
Dapur yang menjadi gelap tidak terlalu berpengaruh, terutama saat sinar rembulan dapat masuk melalui celah jendela. Tetapi, mengingat kekuatan Jhon adalah bayangan, maka mungkin jika dipancing dengan membuat bayangan itu sendiri, Jhon akan muncul?
Orion menggunakan kekuatan apinya, membuat bayangan di setiap benda jadi semakin memanjang. Ia tampak sangat serius melihat setiap benda di sekelilingnya.
“Apa yang kamu lakukan? Bukankah katamu Jhon itu punya kekuatan bayangan yang mampu menghapuskan kekuatan?” tanya Meera.
“Aku memancingnya. Karena di sini gelap, mungkin sulit bagi Jhon menampakkan diri. Jadi aku harap dengan begini dia akan muncul,” pikir Orion.
Dari sudut ke sudut lain di bagian dapur sudah ia periksa namun hasilnya tetap nihil. Ketika itu, mereka berkumpul kembali setelah lelah mencari.
“Di sini tidak ada. Apa dia pergi dari sini?”
Mereka memikirkan hal yang sama. Sebab di semua bayangan benda tidak bereaksi aneh dan hanya sewajarnya saja. Dan ada satu benda yang lupa mereka periksa saat ini.
Suara gelembung air terdengar dari atas. Mereka semua menengadah, melihat langit-langit dapur. Orangnya muncul dari bayangan lampu yang sudah rusak.
“Jangan gunakan kekuatan!”
Orion berteriak pada Meera yang hendak mengeluarkan kekuatannya. Begitu pula dengannya sendiri, ia memadamkan api yang berada di telapak tangan. Lalu bersikap waspada jika orang itu masih bergerak.
“Ternyata benar Jhon,” celetuk Orion.
Jhon, pria bermasker hitam itu keluar dari bayangan lampu pecah. Setelah ia jatuh ke lantai, bayangan yang entah kenapa terlihat seperti tentakel hitam bergerak, perlahan mulai berubah menjadi api yang membara.
Sekeliling tubuh Jhon terdapat api yang begitu besar. Orion nampak terkejut akan hal tersebut, segera Meera menyadarkan Orion untuk menjaga jarak dari Jhon.
“Orang ini bukan tipe kekuatan yang bisa kau lawan,” kata Meera sambil menarik lengan Orion ke belakang.
“Apa memang dia sengaja membuat ruangan jadi gelap karena ingin menggunakan kekuatan api?” pikir Orion dengan wajah cemas.
“Itu masih belum pasti. Karena Jhon, orang ini sulit dicari seluk-beluknya, maka kita belum tahu siapa dia sebenarnya dan kekuatan apa yang dia miliki sebenarnya.”
“Itu benar.”
“Tapi kalaupun kekuatannya benar-benar bayangan, maka apa yang harus kita lakukan?” Di satu sisi pun, Meera mulai kelihatan bingung saat berhadapan dengan kekuatan yang bisa menghapus kekuatan orang lain.
“Kita gunakan saja kekuatan fisik, Nona Meera.” Asisten Meera mengajukan pendapat.
“Kita lihat saja nanti.” Kemudian Meera mengangguk.
Sedari tadi Jhon terus berdiam diri. Bahkan saat lawan di hadapannya sedang asik berbincang, ia benar-benar tak melancarkan serangan. Juga tidak pernah bicara sekalipun. Orang yang benar-benar misterius.
Meera mengeluarkan kekuatan air. Air yang bergerak mengambang di atas udara itu berputar mengelilingi Jhon yang tengah berdiam diri itu. Ketika air itu mulai melilit, seketika lenyap dan berubah menjadi uap.
“Karena apinya terlalu besar. Maka ini akan sulit,” kata Meera, dan tetap ia mengendalikan airnya lagi.
“Nona Meera, air tidak kalah dengan api. Begitu juga dengan sebaliknya. Siapa pun yang mengeluarkan kekuatan yang lebih besar, maka dialah yang menang,” sahut Orion.
Srakkk!!! Setelah api yang cukup besar di tubuh Jhon, ia justru juga menggunakan kekuatan lain secara bersamaan. Rantai berwarna keemasan muncul dan mengincar Orion seorang diri.
“Dia mengincarku!?”
“Itu kekuatan Ketua Dharmawangsa. Dia bukan Jhon,” gumam Nona Meera seraya menggigit kuku jari dengan raut wajah gelisah.
Orion melangkah mundur, lalu membuat api membakar rantai emas yang kemudian lenyap tanpa sisa. Tiada jejak dari semua kekuatan Jhon, seolah-olah Jhon tak benar-benar menggunakannya.
Karena Orion akan diincar, ia pun berlari ke arah ruang tengah. Sesaat ia menoleh ke belakang dan melihat Jhon yang mengejar dirinya.
“Orion!” panggil Meera lantas mengejarnya.
Di ruang tengah, lampu masih menyala dan tentunya sangat terang. Membuat Jhon menggantikan kekuatan api berubah menjadi bayangan yang pekat di bawah kedua kakinya. Sekilas terlihat, bayangan Jhon sendiri bergerak layaknya api berkobar-kobar.
“Sekarang saatnya ...” gumam Orion.
Ia berbalik arah, dan mengincar lampu ruang tengah untuk dihancurkan. Pecahan lampu tersebar ke sekitar mereka, ruang tengah menjadi sangat gelap. Dalam waktu singkat, ia memanfaatkan momen ini untuk menyerang.
Buakk!! Tinju berlapis api menyengat panas, memukul mundur Jhon dan sudah dipastikan dengan terdengarnya suara ia terjatuh ke lantai. Namun, Jhon sama sekali tidak mengerang kesakitan.
“Apa hanya aku saja yang berharap dia akan bangkit?” gumam Orion.
“Orion! Kamu di mana?! Katakan sesuatu!” panggil Meera. Yang sebenarnya ia berada dekat dengan Orion saat ini.
Semula api padam kembali menyala di tangan kanannya, Orion menunjukkan wajahnya seraya menarik lengan Meera agar tahu posisinya.
“Ternyata kamu di sini. Hei, apa yang terjadi?” Meera terahlihkan dengan suara-suara yang sebelum ini ia dengar.
“Maafkan aku, aku memecahkan lampu barusan.”
Api Orion kian membesar, ia melangkah ke depan dan mencari keberadaan Jhon yang tiba-tiba saja menghilang lagi.
“Dia menghilang,” ucap Orion tidak percaya. Ia berbalik badan dan sekali lagi mencari keberadaan Jhon.
“Yah, sudah kuduga begitu. Bayangan itu kalau dalam kegelapan juga pastinya seperti tenggelam dalam sampah,” sahut Meera.
“Nona Meera, saya melihatnya.”
Mereka berdua terkejut dengan pernyataan Asisten Meera barusan. Ia berkata ia melihatnya, melihat Jhon yang berada dekat dengan mereka. Alasan mengapa ia bisa melihat dalam keadaan gelap adalah karena matanya. Kedua mata asisten Meera dapat digunakan untuk melihat banyak hal dalam keadaan gelap.
Matanya bersinar terang dengan kilauan putih, sesaat ia berkedip dan memastikan posisi Jhon. Namun di satu sisi lain, Meera pun merasakan hawa keberadaannya sesaat.
“Orang itu ...sebenarnya mau apa?” gumam Meera dan ia mulai menggunakan air hingga menggenangi kedua kaki mereka sedikit.
Meera menggunakannya agar dapat memastikan keberadaan Jhon. Ketika itu, Orion dengan sengaja membesarkan api pada tangan kanannya. Hingga api menyulut setinggi tubuhnya sendiri.
“Sekarang! Dia berlari ke arah anak itu!” pekik si asisten dan menunjuk depan Orion.
Dalam api yang begitu bersinar, bayangan bergeliat di bawah dan mulai menunjukkan wujud seorang pria. Terlihat dalam waktu yang cukup singkat, Orion tak sempat bereaksi, dan hanya melangkah mundur secara ia terkejut karena Jhon yang muncul.
Crat! Ada angin apa ini. Di satu sisi yang lain, Meera justru memotong jari telunjuk Orion.
“Nona Meera?”
Tidak hanya Orion bahkan asisten Meera saja terkejut dengan tindakan Meera saat ini juga.
“Cepat hajar dia selagi aku menjadi penghalang di antara mereka!” pekik Meera memberi perintah pada asistennya.
Asisten Meera bergerak cepat. Meninju wajah Jhon dengan knuckle besi, hingga tubuh Jhon sempoyongan.