
“Sudah dipastikan, pria ini sudah pasti rekan Chameleon yang terbawah,” sambungnya.
Adi Caraka tak berkutik. Identitasnya terbongkar semudah membalikkan tangan. Hal itu terjadi di ruangan terpisah dari gedung utama rumah sakit besar. Ia terdiam menggigit bibir.
Menggerutu kesal seraya mencaci maki Gista dalam batin. Sekilas ia melirik ke arahnta, dan menatap benci begitu dalam. Gista hanya terdiam sambil memperhatikan seksama.
Tak lagi bicara, membuat Gista semakin yakin bahwa pria yang tengah terkurung dalam kristal es adalah pengkhianat, mata-mata serta rekan musuh Organisasi utama NED, pria yang dikenal sebagai Chameleon.
Kejadian yang akhir-akhir ini terjadi, penculikan terhadap anak-anak baik dari yang masih hidup serta yang kembali bangkit dari kematian. Tujuan Chameleon hanya satu, menemukan Pasokan Darah, darah penghubung jiwa dan raga yang langka.
Namun Caraka memiliki tujuannya sendiri, menemukan Api Abadi bahkan sampai merekrut banyak Pejuang NED berkekuatan api dan membuat kekuatan itu sendiri. Sesekali secara tak langsung Caraka mengakui bahwa dirinya menggunakan darah langka untuk memperkuat diri.
Meski bisa dibilang ia abadi, tapi sepenuhnya tidak. Karena suatu waktu pun, kalau luka besar itu tidak segera diurus akan membuatnya mati tiba-tiba.
“Apa yang akan Nona Gista lakukan setelah ini? Semua sudah terungkap, bukan?” tanya Orion yang merasa tak perlu diperpanjang lebar lagi.
“Tunggu, masih ada hal yang belum terbukti. Dia tidak menjawab apakah itu benar atau salah, karena itu aku masih sedikit ragu,” tutur Gista.
Setelah Gista berbicara, seseorang sedang terkikik. Ia adalah Dr. Eka yang tampaknya ia sudah mulai sadarkan diri namun hanya satu matanya yang terbuka, tampang Dr. Eka terlihat mengerikan. Seketika Gista menatapnya jijik.
“Orang-orangmu memang sangat berani dan tangguh, ya.” Gista tidak berniat memuji, melainkan jengkel terhadap orang-orang Caraka.
“Cepat bunuh aku,” pinta Caraka tiba-tiba.
Caraka sudah berputus asa. Tak ada jalan keluar menurutnya begitu Gista mengungkap semuanya di sini. Hal itu membuat ia sangat memprashkan diri dan meminta untuk dibunuh.
“Tidak akan.”
Namun Gista tidak akan membiarkannya terbunuh.
“Kau mungkin tidak akan menggubris perkataanku tentang yang berhubungan dengan Chameleon. Tapi setidaknya katakan ada di mana dia, jadi aku akan membuat toleransi kepadamu,” ujar Gista memberikan penawaran.
“Cepat bunuh aku!” Caraka meninggikan suara, lantas api kembali berkobar di dalam kristal itu.
Api sama sekali tidak membuat kristal es meleleh sedikit pun. Namun Caraka dapat melakukan sesuatu untuk menghancurkan kristal ini. Gista pula mengantisipasinya.
“Hei! Kalau dia benar-benar rekan Chameleon maka dia tidak akan bicara sedikit pun!” pekik Endaru.
Ia sangat tidak suka dengan cara Gista menghadapi mereka. Bahkan sampai memberi penawaran segala, agar mengetahui di mana Chameleon berada. Jelas, Endaru berpikir bahwa itu tindakan konyol.
Krak! Dalam kobaran api itu, terdapat sebuah pedang menembus pertahanan kristal es tersebut. Yang kemudian hancur berkeping-keping, membuat Caraka terbebas dalam waktu singkat.
“Kenapa dia tidak melakukan hal ini sejak tadi?” batin Gista bertanya-tanya.
Tap! Tap!
Gista mengambil langkah mundur dan bersikap waspada terhadap Caraka. Caraka yang kemudian bangkit itu kemudian menatap tajam seraya mengacungkan pedang ke arahnya.
“Kalau Nona Gista Arutala sudah tahu, kenapa tidak segera membunuhku seperti yang biasa Anda lakukan? Pada pengkhianatmu, kau anggap mereka semua hanyalah hama, 'kan?” tukas Caraka.
Mereka membicarakan yang agaknya sedikit sensitif. Endaru mengerti arah pembicaraan itu, dan kemudian menunjukkan wajah tak bersemangat, lesu dan tampak jengkel sesaat.
“Ada apa denganmu, Endaru?” tanya Orion.
Orion merasakannya, ia pun teringat dengan cerita Endaru yang mengatakan bahwa Gista pernah membunuh orang tuanya. Orion jadi semakin penasaran, sebenarnya apa yang telah terjadi 30 tahun yang lalu?
Di antara mereka ...
“Hei, Nona Gista Arutala. Pemimpin Organisasi, ketua dengan kota J-Karta sebagai kuasanya. Apa Anda tuli? Aku sedang berbicara denganmu,” ucap Caraka.
Sraaaa!
Hembusan angin dingin, menunjukkan pedang yang dibentuk dengan es. Gista sepertinya akan menyerang Caraka mulai detik ini.
“Harusnya kau membunuhku sejak tadi. Tapi kenapa tidak kau lakukan? Ataukah aku harus mengungkapkan siapa aku sedangkan kau sendiri sudah tahu?” tutur Caraka, menghampiri Gista.
Situasi di antara mereka cukup menegangkan. Hawa dalam ruangan pun menjadi tak menentu, karena panas dan dingin menyatu.
Kaca jendela berembun, bahkan dinding pun juga. Lantai atau benda-benda lainnya sama.
Trang!
Caraka melesat cepat ke arahnya, mengayunkan pedang secara vertikal dan kemudian tertahan oleh sebilah pedang milik Gista.
Kedua kaki Gista berusaha sekuat tenaga untuk menahan dorongan dari Caraka. Secara fisik, tentu ia kalah namun tidak dengan daya serangnya. Gista mampu membuat Caraka kembali bertekuk lutut.
Srang!
Kedua pedang beradu, dengan Gista yang lebih unggul dengan membuat pergerakan Caraka mudah terbaca. Seolah-olah pergerakan Caraka dikendalikan olehnya.
Setiap serangan, kecepatan serta pertahanan itu terbentuk seiring waktu. Gista mengarahkan serangan Caraka agar terus menyerangnya tanpa celah.
“Ya, mengakulah!”
Gista berjalan satu langkah, ketika ujung sepatu menyentuh lantai, dalam sekejap ruangan dipenuhi lapisan es secara merata tanpa celah.
“Akui bahwa kau adalah pengkhianat. Maka dengan begitu akan mudah memberimu hukuman,” imbuh Gista.
“Heh, dasar anteknya Presdir. Harus ya? Mendapatkan pengakuan dari musuh baru kau bertindak?! Jangan melucu! Kau pikir ini zaman purba! Hukum dunia tak lagi berlaku pada kita yang kembali hidup!!” ujar Caraka berteriak keras seraya mengayunkan pedang dengan langkah yang lebih teratur.
“Semua bukti yang mengarah padamu, kau itu siapa semuanya lenyap karena Chameleon. Karena itulah mengapa aku harus mendengarnya darimu sendiri.”
“Meski harus dengan cara paksa, ya.”
Caraka menancapkan pedang ke lapisan es. Hawa panas itu memenuhi di bawah lapisan sehingga warnanya pun berubah seiring waktu.
Duar!! Hawa panas itu membludak keluar, ledakan yang dihasilkan cukup untuk menghancurkan lantai. Dinding menghitam arang, kepulan asap menghalangi pandangan.
Orion dan Endaru terlindungi berkat kristal es yang padat. Begitu juga dengan Gista sendiri, namun kepulan asap benar-benar menghalangi pandangannya sehingga sulit untuk menerka apa yang akan Caraka lakukan.
Dap! Asap terbagi menjadi dua, Caraka kembali unjuk diri dengan pedang di tangan kanannya. Gista kehilangan keseimbangan sesaat, dan begitu bilah pedang sampai menuju ke arahnya, lagi-lagi kristal es menahan serangan Caraka.
Tang! Pedangnya bergetar, kristal es itu benar-benar sangat keras dan padat sehingga sulit dihancurkan bahkan dengan api sekalipun.
“Bahkan menggoresmu sedikit saja itu terlalu sulit. Untung saja aku tidak pernah menahan diri di hadapanmu,” kata Caraka menatap kedua mata Gista.