ORION

ORION
Mental yang Terluka



Setelah itu, kabut menghilang. Dan sosok yang menunjukkan rupa Orion telah berubah ke wujud aslinya, Ramon.


“Eh, apa maksudmu, Pak?” tanya Ramon bingung, namun dengan wajah yang menahan amarah terhadap Endaru.


“Pria ini Pahlawan Kota, Endaru. Lalu dia adalah anak magang bernama Ramon.”


“Apa? Dia itu anak magang? Kupikir hanya dia,” ketus Endaru menunjuk Runo.


“Kenapa malah kau yang marah-marah di sini. Seharusnya kami yang marah padamu karena kau tiba-tiba menghilang dan tidak segera berkumpul ke titik pertemuan yang baru. Bodoh!” sahut Mahanta.


“Aku sendiri tidak ingin seperti ini! Orion—!”


“Jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain. Orion pergi dengan bertaruh nyawanya sendiri. Sejak awal dia datang pun, dia sudah tahu di mana posisinya karena diincar oleh Chameleon.”


“Cih!” Endaru sepenuhnya dibuat bungkam. Endaru tentunya sangat kesal karena ujung-ujungnya tidak bisa membuat Orion datang ke pihak mereka lagi. Terlebih Orion ke pihak musuh pun demi memanfaatkan sesuatu yang kelak berguna bagi mereka semua.


Informasi. Hanya itu.


“Aku akan menghubungi Dr. Eka untuk bersiap. Bocah magang dan wanita itu terluka bukan?” kata Endaru lantas pergi untuk menjauh sebentar guna menghubungi kontak Dr. Eka.


Sesaat ketika Endaru berbalik badan, pakaian berlengan panjangnya sedikit terhempas oleh semilir angin. Mahanta baru saja menyadari bahwa Endaru terluka.


“Jadi karena tangan itu kau terlambat datang?”


“Aku datang kemari karena kebetulan mendengar bumi bergetar karena kalian semua,” jawabnya dengan ketus.


Karena tidak ada kendaraan yang akan lewat sementara jalan raya penuh dengan kerusakan. Banyaknya petugas keamanan telah menangani, sementara mereka harus keluar dari sini.


“Dengan cara apa? Bagaimana?”


“Entahlah, aku sendiri bingung.”


Endaru di sini juga sangat kesulitan karena beberapa dari mereka tak sadarkan diri. Namun tak lama kemudian, Gista akhirnya sadar.


“Sepertinya kalian ...kerepotan.”


“Tentu saja lah!” pekik Endaru.


“Tidak, Nona Gista. Saya akan memapah Anda.” Mahanta mengulurkan tangannya.


“Tidak perlu. Kau hanya perlu membawa Ketua Meera.”


“Baiklah kalau begitu.”


Ramon membopong Runo sementara Mahanta menggendong Ketua Meera yang benar-benar tak sadarkan diri, terlihat luka di sekujur tubuhnya yang seolah akan hancur jika Mahanta menyentuhnya sedikit.


“Kita pergi ke penginapan?”


“Ya, dokter gila itu menunggu kalian untuk diobati. Tenang saja, dia tidak akan berkhianat,” tukas Endaru.


Mereka harus pergi secara mengendap-endap, jika tidak maka polisi akan menemukan mereka. Itu akan membuat urusannya semakin sulit, dan akan menghambat rencana mereka ke depannya.


***


Sesampainya di penginapan.


“Kalian semua babak belur begitu.” Dr. Eka sudah menunggu di depan pintu, terlihat seperti menghadang mereka untuk masuk.


“Jangan memperlambatnya, ada satu orang yang terluka tidak hanya dari segi fisik saja,” ucap Mahanta seraya menunjukkan Ketua Meera.


“Ada sesuatu terjadi padanya? Kudengar dia amnesia.”


“Kurang lebih begitu. Dia terlihat seperti syok, dia seperti tidak melihat apa yang harusnya dia lihat di depannya tapi seperti melihat ke ...entahlah,” kata Endaru meragukan.


Sejujurnya saat Endaru menyelamatkan Ketua Meera dari hujan panah, pun merasa kebingungan. Ia sendiri bertanya-tanya apa yang sebenarnya dilihat oleh Ketua Meera ketika panah mulai berdatangan ke arahnya.


Saat itu Endaru menceritakan sedikit yang ia ketahui. Lantas Dr. Eka tersenyum simpul, ia mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


“Seperti melihat yang bukan ada di depannya. Seperti melihat ke belakang? Kondisi wanita ini jauh lebih buruk mungkin karena ingatannya kembali di saat yang tidak tepat. Otaknya terguncang.”


Gista menyerahkan sepenuhnya soal kondisi Ketua Meera pada Dr. Eka. Sementara yang lainnya akan sementara dirawat oleh orang yang bisa melakukannya sekarang.


“Meera Raiya, apa kau mendengarku? Kau harus mendengarkanku jika masih ingin hidup. Hei!”


Sepertinya pengobatan manual yang dilakukan oleh Dr. Eka sama sekali tak berguna. Dr. Eka tidak begitu ahli dalam menangani pasien yang memiliki syok mental.


Terlebih kekuatannya tidak berguna di sini untuk Ketua Meera. Sehingga ia bingung harus melakukan apa. Lantas setelah beberapa saat, ia teringat akan sesuatu.


“Oh, iya. Dokter yang saat itu aku temui adalah spesialis dalam hal ini bukan?”


Brak!


Dr. Eka mendobrak pintu dengan kasar. Dengan wajah serius ia berpamitan pergi sebentar.


“Aku akan pergi sebentar. Kalian semua tunggulah aku di sini,” katanya.


“Hei, kau mau melarikan diri?!” teriak Endaru.


“Aku kesulitan menangani Meera Raiya. Jadi aku akan memanggil seseorang untuk datang membantu!”


Dr. Eka telah pergi.


Dan sekarang, tersisa mereka yang sama-sama mengkhawatirkan Ketua Meera.


“Dia pergi.”


“Kita semua tidak bisa melakukan sesuatu terhadap Ketua Meera. Percaya saja pada Dokter itu,” ucap Gista yang memasrahkan semuanya pada Dr. Eka.


“Hei! Dia itu musuh tahu!” teriak Endaru.


“Bukankah kau tahu kenapa dia ada di sini? Karena Orion bukan?” sahut Gista yang langsung membuat Endaru terdiam.


***


Di saat yang sama, arah sebaliknya. Tempat Orion berada saat ini.


“Hei, ini apa? Peta ...kau mendapatkannya dari mana?”


“Candy.”


“Hm, sepertinya memang mustahil mengajakmu berbicara ya.”


Orion menyerah karena memang tahu bahwa Wama tidak bisa diajak bicara sama seperti orang biasa pada umumnya. Apa pun yang Orion tanyakan pada Wama, pasti Wama akan menjawabnya dengan menyebut permen.


Sementara ia kebingungan dengan peta yang baru saja diberikan oleh Wama. Peta yang menunjuk tanda dan sebuah rumah, entah milik siapa tapi Wama justru memberikannya pada Orion dan bukannya Ken.


“Wama, cobalah mengangguk jika apa yang aku katakan ini benar dan jika salah maka gelengkan kepalamu. Apa peta ini mengarah ke rumah Ken?”


Wama justru menggelengkan kepala. Yang berarti ini bukanlah rumah Ken ataupun rekan lainnya.


“Temanmu yang tidak terhubung dengan Dunia NED?”


Wama kembali menggelengkan kepala.


“Lalu, Chameleon?”


“Candy!!” jawabnya dengan semangat lalu menganggukkan kepala berulang kali. Sesekali ia menghembuskan napasnya yang seolah berasap itu.


“Begitu rupanya. Tidak aku sangka.”


***


Suatu tempat lain, area di kota Cal-Forn.


“Nyonya! Anda baru saja sampai, ya ampun! Anda sudah sangat terlambat, cepat kemari!”


Berbagai alat-alat seperti pencahayaan dan lain-lain yang sering digunakan untuk syuting. Lalu sutradara yang sudah standby di tempat dengan pengeras suara di tangan kanannya.


Kamera yang sesaat lagi akan siap, tersisa tokoh utama yang baru saja datang dengan terlambat. Meski begitu wanita yang sangat cantik itu kini tetap bersikap santai dengan tetap menyunggingkan senyum.


“Ya, ya. Maafkan aku.”


“Ya ampun! Cepat! Cepat! Semua orang ingin melihatmu!” Perias wanita mendorongnya masuk ke ruangan rias.


“Sudahlah! Jangan banyak omong, tokoh utama!”


Bruk!


Perias itu akhirnya dapat membuat wanita itu duduk lalu segera meriasnya sebagai tokoh utama; hantu.


“Ngomong-ngomong aku sebelumnya melihat ada pertarungan, apakah ada syuting lainnya?”


“Entahlah. Mungkin karena acara lainnya. Kau tidak ada urusannya.”


***


“Kita semua tidak bisa melakukan sesuatu terhadap Ketua Meera. Percaya saja pada Dokter itu,” ucap Gista yang memasrahkan semuanya pada Dr. Eka.


“Hei! Dia itu musuh tahu!” teriak Endaru.


“Bukankah kau tahu kenapa dia ada di sini? Karena Orion bukan?” sahut Gista yang langsung membuat Endaru terdiam.


“Sudahlah, kalian berdua. Tidak ada gunanya bertengkar,” ucap Ketua Irawan yang baru sadarkan diri.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Gista.


“Bisa dibilang lebih baik darimu, Ketua Arutala. Saya malu karena sampai akhir, Anda lah yang membantu saya dengan pertahanan.”


“Tidak perlu mengingat hal itu. Kita semua setara, tidak ada yang lebih tinggi maupun rendah kecuali bagaimana cara kita memandangnya,” ujar Gista.


Pertarungan itu berakhir dengan cukup mengenaskan bahkan sampai mengorbankan jalan perkotaan S-Frans. Tiada seorang pun akan selamat apabila banyak orang lewat saat itu, tapi sayangnya orang-orang itu ternyata boneka Chameleon.


“Baiklah, karena yang tersisa hanya Ketua Meera saja. Aku harap kalian mau mengerti dan memahami apa yang aku katakan nantinya,” kata Gista.


“Anda akan membuat laporan mengenai Chameleon?”


“Ya.”


Mahanta menganggukkan kepala. Ramon, Runo dan lainnya kecuali Ketua Meera yang masih dalam keadaan syok serta Orion yang tidak berada di sini, semuanya sudah sadarkan diri dan bersiap mendengarkan perkataan Gista.


“Dengar, Chameleon memiliki kekuatan lain selain lingkaran penghisap jiwa itu. Aku dan Ketua Irawan sempat terkena lingkaran itu tapi beruntung kami selamat karena kekuatan Runo yang bersalju.”


“Wah, aku? Syukurlah saya membantu.”


“Ya. Namun, selain itu, ternyata ia mengevolusi kekuatannya yang menjadikannya seolah ia setengah dewa.”


Mendengar pernyataan Gista yang tidak masuk akal itu, lantas semuanya tersentak kaget. Bahkan Ketua Irawan yang bertarung bersama Gista saja tidak mengetahui hal tersebut.


“Apa maksud Anda mengenai setengah dewa?”


“Pada akhirnya, kita akan kembali ke posisi 0. Semua manusia akan mati dan tidak akan kembali hidup. Namun jika ada kemungkinan hidup kembali, maka biasanya tidak akan pernah memiliki kekuatan aneh seperti yang kita semua miliki. Apa aku benar?”


Semuanya menggangguk, merasa setuju dengan perkataan Gista. Pernyataan; kembali ke 0.


“Jika ini ada, maka jawabannya hanya satu. Di langit, dewa, tuhan atau apa pun itu sebutannya,” ungkap Gista sembari menunjuk ke atas.


“Dan Chameleon melakukan hal yang sama. Itulah mengapa aku menganggapnya sebagai setengah dewa. Dia mengendalikan hidup dan mati dengan kekuatan anehnya itu, lalu membuat mereka mengeluarkan kekuatan supernatural yang sama,” lanjutnya.


“Nona Gista, jika benar apa yang Anda katakan, bukankah itu sedikit mustahil? Walaupun benar tapi saya yakin itu tidak sepenuhnya mirip dengan kebangkitan kita bukan?” pikir Mahanta.


“Benar. Kamu tahu hal itu, Mahanta. Tidak ada manusia yang bersikap layaknya dewa. Manusia tetaplah manusia sekalipun memiliki kekuatan seperti dia,” ucap Gista.


Ketua Irawan mengubah ekspresinya menjadi lebih serius, begitu pula Endaru. Serta Ramon lalu Runo yang ketakutan seperti biasa.


“Yang aku lihat, dia membangkitkan mereka lalu membuatnya bergerak sesuai perintah. Sudah jelas mereka yang dibangkitkan oleh Chameleon akan sepenuhnya menjadi boneka,” tutur Gista memperjelas akan hal tersebut.


“Begitu, pantas saja ada banyak orang gila yang memiliki kekuatan itu.” Ketua Irawan menanggapi.


“Lalu, Chameleon mengambil sesuatu bagian dari tubuh kita semua. Tapi aku tidak tahu untuk apa itu.”


“Saya juga mendengarnya, Ketua Arutala. Dan Mirana ...nama itu tidak asing bagi kita semua benar?” sahut Ketua Irawan.


“Ya. Ketua Mirana yang menempati posisi ke-7. Ada yang salah?” tanya Mahanta bingung.


“Jika tidak salah ingat, Chameleon mengutarakan pada bawahannya untuk segera membawa setiap sesuatu bagian dari tubuh kita pada Mirana,” ungkap Gista dengan mata terpejam, ia berusaha mengingat hal yang sempat terlupakan.


“Jangan bilang dia pengkhianat juga? Setelah Adi Caraka?” duga Endaru.


“Ya, tidak ada hal lain selain itu yang bisa kita pikirkan tentangnya.”


Satu per satu pengkhianat muncul, benar. Ini di luar dugaan mereka semua dan sudah terlambat untuk mengetahuinya.


“Cih, kenapa mereka malah mengikuti orang psikopat sepertinya sih?” gerutu Endaru.


“Setiap orang memiliki tujuan masing-masing. Tak seperti pahlawan bodoh yang bertindak seenaknya sendiri. Bahkan sampai merepotkan banyak orang,” sindir Mahanta.


“Apa? Kau mengataiku barusan ya? Hah!”


“Tenanglah kalian berdua. Tidak bisa tenang sedikit ya?” sahut Ketua Irawan.


“Aduh,” keluh Gista yang mengaduh kesakitan di bagian perutnya. Mahanta yang sigap pun lantas membuka kotak p3k dengan kecemasan berlebih.


“Nona Gista!”


“Apa yang kamu lakukan? Hentikan itu memalukan. Dan ini sudah dibalut dengan baik, hanya sedikit sakit saja,” ucap Gista.


“Ba-baik.” Segera Mahanta menutup kembali kotak p3k itu.


“Ketua Mirana sudah menjadi pengkhianat. Kekuatan Chameleon semakin berevolusi hingga ke tahap yang tak pernah kita duga. Kita kehilangan Orion dan Ketua Meera saat ini. Pikirkan misi ini lebih serius dari sebelumnya!”


“Baik!”


Semua anggota tentu tahu bahwa misi ini telah mereka jalani dengan serius. Hidup dan mati dipertaruhkan sebagaimana mereka adalah Pejuang NED.


“Awal dari pertarungan kita melawannya hanyalah pembuka bagi Chameleon. Dan bagi kita adalah suatu penentuan demi membuka celah besar atau kesenjangan antara kita dengan mereka. Ini masih belum berakhir,” tutur Gista.


“Ini semua masih belum berakhir! Karena kita akan bergerak setelah unit kedua melaksanakan tugas mereka. Esok hari, mereka akan datang, sampai saat itu kalian semua berjaga!” tutupnya.


“Baik, dimengerti!”


“Saya mengerti, Nona Gista.”


“Ha, kita akan kedatangan orang yang paling mengesalkan. Semoga saja aku tidak bertemu dengannya,” gerutu Endaru.


Unit kedua, adalah kelompok yang akan dipimpin oleh Ketua Dharmawangsa. Tapi mereka masih memiliki waktu dalam sehari dari sekarang.


“Untuk selanjutnya, akan aku jelaskan setelah mereka datang.”


Tok! Tok!


Tiba-tiba jendela terketuk pelan. Ada Dr. Eka yang membawa seseorang dengan seekor burung api. Lekas Gista membuka jendelanya dan membiarkan burung itu masuk ke dalam.


“Burung apa ini?”


“Pesan dari Orion, 'kah?”


“Ngomong-ngomong sepertinya kalian membicarakan hal yang sangat serius. Boleh aku bergabung?”


Dr. Eka mendadak ingin bergabung dengan pembicaraan mereka, dipikir akan diperbolehkan begitu saja?


“Hei, seenaknya saja kau bicara!” teriak Mahanta.


“Ada apa? Aku 'kan bukan musuh lagi?” ujar Dr. Eka.


“Oh ya! Kita tidak akan tahu sebelum jasadmu yang memberitahukannya!”


“Apa?”


“Kalian berdua diamlah. Dr. Eka yang sepertinya ingin membicarakan sesuatu. Benar?”


Dr. Eka lantas tersenyum, lalu ia masuk bersama seseorang yang berjubah putih itu. Orang tersebut lantas memasuki ruangan usai Dr. Eka menjelaskan beberapa hal terkait dengan masalah Ketua Meera, sementara dirinya akan bergabung dengan Gista dkk tuk membicarakan sesuatu.


“Aku tidak akan lama. Lagi pula, aku yakin ini cukup penting bagi kalian,” pikir Dr. Eka. Sejenak menghela napas sebentar, sesaat sebelum kembali berbicara.


“Ini tentang Chameleon.”