ORION

ORION
Endaru Telah Datang!



☠BAB 54 Endaru Telah Datang!


Sekitar beberapa menit lagi, fajar akan menyingsing. Salah satu dari mereka tidak ada yang mengalah bahkan setelah Orion dibuat meringkuk tak berdaya.


Seluruh tubuhnya terbakar namun dirinya masihlah tetap utuh. Dari tulang ke tulang hingga otot dan ujung jari kaki. Ia membujur kaku sesaat namun ketika Eka menghampirinya, semua luka itu kembali pulih.


Dengan tatapan benci, Orion secara insting menghindar darinya lagi. Eka sama sekali tidak berniat bertarung dengan serius. Apalagi ia tahu betul kelemahan Orion saat ini.


“Dunia NED itu dipenuhi orang yang berkuasa, berambisi, kuat dan sulit dikendalikan bahkan untuk diri mereka sendiri. Harusnya kau tahu, datang kemari adalah pilihan terburuk.”


Tap! Satu langkah, ia berpijak pada lantai dan api menyambar keluar ke atas dari kakinya itu. Keganasan dari api itu tak kunjung berhenti, ia menggunakan tendangan dengan api yang masih menyala untuk menyerang Orion.


Kalang kabut, tak ada waktu menghindar dan hanya dapat menahan serangannya. Namun lagi-lagi tulangnya patah lalu kembali ke sedia kala.


“Kekuatan itu ...sungguh sangat g*la!” cerca Orion menekuk kedua alisnya.


Ia kini terdiam dengan tubuh gemetar hebat. Tak menyangka bahwa Eka akan selalu menyerang sekaligus menyembuhkan Orion seperti ini.


“Kalau kau mau membunuhku, kenapa tidak kau lakukan sejak tadi? Harusnya aku ini lemah dan mudah dikalahkan meski hanya dengan satu jari,” sahut Orion.


Sembari menatapnya merendahkan, Eka berkata dengan nada sombong, “Kan, aku sudah bilang. Bahwa aku lah yang mengendalikan hidup dan matimu! Tergantung kemauanku, kau bisa terus hidup atau juga mati.”


Yah, ini sudah sesuai dugaan. Orion tahu betul itu.


“Caraka adalah rekan Chamelelon. Apa aku salah dengar sebelumnya?” tanya Orion mengalihkan pembicaraan lain, lalu bangkit dari lantai.


“Ya. Kenapa? Jangan bilang kau ingin bertemu dengan Tuan Caraka karena dia adalah rekan Chameleon, orang yang pertama kali bangkit dari kematian?” pikir Eka seraya melipat kedua lengan ke depan dada.


“Tentu saja. Aku ingin bertemu dengannya karena kupikir, dia tahu jawabannya,” ucap Orion seraya menyeka darah yang mengalir keluar dari mulutnya.


Kembali mengangkat tubuh dan kedua lengan dengan senjata yang melekat pada kulitnya. Orion mengandalkan kecepatan pada serangan, sehingga sekali ayun pun, api itu keluar bagai bilah pisau terpisah.


Srat! Orion sendiri terkejut ketika kecepatan serangan dari ayunan bilahnya meningkat. Juga sangat tajam sampai membuat tubuh Eka terbagi menjadi dua.


“Hehe! Nah, begini baru aku tahu rasa dari kekuatanmu, Orion!” pekik Eka kegirangan.


Eka sama sekali tak merasakan kesakitan namun jelas itu takkan membuatnya mati. Sebelum memulihkan diri, Orion melesat ke arahnya dan membuat bilah pedang sekali lagi menyayat tubuh Eka lebih dalam.


Darah keluar dengan derasnya, sampai terciprat ke mana-mana bahkan ke tubuh Orion sendiri. Namun Eka sama sekali tak menunjukkan ekspresi kesal, melainkan justru semakin senang.


Sraaaa! Api hijau itu melilit tubuh Eka. Membuat tubuhnya kembali tersambung dan pulih seutuhnya tanpa bekas sama sekali.


Suara desisan ular itu kian menggaung ke seluruh sudut yang ada di ruangan ini, dan telinga Orion terasa tersumbat oleh sesuatu.


“Ugh, aku benci ular hijau yang warnanya seperti alpukat!” amuk Orion seraya menutup telinga dan matanya bergantian.


“Keluarkan lagi, Orion! Keluarkan!” teriak Eka meminta untuk diserang.


“Apa kau g*la? Berhenti menyerangku!”


“Loh? Kenapa?”


“Itu karena kau sulit dilawan! Makanya aku jengkel!” amuk Orion meninggikan suara kerasnya.


Mendengar itu, membuat Eka berwajah kesal. Ini kali pertama ia melihatnya marah secara langsung?


Ular yang berada di pundak Eka menghilang, kobaran api berwarna kehijauan sesaat memenuhi ruangan. Seolah berputar di dalam pusaran air laut.


Perlahan-lahan, api hijau kian menyusut, manik-manik Eka yang mencolok terlihat bersinar ketika apinya melewati wajah.


“Kau sangat tidak asik. Apa benar kau pria berusia 30 tahun?”


“Memangnya ada hubungannya denganmu?”


Orion sekali lagi mengayunkan lengan, bilah yang tajam itu menyerupai serangan Jhon. Yang di mana ia menyerang secara beruntun dan membukit semakin naik menjulang ke atas.


Diselingi serangan tajam, serta kobaran api jingga yang gelap. Dengan cepat serangan Orion mampu menebasnya hingga terbelah menjadi dua.


“Eh?” Orion terkejut heran. Ia sebenarnya tak menyangka dan juga tidak sengaja karena telah melakukan hal tersebut.


“Huh, harusnya aku menuruti perintah Tuan Caraka saja, ya?” gumam Eka seraya mengulurkan tangan ke depan.


Kedua tubuh Eka lagi-lagi kembali tersambung seakan-akan memang tidak pernah terbelah jadi dua. Ketika mengulurkan tangan, membentuk spiral yang terus berputar, perlahan ujungnya berubah menjadi tajam dan kecil setipis ujung jarum.


Jrashh!! Namun ketika api dalam pembentukan seperti itu didorong, justru berubah menjadi jarum yang besar saat setelah menembus pundak Orion.


“Arghhhh!!!! Ugh!! Sa-sakit ...sekali!!”


Orion menjerit kesakitan, tulang belikatnya lenyap, lantas pundaknya diserang sampai tulang bagian tangan itu nyaris terlepas dari tubuhnya. Kedua kakinya lemas, tak lagi sanggup menopang, Orion terjatuh.


Brak!


Pria dengan pakaian serba hitam secara tak sengaja mendobrak kaca jendela sampai pecah. Ia adalah Endaru, melihat Orion yang masih menjerit kesakitan membuat ia sangat terkejut.


Kemudian ia beralih pada seorang pria berambut pirang. Sontak, ia menargetkannya sebagai sasaran empuk. Medan gravitasi menekan kuat Eka hingga terduduk di lantai.


DUK!


Eka tak bisa bergerak sembarangan, lantaran daya gravitasi ini menariknya kuat ke bawah sampai menghancurkan lantai.


“Kekuatan ini, Pahlawan Kota, ya?”


Eka menoleh ke jendela dan melihat sosok pria itu yang tengah menatapnya dengan dingin dan tajam. Semburat-semburat kemerahan muncul di sekitar tubuh Endaru dan daya gravitasi kian meningkat.


Tanpa menjawab pertanyaan Eka. Endaru justru melangkah masuk dan menghampirinya. Tekanan demi tekanan, daya gravitasi kian meningkat begitu Endaru perlahan mendekat kepadanya.


Hal itu membuat tubuh Eka merasakan sakit yang luar biasa. Tubuhnya gemetaran kuat dan tak mampu menggerakkan seujung jemari pun.


“Hei, apa yang kau lakukan pada anak itu?”


Ketika Endaru bertanya, Eka langsung beringsut dan hanya menganga tak dapat menjawab apa-apa.


Tekanan dari Endaru membuatnya tak habis pikir, satu-satunya cara yang dapat ia lakukan hanyalah mengubah dirinya menjadi lendir hijau.


Tidak hanya sebatas lendir biasa, lendir itu dapat melelehkan sepatu Endaru. Sontak terkejut, ia pun melangkah mundur.


Seraya melepas sebelah sarung tangannya, ia berkata, “Orang yang menjijikan sekali.”


Medan gravitasi meningkat 10x lipat. Udara menipis dalam waktu singkat, pergerakan Eka sepenuhnya terhenti.