
Sebelum wanita itu kembali datang dan menyerangnya, Orion harus bergegas untuk mencari tahu kejadian lampau, 30 tahun lalu. Dan kebetulan ia bertemu seorang wanita yang sedang menyapu halaman rumahnya.
Mungkin, jika ia bertanya padanya maka wanita itu tahu sesuatu.
“Permisi, boleh aku tanyakan suatu hal pada bibi?” tanya Orion padanya.
“Oh, boleh saja, nak. Apa yang ingin kamu tanyakan?” Kemudian wanita itu berbalik tanya seraya mensejajarkan dirinya dengan Orion.
“Begini, apa bibi tahu sesuatu tentang kejadian yang terjadi 30 tahun lalu? Aku berharap bibi tahu sesuatu.”
Semula wanita itu berdeham seraya berpikir, tak lama setelah itu ia kemudian kembali menatap Orion dengan mata sipitnya.
“Aku tidak begitu tahu soal cerita masa lalu, nak. Yang bibi tahu hanyalah legenda Pahlawan Kota yang dulu sempat dikabarkan telah menyelamatkan kota ini. Dia dulu tinggal di Jalan Persimpangan.”
Sayang sekali Orion tidak mendapatkan jawaban yang ia mau namun mengenai tempat tinggal Endaru, mungkin terdapat sesuatu?
“Kalau begitu terima kasih.”
“Sudah cukup?”
Orion menganggukkan kepala dan menjawab, “Ya. Sudah cukup.”
Jalan Persimpangan, itulah yang dikatakan wanita tersebut. Katanya Endaru pernah tinggal di jalan itu, tapi yang pasti rumahnya berjejer banyak.
“Sesuai dugaan, ada banyak bangunan rumah yang sudah dibangun kembali. Aku cukup yakin, rumah yang dulu ditinggali Endaru sudah digusur,” pikir Orion.
Dan lagi-lagi Orion bertanya pada seseorang, menanyakan di manakah tempat tinggal Endaru yang dulu. Tentu para orang tua tahu di mana itu, meski sebagian orang telah melupakannya.
Hingga akhirnya Orion sampai, mengantarkannya pada sebuah toko serba ada. Bukan lagi sebuah rumah melainkan sebuah toko.
“Selamat siang, pak.” Orion menyapa setelah masuk ke dalam.
“Selamat siang juga, nak. Apa yang kamu butuhkan?”
“Saya datang untuk bertanya, apakah ini rumah Pahlawan Kota yang dulu?”
“Kau dengar itu dari mana? Coba sini, mendekatlah kemari dan bicarakan itu diam-diam.”
Tampaknya ada hal yang sulit dibicarakan secara terang-terangan sehingga pria itu meminta Orion untuk lebih dekat dengannya.
“Aku dengar dari salah seorang katanya toko ini dulunya adalah rumah Pahlawan Kota. Dan kalau melihat reaksi bapak sendiri, mungkin itu benar?” pikir Orion.
“Iya itu benar. Tapi jangan ungkit lagi, ya. Sudah sana pergi,” ujarnya lantas mengusir Orion pergi.
“Eh? Tapi tunggu, ada hal lain yang ingin—”
“Sudah, sudah! Bahaya kalau dia datang lagi! Kumohon jangan ungkit Pahlawan Kota atau apa pun yang berkaitan dengannya,” tegas pria tersebut.
“Tapi, saya ingin sekali mendengarnya. Kalau bapak sendiri tahu kejadian 30 tahun lalu maka itu artinya Chameleon ...”
“Ssstt, diam, diam. Aku sudah bilang diamlah.”
Pria ini benar-benar sangat ketakutan ketika nama Chameleon kembali disebut. Akhirnya Orion pun terdiam dan berniat akan pergi. Namun pria itu berbisik padanya dari kejauhan.
“Jika ingin mencari tahu sesuatu soal itu. Pergi dan temui seorang pria yang ada di gang sebelah toko.”
Orion mendengarnya samar-samar. Lalu pergi menuju ke sebuah gang yang ada di sebelah toko serba ada.
Dan di sana ia benar-benar bertemu dengan seorang pria yang perawakannya lebih tua. Terlihat ia tak lagi mempunyai gigi barangkali satu pun. Ia terduduk dalam lamunannya sembari tersenyum tipis.
“Sepertinya kau amat penasaran dengan masa lalu Pahlawan Kota.”
“Khe ...khe. Aku tahu karena aku mendengarnya. Kau sejak tadi mencari-cari orang yang mengetahui masa lalu di kota ini.”
Gang yang sempit, cuaca yang panas, lalu hawa di sekitar terasa sedikit menakutkan. Mencekam, membuat firasatnya tidak enak dirasa.
Hari itu, pertemuan dengan seseorang asing. Adalah di saat-saat Orion merasakan ketegangan walau hanya sesaat. Yang pasti, pria ini tercium bau mencurigakan.
“Saya lebih baik pergi,” ucap Orion seraya membalikkan badan.
“Tunggu! Kau benar-benar tidak mau mendengarnya dariku? Walaupun aku sudah sangat tua dengan tanpa gigi, aku masih dapat menceritakan kisah yang terjadi 30 tahun lalu.”
Orion goyah setelah mendengar pernyataan pria tersebut. Ini adalah kesempatan dalam sekali yang belum tentu ia akan temukan lagi. Bisa saja ia akan pergi hari ini dengan tangan kosong, dan Orion tak mau itu.
Akan tetapi firasat buruk ini terus membuat tubuh Orion bergemetar. Lantas, orang itu sangatlah mencurigakan. Entah apa yang ia lakukan, apakah ia hanya akan bercerita saja?
Itu sulit diterka, ekspresi, gestur, tak ada yang mencurigakan namun firasatnya berkata lain.
Kedua kaki Orion melangkah dengan hampa, berjalan pergi. Setelah beberapa langkah, Orion kemudian berbalik badan dan kembali menghampiri orang itu.
“Sepertinya, Anda tidak berniat untuk mencegah anak kecil tahu, ya? Jangan bilang Anda sudah tahu siapa saya? Tapi sejak kapan?”
Di belakang punggung Orion terdapat seekor ular yang bergerak di ambang udara. Bergeliat-liat dan berdesis jijik, seketika membuat Orion bergidik.
Sepertinya pria ini lah yang melakukan itu. Ada maksud tersembunyi.
Tak!
Sepintas pria itu mengetuk tongkat yang dipegangnya. Kemudian melambaikan tangan, menyuruh Orion untuk mendekat.
“30 tahun lalu, situasi yang paling kritis bahkan sampai dikira kiamat. Semua orang menjerit kesakitan.”
Tap! Tap!
Orion lantas menghampiri pria itu. Sekarang wajahnya terlihat jelas, penuh dengan bekas luka serta bintik-bintik yang merata ke seluruh wajahnya.
“Sepertinya kita sama-sama mengetahui sesuatu satu sama lain.”
“Bisakah bicara langsung ke intinya?” ketus Orion dingin.
“Kau takkan menyesalinya? Ada harga yang harus dibayar untuk mengetahui masa lalu.”
Pria itu kemudian mengulurkan tangan ke depan. Tangannya gemeteran seraya ia meraih wajah Orion. Ular yang bergeliat di belakangnya pun tiba-tiba saja bergerak masuk ke dalam tubuh Orion.
“Argh!!!!”
Orion menjerit kesakitan, ketika pria itu melepas tangan darinya, Orion bergeliat sams seperti ular sebelumnya. Ia menggeliat di jalanan seraya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
Rasa sakit yang ia rasakan berkali-kali lipat dari saat ia menggunakan kekuatannya berlebihan. Rasanya bercampur aduk tak karuan, segala ingatan demi ingatan masuk secara paksa. Mengalir dengan derasnya tanpa memperdulikan keseimbangan.
“Apa-apaan ini? Kupikir dia akan bercerita tapi justru memperlihatkan semuanya begitu saja. Apa yang sebenarnya pria ini lakukan padaku!?” teriak Orion.
Jantungnya berdebar kencang tak wajar, dan seiring berjalannya waktu, Orion merasa seperti sudah tertelan dalam kegelapan. Danau ingatan yang dimiliki beberapa orang.
“Orion Sadawira, ya? Tubuh yang menyusut ketika kau bangkit, mungkin suatu pertanda untuk mengakhiri Dunia NED.”
Senyum serta tatapan yang culas. Sekilas manik mata pria itu menampakkan api berkobar di dalamnya. Penampakan pria itu pula sedikit demi sedikit berubah, menjadi lebih muda hingga berhenti di usia sekitar 20 tahun.
“Berkatmu, aku dapat melepaskan semua ingatan yang membelenggu diriku. Khe, khe, aku sangat berterima kasih.”