ORION

ORION
Sejarah Kuno Dunia NED, Benarkah Itu?



Endaru semakin kebosanan, tak ada habisnya ia selalu membaca yang bukan kegiatan yang disukainya. Endaru kemudian melihat langit-langit ruangan bawah tanah. Sesekali mencari jalan lain namun berujung buntu dengan banyak rak-rak buku ataupun obat-obatan.


Suatu ketika, ia menemukan sesuatu yang terlihat sebagian di atas rak yang paling besar. Beberapa kali ia memastikan, apakah ia tak salah lihat.


Namun setelah mencoba menjatuhkannya dengan menarik gravitasi, rak sedikit bergoyang dan akhirnya menjatuhkan satu buku yang lain.


“Ternyata aku tidak salah lihat. Orion, kemarilah!” pinta Endaru kepadanya.


Orion bergegas menuju ke tempat Endaru dan langsung saja membuka setiap halaman di buku itu. Terlihat dari sampulnya yang sama namun isinya jauh lebih berbeda dari buku-buku sebelumnya.


Endaru menelan ludah dan bersiap untuk membaca.


“Kalau takut, biarkan aku yang membacanya,“ sindir Orion.


“Aku tidak takut!” sangkal Endaru dengan mata melotot.


Isi dari buku itu, tak lain adalah asal-usul kebangkitan dari para manusia. Semua yang memiliki dosa terhadap keluarga, orang lain atau pada diri sendiri, semuanya akan bangkit.


Tetapi, mengingat adanya banyak manusia yang pasti memiliki setidaknya satu dosa. Juga kematian manusia yang jumlahnya tak terhitung, itu membuat mereka berpikir,


Sudah berapa banyak Pejuang NED terlahir?


Tak terhingga namun yang terlihat hanyalah segelintir dari banyaknya populasi. Itu baru di satu negara, belum negara yang lain.


Di balik halaman tertulis pula bahwa, "Manusia yang mengalami kebangkitan setelah kematian adalah karena dewa-dewa kuno."


“Apa maksudnya?” tanya Endaru tidak mengerti.


“Apalagi aku yang sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal berbau mistis seperti ini.”


Dewa-dewa kuno yang konon katanya tinggal di kahyangan, di atas langit. Mereka membuat kebangkitan di antara para manusia serta membuat mereka memiliki kekuatan yang diluar nalar. Itu disebut supernatural.


Kekuatan yang seperti itu akan menggulingkan dunia itu sendiri. Entah apa yang dipikirkan para dewa kuno di atas sana ketika dunia benar-benar hancur karena kekuatan yang dimiliki para manusia.


“Aku tidak tahu tentang sejarah ini sebelumnya,” gumam Endaru.


“Aku pun sama.”


Srak! Endaru sekali lagi membalik halamannya dan menemukan selembar kertas yang tampaknya diselipkan di antara halaman yang Endaru buka. Dan selembar kertas itu ukurannya lebih kecil dari selembar lainnya.


Di sana tertulis, "Jangka waktu yang dimiliki manusia dengan darah penghubung jiwa dan raga cukup sempit dari manusia lainnya."


Tulisan itu mengingatkannya akan ucapan Dr. Eka sebelumnya tentang Pejuang NED yang memiliki darah langka itu, tubuhnya akan menyusut lalu mati saat darahnya terkuras sampai habis.


Seketika Orion dan Endaru bergidik merinding, seluruh bulu kuduk mereka berdiri tanda mengetahui seberapa besar penderitaan Pejuang NED terutama yang memiliki darah itu.


Endaru merasa bersimpati, ia lantas bertatapan dengan Orion.


“Orion, kau tak apa?” Dari suaranya, jelas Endaru mengkhawatirkan Orion.


“Jangan terlalu dipikir panjang,” kata Orion berusaha menenangkan diri sendiri meski wajahnya berkeringat.


“Tapi, jangka waktu yang lebih sempit dari Pejuang NED lainnya, apakah itu berarti kita semua akan mati meski tidak bertarung sekalipun?” pikir Endaru kembali melihat tulisan di atas selembar kertas tersebut.


“Semua orang pada akhirnya akan mati, Endaru. Entah karena perang, penyakit bawaan, kecelakaan atau hal-hal lainnya,” ujar Orion berupa fakta yang sebenar-benarnya.


“Ah, kau tidak mendengarkan. Dasar,” gerutu Orion.


Halaman yang Endaru tunjuk berupa sebuah tulisan lain lagi. Yakni, efek bagi para manusia yang meminum darah penghubung jiwa dan raga adalah ingatan yang masuk secara berangsur-angsur.


“Apa maksudnya lagi ini? Aku tidak mengerti. Hei, Orion!” Endaru menegas di kala ia kesulitan memahami arti dari kata itu.


“Itu sangat mudah dipahami, Endaru! Apa kau tidak pernah belajar?” pekik Orion.


“Dasar orang tua! Kau pikir aku yang saat itu bangkit di usia ke berapa, hah? Usia 5 tahun! Dan saat itu juga, kedua orang tuaku sudah tidak ada!” amuk Endaru.


“Banyak omong sekali! Belajar mandiri juga bisa!”


“Pantatmu itu yang bisa!”


Mereka pada akhirnya saling bertengkar dan bertukar kata dengan suara meninggi. Mereka saling bertukar tatap dengan tajam layaknya kucing dan tikus.


“Ck, dasar bocah manja!” cerca Orion memalingkan wajah.


Tak ada habisnya mereka bertengkar jika terus saling mencaci-maki seperti ini. Kala itu, mereka sama-sama merasakan hawa di ruangan ini berubah. Semula yang terasa biasa saja kini berubah seperti ada seseorang yang datang.


Mereka melihat ke sekitar dan memastikan tidak adanya orang datang. Setelah beberapa saat, benar-benar tidak ada siapa-siapa. Hening.


Kembali mendengus kesal, Orion kemudian mencoba menjelaskan apa maksud dari kalimat yang tertulis di selembar kertas itu.


“Kau yang telah meminum darahku yang langka, akan mengetahui semua ingatanku baik dari yang aku ingat ataupun tidak,” jelas Orion.


“Hah, ternyata hanya itu saja,” ucap Endaru meremehkan.


“Biar aku peringatkan satu hal. Darahku yang mengalir ke tubuhmu akan membuatmu melihat semua kenangan baik dan buruk. Dan kau bisa saja mati stres karena ingatan milikku bertumpang tindih dengan milikmu,” tukas Orion memperjelas.


Jika dipikirkan kembali, Endaru akhirnya mengerti bahwa ini tidak bisa disepelekan. Ia harus bisa mengontrolnya karena jika tidak maka seperti yang dikatakan oleh Orion akan menjadi kenyataan.


“Tapi Endaru, kalau tidak salah ingat, kau dulu pernah berkata bahwa dirimu pernah mati sebelum bertemu denganku?” Orion bertanya.


“Ah, itu. Ya, kau benar. Aku punya rahasianya sendiri.” Endaru lagi-lagi enggan memberitahukan tentangnya lagi.


Orion mengerti mungkin itu mengingatkannya akan masa lalu yang cukup buruk.


Setelah itu mereka melirik ke sebuah gambar yang tertuang di sebelah tulisan itu. Gambar api dengan air yang jatuh di atasnya.


“Api abadi.”


“Apa? Memangnya ada hal seperti itu?”


“Mungkin iya. Karena Caraka mengincar kekuatan api yang dimiliki Pejuang NED termasuk aku untuk memastikan apakah api itu api abadi atau bukan,” kata Orion.


Api abadi, cerita ini pernah menjadi bahan perbincangan di kalangan orang biasa. Dulu sekali, ada seseorang yang menemukan api, dipikirnya api itu akan padam tak lama setelah beberapa hari berdiam di gua saat musim hujan datang.


Namun keesokan harinya, api itu tidak kunjung padam dan ketika disiram pun apinya tetap hidup. Tidak membesar juga tidak mengecil. Karena itulah api itu disebut Api Abadi.


“Kalau benar begitu, sekarang api itu di mana?” tanya Endaru yang jelas saja ia masih tidak mengerti.


“Bagaimana kalau kita saling bertukar jawaban? Aku akan menjawab Api Abadi itu di mana dan kau harus menjawab siapa orang yang membuatmu bangkit sebelum aku?”