ORION

ORION
Guru Pengganti



Perdebatan antar orang dewasa dengan anak-anak. Tentu saja yang akan memenangkannya adalah orang dewasa. Sebagaimana mereka sebagai orang dewasa, berpikir bahwa anak-anak masihlah anak-anak yang tidak mengerti apa-apa.


Itu pola pikir yang sederhana. Tanpa tahu bahwa terhitung cukup banyak anak yang jenius dan mampu bersaing dengan para orang dewasa.


Akan tetapi, lagi-lagi orang dewasa paling diunggulkan. Anak yang menegur orang dewasa saja disebut kurang sopan. Padahal tidak ada yang tahu bahwa satu kesalahan orang dewasa yang ditunjuk akan berakibat fatal ke depannya.


Hal yang sering terjadi, kerap kali berulang dalam kehidupan.


Anak bukan berarti hanya anak kecil, anak di sini dalam artian orang yang lebih muda. Itu adalah istilah lain dalam kata.


Suatu waktu ketika mereka beristirahat usai saling belajar satu sama lain. Getaran ponsel Orion mengagetkan, dan Orion pun bergegas mengambilnya.


Mahanta menghubungi Orion. Ada apa ini?


“Mahanta. Apa ada sesuatu?” tanya Orion yang mengangkat panggilan.


“[Nona Gista memberimu tugas. Apa kau sedang sibuk?]”


“Tidak. Aku sedang meluangkan waktu bersama seseorang. Katakan saja.”


“[Baiklah. Rinciannya akan aku kirim melewati pesan.]”


Panggilan terputus. Tak lama setelah itu, sebuah pesan muncul dari notifikasi melayang. Mengatakan bahwa Orion ditempatkan di sekolah menengah kejuruan. Salah seorang murid laki-laki yang memiliki nilai negatif, dicurigai telah mengalami NED.


“Kau diberikan tugas oleh wanita itu?”


“Iya. Selama aku belum bergerak untuk menemui Chameleon lagi. Lagi pula, kekuatan Api Abadi itu diincar olehnya jadi bukan aku yang akan mencari tapi dia.”


Sebelum menuju ke sana, Orion sempat melakukan pendinginan. Lantas pergi berpamitan dengan Endaru.


“Ngomong-ngomong apa kau tidak ada pekerjaan?”


“Aku 'kan Pahlawan Kota. Bukan aku yang mencari tapi pekerjaan lah yang mencariku,” jawabnya bernada sombong.


“Pintar sekali kau membalikkan semua perkataanku. Dasar anak sombong.”


***


Tiba di sekolah. Ia disambut oleh seorang guru berkelamin pria. Datang dan menyambut Orion sebagai pengganti guru sementara.


“Pak Orion, kami telah menunggu. Sebagai guru pengganti, sebelum masuk untuk mengajar kelas, kami akan mengatakan satu-dua hal pada Bapak. Mari.”


Guru itu mempersilahkan Orion masuk ke kantor guru. Tempat di mana guru semua berkumpul ketika jam belajar mengajar belum dimulai.


“Guru pengganti?” gumam Orion sekilas tak percaya.


“Iya, benar. Kebetulan sekali kami mendapatkan guru di saat guru yang memegang kelas itu sedang cuti hamil.”


“Ah, begitu ya.”


Di luar berkata, "Ya", tapi dalam benaknya ia dalam keadaan bingung lantaran ia disebut sebagai guru pengganti di saat ia nyaris melupakan semua pelajaran sekolah.


Setelah berada di kantor guru. Orion disambut oleh guru-guru yang lain dan meminta kerja samanya.


“Jadi, pak. Anda ingin mengatakan sesuatu yang penting?”


“Ini tentang salah seorang murid laki-laki. Dia memang tidak ada di kelas Pak Orion tapi jikalau Pak Orion bertemu dengannya maka tolong abaikan saja dia.”


Raut wajah guru yang sedang berhadapan dengannya terlihat sangat gelisah. Tampak ia sangat khawatir akan sesuatu.


“Jika boleh saya tahu. Siapakah murid ini?”


“Namanya Roni Sanjaya. Murid nakal yang selalu berpakaian tidak rapi dan jarang masuk kelas untuk belajar. Warna rambutnya juga di cat warna merah.”


“Baik, saya mengerti. Lalu bolehkah saya bertanya apa pelajaran yang harus saya ajarkan pada mereka di jam pertama?”


“Anda tidak perlu mencemaskan hal tersebut. Karena pelajarannya ringan, ini berkaitan dengan jurusan hotel. Saya sudah bertanya pada orang yang bertanggung jawab pada Anda, mengatakan bahwa Anda sangat mahir.”


“Ba-baik,” ucapnya tergagap. Lantas, Orion benar-benar tidak mengerti.


“Ini pasti harus ada bahasa inggrisnya. Apa aku masih hafal?” celetuknya membatin.


***


Kecuali Orion tidak benar-benar mengerti maka tamat sudah riwayatnya sebagai guru. Takkan mampu ia mengajarkan sesuatu pada murid jikalau ia sendiri tidak mengerti.


Dan sekarang, ia sudah berada di kelas. Setelah perkenalan dengan para murid serta mengabsen. Orion mulai membuka buku.


Buku yang isinya tentang perhotelan.


“Adakah dari kalian mengingat materi terakhir yang dipelajari?”


“Pak Orion! Bukankah lebih baik kita saling cerita saja daripada belajar?”


Nah, mulai lagi. Seolah mengulang masa lalu ketika Orion bersekolah. Setiap ada guru baru ataupun hanya sekadar pengganti, para murid pasti akan meminta begini.


Tidak belajar tapi cerita.


Dan jika Orion meyahut mereka, “Kalian harus lebih fokus belajar daripada menceritakan hal lainnya. Dan saya juga sudah memperkenalkan diri.”


Maka mereka akan menjawab, “Yah, bapak. Perkenalan bukan berarti kita semua hanya tahu nama bapak saja!”


Namun pada akhirnya mereka semua berhenti mengobrol tiada arti karena Orion yang tegas. Sedikit ia memahami isi buku yang dipegangnya lalu menjelaskan pada murid-murid.


Setidaknya dengan satu tangan, tidak ada murid yang berkomentar tentang hal tersebut.


Usai kelas jam pertama berakhir. Orion keluar untuk menuju kelas lain yang dijadwalkan. Sesaat setelah ia melewati beberapa kelas, Orion melihat seorang murid laki-laki berkeliaran di sepanjang lorong.


***


Sepanjang waktu ketika Orion berganti kelas, selalu saja murid itu berkeliaran di sekitar. Ciri-cirinya juga cocok dengan yang telah diceritakan oleh guru sebelumnya. Murid laki-laki yang tidak menaati peraturan sekolah.


Sampai pada akhirnya ia terus membuntuti murid itu. Bahkan sampai istirahat.


“Murid itu memang sangat tidak beradab, ya. Tapi kenapa dia terus di sekolah kalau ujung-ujungnya tidak pernah masuk ataupun belajar?”


Murid itu makan dengan tenang layaknya murid teladan. Padahal seragam penuh dengan coretan bolpoin, tidak mengenakan dasi ataupun sabuk. Sesekali Orion melintas di hadapannya seraya melirik dan ia pun mendapati adanya bekas tindikan di telinga.


“Benar-benar tidak beradab. Tapi dia sama sekali tidak menunjukkan suatu kekuatan atau energi yang berlimpah. Apa Gista salah mengira bahwa dia sama seperti kita?” gumam Orion.


Hingga mengikutinya sampai jam sekolah berakhir dengan bunyinya bel sebagai tanda. Kini Orion melihat murid lelaki, Roni Sanjaya juga ikut pulang. Terkejutnya Orion melihat Roni pulang tanpa tas.


“Apa dia menyembunyikan tas di balik seragamnya?” pikir Orion.


Perilaku beringasnya sama sekali tidak kelihatan. Apa lagi tentang dirinya yang adalah Pejuang NED atau bukan juga masih belum jelas pastinya.


“Mau apa kalian!? Minggir sana, jangan halangi aku!” pekik Roni yang telah masuk ke sebuah gang.


Jduakk!!


Roni menendang perut seseorang yang menghalangi jalannya.


“Habisi dia!”


“Jangan beri dia ampun!”


Buak! Buk!


Sekumpulan orang yang menghadang dihajar oleh Roni seorang diri. Sesekali orang-orang itu kembali bangkit dan menyerang Roni secara mendadak dari belakang.


Akan tetapi Roni bersikap santai lantas membalas serangan itu kembali.


“Siapa di sana!?” teriak Roni. Tampaknya Roni mulai menyadari keberadaan Orion yang tengah membuntutinya.