ORION

ORION
Villa Di Tengah Padang Tandus I



Sudah pukul 6 lewat beberapa menit, fajar telah menyingsing. Beberapa rekan Orion keluar dari ruangan. Endaru, Runo, dan Ramon ternyata sudah berkumpul semua di tempat ini. Orion jadi berpikir, apakah selama ini ia hanya tersesat saja?


“Kabut itu ...kabut itulah yang membuatku hilang arah.”


“Sabar Orion. Bukan hanya kau, aku pun juga sebelumnya begitu. Bahkan sampai ponselku jatuh entah ke mana,” ucap Mahanta sembari mengelus punggung Orion yang depresi.


“Haha! Orion, kau memang lemah dalam menentukan arah, ya!” pekik Endaru yang sudah semangat di pagi hari. Tapi yang ia katakan juga seharusnya pernah dialaminya sendiri. Hanya saja Endaru tidak sadar diri.


“Ternyata Pak Orion sudah sampai di tempat ini. Ah, ngomong-ngomong, jangan sungkan untuk istirahat pak,” kata Runo.


“Kau menyambutnya seolah kau yang memiliki villa mewah ini.” Ramon menyindir.


Villa ini bukanlah salah satu milik dari mereka semua. Entah siapa pun yang memiliki bangunan mewah ini, mereka sangat tertolong karena tempat inilah yang membuat mereka kembali berkumpul.


“Jadi, kita masuk tanpa izin?”


“Tentu saja. Mau bagaimana lagi, pak?” jawab Ramon seraya mengangkat kedua bahu.


“Terserahlah. Daripada harus di luar. Badainya juga masih belum reda,” kata Orion mempasrahkan diri.


Mahanta pergi ke arah dapur, ia membawakan beberapa cangkir berisi air putih untuk mereka semua. Air itu pun ia dapatkan dari dalam kulkas yang mati.


“Di sini memang tidak ada bahan makanan yang masih bisa digunakan, tetapi setidaknya air masih bagus untuk diminum,” ucap Mahanta.


“Lagi pula kita masuk tanpa izin, memangnya pantas mengambil miliknya orang lain?” protes Orion yang sebenarnya pun hanya bisa menerima keadaan untuk saat ini.


“Kau terlalu kolot. Anggap saja ini anugerah dari langit,” ucap Endaru seraya menenggak minumannya.


“Ya, terserah.” Orion kemudian menenggak air itu dengan cepat sampai habis tak tersisa.


Mengawali pagi dengan secangkir air putih, beberapa dari mereka pergi keluar setelah badai reda untuk berlari kecil memutari villa. Lalu Orion dan Endaru menulusuri villa itu sendiri guna mencari tahu sesuatu yang berguna. Seperti penghangat atau sejenisnya.


Saat itu Endaru berada dalam gudang, menemukan sebuah foto berupa anak kecil, terlihat foto itu sudah sangat usang warnanya bahkan sudah berubah.


“Hoi, Orion! Aku sepertinya menemukan pemilik tempat ini!”


“Apa? Siapa dia?” tanya Orion begitu antusias.


Semula ia berpikir bahwa tempat ini mungkin ada kaitannya dengan pemain kecapi itu tetapi ternyata salah. Garis wajah mereka berbeda meski dalam foto itu, ia masih kecil dan fotonya yang sudah usang.


“Ah, aku pikir itu dia.” Orion menyesal.


“Kau berpikir bahwa dia ini rekan Chameleon? Kau pikir semudah itu menemukannya.”


“Aku tahu tidak semudah itu. Hanya saja keberadaan villa ini saja aneh,” tutur Orion dengan yakin.


“Pria kekar itu juga bilang, kalau sebelumnya dia terjebak dalam kabut lalu bertemu hantu atau sejenisnya. Yah, setidaknya aku beruntung bisa sampai kemari tanpa hambatan,” ujar Endaru yang berwajah sok.


“Oh, benarkah? Memangnya kau lewat jalan mana? Kau 'kan pastinya bertemu dengan Runo juga.”


“Iya, aku bertemu mereka. Lalu memandu mereka hanya dengan berjalan lurus saja. Sampai menyentuh tempat ini dan bertemu pria kekar itu,” kata Endaru seraya menaruh foto itu ke dalam kardus.


“Hanya jalan lurus?” tanya Orion tak percaya.


“Iya. Lurus.” Endaru menganggukkan kepalanya.


Dok! Dok!


Orion mengetuk jendela gudang itu ketika melihat Runo melintas dari luar villa. Runo pun kembali menuju jendela.


“Ada apa, pak?”


“Kamu bertemu Endaru sebelum masuk perbatasan?”


“Lalu, kenapa bisa kamu dan Ramon berada di kota yang bahkan penduduknya tidak banyak?” Sekali lagi Orion bertanya.


“Oh, itu. Karena kami berdua sebelumnya dihubungi oleh Tuan Mahanta. Maka dari itu kami segera chek-out. Hal itu ketika Pak Orion dan Pahlawan Kota pergi ke kota S-Frans,” ungkap Runo menjelaskan.


“Sampai sejauh itu. Mahanta benar-benar gigih sekali,” gumam Orion seraya berdeham.


“Ya, sudah. Lanjutkan aktivitasmu,” imbuh Orion.


Mendengar suara pintu terbuka, Orion bergegas menghampiri.


“Mahanta, apa kau barusan menemukan sesuatu?”


“Tidak. Kenapa?”


“Kau masih ingat dengan pria yang mirip seperti Chameleon? Aku juga pernah bertemu dengannya dan saat itu aku berada dekat dengan rumah ini, mungkin.”


“Mungkin? Hei, Orion. Apa kau sedang melantur atau jet-lag dan semacamnya? Atau mungkin karena kabut, ya?” pikir Mahanta dengan remeh.


“Aku serius Mahanta. Karena saat aku hendak kabur, tiba-tiba saja berada dekat dengan villa ini. Padahal seharusnya villa masih jauh dari hadapanku,” tutur Orion menegas. Ia sangat serius terhadap apa yang barusan ia katakan.


“Anda mungkin telah bertemu dengan hantu prajurit,” sahut Ramon yang berada di belakang Mahanta.


“Apa maksudmu?”


“Iya. Sebelum masuk ke perbatasan, saya bertemu dengan orang yang tinggal di kota itu. Dia bilang, di area perbatasan banyak mayat prajurit yang bertebaran hingga mengeluarkan bau busuk. Sesekali mereka bergentayangan.”


Orion dan Mahanta saling bertukar pandang dengan memikirkan hal yang sama. Sejenak berpikir bahwa salah satu hantunya mungkin yang telah mereka temui saat itu. Kemudian raut wajah mereka berubah sedikit memucat dan berkeringat.


“Saya tidak begitu mengerti dengan maksudnya. Tapi mungkin yang Anda lihat adalah itu,” celetuk Ramon tersenyum masam.


“Apa?! Hantu?!” pekik Endaru histeris. Sampai ia menjatuhkan benda yang barusan dipegangnya.


“Hei, hantu itu tidak ada. Kenapa kau sangat ketakutan begitu,” ucap Orion tersenyum lebar seakan mengejek Endaru.


“Tidak aku sangka akan melihat sisi lain dari Pahlawan Kota yang arogan,” sindir Mahanta seraya melipat kedua lengan ke depan dada. Dengan menatap merendahkan. Sepertinya Mahanta ada dendam pada Endaru.


“Hah! Siapa yang takut!” teriak Endaru memalingkan wajah malunya. Ia takut tapi tak berani mengaku.


“Tetapi Ramon, kenapa masih ada orang yang tinggal di kota ini? Kalau memang perbatasan banyak mayat prajurit bertebaran,” tanya Mahanta. Ia merasa bahwa seseorang di sekitar sana itu ada terlalu tidak masuk akal.


“Semua orang sudah meninggalkan rumah mereka yang berdekatan dengan perbatasan. Tapi bukan berarti tidak ada orang tersisa di kota ini.”


“Hm, ya. Itu masuk akal. Tapi kenapa mereka membiarkan mayat-mayat itu?”


“Saya sendiri tidak mengerti kenapa.”


“Hei, Endaru! Kau bilang kau hanya berjalan lurus saja bersama dengan Runo dan Ramon 'kan?” tanya Orion memastikan.


“Ya. Kenapa?”


“Endaru sendiri yang bilang begitu. Kalian juga tidak menemukan mayat satu pun seperti yang barusan Ramon ceritakan. Akan tetapi, aku melihatnya,” ungkap Orion.


Prang! Gubrak!


“AAAAAAA!!”


Terdengar suara jeritan berasal dari arah dapur bagian belakang. Sontak, mereka terkejut dan bergegas mencari tahu suara apa yang barusan didengar oleh mereka.


Runo saat itu hendak masuk ke pintu belakang dapur, tapi tidak jadi, dan dirinya masih berada di luar villa dengan posisi tersungkur dan berwajah pucat pasi.


Pintu belakang hanya terbuka lebar, tak menunjukkan siapa pelakunya kecuali barang-barang yang rusak atau pecah.