
Kedatangan Gista secara tak terduga, membuat Caraka terkejut terutama ketika ia menerima serangan langsung dari belakang.
“Apa yang kau lakukan di sini? Sepertinya kau berencana untuk melakukan hal buruk pada Orion, ya?”
Es menyerupai tombak besar itu menusuk tubuhnya, darah yang mengalir keluar pun tak kunjung berhenti. Kedua kaki Caraka sudah lemas tak bertenaga hingga akhirnya ia pun terduduk di lantai.
Caraka menoleh ke samping, tepat di mana Gista berada saat ini.
Berkata dengan senyum masam tersungging, “Terlalu lama kau menjemput anakmu itu. Hampir saja aku membedah tubuhnya.”
Sesaat suasana menjadi hening seketika. Tak ada satu pun orang berbicara setelah Caraka.
“Hei? Tidak ada yang mengajak mengobrol denganku lagi? Gista Arutala, sebenarnya kenapa kau melakukan ini padaku?”
Masih sempat-sempatnya Caraka berbicara seperti biasa. Luka itu sama sekali bukan masalah baginya, lantaran dengan mudahnya ia melelehkan es tersebut menggunakan kekuatan api. Perlahan es mencair, luka yang cukup besar itu seharusnya cukup untuk membuatnya mati.
Namun ...
“Seranganmu tak berguna. Harusnya kau langsung mengincar kepalaku saja. Kau pasti menyesal sekarang,” ucap Caraka bernada sombong.
Caraka itu ilmuwan, sudah pasti sejak dulu ia bangkit, ia meneliti tubuhnya sendiri bahkan sampai membongkar pasang. Buktinya selain Caraka sendiri, ada di sampingnya yakni Dr. Eka. Bisa dibilang Dr. Eka adalah tikus percobaan yang berhasil.
Seolah membuat tubuh mereka abadi, berapa kali pun mereka diserang pasti anggota tubuhnya selalu pulih.
“Dia persis seperti Dr. Eka,” gumam Orion.
“Itu jelas. Karena dalangnya adalah Adi Caraka, semua hal gila ini terjadi. Entah apa yang sebenarnya dia lakukan pada tubuh mereka sendiri, tapi yang pasti itu ada hubungannya dengan darah langka,” celetuk Gista.
Crak! Crak!
Kali ini beberapa tombak yang lebih tipis dan panjang mengelilingi tubuh Caraka, ada satu-dua tombak yang menusuk tubuhnya lagi. Gista membuat Caraka terkurung dalam penjara es.
“Lalu, Caraka, aku tidak ada niat membunuhmu karena masih ada yang perlu kita bicarakan,” ucap Gista seraya mengayunkan tangan ke depan.
Jrash! Salah satu tombak es kembali muncul dan sepenuhnya mengunci pergerakan Caraka di sana.
“Pertama, apa yang sebenarnya kau rencanakan pada Orion?” tanya Gista yang bersiap akan menyerangnya lagi.
Suara yang terkesan datar. Sorot mata yang menukik tajam, lalu hawa keberadaan yang cukup membuat Caraka terintimidasi saat ini.
Caraka sama sekali tak berkutik di hadapannya. Bekas luka dari serangan Gista sebelumnya pun masih terbuka lebar namun pendarahannya terhenti.
“Aku takkan menjawab apa pun darimu. Tapi, ini sama sekali tidak berpengaruh padaku!”
Caraka berteriak keras, dengan api berkobar di sekujur tubuhnya. Api itu menggerus, melelehkan setiap tombak es milik Gista. Tetapi, Gista sama sekali tidak menunjukkan reaksi terkejut melainkan ia terlihat biasa-biasa saja.
Gista sekali lagi mengayunkan tangan kanan ke atas, membuat kurungan yang lebih dari sekadar tombak. Melainkan dengan kristal es yang sepenuhnya mengurung Caraka hidup-hidup.
“Rupanya kau sama sekali tidak mau menjawab pertanyaanku. Tapi apakah dengan begini, kau akan mengerti? Sekarang katakanlah, Caraka.”
Kristal es membentuk kurungan yang seutuhnya mengurung tubuh Caraka. Tak hanya itu, tubuh Caraka yang berlubang pun ditutup dengan kekuatan es Gista. Hawa panas tergantikan dengan hawa dingin menyeruak ke seluruh ruangan saat ini.
Endaru dan Orion hanya terdiam dengan napas dingin seraya melihat Caraka tanpa bicara apa pun. Mereka pula hanya mendengar perbincangan di antara Caraka dengan Gista.
“Yang aku inginkan hanyalah Api Abadi itu!”
“Oh, lalu, bagaimana dengan Chameleon? Sepertinya aku merasa familiar denganmu, Caraka. Jadi misalkan kau adalah rekannya, maka itu artinya kecurigaanku terhadap dirimu itu adalah fakta,” tutur Gista seraya menyilangkan kedua lengan ke depan dada.
“Heh, aku tak mau lagi berurusan dengannya!”
“Hm, jadi kau tak mau mengaku bahwa kau pernah menculik banyak anak-anak baik yang masih hidup ataupun mengalami NED?” Gista terus mendesaknya.
“Kau punya bukti apa? Tidak ada, 'kan!” pekik Caraka semakin sombong ia menghadapinya.
Itu benar. Tak ada bukti yang mengarah langsung pada Caraka mengenai kejadian akhir-akhir ini. Penculikan anak-anak yang kini masih mengambang.
“Hah, kalau begitu aku akan bertanya apa tujuanmu dengan Api Abadi? Apakah karena itu kau selalu membawa Pejuang NED berkekuatan api, dengan tujuan agar kau bisa mendapatkan Api Abadi?” tanya Gista seraya menghela napas.
“Ya, itu saja. Aku hanya ingin menemukan Api Abadi itu. Dan yang barusan kau katakan itu benar. Kenapa? Apa itu salah? Seingatku membudidayakan anak-anak ...”
“Berkata begitu setelah menemukan darah langka untuk membuat tubuhmu abadi?” sahut Gista membuat Caraka tersentak.
Caraka mungkin tak menyangka bahwa arah pembicaraan yang berbeda pun akan tetap menuju ke arah yang sama, yakni tentang darah langka dan yang berhubungan dengan Chameleon.
“Tidak! Aku tidak memberikan darah itu! Tidak, tidak! Itu hanya ...” Caraka mulai panik.
“Baik, itu sudah cukup. Tak kusangka kau akan mudah terpancing seperti ini,” tutur Gista.
“Aku bilang tidak!” teriak Caraka semakin panik.
“Kau mata-mata, pengkhianat dalam Organisasi. Rekan Chameleon di masa lalu. Yang bertujuan mencari Api Abadi, dan juga darah langka untuk hal pribadi sekaligus keuntungan bagi Chameleon dengan menculik anak-anak,” tukas Gista memperjelas identitas Caraka.
Caraka mengerutkan kening, dirinya tak lagi dapat berkutik. Sepenuhnya bungkam lantas semua terungkap hanya dalam beberapa waktu saja.
“Tindak-tandukmu sudah kelihatan semenjak kau datang dan masuk ke organisasi. Tapi semua orang tidak mencurigai dirimu, yah, jujur itu membuatku kecewa,” ucap Gista.
Identitas Adi Caraka sepenuhnya terungkap. Melihat Caraka tak lagi mengelak, sudah jelas itu adalah kebenarannya. Orion dan Endaru saling bertukar tatap satu sama lain ketika melihat reaksi Caraka seperti itu.
“Orion, apa kau baik-baik saja?” tanya Gista kepadanya.
“Ya, aku baik-baik saja. Tapi, ternyata Nona Gista sudah tahu siapa dia?” pikir Orion.
Gista menggelengkan kepala dan menjawab, “Tidak. Yang aku tahu dia hanyalah mata-mata dari Chameleon.”
“Eh?” Orion terkejut.
“Tujuan Api Abadi atau apalah itu, aku benar-benar tidak tahu. Apalagi sampai berpikir bahwa dia adalah rekan Chameleon,” sahut Gista.
“Bukankah Nona Gista pernah bertarung 30 tahun lalu dengannya?”
“Ya, itu benar. Tapi aku tidak melihat wajah Caraka di sana. Jadi awalnya kupikir dia hanyalah mata-mata. Tapi jika dia bisa melakukan apa pun terhadap darah langka serta terlibat dalam kejadian penculikan itu, aku seketika berubah pikiran,” kata Gista.
“Sudah dipastikan, pria ini sudah pasti rekan Chameleon yang terbawah,” sambungnya.