ORION

ORION
Pemain Kecapi



Ingatan demi ingatan masuk secara paksa. Mengalir dengan derasnya, ibarat air terjun yang jatuh ke bawah dan menghantam bebatuan di dasar dengan keras.


Sakitnya hingga membuat kepala Orion berputar, telinganya pun berdenging nyaring dan sekujur tubuh bergemetar kuat. Ia meringkuk di jalanan seraya memegang kepala dan menjerit kesakitan.


Pria yang semula berwajah serta perawakan tua itu berubah menjadi lebih muda ke sekitar usia 20 tahun. Tertawa menggelitik menatap Orion yang bergeliat seperti itu, ia sangat puas.


Apa yang dilihat oleh Orion saat ini adalah, ingatan dari salah satu orang. Yang di mana ia berdiri sejajar dengan beberapa orang. Baik pria maupun wanita.


Melihat pemandangan sebuah kota yang terlihat dari atas. Barulah Orion menyadari bahwa saat ia berada di atas bukit. Sosok yang ia diami dalam ingatan tidak begitu jelas, hanya saja sosok ini mengalami cacat di bagian matanya yang sedikit buram.


“Aku ada di ingatan seseorang yang asing. Siapa dia? Aku tidak dapat melihat dengan jelas. Hanya samar-samar.”


“Kau sedang ngelantur apa?”


“Eh?”


Tak menyangka bahwa Orion berbicara dan dapat didengar oleh orang yang ada di sampingnya. Orion merasa bahwa ia berada di masa lalu itu sendiri.


“Pria itu ...melakukan apa lagi padaku? Tapi, kalau dilihat begini, sepertinya aku sedikit mengenal mereka termasuk ...” Orion membatin.


Orion sekarang melihat semua orang yang ada di sekitarnya. 5 orang berada di baris terdepan, dan 5 orang lagi berada di belakangnya. Posisi Orion berada di sisi kiri.


Ada seorang wanita di sisi kanannya, postur tubuh yang tinggi dengan rambut ikal yang diikat. Wajahnya tidak terlalu tua ataupun muda, tapi ada sesuatu kekuatan yang meliputi tangan kanannya. Semacam angin.


“Mirip Mahanta,” pikir Orion.


Beberapa orang lainnya juga sama mencoloknya. Namun hanya satu wanita ini saja yang berada di baris terdepan. Dan lagi, salah seorang pria dengan tubuh besar dengan berpakaian jas hitam berbulu.


Wajahnya tidak terlihat karena tertutup setengah topeng. Pada akhirnya, yang ia lihat hanyalah postur, cara berpakaian dan senyum yang tersungging.


“Chameleon?” Itulah yang ia pikir begitu melihat pria tersebut.


Dan sekarang, setelah beberapa saat kemudian. Dirinya tiba-tiba memegang sebuah alat musik petik, kecapi. Kemudian sekelompok orang di sekitarnya bergerak menghancurkan kota yang ada di depan mereka ini.


Hancur terbakar, rusak tak berbentuk, mayat bergelimpangan, darah menggenang bagai lautan merah. Jeritan yang terdengar hingga menggema ke seluruh permukaan kota.


“Apa?”


Tubuh sosok yang Orion diami bergerak tanpa sadar, Orion sama sekali tak bisa mengendalikannya. Jari jemarinya memainkan senar kecapi dengan leluasa, membunyikan suara merdu namun menyakitkan bagi orang-orang sekitar.


Tujuan dari sekelompok yang diyakini Orion adalah Chameleon belumlah jelas.


“Hei!”


Orion berusaha memanggil seseorang yang mungkin mengenali orang yang sedang ia diami. Dan kemudian wanita itu kembali muncul.


“Kenapa bengong saja? Cepat bergegas! Hancurkan kota dan jadikan wilayah ini menjadi wilayah Chameleon!”


Deg! Seketika jantungnya berdetak lebih keras dalam sekali. Tatkala, awan menghitam, suasana di kota semakin mencekam dengan bau kematian menyeruak ke seluruh bagian.


Reflek, ia menutup hidung.


“Aku jadi mengerti, sesuatu. Chameleon, berniat menjadikan semua orang di kota Y-Karta sebagai Pejuang NED sama seperti dirinya.”


Itulah yang Orion yakini, dan benar saja. Sorot mata para rekan sosok ini terlihat dingin namun juga menikmati pembantaian ini.


Tap! Seseorang menepuk pundaknya. Pria dengan perban di seluruh wajahnya.


“Kau benar. Kota Y-Karta adalah permulaannya.”


Ingatan kembali tercampur aduk. Mual, muak ia rasakan. Kepalanya kembali berdenyut-denyut sakit. Sesaat setelah itu, ia kembali ke kenyataan.


“Halo? Kau masih sanggup hidup? Karena kita sedikit mirip, jadi kupikir ingatan itu akan masuk juga padamu dengan lancar. Bagaimana?”


Masih dalam posisinya, ia mengerang kesakitan. Orion berusaha melontarkan beberapa kata.


“Mak ...maksudmu apa? Menunjukkannya semua secara langsung!”


“Ya, ampun. Kalau kau sudah tahu apa yang terjadi, itu artinya kita saling berbagi ingatan. Tidakkah kau mengerti kenapa kau masih hidup sekarang?”


Hanya satu hal yang dapat Orion pikirkan ketika pria ini mengatakan hal tersebut.


“Darah penghubung jiwa dan raga ...”


“Benar! Nah, sekarang cobalah tatap aku! Tidakkah kau merasa aku sedikit berbeda?”


Wajah yang muda itu sungguh asing namun ada beberapa barang yang di sekitarnya dan salah satunya Orion mengenali. Kecapi.


Ternyata sosok yang ia diami sebelumnya dalam ingatan, adalah pria ini.


“Ha ...kita sama? Kau punya darah langka sepertiku dan kau juga membuat kita saling berbagi ingatan. Siapa sebenarnya kau ini? Aku tidak merasakan niat membunuhmu, tapi aku curiga,” ketus Orion.


“Tentu saja. Aku berniat untuk menyembunyikan hal itu. Lagi pula hal yang ingin kau ketahui, semuanya sudah masuk ke dalam kepalamu,” tutur pria itu seraya menunjuk kepalanya.


Perlahan Orion beranjak dari sana. Ia lunglai, langkahnya tertatih-tatih dan pandangannya sedikit memburam. Kemudian, ada hal aneh yang terjadi pada tubuhnya saat ini.


Orion kemudian mengangkat kedua tangan, melihat garis-garis di kedua pergelangan tangannya muncul, ia pun tersentak. Sesaat ia terdiam dengan tangan gemetar tak karuan, ia panik.


Orion melangkah pergi meninggalkan pria itu. Seraya mengangkat lengan pakaian dan lagi ia melihat garis-garis seperti bekas jahitan di lengan atasnya.


“Kembali lagi, aku hampir kembali ke wujudku?” gumam Orion.


Drap! Drap!


Sima datang tepat setelah Orion pergi dari gang itu. Sima melirik ke sekitarnya dan tak dapat menemukan yang sedang ia cari. Dan pandangannya kemudian tertuju pada seorang pria di sana.


“Ternyata, kau ada di sini?” singgung Sima.


“Kenapa dingin begitu?”


“Kau, apa kau melihat anak kecil di sini?” Sima lantas mengubah topik pembicaraan.


“Tidak, tuh.” Pria itu kemudian mengangkat kedua bahu seraya menggelengkan kepala.


Sima lantas menatapnya dengan sinis. Terlihat ia tak percaya dengan perkataan pria tersebut.


“Padahal Tuan Chameleon mencarimu. Tapi sekarang kau sedang enak-enakan di sini. Lalu, kau bahkan berbohong?” ujarnya seraya berjalan ke depan.


“Apa hubungannya denganmu, dan tolong jangan sangkut pautkan dengan Tuan Chameleon. Aku sudah berniat untuk lepas dari sana,” ujarnya dengan senyum tersungging.


***


Orion berlari ke sembarang arah. Dengan menahan perubahannya sampai ia mendapatkan tempat persembunyian di sekitar. Jika berharap untuk tidak bertemu musuh, sepertinya akan sangat sulit.


Terutama corak yang berada di punggungnya masih terasa, dan kapan saja wanita itu akan menemukan Orion lagi.


“Aku bisa sangat tidak beruntung, ya. Hawa membunuh yang aku rasakan ini, pastinya wanita itu lagi.”