas jalan dan membuat Orion keluar dari kaca mobil yang pecah.
“Orion!!”
Begitu mobilnya terhenti dengan seluruh ban terbakar, dan tak sempat ia meraih Orion yang terlempar keluar, sebuah bayangan menjulang tinggi menembus mobil hingga terbelah menjadi dua.