ORION

ORION
Tugas Pertama-Putri Pejabat yang Kerasukan



Rumah yang begitu mewah dengan pagar hitam yang menjulang tinggi. Begitu juga dinding yang rapat anti maling, di atasnya pula terdapat pecahan kaca atau botol. Sungguh sangat berhati-hati orang yang tinggal di rumah ini.


Tapi itu wajar saja, rumah sebegini besarnya juga akan jadi incaran. Harta berlimpah pun ikut tercium di hidung Orion saat ini. Menikmati udara segar di sekitar rumah orang kaya memang beda.


“Karena tidak pernah jadi kaya lebih dari 10 tahun, aku jadi begini. Hm ...sejuk,” ucapnya dengan sumringah. Ia terus tersenyum di depan rumah itu.


Rasa marah dan kesal yang sebelumnya Orion rasakan pun seketika lenyap tanpa sisa. Tak lama setelah itu, seseorang yang mungkin saja satpam pribadi datang. Lalu memergoki Orion.


“Hei, kamu! Kenapa kamu ada di sini?” tanya satpam itu dengan suara keras.


“Maafkan saya, pak. Saya datang kemari karena ingin bertemu dengan klien. Ada masalah yang harus saya selesaikan, kemungkinan masalah itu ada di dalam rumah.”


Dengan cepat Orion menyiapkan jawaban mumpuni. Namun nampak satpam itu diam dan masih menatap Orion dengan kecurigaan besar. Ia hanya berdiri di dalam pagar sambil menyilangkan kedua lengan ke depan dada.


“Tuan tidak bicara apa pun padaku. Sana pergi!” Satpam itu mengusir Orion. Namun Orion menolak.


“Saya adalah Pejuang NED! Apa bapak tidak tahu!” cerocos Orion dengan suara meninggi.


Semula kebahagiaannya sirna dan kembali emosi setelah berdebat dengan satpam tersebut.


“Apa maksudmu berkata begitu? Kau pasti anak miskin yang suka meminta uang, 'kan? Sana! Pulanglah! Tidak akan ada orang yang berpura-pura menyedihkan seperti itu!” amuknya dan tetap mengusir Orion pergi.


“Dia tidak tahu apa itu Pejuang NED? Dan setahuku, sejak tadi aku tidak pernah menyebut uang atau sejenisnya, kenapa bapak ini malah berpikir bahwa aku anak miskin?” Orion membatin.


Meskipun kalimat "Anak miskin" itu tidaklah salah, Orion benar-benar tak pernah menyinggung soal uang.


“Saya hanya ingin membantu menyelesaikan masalah klien saya. Bukan untuk uang!” pekik Orion dengan suara lantang.


“Omong kosong! Semua anak-anak sekarang pandai berbohong, sana pergi!”


“Saya adalah Pejuang NED bagian dari Grup Arutala yang sebagai Pemimpin Organisasi NED. Saya berada di bawah naungan orang seperti itu!”


Begitu nama Arutala terdengar di kedua telinga satpam itu, pagarnya terbuka mempersilahkan Orion untuk masuk ke dalam seraya menunggu sejenak.


Tak disangka Orion harus mengatakan hal itu agar dibukakan. Tapi dengan begini, tinggal menyelesaikan tugas Raka yang sudah diemban olehnya.


Setelah beberapa menit ia menunggu di ruang tamu. Akhirnya tuan rumah datang, pejabat itu baru saja dari luar dengan pakaian berantakan. Mungkin terburu-buru saat menuju ke sini.


“Anak kecil?” tanya pria itu dengan heran.


“Saya bertugas hari ini. Bisa perlihatkan keadaan putri Anda?” ujar Orion tanpa memperdulikan tanggapannya.


“Oh, baiklah kalau begitu.”


Pejabat yang bernama Hendrik Gunawan itu pun segera menuntun Orion menuju ke kamar putrinya. Menaiki anak tangga seraya menggulung lengan kemeja.


Di lantai atas, mereka menghampiri kamar dengan pintu berwarna coklat tua. Hendrik merogoh-rogoh saku celananya, ia mengeluarkan sebuah kunci yang digunakan untuk mengunci pintu kamar tersebut.


Sekilas pandang pun, Orion tahu kalau keadaannya sangat kacau. Kamar dengan banyak barang yang berserakan di mana-mana serta lemari yang terbuka. Jendela tertutup rapat dengan tirai yang setengah rusak.


Putri Hendrik masih seorang remaja. Ia tengah duduk di ranjang tidurnya sambil memeluk kedua kaki dan menatap ke arah mereka.


“Sepertinya ini cukup kacau.”


“Apa Anda sempat memanggil ahli agama atau sejenisnya?” tanya Orion.


“Sayangnya sudah tapi tetap tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Semuanya juga berakhir buruk, dengan Ayu yang semakin kasar seperti ini.”


Ini terlalu kacau. Orion jadi sedikit sensitif begitu melihat putri Hendrik menatapnya dengan tajam. Ia pun mencoba untuk mendekatinya.


“Hati-hati, nak! Ayu mungkin terlihat tidak akan melakukan apa-apa. Tapi—”


“Argh!! Aduh! Apa-apaan ini?!” amuk Orion, rambutnya dijambak begitu ia telah mendekat pada putri Hendrik.


Jambakannya kuat sekali hingga rasanya rambut Orion akan rontok lebih cepat. Sudah begitu membuat kulit kepalanya sangat sakit, sehingga tak mudah untuk dilepaskan.


“Nak!” Hendrik pun seketika panik, ia hendak melepaskan tangan putrinya dari rambut Orion tapi terlalu susah untuk mendekat karena Ayu menatapnya sangat tajam.


“Ugh, putri Anda sangat beringas!” Tanpa sadar ia mengatakan apa yang seharusnya ia katakan dalam benaknya.


Asal berucap dan mengatai putri Hendrik sebagai gadis yang beringas. Itu membuat Hendrik sangat marah namun di satu sisi juga kenyataan.


Terlalu kuat hingga sulit melepaskan diri darinya, Orion pun segera mencari permasalahan itu sendiri di kala rambutnya terus ditarik-tarik seperti itu.


Ia meraba-raba bagian leher ataupun lengan, karena siapa tahu kalau ada sesuatu yang mengendalikan pikirannya atau apa. Dan kemudian beralih ke rambut Ayu yang sangat kusut.


“Hei, hei! Apa yang kamu lakukan?!”


“Tenang saja, pak! Ini mungkin san—”


Srat! Barusan ada sesuatu yang berbunyi dan tercabut dari rambut Ayu. Kalimat yang hendak diucapkan Orion pun jadi terpotong karena itu.


Ayu lantas berhenti bergerak, ia tiba-tiba saja terbaring di kasur dengan kondisi tak sadarkan diri. Orion dan Hendrik terdiam selama beberapa waktu.


“Ini, jarum?”


“Apa putri saya disantet?” duga Hendrik.


“Ah, itu juga yang saya ingin katakan tadi.”


Santet adalah kata yang tepat untuk disebut, lantas sebuah jarum berwarna emas lah yang tercabut dari kepala Ayu. Namun lama-kelamaan, jarum tersebut menghilang saat api berwarna jingga membakarnya dalam waktu singkat.


“Warna api yang sama denganku. Sudah kuduga ini bukan sekadar santet tapi anak ini dikendalikan oleh Pejuang NED. Kira-kira siapa?” batin Orion berwajah serius.


“Kenapa menghilang?” tanya Hendrik tak percaya dengan barusan yang ia lihat.


“Sepertinya ini bukan santet yang seperti kita pikirkan. Saya akan menyelidikinya hari ini, secepatnya,” jawab Orion.


Sesaat tatapan tajam mengarah padanya. Secara tidak langsung, seseorang dari belakang menatapnya dengan hawa membunuh. Orion bergidik lantas berhenti ketika ia hendak melangkah pergi.


“Masalah tidak ada habisnya. Kapan lagi darah ini terus menguji kesabaranku?” gumam Orion dengan suara yang amat lirih.


Ia kemudian melangkah pergi seraya berpamitan kembali dan meminta ijin untuk berkeliling ke sekitar rumah mereka. Agar dapat menemukan suatu petunjuk.


Juga seseorang yang barusan memberinya tatapan serta hawa membunuh. Orion berpikir seseorang inilah yang melakukan sesuatu terhadap putri Hendrik, Ayu.