
Firasat buruk yang selalu ia rasakan tidak menjadikannya penghalang. Orion membuka pintu gerbong, melirik di mana Jinan berada saat itu juga. Posisinya sudah ketahuan, Jinan pun bergegas bangkit dari pojokan lantas pergi.
Drap! Drap!
Orion berlari mengejarnya, sebisa mungkin ia harus meraih kerah pakaian Jinan dari belakang. Akan tetapi langkah Orion tersandung. Kali ini yang ke-3 kalinya Orion jatuh tersandung. Lantaran ini bukan kecelakaan melainkan kesengajaan dari seseorang.
Seorang penumpang pria lah yang melakukannya. Tidak lain adalah Mr. Iki Gentle. Ia terkikik menatap Orion seakan merendahkan.
“Kau?”
Gruduk! Gruduk!
Terdengar suara langkah kaki banyak orang berasal dari tempat Orion sebelumnya. Lantas terkejut akan kedatangan Phantom Gank. Seperti biasa mereka mengenakan topeng kulit yang menyeramkan.
“Orion? Kau tak apa?” tanya Endaru sedikit terkejut.
Kedatangan mereka yang tiba-tiba, justru membuat gerbong saat itu berdesakan. Mereka kembali membuat kekacauan di saat kereta masih berjalan cepat.
“Argh! Phantom Gank!”
“Keluar kalian! Dasar perusak liburan orang!”
“Sana pergi!”
Banyak orang mencaci maki mereka tiada henti sambil melemparkan botol-botol atau sembarang benda di sekitar mereka. Namun mereka berhenti bergerak, dan hanya duduk diam dengan peluh bercucuran lantaran Phantom Gank mengacungkan senjata.
Tak hanya membuat kekacauan dengan merusak segala hal, seperti kursi, kaca atau lain sebagainya. Bahkan juga menginjak Orion yang tidak sempat berdiri. Phantom Gank juga berdesakan antar penumpang yang masih berdiri atau hendak kembali ke tempat duduk.
Juga Dr. Eka dan Endaru yang menghajar mereka tapi terlalu sulit karena tempat yang sempit. Sementara Orion, mempasrahkan diri. Tubuhnya terus terinjak sampai tak dapat bergerak lagi.
“Hei, tunggu! Sepertinya aku barusan menginjak sesuatu yang empuk?” tanya salah satu rekan ke rekan Phantom Gank yang lain.
“Kenapa kau hanya berdiam diri saja? Cepat pindah ke gerbong depannya lagi. Rekan kita masih menunggu giliranmu berjalan,” ketusnya.
“Hei aku serius.”
Salah satu rekan Phantom Gank itu menyadari sesuatu di bawah kedua kakinya namun ia tak bisa melihat ke bawah lantaran tertutup oleh beberapa kaki penumpang dan rekannya yang lain.
“Memangnya kalian tidak menyadarinya?” tanyanya sekali lagi.
Selang beberapa saat langkah para Phantom Gank terhenti. Rekan mereka yang berada di depan merasa ada sesuatu yang menggenggam pergelangan kakinya.
“Oh, sepertinya apa yang kau katakan itu benar.”
“Tapi prioritas kita hanyalah pria bermata mati itu.”
JDAK!
Cengkraman tangan itu seketika bergerak, dan menyeret pergelangan kaki anggota Phantom Gank sampai terjatuh. Seketika semua orang panik akan hal tersebut. Semula mereka berpikir bahwa ini karen ulah hantu.
Tapi nyatanya bukan.
“Manusia!!!!!”
“Aaaaaaa!”
Entah ada angin apa tiba-tiba, para Phantom Gank justru berteriak histeris ketika mengetahui apa yang mereka injak adalah manusia.
Dok! Dok!
Sambil menggedor-gedor pintu gerbong, Endaru sekali lagi berkata, “Hei! Orion!” Teriakannya bahkan sempat menggaung padahal posisi Endaru berada di gerbong belakang sana.
Laju kereta api perlahan melambat seiring waktu. Pemberitahuan sampainya mereka di sebuah stasiun telah terdengar banyak penumpang.
Sebelum ini, Phantom Gank menjerit dan itu membuat telinga petugas dalam kereta mendengarnya. Maka mereka pun segera bergegas menuju gerbong yang berisik itu.
Sementara rekan Chameleon, Mr. Iki dan Jinan pun berada dekat dengan pintu gerbong luar, setelah kereta berhenti dan pintu terbuka, mereka berdua pun segera turun dari kereta.
“Itu dia! Pria itu persis seperti yang diciri-cirikan oleh Saint Ken!” Salah satu berhasil menyadari siapakah pria yang kini bangkit dari lantai kereta.
Sontak, para penumpang di gerbong tersebut berhamburan keluar sebelum Phantom Gank kembali berulah. Lagi-lagi berdesakan terutama para penumpang dengan panik, mereka bergegas untuk keluar.
Namun di bagian depan pintu keluar, salah satu penumpang terjepit lantaran yang berada di belakang terus mendorongnya sekuat tenaga. Begitu pun dengan Orion, dirinya bahkan Phantom Gank saja tak berkutik mengikuti derasnya ombak terhambat manusia.
“Jangan lepaskan dia!”
“Dia menghilang?”
Dap, dap, dap!
Langkah mereka perlahan-lahan keluar dari dalam kereta. Nampaknya, desak-desakan ini akan berakhir. Dan membuat semua penumpang berhamburan keluar secara merata dan heboh.
“Kenapa ada Phantom Gank di mana-mana?” Orion bertanya-tanya mengenai keberadaan Phantom Gank.
Sesudah itu, penumpang serta Phantom Gank juga Endaru dan Dr. Eka menghilang. Lenyap bak ditelan bumi.
“Ke mana mereka?”
Orion menoleh ke kanan dan kirinya, dan tak ada tanda-tanda keberadaan rekannya. Orion menghela napas panjang, karena hal ini pernah terjadi saat di depan air mancur. Ia berharap bahwa Orion akan dipertemukan kembali pada mereka.
Begitu melangkah ke sisi kanan, Orion mendapati seorang pria yakni Mr. Iki Gentle yang sampai saat ini masih terkikik. Lantas mereka saling bertukar tatap.
“Kau masih saja tertawa,” ucap Orion merasa tersinggung sekaligus malu.
“Ah, maaf. Habisnya aku tidak sengaja melakukan hal itu.” Mr. Iki Gentle bangkit dari tempat duduknya lantas pergi.
Nampaknya Jinan benar-benar meloloskan diri sekarang. Yah, walaupun awalnya Jinan lah yang pertama kali mendatangi Orion dkk.
Stasiun. Kota S-Frans. Salah satu kota yang terbilang cukup besar. Kota yang Orion tuju adalah karena mendapatkan undangan Pertunjukkan Opera dari Tuan Gerhana Bulan. Hal itu akan dimulai malam ini juga.
Jaraknya cukup jauh hingga pukul 6 sore sekarang ini. Sebelum pergi menuju ke tempat tersebut, ia diharuskan untuk menemukan Endaru dan juga Dr. Eka. Dirinya pun tak menyangka bahwa ia akan melewati hal yang serupa. Lantaran sebelumnya, ia pernah sekali terpisah oleh rekan-rekannya.
Kalau saat itu di kota NY, bagian depan air mancur juga Museum Art. Kini terjadi di stasiun Kota S-Frans. Nasibnya sungguh tidak beruntung, atau mungkin karena kutukan takdir yang ia punya. Sesungguhnya Orion sangat menyesal, kadangkala berpikir jika saja ia tidak ikut maka ini takkan terjadi.
“Di mana ya mereka? Kenapa juga sampai terpisah-pisah seperti ini? Padahal penumpangnya tidak cukup banyak di gerbong itu. Atau jangan bilang karena penumpang di gerbong lain?” pikir Orion seraya berjalan ke arah toilet.
Tap!
Orion seketika berhenti melangkah. Ia terkejut karena suara kereta api yang hendak berangkat kembali. Beberapa saat Orion melihat jalannya kereta itu hingga pergi meninggalkan stasiun ini.
Kemudian, beralih ke tujuannya lagi. Berkali-kali ia menghembuskan napas. Di samping lelah ia pula sangat cemas. Kepada siapa pun termasuk Ade.
Dalam perjalanannya mencari keberadaan Endaru dan Dr. Eka, terkadang Orion menggumamkan sesuatu dengan berharap bahwa Ade selamat dan masih hidup hingga saat ini.