
Berita buruk, semalaman mereka tidak bertemu dengan Ketua Meera namun begitu hari berganti esok, ponselnya aktif dan dapat dihubungi. Tetapi, buruknya lagi, Ketua Meera tidak mengingat apa yang menjadi tugasnya sampai datang ke negara asing ini.
Tentu ini adalah kabar terburuk, mereka pun memikirkan satu hal yakni: Chameleon. Pria atau wanita itu lah yang membuat Ketua Meera menjadi seperti itu. Sementara Ketua Meera sudah berada di tempat aman bersama dengan seorang nenek dan wanita muda yang telah menolongnya.
“Hei! Pria yang sudah bosan hidup itu hilang!” pekik Endaru di pagi-pagi buta.
Sontak, Mahanta membuka matanya dengan terkejut. Ia bergegas beranjak dari tempat tidur minimalisnya dan segera mencari asal suara yang mengatakan bahwa Orion telah menghilang.
“Apa?! Apa katamu?!” pekik Mahanta yang membuat Runo dan Ramon yang berada di dalam ruangannya terbangun dengan paksaan.
“Tenang, Tuan Mahanta yang gagah perkasa. Ini pagi-pagi buta. Dan untukmu Tuan Pahlawan Kota, akan lebih baik kau memakai celanamu lebih dulu,” ujar Dr. Eka yang sejak tadi selalu berada di dekat jendela sembari menyeruput minuman hangatnya.
“Ah!” Endaru terkejut, ia pun buru-buru mengenakan celana yang ada di dalam ruangannya dengan tergesa-gesa.
“Dokter! Apa kau mendengar apa yang dikatakan oleh Pahlawan Kota?” tanya Mahanta.
“Iya, tentu saja. Katanya, "Orang yang sudah bosan hidup itu menghilang!", begitu.” Dr. Eka menganggukkan kepalanya sedikit.
Saat itu fajar belum menyingsing. Masih gelap dengan banyak bintang bertaburan di langit. Dikatakan pagi namun ini masih pagi-pagi buta sehingga membutuhkan banyak waktu bagi seseorang untuk memahami setiap perkataan orang lain.
Termasuk yang telah terjadi saat ini, pada Mahanta. Setiap kalimat Dr. Eka tidak ada yang salah, hanya saja Mahanta butuh waktu untuk memprosesnya dalam otak yang sempat tersendat itu.
“Maksudmu ...Orion?” Barulah Mahanta mengetahui apa maksud dari perkataan Dr. Eka.
“Tetapi kenapa harus disebut seperti itu? Aku tidak akan membiarkan Orion mati lagi!” ujarnya dengan tegas, mengatakannya dengan yakin takkan membiarkan hal itu terjadi pada Orion.
“Hei, pria kekar! Segera pesan taksi online lalu kita pergi ke tempatnya wanita gorila itu!” pekik Endaru yang berada di daun pintu ruangan.
BRAK!
Ketua Irawan muncul dari balik ruangan yang lain dengan perasaan kesal. Lalu menatap sinis pada Endaru yang terus-menerus berteriak.
“Pahlawan Kota, bisa tidak kau tidak usah berteriak seperti itu!” amuknya seraya memijat kening. Berusaha untuk menahan amarah selagi bisa.
“Sudah, Tuan Janu Irawan? Anda sedang sakit, akan lebih baik tidak turun dari ranjang. Anda 'kan sedang demam panas,” ucap Dr. Eka yang tiba-tiba berada dekat dengan Ketua Irawan. Dr. Eka mengecek suhu badannya.
Mahanta pergi ke kamar belakang dan mencuci wajahnya dengan air segar. Setelah itu pun ia kembali ke ruang tengah, dengan beberapa orang asing yang tengah menuruni tangga.
“Maaf, Tuan dan Nyonya. Kami tidak akan melakukan kegaduhan yang sama lagi, jadi tolong maafkan kami,” ucap Mahanta pada mereka yang telah menunjukkan ekspresi marah.
Beberapa dari mereka pun memaklumi karena mengira orang-orang yang dibawa Mahanta masihlah anak muda. Akan tetapi, beberapa yang lain justru semakin kesal.
Ada yang berkata dengan tegas seolah menyindir. “Tidak akan melakukan hal yang sama lagi? Apakah itu artinya kalian akan melakukan kegaduhan yang berbeda nantinya?!”
Pada akhirnya Mahanta lah yang menerima semua omelan itu. Sedangkan Endaru, ia sedang melarikan diri dari jendela kamar dan menunggu situasi kembali mereda.
“Kalau begitu, Dokter. Aku titipkan Runo dan Ketua Irawan padamu. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang bukan pengobatan,” jelas serta ancam Mahanta kepadanya dengan wajah serius.
“Tenang saja. Saya sudah berjanji pada tubuh yang berharga itu, ah ...maksud saya Orion,” ucap Dr. Eka dengan senyum tersungging.
“Tuan Mahanta, ponsel milik Pak Orion sudah diambil. Mungkin akan lebih baik, hubungi Pak Orion terlebih dahulu,” sahut Runo dengan menahan kantuknya.
Orion telah berada di lokasi yang telah dikatakan oleh seorang nenek lewat ponsel milik Ketua Meera. Saat ini ia sudah berada di kota Cal-Forn, Jl. xx no. 5A.
“Ini ya tempatnya,” gumam Orion seraya memegangi ponsel itu. Tak lama kemudian ia memasukkan ponsel itu ke dalam saku celana dan bergegas menuju rumah tersebut.
Dok! Dok!
Usai Orion mengetuk pintu selama dua kali, seorang wanita dengan pakaian tuksedo muncul dengan membuka pintunya.
“Maaf, Anda siapa?” tanya wanita itu.
“BODOH! DIA ORANGNYA!” Terdengar suara jeritan dari dalam ruangan, ia adalah sang nenek wanita yang berada di hadapan Orion saat ini.
“Ah, maaf. Saya tidak begitu tahu. Baiklah, silahkan masuk. Rekan Anda sedang berada di meja dapur.“
Wanita itu pun segera mempersilahkan masuk Orion ke dalam. Dengan sikap tenang di luar namun di dalam sangat berwas-was ia pun masuk.
“Ketua Meera!” panggil Orion tiba-tiba. Seketika Ketua Meera menghentikan tindakannya di meja dapur lalu berjalan menghampiri Orion.
“Kupikir yang akan menjemput adalah Ketua Irawan. Tapi kenapa pria asing yang tidak aku kenali?” tanya Ketua Meera dengan sikap ketusnya. Bahkan tatapannya menukik tajam seolah Orion adalah ancaman.
“Maaf, tapi Anda sendiri sedang berada di lingkup asing. Dan saya adalah Orion Sadawira, tidakkah Anda mengenali nama ini?” tanya Orion sekadar memastikan.
“Ha? Orion? Tidak, aku sama sekali tidak kenal.” Ketua Meera mengibaskan tangannya serta memalingkan wajah.
“Bahkan seorang anak kecil pun?” Orion kembali bertanya. Bermaksud untuk mengetahui sejauh mana ingatan Ketua Meera tentangnya.
“Tidak. Sama sekali.”
Tapi ternyata tidak sama sekali. Dengan ini Orion jadi mengerti, bahwa ingatan Ketua Meera tertutup di bagian setelah ia mengenali Orion.
“Kalau begitu, apa Anda mengingat mengapa kita berada di negara asing?” Merasa tak puas, sekali lagi Orion menanyainya.
“Tidak. Maka dari itu aku meminta Ketua Irawan saja yang menjemput. Atau Mahanta juga bisa?” ketus Ketua Meera.
Nampaknya sudah mustahil untuk membuatnya teringat, setidaknya tugas Ketua Meera yang berada di negara asing ini.
“Kalau begitu ...Anda tidak bisa menjelaskan apa telah Anda lalui dengan Chameleon?”
“Chameleon?!” Ketua Meera tersentak kaget.
“Sudah saya duga Anda tidak akan mengingatnya,” ucap Orion pasrah.
“Hei! Hei! Hei! Dilarang!” teriak wanita muda yang berpakaian tuksedo itu yang berdiri di antara mereka sambil menyilangkan kedua lengannya ke depan menghadap Orion.
“Apa?”
“Jangan katakan apa pun yang membuatnya terguncang. Semua yang Anda katakan mengenai ingatan yang hilang, nanti akan membuat kakak satu ini akan kesakitan!” ujarnya dengan tegas.
Ketika pesulap wanita ini tengah mengomeli Orion, tampaknya Ketua Meera memikirkan sesuatu dengan keras. Sesekali Orion melihatnya dengan raut wajah muram dan kemudian ia mengangkat sebelah alisnya.
“Ah, ingat. Tapi hanya sekilas, aku terlihat seperti melindungi seorang wanita yang jauh lebih muda dariku. Dia mungkin masih sekolah,” ungkapnya seraya menatap Orion dengan heran.