ORION

ORION
Informasi Orion Telah Dijual



Dalam kondisi tidak mempunyai ponsel, serta ia tak tahu pergi ke mana Mahanta sekarang. Orion pun memutuskan untuk kembali ke kediaman Arutala. Di sana, sepi seperti biasa.


Tidak ada tanda-tanda kehadiran seorang pun termasuk Gista apalagi Mahanta. Rumah yang ditinggal dalam kondisi sepi begini, meski ada beberapa tukang kebun dan pembantu juga masih terasa merinding.


“Kira-kira Mahanta pergi ke mana? Padahal aku ingin mengajaknya ke suatu tempat. Ataukah dia benar-benar sangat sibuk hari ini?” pikirnya seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.


Orion sudah berkeliling di luar maupun dalam rumah, dan rasanya sangat membosankan jika waktu ini digunakan untuk bersantai. Sedangkan pikirannya melayang ke mana-mana.


Suatu ketika, ia yang tengah berdiri di halaman depan. Seorang pembantu pria datang menghampiri Orion.


“Nak, kamu pasti sedang mencari Tuan Mahanta, ya? Sekarang Tuan Mahanta sedang di panti asuhan. Tempatnya di seberang jalan keluar dari perumahan ini.”


“Oh, terima kasih.”


“Kalau begitu, mau aku antar?”


“Tidak perlu,” ucap Orion sembari mengangkat telapak tangannya.


Ia lantas pergi ke tempat di mana Mahanta berada saat ini. Setelah bersusah payah ia menyebrang di jalan raya yang ramai, akhirnya sampai juga ke sana.


Panti asuhan, tempat di mana semua anak-anak yatim piatu berada. Terlihat di balik pagar yang pendek, Mahanta sedang asik bermain dengan anak-anak di taman kecil.


Suara mereka dipenuhi aura kebahagiaan. Sesaat cahaya bersinar, menerangi diri mereka. Orion merasa kagum terhadap Mahanta.


“Jadi karena itu dia terburu-buru?”


Mahanta sangat suka dengan anak-anak. Wajahnya yang bahagia pun terlihat sangat jelas, tatapan ramah itu ditunjukkan pada anak-anak. Sama seperti ketika Mahanta menatap Orion pertama kalinya.


Meski agaknya sombong dengan tubuh gagah, Mahanta benar-benar mempunyai sikap yang lembut dan perhatian pada anak-anak.


“Orion?”


Pandangan Mahanta beralih pada Orion yang berada di luar panti. Segera Mahanta menghampirinya.


“Orion, kau ternyata datang menghampiriku.”


“Ya, aku diberitahu oleh salah satu pembantu di rumah,” tutur Orion.


“Tentu saja, 'kan aku yang memberitahu mereka jika Orion mencari aku. Hehe,” kata Mahanta lalu tertawa lebar.


“Tak aku sangka kalau kau sangat terburu-buru karena ingin mengajak mereka bermain,” ucap Orion.


“Ah, itu. Sebenarnya panti asuhan ini tempat anak-anak yang juga mengalami NED. Dan aku dihubungi oleh perawat di sana, sebab salah satu anak terjebak di bak mandi. Dia nyaris tenggelam,” ujar Mahanta dengan wajah sedih.


“Rupanya begitu. Yah, setiap anak memang suka membuat masalah. Apalagi dengan kekuatan mereka yang ikut bangkit, sulit dikendalikan.”


“Ya, kau benar pak, ah maksudnya Orion. Lalu, kedatanganmu kemari karena apa?” tanya Mahanta.


“Singkat saja. Aku ingin kau membawaku ke rumah informan berada. Aku sudah tahu ada di mana rumahnya berkat seseorang,” ujar Orion.


“Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang saja,” ucap Mahanta menyetujuinya.


“Ya, baiklah.”


Sebelum mereka pergi, Mahanta pamit terlebih dahulu pada perawat sekaligus anak-anak yang di sana. Mereka semua sangat sedih bila pria yang sangat mereka sayangi itu akan pergi. Namun Mahanta berjanji akan kembali.


Setelahnya ia kembali dengan membawa mobilnya.


“Kau ternyata membawa kendaraan pribadi ke sini,” ucap Orion.


“Tentu saja. Perjalanan kemari itu lumayan jauh, apalagi kalau sampai harus keluar perumahan. Dan juga sesekali aku mengajak mereka naik ke mobil,” jelas Mahanta.


“Orion, jangan bilang kau tadi jalan kaki?” pikir Mahanta.


Dan itu benar. Saat ini Orion memalingkan wajah dan tak lagi bicara mengenai hal tersebut.


“Jalan kaki juga sehat, kok. Tidak masalah,” ucap Mahanta.


Kendaraan beroda empat melaju dengan kecepatan sedang. Suasana di dalam terasa sejuk ketika Orion membuka jendela mobil sedikit.


“Ngomong-ngomong Orion. Informan ini apakah bisa dipercaya? Dan untuk apa kau ke sana?” tanya Mahanta.


“Mendengar reaksimu yang biasa saja saat aku bilang ingin bertemu informan, itu artinya Grup Arutala tidak begitu memperdulikan keberadaannya, ya?”


“Iya, benar. Nona Gista bilang, informan itu tidak merugikan banyak pihak. Yah, selama tidak menganggu sih, tidak apa-apa.”


“Kalau begitu aku jadi meragukan dari mana sumber informasi tentangku muncul,” ujar Orion.


“Tentang dirimu? Maksudmu tentang kau sendiri? Informasi soal dirimu dijual?” tanya Mahanta sekilas tak percaya.


“Iya, benar. Aku yang memiliki darah langka, informasi itu dijual dan informan yang sedang kita bicarakan pun ada kemungkinan mengetahuinya dari seseorang yang dulu pernah mengejarku.”


Sesampainya mereka ke tempat yang dituju. Rumah informan, ternyata cukup sederhana. Mungkin bisa dibilang sangat biasa. Tidak terlalu mencolok, menjadikan rumah itu samar-samar tidak pernah diperhatikan.


Namun, setelah mereka masuk, ternyata ada banyak orang yang sedang mampir di sana. Mereka semua tampak sangat biasa.


“Orion, di sini banyak Pejuang NED,” ujar Mahanta memberitahu.


“Wah, ternyata kau tahu. Nona Gista membiarkannya?”


Mahanta menganggukkan kepala. Lantas mereka berdua masuk, dengan Orion yang mengenakan tudung kepala. Dalam hal ini, Mahanta lah yang akan menggantikan Orion berbicara pada seseorang di sana.


“Aku sedang mencari informan, apakah itu kau?” tanya Mahanta pada seorang pria dengan perawakan tua.


“Ya, benar. Ada apa Tuan? Sepertinya Anda ingin membeli informasi dariku. Kira-kira apa yang sedang ingin Anda ketahui?” Pria itu tersenyum.


“Seseorang yang memiliki darah penghubung jiwa dan raga. Yang ada di kota J-Karta ini, apakah ada?” Mahanta kembali bertanya seraya mengetuk meja di depannya.


“Masuklah ke dalam.”


Pria itu justru mengajak Mahanta masuk ke dalam. Orion yang hendak ikut justru menjadi pertanyaan bagi pria itu.


“Tuan, siapakah anak yang ada di belakangmu?”


“Ah, ini ...”


“Oh, saya tahu. Pasti budak pekerja, ya? Baiklah kalau begitu, kalau dia tidak membuat masalah, aku akan mengijinkannya masuk bersama kita.”


Perkataan barusan membuat Orion sedikit tercengang. Budak Pekerja, kerap kali menjadi sebutan di dunia NED, yang dimaksud orang-orang yang dipekerjakan secara paksa. Tentunya pekerjaan mereka lebih tak terbayangkan.


Hak asasi manusia jadi tidak berguna, karena memang dari awal mereka sudah mati.


Dan sekarang, Orion justru dianggap seperti itu.


“Sepertinya sebutan itu menjadi familiar setelah Chameleon datang dan menculik banyak anak. Apakah informan ini komplotannya?” batin Orion.


“Nah, sekarang aku akan memberikan satu informasi mengenai orang itu. Dia masih anak-anak, kebangkitannya juga baru-baru ini terjadi. Anak Api.”


Setelah pria itu menjelaskannya, ia menunjukkan sebuah foto anak kecil. Yang tidak lain adalah Orion.