
“Mungkin saja pria bernama Jhon adalah rekan Chameleon,” duga Meera.
Chameleon, adalah orang yang pertama kali bangkit. NED (Near death Experience), kata lain Mati suri, kali pertama disebut-sebut setelah kebangkitan pria itu. Tidak ada yang tahu nama, rupa atau bahkan sedikit dari identitasnya.
Chameleon bersama 9 rekannya muncul di kota Y-Karta. Dengan tujuan memusnahkan kota itu sendiri, saat itu juga para ketua yang hanya terdiri dari 5 orang saja tidak akan cukup melawan mereka.
Semuanya masih berada di ambang dunia NED, tidak tahu kejelasan pasti tentang penyebab kematian dan kebangkitan mereka sendiri. Tapi yang pasti, mereka harus bergerak bersama ketika kota Y-Karta berguncang karena ulah Chameleon.
Daratan perkotaan nyaris tersapu habis karena kekuatan Chameleon yang tak bisa digambarkan. Seolah berada di puncak teratas, pria dengan topeng polos mengeluarkan berbagai warna dari punggungnya. Dan setiap warna akan memberikan dampak yang berbeda pula.
Itulah mengapa, era Chameleon sulit dilawan. Bahkan mencapainya saja sudah sangat sulit khususnya bagi para ketua.
“Kota Y-Karta, itu adalah kota kelahiran Pahlawan Kota bukan? Apakah saat itu memang belum masanya?” tanya Orion.
“Itu bertepatan dengan kebangkitannya. Bisa dipastikan, sesaat setelah kami hampir diinjak hancur oleh Chameleon.”
“Dia memangnya memiliki kekuatan semacam apa?”
“Itu tidak bisa diceritakan melalui kata-kata. Hanya saja dia adalah pria yang bisa meniru segala hal. Termasuk wajah manusia serta kekuatan Pejuang NED.”
“Meniru ...” Orion bergumam lirih.
Seperti namanya Chameleon adalah tipe pesulap. Berkamuflase, dengan kata lain yang lebih tepat adalah, "Meniru", segala hal.
Hari ketika awan menggelap. Hitam dengan petir yang begitu besar dan menakutkan dari atas langit. Sosok manusia, seorang anak kecil bangkit di tengah-tengah pertarungan antar Chameleon dengan para ketua.
Endaru, itulah namanya. Yang memiliki kekuatan dan mampu membuat Chameleon bertekuk lutut. Anak itu tidak sadar dengan perbuatannya, lantas ia mengalami setengah mati dan hidup, artinya ia berada di ambang kesadaran namun raganya dapat bergerak seolah di luar kendali.
Para ketua berpikir mungkin era Chameleon telah berakhir. Namun Ketua Arutala berpikir sebaliknya.
Dengan tubuh dan pedang berlapis es yang bersimbah darah. Ketua Arutala berkata, “Chameleon tidak dapat mati atau hidup kembali. Aku sudah menandainya!”
“Sorot matanya sangat tajam, sampai aku merinding karenanya. Nona Gista dulu sangat menakutkan, tapi beruntung dia sudah banyak berubah berkat orang-orangnya di sana,” ucap Meera dengan sedikit tertawa.
“Bersimbah darah? Dia berada di garis depan?” tanya Orion tak menyangka.
“Kami berlima berada di garis depan semua. Tidak ada strategi dalam era Chameleon saat itu. Karena memang, pertarungannya berawal dari pencarian Chameleon yang dalam penyamaran.”
“Ah, begitu rupanya. Kalau begitu dia masih hidup?” tanya Orion mengenai Chameleon.
Meera menganggukkan kepala. “Ya, dia masih hidup sesuai apa yang dikatakan Nona Gista. Dia juga sudah menandai namun masih sulit untuk mencari keberadaannya sampai sekarang.”
“Itu aneh, 'kan? Makanya aku sempat berpikir kalau Jhon adalah rekannya, atau dia sendiri mungkin?” sambung Meera, yang berpikir dengan kening berkerut.
“Meskipun sekarang ada titik terang mengenai Jhon. Itu tetap tak menjawab kenapa Pahlawan Kota sangat membenci orang dewasa termasuk Gista,” batin Orion berpikir.
Meera juga tidak banyak mencatat insiden di Kota Y-Karta yang terjadi 30 tahun lalu. Bahkan Orion tak pernah mengingat bahwa ada insiden yang sangat mengerikan seperti itu.
Siapa pun Jhon, Orion justru semakin tertarik dengan dunia NED lebih dalam. Terutama saat, mendengar bahwa Chameleon adalah orang yang pertama kali bangkit dari kematian.
“Kamu barusan bilang apa?” tanya Meera.
“Ah, bukan apa-apa. Hanya saja, aku sempat berpikir kalau Chameleon sangat curang. Kekuatannya yang bisa meniru, bahkan wajah orang lain pun bisa dia tiru,” ucap Orion terburu-buru.
“Hm, ya. Begitulah. Kesampingkan hal Chameleon, ini tidak cocok dibahas untuk anak-anak sepertimu, Orion.”
Gedung itu mungkin sekilas terlihat seperti sebuah pabrik besar, tetapi saat mereka masuk ke dalam, banyak ruangan dengan pintu-pintu yang hampir sama.
Banyak orang mondar-mandir di dalam, sepertinya mereka sangat sibuk. Tidak seperti kediaman Arutala yang terkesan sepi karena kebanyakan mereka bekerja di luar, di tempat Raiya justru sebaliknya. Sangat ramai.
“Mereka bekerja di bagian dalam. Maksudnya bagian arsip adalah bagian kami. Selama ini yang berhasil mengumpulkan banyak informasi adalah kami, jadi banyak orang di sini adalah hal yang wajar karena mereka sibuk di dunia maya,” jelas Meera.
“Seharian?”
“Ya, hampir. Intinya hanya di dalam saja. Sedangkan ada beberapa orang yang bertugas keluar di setiap malam,” kata Meera.
Apa pun yang diceritakan Meera, kebanyakan berbanding terbalik dengan kediaman Arutala. Tapi tempat ini tidak buruk juga.
Setelah mereka berkeliling dalam gedung itu, Meera menunjukkan tempat latihan di outdoor. Halaman belakang yang cukup luas dengan rerumputan hijau segar.
“Udara di sini sangat berbeda dari saat di depan tadi. Apa ada bedanya?” tanya Orion sembari melihat ke sekeliling.
Meera mengangkat telapak tangannya, dan air pun mengalir jatuh ke bawah. Dalam beberapa waktu, air yang mengalir sudah menggenangi kedua kaki mereka.
“Ini karena kekuatanku. Bukan karena udara yang berubah. Air di bawah rerumputan membuatmu sejuk, bukan?”
“Ya, saat aku menginjaknya itu terasa sejuk. Lalu ini apa?” Orion kemudian bertanya, mengapa Meera membuat air ini menggenang ke seluruh halaman belakang.
“Teknik memperluas jangkauan serang. Itu yang sedang aku lakukan. Nah, Orion, bolehkah aku melihat kekuatanmu?”
Ternyata tujuan Meera tidak melenceng dari sebelumnya. Ia benar-benar penasaran dengan kekuatan Orion. Tetapi jika di kedua kakinya terendam air, Orion tidak begitu yakin apa bisa.
“Jika aku memberitahumu kekuatanku, maka apa yang akan Nona Meera lakukan?”
“Jangan berwaspada begitu. Aku tahu kau takut kalau aku akan berbuat sesuatu buruk padamu. Tapi tenang saja, aku tidak berniat begitu apalagi dengan anak kecil.” Meera menaikkan kedua bahu lalu menggelengkan kepala.
“Sebelumnya juga aku sudah bilang, kalau hari ini aku tidak dalam kondisi prima. Jadi jangan kecewa,” ucap Orion.
Ia mengambil satu langkah ke depan dan kemudian merasakan peredaran darah seperti awal-awal ia belajar pertama kalinya. Rasanya darah mengalir lebih lancar, sehingga Orion dapat memusatkan kekuatan lebih cepat dari biasanya.
Swoosh!
Kepalan kedua tangannya memunculkan sebuah api, semilir angin menerpanya namun tidak membuat api itu padam, justru semakin membesar.
Setelah Orion melemaskan salah satu tangannya, api melebar seolah memanjang. Dan dalam waktu singkat, ia menggenggam api yang sudah membentuk menjadi pedang sungguhan.