
Sudah berlama-lama mereka bersorak hingga jeritan itu semakin lama semakin mengecil karena kelelahan. Saat itu, ketika Orion hendak menyebut nominal, dirinya terpaku oleh salah seorang hadirin di antaranya.
Membuat Orion tidak lagi mengatakan apa-apa. Bahkan ketika suasana kembali menghening.
“Apa yang dia lakukan? Kenapa tidak bicara? Padahal saat ini adalah yang pas untuk mengambil kesempatan itu,” gerutu Ketua Irawan yang berada di balik tirai di sana.
Sementara Orion, ia masih terpaku pada seorang pria itu. Yang mengenakan setelan jas rapi berwarna hitam dengan rambut yang sama hitamnya. Hanya dengan melihat punggung, tentu itu tidak membuat Orion mengenali siapa pria tersebut.
Akan tetapi Orion memiliki firasat terhadapnya. Lantaran, ia dibuat penasaran karena punggungnya yang gemetaran.
“Dia sedang tertawa?” pikir Orion yang semakin mendekatinya.
Tak hanya punggung pria itu saja yang gemetaran tanpa sebab, namun begitu dilihat dari dekat, terlihat dari mulut yang terbuka lebar menampakkan gigi geraham, tanda bahwa ia sedang tertawa.
“Kenapa dia tertawa?”
Semakin penasaran, Orion pun menepuk pundaknya.
“Hei, kau!”
Plak!
Secara reflek, pria itu menghindar seraya menoleh ke belakang dengan terkejut sembari menepis tangan Orion.
“Orio—umph!” Pria itu kemudian menutup mulutnya rapat-rapat ketika ia hendak menyebut sesuatu.
“Apa ini hanya perasaanku saja? Kalau pria tanpa topeng ini mirip dengan Orion? Hah, rasanya seperti aku diteror oleh bocah itu,” batin pria tersebut seraya menjauh.
Orion menatap tajam ke arahnya, tampak ia memikirkan sesuatu lebih dalam tentang seseorang yang berada di hadapannya sekarang.
“Pria ini terlihat familiar bagiku.” Begitulah pikirnya.
“Apa yang Anda butuhkan?” tanya pria itu dengan berwaspada. Ia sedikit demi sedikit menyeret langkah kakinya ke belakang, seakan-akan takut.
“Permisi,” ucap Orion, meraih topeng itu lalu melepasnya tanpa ragu.
Tak!
Setengah topeng itu jatuh ke lantai. Dalam kebisingan yang kian lirih, Orion melihat wajah itu secara langsung. Wajah familiar, seseorang yang menyebut dirinya sebagai Informan.
Wajah yang tidak akan mudah ia lupakan. Sebab orang inilah yang menerima darah Orion sebagai pembayaran atas informasi yang dibutuhkan. Dari situ, Orion memiliki dugaan bahwa segenang darah itu adalah miliknya.
Akan tetapi, saat itu hanya setetes darah saja. Tidak sebanyak yang ia lihat di dalam wadah kaca tersebut.
“Darah itu, apakah darah milik seorang anak kecil?” Orion mulai bertanya.
“Gawat, ternyata Pejuang NED ya!”
Drap! Drap!
Pria yang diketahui adalah informan berlari menghindar dari Orion. Tapi, Orion tidak akan melepaskannya begitu saja. Sebab pria itu lah yang membuat darah itu dilelangkan.
“Kurang ajar! Pantas saja dia tertawa! Karena semakin tambah nominalnya maka dia akan semakin melejit! Dasar!”
Pada dasarnya, ketika Orion hendak mendapatkan informasi darinya, sebagai pembayaran ia menawarkan darah langka. Orion pikir itu adalah hal setimpal, jika ditukar dengan informasi Chameleon.
Tetapi sayangnya informan justru memanfaatkan setetes darah itu untuk dilelangkan di luar negeri.
“Hei! Berhenti!”
“A-aku bukan orang yang menjual itu!” dangkalnya berteriak seraya berlari dan menoleh ke belakang selama beberapa saat.
“Bukan apanya?! Kalau bukan, sudah pasti kau tidak akan berlari! Cepat kemari kau!”
“Ya ampun! Dasar lelaki mesum! Pergi kau!” Terdengar lagi suara seorang wanita, kemudian menggebuk informan yang tengah bersembunyi di belakangnya dengan sebuah tas.
“Hei, berhenti! Tolong cepat! Hentikan pria itu sekarang!” pekik Orion meminta tolong pada orang yang berada dekat dengan posisi informan.
“Kau yang berhenti!”
Jduak!
Salah seorang hadirin, yakni pria berpostur tubuh sedikit besar menjegal kaki Orion hingga tersandung lalu jatuh ke lantai. Kening Orion lah yang pertama kali mendarat dengan sempura, menyebabkan rasa sakit serta rasa malu yang mengingatkannya akan masa lalu.
“Astaga! Terjatuh seperti ini untuk yang kedua kalinya,” gerutu Orion yang mengingat bahwa dirinya pernah terjatuh dengan posisi yang sama (kejadian di hotel. Saat dikejar oleh kembar tiga).
“Pak Orion?” Di satu sisi, Runo yang telah kembali pun hanya terdiam di pojokan, sekilas melihat Orion yang bertekuk lutut di lantai. Hendak menolong namun entah kenapa kedua kakinya enggan bergerak.
Orion kembali bangkit dan mengejar informan itu lagi. Ia tidak peduli jika dirinya dilirik oleh banyak orang terutama mc dan wanita di sana. Pelelangan di Undergrown hari ini tampaknya tidak akan berakhir lebih cepat, lantas kekacauan selalu saja terjadi. Hingga saat ini juga.
“Informan! Kau seharusnya tidak menjual darah itu!”
“Ck! Apa urusanmu?! Dasar br*ngs*k!”
Setiap kali Orion meneriakinya, informan itu selalu membalas dengan makian. Semua orang yang mendengar hanya terbengong-bengong saja, kala mereka berdua sangat menganggu jalannya pelelangan.
“Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi?” Mc pun hanya terdiam dengan wajah datar, tak peduli.
“Sepertinya ada perdebatan. Pria yang dikejar itu sebenarnya tamu yang membawa barang lelang saat ini,” jawab wanita berpakaian bak kelinci hitam.
“Kau mengerti situasinya, ya.” Bergumam dengan wajah kesal.
“Naik 3 M! Siapa yang akan membawa barang ini!” teriak mc itu yang tiba-tiba kembali semangat.
Sontak, hadirin yang sebelumnya sangat kelelahan karena terus berteriak, kini mulai kembali bersorak lebih kencang. Saling menyahut satu sama lain, tidak membuat kesempatan pada pria bertopeng hitam yang kini masih diam dengan berpangku tangan ke depan.
Gedubrak!
Di satu sisi ketika pelelangan masih berlanjut, Orion terjungkal ke bawah. Jatuh dengan menubruk informan itu secara langsung. Mereka berdua telah berada di area bawah, tempat di mana sang mc dan wanita kelinci sebagai rekannya berada saat ini.
“Jangan bergerak!” Orion menancapkan ujung pedang ke lantai, berada dekat dengan leher informan itu.
“Ka-kau! Berada di bawah grup siapa? Aku akan membayarmu untuk tutup mulut. Jadi biarkan—”
“Jangan anggap remeh aku. Darah langka tidak seharusnya dilelang. Untuk apa kau melakukan ini? Hei, Informan!”
“Tentu saja, untuk uang. Apa lagi?” sahutnya dengan ringan.
Zrak!
Pedang merah yang melekat ke lengan kirinya seketika kembali masuk ke dalam kulit Orion. Orion lantas bangkit, namun tetap ia menatap tajam serta kesal pada pria yang kini terbaring dengan ketakutan.
“Dasar, dia tidak bisa diajak kerja sama. Kalau begitu, aku harus membuat panggung lelang semakin memanas.” Informan membatin dengan terkekeh-kekeh, ia merencanakan sesuatu lagi.
Segera, pria itu menjauh dari sisi Orion yang terus memperhatikan dirinya. Rekan Orion, yakni Runo dan Ketua Irawan pun juga bereaksi hal sama. Lagipula siapa yang tidak mengenal informan itu? Sekalipun mereka tidak kenal, kalau Orion saja terlihat mewasapdai dan akan menyerang, itu juga adalah sebagai tanda.
“Hei kalian semua! Kalian pasti sangat menginginkan darah langka ini, bukan?! Aku tahu kalian ingin sekali mendapatkannya. Tapi di pelelangan ini, hanya ada beberapa tetes saja!”
“Pria itu bicara apa?”
Informan mulai berpidato dengan suara keras hingga menggema ke seluruh sudut ruangan. Terakhir, yang akan dibicarakannya lagi pun membuat semua terpaku pada Orion.
Sebaris kalimat yang menyatakan, “Pria yang di sana adalah pemilik darah langka itu!” Sembari menunjuk Orion.