
“Aku menggunakan sedikit kekuatan agar tidak membuat tubuhku cepat tumbang. Tapi ini cukup tajam,” kata Orion seraya mengangkat sebelah lengannya dan mencoba untuk menggores jari ke bilah pedang itu.
Jarinya terluka hanya karena menyentuh sedikit ujung pada bilah pedang dari api. Darahnya mengalir begitu deras hingga membasahi punggung kaki.
Pandangan yang sempit berubah menjadi luas seolah melihat permukaan bumi. Sesaat, apa yang ia impikan ketika memejamkan mata sebentar?
“Loh? Darahnya tidak mau berhenti,” ucapnya gelisah.
Cara-cara orang dulu, ketika jari terluka maka ia harus menghisapnya lalu meludahkannya. Baru darah akan berhenti mengalir sering berjalannya waktu. Namun tidak dengan Orion, darahnya masih mengalir bahkan setelah ia mencoba menghentikan pendarahan dengan mengikat jarinya dengan kain.
“Duh, rasanya sakit,” keluh Orion.
Percikan api yang tampak berkelap-kelip bagai bintang, mengelilingi sekitar tubuh Orion. Begitu juga dengan bilah pedang dari sedikit kekuatan yang bisa ia gunakan dan kendalikan.
Sedikit tersayat saja sudah melukai jari begitu dalam seolah terpotong. Sekilas mengingatkannya dengan kematian Orion 20 tahun lalu. Kematian tragis dan membuat perasaan Orion semakin tidak enak dan tidak nyaman.
“Ah, sudahlah. Aku cape ngurusin luka begini. Yang penting, ini sudah ku lakukan sesuai yang mereka ajarkan,” ucap Orion bangga dengan kedua bilah pedang yang melekat pada lengannya, lantas tersenyum senang.
Menurut Orion ini berkat ajaran dari Gista dan Mahanta, untuk selalu mengendalikan kekuatan setiap waktu yang ia punya. Tapi sebetulnya, hal itu separuh benar dan separuh salah.
Sebab, Orion berhasil melakukannya karena suatu tekad dari pikirannya. Terlintas, bahwa memperoleh kekuatan tidaklah semudah membalik tangan, melainkan harus memikirkan suatu cara bagaimana cara menggunakan kekuatan itu sendiri.
Karena seiring waktu, dengan suatu cara, suatu teknik mengendalikan serta menggunakan kekuatan adalah bagian dari kuatnya seseorang.
“Tapi itu tidak akan membunuh orang dengan ini, 'kan?”
SRAT! Begitu Orion mengayunkan lengan ke atas, tanpa sadar serangan api secara padat dan mendatar tiba-tiba melesat dan memotong tong sampah jadi dua.
“Wah, kau cukup hebat, nak!” puji seseorang dari belakang Orion.
Orion tersentak karena serangannya dan juga karena seseorang itu. Ia pun menoleh ke belakang dan melihat siapa. Ternyata hanya orang tua dengan tubuh membungkuk sambil memegang tongkat berjalan di tangan kanannya.
Ia melihat Orion dengan senyum tersungging. Orion sangat panik karena ada orang biasa yang mengetahuinya. Orion melangkah mundur dan menjauhi pria tua itu dengan wajah berkeringat dingin.
Tanpa bicara apa-apa, ia berniat akan lari dari situasi membingungkan ini.
“Janganlah takut. Aku pun sama seperti dirimu,” ucapnya sambil melambaikan tangan pada Orion.
Mungkin, mengajaknya berbicara?
“Maaf, ini pasti menakutkan,” kata Orion sambil menyembunyikan kedua tangan di balik punggung.
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa melihatnya. Mari duduk sebentar di kursi dan berbincang?” ujarnya sambil menunjuk kursi panjang di dekat mereka.
Merasa akan baik-baik saja dan tak ada insting yang menyuruhnya pergi, Orion pun menurut akan perkataan pria tua itu.
Mereka berdua pun duduk bersebelahan dan penuh kecanggungan di malam ini.
“Banyak orang seperti kita tapi kebanyakan mereka masih bersembunyi dalam bayang-bayang dunia. Penderitaan yang telah mereka lalui membuatnya ingin membalas dendam.”
Entah ada angin apa ia bercerita begitu. Tapi yang pasti itu menyinggung Pejuang NED di masa kini. Mengalami penderitaan dan kemudian balas dendam dengan kekuatan mereka.
“Darahmu itu hangat. Sekali sentuh saja akan membuat semua orang terlena, semua akan patuh dan bertekuk lutut di hadapanmu,” ucapnya sambil menyeringai.
Orion tersentak mendengarkan. Seraya menggigit bibir bawah dan menatap ke bawah, Orion berusaha menahan diri atas insting yang menyuruhnya untuk melakukan sesuatu pada pria tersebut.
Memang semua orang mengincarnya karena darah ini. Namun, ada beberapa orang mengetahuinya padahal Orion sama sekali tidak mengenal mereka. Itu terlalu mencurigakan.
Termasuk pria ini ...
“Maaf saja, daripada lebih kuat, aku lebih suka bertahan hidup bagaimanapun caranya.”
“Apa bedanya? Sama seperti ambisi. Kalau kamu mempunyai ambisi maka itu akan menjadikanmu kuat. Bertahan hidup, berlatih, bertarung ataupun dengan cara lain, itu semua terdengar sama,” katanya.
“Maaf saja.” Lagi-lagi Orion meminta maaf, lantaran pola pikir seperti itu tidak sesuai dengan kepribadiannya.
“Tanpa ambisi pun, semua orang bisa menjadi kuat. Tetapi, menjadi kuat bukanlah tujuanku,” ujar Orion sambil beranjak dari bangku.
“Lalu, apa tujuanmu yang melatih dirimu seperti tadi? Tidak mungkin kalau kamu mempersiapkan senjata dan serangan maut seperti itu tanpa tujuan, bukan?” Pria itu bertanya.
“Yang saya inginkan hanyalah kematian.”
Ia berbalik badan dan melangkah pergi.
“Tunggu, apa maksudmu?!” Pria itu tidak benar-benar mengerti, sehingga kembali bertanya dengan meninggikan suara.
“Ya, saya ingin mati. Itu saja,” jelas Orion lantas pergi.
***
Di tempat lain, suatu jalan tol di malam hari. Situasi di sana cukup ramai akan banyaknya petugas kepolisan. Mereka menyelidiki suatu kasus yang terjadi di sana.
Di mana ada sebuah truk besar terjatuh, satu mobil sedan hancur dan satu mobil lagi yang telah terpotong menjadi dua bagian telah hangus.
Saat itu, Gista mengendarai mobil dan berhenti di palang pemberhentian di tengah jalan. Ia datang bersama Endaru, Raka serta tunangannya Hery. Mereka semua ikut dalam satu mobil. Dan ada beberapa mobil hitam lainnya yang mengikut, mereka adalah anggota veteran.
“Gista! Apa-apaan ini? Kenapa kita berhenti di sini setelah melakukan perjalanan panjang bahkan sempat mogok di tengah jalan barusan, hei?” Hery mengomel.
“Jangan cerewet, di sini salah satu anggotaku menghilang,” ketus Gista.
Gista menyuruh para anggota lainnya untuk berpencar ke sisi di balik jalan tol ini. Mereka menyebar luas mencari keberadaan Mahanta.
“Hei, apa Orion juga hilang di sini?” tanya Endaru pada Gista dengan canggung.
“Tidak, Orion ada di kota L-Karta. Aku akan segera ke sana tetapi ada hal yang harus aku lakukan dengan mereka.”
Gista kemudian berjalan melewati batas penghalang jalan tersebut, ia menghampiri para petugas untuk membicarakan sesuatu agar insiden ini tidak tersebarluaskan.
“Ah, maaf, Nona. Anda sebaiknya jangan kemari.”
“Biarkan saya yang mengambil alih tugas ini. Kalaupun diperlukan, saya akan menghubungi Presdir sekarang,” tutur Orion.
Mereka saling memandang satu sama lain. Bertanya-tanya siapakah wanita di hadapan mereka sampai berani menyebut Presdir karena masalah yang terjadi di sini.
Dan setelah itu pun, atasan mereka dihubungi oleh seseorang yang berhubungan dengan Presdir. Dengan wajah gelisah dan ragu, tapi setelah beberapa saat mengobrol dengan orang itu, ia kemudian memutuskan untuk undur diri.
“Silahkan, Nona. Saya akan berusaha menekan kejadian ini agar tidak tersebar lebih luas.”