ORION

ORION
Jinan Ditaklukan



Bisa dibilang Endaru menebus kesalahannya yang ceroboh dalam menggunakan kekuatannya. Ia meninju wajah Jinan sampai tak dapat bernapas sejenak hingga pada akhirnya wajah Jinan berakhir babak belur dengan memar keunguan. Meski saat itu Jinan sempat melawan dengan benang, Orion membantunya dengan menghanguskan benang menggunakan pembentukan tali api.


Sehingga semua ini pun berakhir dengan sukses. Sepertinya?


Plak!


“Hei bangun!”


Orion terus menampar wajah Jinan yang belum sempat terluka itu. Agar dapat menanyakan sesuatu padanya. Dan tentunya Orion sudah mengantisipasi agar Jinan tak kembali menyerang, Orion menggunakan tali api yang sama untuk mengikat tubuhnya.


“K-ka-ka-kau!” Jinan terbata-bata dan terkejut. Hendak ia akan melakukan sesuatu, dan begitu Orion mengepalkan tangan kanan ke depan wajahnya, seketika Jinan beringsut.


“Kau tidak mau mati lagi, 'kan?”


Jinan menganggukkan kepala beberapa kali tanda tidak akan berbuat ulah selama Api Abadi menyala-nyala di hadapannya saat ini.


“Untuk Endaru, kerja bagus. Beruntung ada orang berguna di sini,” ucapnya juga menyindir Dr. Eka yang tetap duduk dengan tenang sembari bersiul di belakang.


“Huh! Siapa lagi yang bisa melakukan itu selain aku?” ujarnya begitu sombong, ia mendongakkan kepala seolah-olah ia berhasil menjinakkan bom dalam kereta. Berwajah sumringah serta tertawa dengan bangga.


“Yah, terserahlah. Jinan, aku ingin bertanya lagi padamu. Tapi kurasa kau sudah tahu apa yang ingin aku katakan, benar?” ujar Orion menatap datar padanya.


“Untuk itu.” Ucapannya tidak begitu jelas. Bahkan Jinan memalingkan wajah ketika Orion berbicara padanya. Pria berkumis tipis itu kini terlihat sangat gelisah.


“Cih, kenapa aku bisa kalah adu fisik pada bocah ini. Huh, tidak bisa dibiarkan. Awas saja kau, dan pria api ini juga,” gerutu Jinan dalam batin.


“Bicaralah Jinan. Aku tidak akan menyiksa seperti yang ada di film-film itu. Apalagi mencabut kuku jari memang mengerikan dan sakit. Jadi aku sarankan, cepatlah bicara atau kau akan ku lempar ke sana,” ancam Orion sembari menunjuk ke pintu gerbong luar kereta yang terbuka lebar.


“Sebelum itu, aku ingin bertanya. Orang di belakang itu bukannya bawahan Adi Caraka?” Tidak menjawab jutsru membalas dengan pertanyaan lain. Pintar sekali mengelak.


“Iya, dia bawahannya Adi Caraka. Hanya saja sekarang dia menjadi tahanan Grup Arutala. Nah sekarang, jawab saja pertanyaannya?” sahut Orion kemudian menatapnya dengan tajam.


Kali ini Jinan sulit untuk mengelak lagi. Lantaran sudah habis obrolannya dengan mereka. Tampan Dr. Eka di belakang mereka sana, tetap duduk dengan tenang seraya menikmati angin masuk dan keluar.


Perlahan Jinan mengangkat tubuhnya, sebab ia hendak kabur. Namun mereka takkan mudah melepaskan pandangan dari Jinan. Sehingga Endaru pun menekan tubuh Jinan ke bawah, menggunakan gravitasi 3x lipat.


“Hei, Endaru. Aku 'kan sudah bilang jangan gunakan kekuatanmu,” kata Orion.


“Aku tahu. Tapi tenang saja, ini tidak sampai merusak keretanya. Karena sekarang aku hanya melihat orang ini saja,” ujar Endaru. Ia menyakini diri sendiri bahwa ia mampu mengendalikan kekuatannya untuk saat ini.


Terdengar suara langkah kaki berasal dari pintu gerbong lainnya. Kali ini berada tepat di depan mereka, tampaknya akan ada seseorang yang masuk ke gerbong, tempat di mana mereka saat ini.


Jinan tertawa lirih, ia lantas bangkit sembari menendang Orion. Walau saat itu juga Orion menangkis, dan bisa saja Orion kembali menangkapnya namun itu tak ia lakukan.


“Kau!”


“Tunggu!” Orion menghentikan langkah Endaru. Orion beranjak dari sana dan melangkah dengan santai menuju ke gerbong depan.


“Orion? Kau ingin melakukan apa?” tanya Endaru tidak mengerti.


Dak!


“Perasaanku tak enak, tapi ...aku juga sudah tahu di mana anak perempuan itu.” Orion tersenyum sembari menoleh ke belakang.


“Perasaanmu tidak enak tapi kau tahu di mana anakmu sekarang ya? Maksudnya apa?” tanya Endaru semakin tidak mengerti.


“Maksudku, melihat Jinan yang gelisah ketika aku menebak bahwa Chameleon ada di kota yang sedang kita tuju, maka itu artinya dia betulan ada di sana. Intinya anak perempuan itu pun juga ada bersamanya,” ungkap Orion.


“Wah?” Walaupun sudah dijelaskan. Endaru terlihat semakin kebingungan.


Sesaat sebelum menjelaskan kembali Orion menghela napas. “Artinya, Chameleon dan anak perempuan itu berada di kota S-Frans. Setidaknya kau harus tahu di mana kota yang akan kita tuju, Endaru.”


Orion berhenti melangkah telat di depan pintu gerbong depan. Ia melihat dari jendela, tak terlihat di mana Jinan sekarang, hanya beberapa penumpang yang duduk di kursi mereka masing-masing. Sangat tentram.


“Ah, begitu!” Mata Endaru terbuka lebar begitu memahami hal tersebut. Ia lantas bertanya, “Lalu kenapa firasatmu jadi buruk?”


“Entahlah.” Orion sendiri pun bingung harus menjawab apa.


***


Sementara itu di gerbong depan. Tempat di mana Jinan menyembunyikan dirinya, ada di bagian belakang pintu itu sendiri. Untuk sesaat ia mencoba untuk memastikan bahwa Orion takkan datang ke gerbong yang dapat dibuka-tutup dengan mudah.


Kemudian Jinan bersembunyi di balik kursi bagian belakang di bagian kanan. Bayangannya bergeliat, memunculkan setengah Chameleon di atasnya.


“Kau, kenapa keluar? Beruntung aku menemukanmu di sini,” ucap Chameleon yang bernada kesal.


“Maafkan saya Tuan Chameleon. Tapi, pria api itu hendak menuju kota S-Frans. Saya takut jika dia menemukan tawanan kita begitu mudah,” tutur Jinan penuh kesopanan.


“Jangan khawatirkan itu. Lagipula kotanya besar. Untuk apa khawatir? Dan cepatlah kembali,” titah Chameleon.


“Tetapi, bukankah perintah Anda adalah sengaja menjauhkan pria api itu dari Anda sendiri?”


“Sudah aku bilang jangan khawatirkan itu. Tak hanya kota yang cukup besar. Sekelompok beringas itu akan datang pada mereka. Jadi manfaatkan hal itu,” kata Chameleon.


Chameleon bermaksud mengadu antar kelompok Orion dengan para Phantom Gank. Entah mengapa Chameleon tahu bahwa Phantom Gank pun mengincar kepala Orion, namun yang pasti Chameleon memanfaatkan mereka agar Orion pun secara tak sadar menjauhi Chameleon sendiri.


Sehingga tujuan Orion takkan mudah tercapai. Dan itu membutuhkan banyak perjuangan hingga akhirnya menyiksa diri.


Ketika itu, Jinan amat penasaran dengan alasan Chameleon yang dengan sengaja tidak membunuh Orion. Meski setengah tahun yang lalu Chameleon benar-benar berniat untuk membunuhnya.


Dengan sangat berhati-hati Jinan bertanya, “Tuan Chameleon, maaf jika saya lancang. Sebenarnya apa yang Anda inginkan terhadap pria api itu?”


Chameleon tertawa dan saat itu ia menunjukkan ekspresi bengisnya pada Jinan. Kengerian itu dapat Jinan rasakan hingga membuat bulu kuduk berdiri, merinding seolah mengiggil kedinginan.


“Apalagi kalau bukan, melihat wajah putus asanya Orion?” Begitulah katanya.


“Selama ini, aku belum pernah sekalipun melihat orang seperti dirinya. Di satu sisi dia ingin mati tapi juga ingin hidup karena sesuatu yang berharga miliknya direbut,” imbuh Chameleon.


“Itu ...” Jinan tak bisa berkata apa-apa lagi.


Selain mendengarkan ucapan Chameleon sekali lagi. Yang berkata, “Dan dia memiliki pandangan mati yang sampai membuatku merinding. Seakan-akan aku akan jatuh ke neraka begitu menatap matanya begitu dalam!”