ORION

ORION
Para Ketua



Akibat jiwa yang sudah terhubung, ibarat Orion memiliki dua jiwa itu sendiri, mereka berdua akan saling terkena dampak yang sama hingga salah satu dari mereka akan mati ke depannya.


Karena terbentur cukup keras karena dinding Ketua Irawan, Gisan terluka di bagian kepalanya. Beruntung kepala Gisan masih utuh dan ia masih bertahan hidup hingga saat ini. Tetapi, Orion yang juga merasakan dampak yang sama lantas ambruk, ia kesulitan menahan rasa sakit itu sebab dirinya sudah terluka karena pertarungan melawan Chameleon.


Meski dikatakan Orion dan Gisan saling terhubung karena darah langka, namun tetap saja Gisan tidak akan terlalu merasakan rasa sakit milik Orion langsung. Dan yang paling dirugikan di sini adalah Orion.


Tak lama setelah ia mencoba menenangkan dirinya dan berusaha bertahan, Orion naik ke atas dari ruang bawah tanah lalu bertemu Endaru yang nampak kesulitan melawan Iki.


Orion membantu sebisanya, dan berkat itu Endaru dapat ke lantai atas, menyusul semuanya. Sesaat setelah dipikir Iki melemah dan jadi lebih mudah tumbang daripada biasanya, Orion yang kemudian bergegas menuju ke lantai atas justru lengah karena Iki telah menyiapkan sesuatu di tangannya.


“Ayah, kau baik-baik saja?!”


“Hei, di mana Gista? Maksudku Ketua Arutala?” tanya Orion mengabaikan Endaru.


“Aku tidak tahu. Tadi dia ada di sini.”


Gista mendadak hilang di saat-saat krusial begini. Sementara Chameleon meski dibekukan pastilah akan segera melepaskan diri dari sana.


“Ketua Irawan, Mahanta! Segera pergi dari sana!” teriak Orion.


Setelah mengamati banyak situasi mengenai Chameleon, Orion langsung tahu bahwa Chameleon akan melakukan penyerangan. Karena itulah ia bergegas menyuruh mereka berdua untuk segera pergi dari sana.


Sebelum kedatangan Orion, Ketua Irawan dan Mahanta saling bekerja sama. Meski cara itu mungkin akan jelas terlihat namun setidaknya akan membuat celah besar pada tubuh Chameleon, dan sekarang inilah hasilnya. Ketua Irawan dan Mahanta berhasil mendaratkan serangan bersamaan dari depan dan belakang. Lalu muncul pembekuan di beberapa titik tubuh Chameleon, yang Orion duga karena kekuatan Gista.


Tetapi, di mana Gista?


“Nona!!”


Siapa sangka bahwa ternyata selama ini Gista berada dekat dengan Chameleon. Demi membunuhnya ia nekat mengubah tubuhnya sendiri menjadi partikel es dan menyusup langsung ke tubuh Chameleon agar pembekuan selamanya terjadi.


Mahanta yang melihat sisa-sisa partikel es kembali berkumpul membentuk wujud Gista lantas terkejut, ia hendak membantunya keluar dari sana namun Orion mencegatnya.


“Tunggu, Mahanta!”


“Kenapa?!”


“Kenapa? Tidak bisa lihat ya? Jika kita terkena sedikit partikel es, maka kita akan sama seperti Chameleon saat ini,” ketus Orion.


“Memangnya serangan tadi tidak cukup?”


“Pikirlah dengan kepala dingin, monster yang lebih tidak waras ini apakah benar-benar bisa dibunuh hanya dengan ditusuk saja?” ujar Orion.


Sengaja ia mempertegas bahwa Chameleon itu tak bisa diserang sebagai manusia jahat atau kriminal biasa. Inilah Chameleon. Jika tidak diserang terus-menerus atau membuatnya tak bisa bergerak, maka Chameleon akan selamanya terbebas.


“Kalau begitu kita harus bagaimana?”


“Tunggu sebentar lagi.”


Sementara itu terjadi, Runo yang masih verada di dalam lautan bersama Ramon yang tak terkendali, nampaknya Runo sangat kesusahan menghadapinya.


Laut adalah tempat yang tidak cocok bagi seseorang yang tidak bisa berenang, meski Runo bisa melakukan hal itu tapi tidak jika terus diserang menggunakan bilah angin yang bisa digunakan di dalam air.


Bagian depan dan belakang tubuhnya terluka cukup parah, Runo memaksakan diri agar tetap sadar dalam kondisi parah seperti itu sebab dirinya harus melakukan sesuatu terkait kekuatan Chameleon.


'Masih belum! Aku belum menggunakannya! Kekuatan itu ...harus aku yang merusaknya!' batin Runo.


Benar, alasan terbesar Runo yang gigih untuk terus sadarkan diri setiap kali Ramon menyerangnya adalah, karena kekuatan Chameleon.


Selama ini ia hanya berdiri sebagai pengecut, namun ketika membentuk sebuah rencana, Gista mengatakan satu hal pada Runo mengenai kekuatannya yang dapat merusak kekuatan absoult itu sendiri, yakni Lingkaran Penghisap Jiwa.


'Chameleon, kekuatanmu itu luar biasa mengerikan. Sejahat apa kau yang harus menggunakan kekuatan hina itu hanya untuk ambisimu?'


Runo mengangkat kedua tangannya ke atas, semakin lama ia semakin tenggelam ke dalam. Ia juga kesulitan untuk melihat langitnya.


Karena ia membutuhkan penglihatan yang jelas, Runo harus sesegera mungkin berenang ke atas. Jika memungkinkannya untuk pergi ke daratan, sudah pasti Runo akan lakukan.


SYAAKK!


Tetapi, tetap saja mustahil karena ada satu pengganggu di sini. Andai Runo bisa menggunakan kekuatannya dalam air, maka mengunci pergerakannya itu perkara mudah. Namun salju akan cepat mencair di sini.


“Gah! Ra ...Mon! Sadar ...lah! Blah ...!”


Kesulitan bernapas juga membuatnya semakin sulit. Runo merasa air sudah masuk ke dalam paru-parunya lebih banyak dan itu akan semakin membuatnya kesulitan. Belum lagi, luka yang ia derita.


Setiap luka yang dibuat Ramon akan membuat pergerakan Runo jadi semakin berat.


'Aku tidak akan menyerah!'


Semakin lemah ia di dalam air, semakin ia memperkuat tekad pada misi yang telah diberikannya. Percaya bahwa sisanya akan diurus pada kekuatan utama, Runo memilih untuk mendukung. Setidaknya dengan merusak kekuatan Lingkaran itu.


Sesampainya di daratan, ia akhirnya dapat melihat langit. Ia mengulurkan tangan kanan sembari ia bertahan dengan tangan kiri yang memegang pinggiran tanah berumput agar tetap bertahan dalam posisinya. Sembari agar Ramon tidak menjatuhkannya kembali ke dalam air.


“Hah ...akhirnya!”


Salju turun dengan cepat bagai badai menghantam, mengalahkan cuaca buruk dan membuat langit memutih sama seperti saljunya. Runo menyentuh lingkaran itu dan berhasil merusaknya hingga Chameleon yang saat ini dalam pembekuan mengeluarkan darah.


“Apa? Apa yang terjadi?”


“Pembekuan tubuh seharusnya tidak membuat darahnya keluar.”


Wujud Gista akhirnya pulih kembali, ia sengaja membiarkan sisa dari partikel yang berarti bagian tubuhnya sendiri tetap berada di dalam. Sementara dirinya yang masih bertahan akan kembali.


“Lingkaran itu tidak mengenai kita lagi bukan?” tanya Gista.


“Eh, ah ...iya. Jika dipikir-pikir, stamina dan pandangan dan beberapa indera yang sempat hilang kini kembali lagi.” Ketua Irawan menjawab.


“Hm, bagus. Ini berkat Runo. Aku pun bisa memulihkan diri secepat ini berkatnya,” ucap Gista.


“Nona Gista!!” teriak Mahanta.


Meski kekuatan itu akan membuatnya melemah lebih dari menyelam ke dalam lautan. Setelah berhasil merusak kekuatan Chameleon yang melemahkan para Pejuang NED, dalam kondisi tak sadarkan diri, kedua kalinya diseret kembali ke dalam laut.


Karena Ramon ataupun bersama Ramon. Keduanya terjatuh sekali lagi ke dalam laut lepas yang tak mengenal apa itu ketenangan. Apa yang menunggu siapa pun takkan ada yang tahu.


Lalu, di rumah panggung Chameleon.


“Gista, semuanya! Jangan lengah! Kekuatan kalian mungkin bisa memperburuk keadaan tubuh Chameleon tapi—!”


Tidak ada waktu untuk bersantai, terlebih Iki merencanakan sesuatu yang di luar nalar hanya demi membantu Chameleon seorang.


Satu persatu bawahan Chameleon yang terdiri dari 4 orang, Jinan, Hendrik, Sera, dan Caraka akhirnya tersingkir. Tetapi berbeda dengan Mr. Iki Gentle yang masih bertahan hingga saat ini dan tetap bersama Chameleon.


Ada beberapa bawahan Chameleon yang saat ini berada di perkotaan negara GL. Namun nampaknya mereka memiliki tugas berbeda, entah apa tapi sampai saat ini masih belum jelas.


Lalu, Iki yang sempat ditumbangkan karena dalam kondisi melemah, ia berusaha melakukan sesuatu yang besar. Chameleon pun sadar itu.


Dalam posisi tengkurap, Iki bergumam lirih seraya membuka satu telapak tangannya. Perlahan muncul sesuatu di atas sana yang berbentuk sebuah lingkaran hitam transparan.


“Black Hole.”


Membutuhkan banyak tenaga serta waktu hanya untuk membuat kekuatan jadi semakin berguna. Lingkaran hitam transparan itu kemudian membesar dan semakin membesar hingga memenuhi seluruh pulau ini.


Guncangan dahsyat akibat pengaruh kekuatan Iki, mulai dirasakan oleh Pejuang NED.


“Apa yang terjadi?”


“Hahaha!! Bagus, Mr. Iki Gentle!” teriak Chameleon yang kini sudah pulih kembali.


“Apa, Chameleon! Sejak kapan?!”


GRUDUK!!


Rumah panggung terlihat akan rubuh, namun yang sebenarnya terjadi ialah, terangkat. Pulau ini terangkat ke atas, setengah dari perjalanan berada di antara laut dan langit ia mengambang.


“Apa-apaan ini? Hei!”


“Sepertinya terjadi hal buruk, Nona Gista, Anda tahu sesuatu?”


“Gawat, ini pasti ...!” Orion yang terlihat panik lantas segera turun ke lantai bawah. Ia jelas tahu ini kekuatan milik siapa.


Getaran yang hebat, dan angin seolah menghisap mereka ke atas pun sudah menjadi sebuah petunjuk.


“Iki, pembunuh itu yang melakukannya?!”


Setelah berhasil turun dan berhadapan dengan Iki yang masih terbaring, pulau ini sudah terlahap oleh Black Hole. Masuk ke dalam ruang hampa yang sekalinya masuk takkan pernah ada yang keluar.


“Keluar dari rumah! Cepat!” teriak Orion.


Dinding yang dibuat oleh Gista dan Runo seketika hancur, tersisa ratusan keping yang melayang bebas ke segala arah di ruang hampa ini.


“Ini ...”


“Kekuatan salah satu bawahan Chameleon, si nomor dua. Pembunuh pro, Mr. Iki Gentle!” ungkap Orion.


“Kekuatan yang persis diceritakan oleh Ketua Meera. Apa dia pernah merasakan hal ini juga?” tanya Gista.


“Tidak. Kalau dia pernah merasakannya maka dia takkan berada di dunia nyata,” kata Orion.


“Yang dia rasakan hanyalah cara lubang itu menghisapnya, dan saat itu pula dia merasakan bahwa dirinya takkan pernah kembali kalau sekali masuk ke dalam lubang yang dibuat oleh orang itu,” imbuhnya.


“Begitu.”


Iki dan Chameleon mereka merasakan kesenangannya. Mereka sungguh senang karena dapat menjebak musuh-musuhnya di sini.


“Haha! Anak lelaki salju itu lumayan juga! Tak salah aku berniat mengincarnya, tapi tetap saja. Meskipun dia berhasil menghancurkan kekuatan itu, tapi dia tidak bisa menyentuh kekuatan pengendaliku,” tutur Chameleon yang tertawa.


“Chameleon! Dia sepenuhnya pulih?!”


“Ck, apakah ini disebut misi yang gagal?” ujar Orion berdecak kesal.


“Tidak, kita sudah menyergapnya. Mereka saja yang terlalu kuat,” ucap Gista.


“Aku setuju! Pria yang memiliki api itu bahkan terkejut dengan kedatanganku,” sahut Endaru.


“Ha, semua akan jadi kacau jika aku tidak memperingatimu,” kata Ketua Irawan.


“Hentikan perdebatan kalian yang tidak berguna.”


“Ha! Jangan bercanda!” Tiba-tiba saja suara yang berbeda dari rekan-rekan yang seharusnya ada di sini terdengar.


“Siapa?”


Suara ini familiar khususnya bagi seorang pemimpin organisasi yang membawahi semua ketua, Gista Arutala.


“Kalian!”


Datanglah bantuan tak terduga. Ketua Ganendra, Ketua Eka Radhika lalu Ketua Dharmawangsa. Mereka bertiga muncul secara tiba-tiba, siapa pun yang melihat takkan menyangka ini telah terjadi.


“Sejak kapan mereka masuk?” Iki bertanya-tanya dengan bingung.


“Tidak apa, Mr. Iki Gentle. Semuanya akan aku habisi,” ucap Chameleon seraya membantunya berdiri.


“Sudah aku bilang jangan panggil aku dengan nama itu,” ketus Iki.


“Bicaramu kembali jadi tidak sopan. Bisa tidak bicara seperti anjing setiaku, Caraka?”


“Pria itu bodoh. Kenapa bisa dia ada di kelompokmu?”


“Bodoh tapi kuat, meski akhirnya dikalahkan oleh pemilik Api Abadi yang asli,” ucap Chameleon.


Apa pun situasinya, tersenyum adalah suatu kebiasaan Chameleon. Ia sangat menikmati pertarungan hidup dan mati ini. Ia bahkan berharap setidaknya ia dilukai lebih dalam lagi oleh mereka sampai benar-benar tidak bisa pulih.


“Pria itu akan menghabisi kita. Jangan banyak omong lagi,” ucap Endaru.


“Kau yang sejak tadi terus berbicara, tahu!” teriak Mahanta.


“Jangan terlalu terburu-buru, kita harus membuat mereka berpisah. Pertama, tumbangkan pemilik kekuatan lubang hampa, agar kita semua tak terjebak di sini selamanya,” titah Gista.


“Baik, saya mengerti!” Serentak semua ketua yang berkumpul. Lalu Mahanta.


Mengincar Iki adalah hal yang mustahil apabila pria itu selalu dilindungi Chameleon. Maka dari itu, mereka membagi kelompok jadi dua. Satu menggiring Chameleon, lalu yang kedua akan menumbangkan Iki.


“Aku akan bergerak langsung!”


Orion maju ke barisan terdepan. Sebelum dirinya akan tumbang lagi, ia akan mengincar pembunuh tersebut. Tapi Chameleon yang bergerak cepat langsung menghantam Orion dengan kekuatan penirunya; gundukan tanah milik Ketua Irawan.


Alhasil, Orion kembali terjatuh ke ruang bawah tanah.


“Hm, aku teringat aku belum membuat mayat lain untuk memiliki kekuatan ini,” gumam Chameleon.


“Jangan harap!” sahut Ketua Irawan, melesat cepat dengan bantuan tanah yang ia ambil dari pulau, menuju Chameleon yang melayang di permukaan lubang hampa.


“Kalau yang ini sudah,” kata Chameleon sembari mengangkat telapak tangan ke depan dan menghempaskan tubuh Ketua Irawan hingga menjauh dari pulau.


Keluar dari area pula, maka lubang hampa yang seolah tak memiliki gravitasi membuat tubuh Ketua Irawan mengambang.


“Ah, sepertinya akan jauh lebih sulit karena adanya lubang hampa.” Gista masih terdiam di sudut ruangan dalam di lantai dua. Ia masih berpikir tentang bagaimana cara ia mengalahkan Chameleon.


Tentunya tak sendiri, bersama teman-temannya.


“Chameleon!!” Teriakan dari rekan-rekan Gista terdengar meraung keras.


Ketua Dharma melakukan pergerakan yang sangat jelas, namun kecepatan rantai emasnya saat terjulur keluar sangatlah tidak biasa. Bahkan memiliki kecepatan yang sama seperti kecepatan cahaya.


Rantai emas mengikat tubuh Chameleon dan Iki secara terpisah namun secara bersamaan. Ia mengendalikannya dari jauh, di atap rumah panggung.


Sementara Ketua Radhika dan Ganendra akan mengincar salah satu dari musuh yang ada. Ketua Radhika mengincar Iki sementara Ketua Ganendra mengincar Chameleon.


Pukulan kuat dan hantaman besi yang tajam langsung dibuat dalam waktu singkat, menghajar kedua musuh secara bersamaan dan bertubi-tubi tiada ampun.


Tak mengenal waktu atau perasaan lagi, semua Ketua yang hadir akan mengerahkan seluruh kekuatan mereka di sini.


Inti dari kerja sama bukanlah rencana yang sudah dibuat terlebih dahulu melainkan karena mereka menyadari peran apa yang mereka miliki lalu menggunakan peran itu untuk sebagaimana peran dijalankan.


Hadirnya 3 ketua yang pada awalnya ditugaskan ke perkotaan, justru hadir untuk membantu Gista bukanlah suatu kebetulan melainkan dari insting mereka masing-masing.


Merasa bahwa pertarungan akan berakhir apabila mereka menghabisi Chameleon bersamaan.


“Tidak akan kubiarkan kau kabur!”


Tapi,


Meskipun dengan hadirnya mereka dapat membuat Gista beristirahat sejenak, namun bukan berarti itu akan membuat Chameleon kesulitan.


“Awas! Ketua Dharma!” teriak Ketua Radhika. Ia mendorong Ketua Dharma dengan membiarkan pundaknya terhantam oleh gundukan tanah dari belakang, Ketua Eka terdorong hingga berdekatan dengan Chameleon yang kemudian turun ke tanah pulau.


“Ketua Eka Radhika, bagaimana kabarmu? Setelah mengungkap markasku dulu sekarang kau juga ikut-ikutan main di sini,” ujar Chameleon tersenyum seraya mengangkat kedua tangan Radhika dengan bayangan hitam.


“Orang sepertimu, ambisi konyol apa yang patut dipertaruhkan sampai menghabisi banyak nyawa orang tak bersalah,” balas Radhika dengan senyum tipis.


“Kau pikir semua orang suci? Mereka setidaknya memiliki lebih dari satu kesalahan.”


“Aku tahu. Tapi mereka tidaklah bersalah sampai harus dikorbankan nyawanya oleh seseorang yang sudah dianggap sebagai musuh dunia,” balas Radhika.


Ketua Ganendra datang dengan tinju besar di tangannya, dari atas ia langsung mendaratkan pukulannya begitu saja. Namun, lagi-lagi Chameleon bisa meloloskan diri dengan mengubah wujudnya menjadi asap.


Ketua Radhika yang sudah terlepas segera membantunya dengan kekuatannya sendiri. Besi-besi yang membentuk dari tangan termasuk apa yang ada di dalam rumah panggung semuanya terkumpul menjadi satu.


Sebagai Ketua Radhika pusatnya, seluruh puing-puing besi tersebut lantas ia lemparkan ke arah Chameleon yang tengah berwujud asap.


Tak ingin menggunakan banyak waktu, Ketua Radhika membentuk sebuah kubus dari besi hanya untuk mengurung Chameleon.


Sementara di sisi lain, Iki yang nampaknya sudah ditumbangkan lebih awal oleh Ketua Radhika, justru kembali lagi. Ia menggunakan sedikit dari Black Hole tuk menarik keberadaan kedua ketua di sana.


“Menjauhlah!!”


Sebelum Iki melancarkan serangannya, Endaru memperluas jangkauan serang, medan magnet yang hanya berpengaruh pada Chameleon dan Iki seketika kedua musuh itu ambruk dengan kepala lebih dulu yang membentur.


“Bagus, Pahlawan Kota!”


Ketua Dharma menyempatkan waktu sedetik sebelum mereka kembali bangkit, ia menggunakan rantai emasnya sekali lagi tuk mengikat kencang Iki dan Chameleon.


“Menjauhlah jika salah satu rantainya hancur,” ucap Ketua Dharma memperingati rekan-rekannya.


“Bertahanlah sebentar Ketua Dharmawangsa. Saya akan menggunakan pembekuan lagi,” ucap Gista dengan bersandar dinding, ia berjalan saja sudah sangat susah bahkan sampai harus dibantu oleh Mahanta.


“Baik, saya mengerti.”


Lapisan es muncul dalam sekejap, memenuhi pulau dan menarik paksa pecahan kristal yang masih tersimpan di dalam tubuh Chameleon. Karena penggunanya sudah lebih dari cukup untuk beristirahat, maka kekuatannya akan kembali membekukan tubuh Chameleon.


“Kekuatanmu benar-benar merepotkan. Padahal dulu kau tak pernah seperti ini,” gerutu Chameleon yang mengakui bahwa dirinya terdesak kerepotan karena kekuatan Gista.


“Begitu kah? Lantas kenapa kau tidak mati saja? Hidup itu merepotkan bukan?” sindir Gista.


ZRASSHHHH!!!


Semua sindiran maupun ejekan maut kini berubah menjadi semburan darah bagai air mancur di pertengahan kota. Chameleon merobek tubuhnya sendiri hingga terbagi menjadi dua.


“Apa yang terjadi?!”


Orion yang berhasil keluar dari gundukan tanah yang sejak tadi terus menimbunnya berkata, “Dia akan muncul dari dalam bayangan.”


“Apa? Dari mana kamu tahu?”


Kubus yang dibuat dari kekuatan Ketua Radhika hancur, tubuh Chameleon yang terkurung mendadak mengeluarkan semburan darah yang sangat luar biasa. Semuanya terkejut, terutama yang sangat dekat dengannya.


“MENJAUHLAH!!” teriak Orion menjadi pengingat bagi mereka yang masih berdekatan dengan Chameleon.


Seluruh pulau yang penuh dengan hutan, rumput, semua yang serba hijau dan rumah panggung seolah menyatu dengan pulau itu sendiri, berubah menjadi lautan hitam. Seperti lumpur namun ini adalah bayangan.


Ketua Radhika dan Ganendra melompat mundur ke belakang, berdiri di dekat dinding luar rumah panggung.


“Dia ada di bawah?”


“Dia akan menyerang kalian semua dari bawah! Persiapkan pertahanan!”


Dengan mengikuti perintah Orion, mereka semua pun menyiapkan perisai masing-masing. Kecuali Orion sendiri, ia sama sekali tak menggunakannya karena tahu Chameleon takkan berani bermacam-macam karena ada Api Abadi di dalam tubuhnya.


“Ah, menyebalkan!”


Serangan itu tak keluar karena mereka semua telah menyiapkan perisai masing-masing. Chameleon menggerutu lantas ia kesal karena tak pernah mendapat kesempatan untuk menyerang mereka semua sekaligus.


“Ck, dia masih bisa bergerak bahkan setelah aku menggunakan seluruh kekuatanku?” Endaru berdecak kesal.


Getaran hebat di sekeliling tubuh Chameleon terlihat sangat jelas bahwa kekuatan magnet Endaru masih sangat terasa baginya namun inilah yang dimaksud kekuatan absoult. Entah menahan atau mengeluarkan, semua apa pun itu bisa ia lakukan.


“Dasar curang!” teriak Endaru.


“Benar sekali, kekuatanmu itu sangat curang loh! Tidak berniat untuk menyerah ya?” gerutu Orion yang tampaknya sudah mulai di ambang batas emosinya.


“Kalau curang, bukankah kalian sama saja? Daripada curang, lebih cocok jika disebut adil karena aku diburu banyak orang sedangkan aku sendiri memiliki kekuatan seperti dewa,” balas Chameleon.


“Entah kenapa perkataannya masuk akal juga,” gumam Mahanta.


“Jangan sahut perkataannya. Dia itu 'kan tidak waras,” bisik Ketua Irawan.


“HAH?! APA YANG KALIAN BICARAKAN! JANGAN BANYAK NGOCEH! HOI!” Yang paling marah di sini ternyata adalah Mr. Iki Gentle, si nomor dua yang gagal karena penyergapan di awal pertarungan.


Meski dikatakan gagal dan kini melemah, namun lihatlah hasil dari kekuatannya? Black Hole telah menyerap pulau terpencil ini sekaligus. Siapa pun tak mungkin bisa keluar dari sini, namun Orion yakin bahwa mereka menyembunyikan sesuatu di sini.


“Mr. Iki Gentle,” panggil Chameleon.


“Jangan panggil aku dengan nama itu!” protes Iki yang masih bertahan meski di sekitarnya udara kian menipis.


“Kamu tidak perlu turun tangan lagi. Sisanya akan dibereskan oleh dia, dan kemudian kita akan keluar dan menyaksikan kelahiran dunia yang baru,” ucap Chameleon.


Lautan hitam yang memenunhi seluruh pulau, membuat mereka kesulitan berjalan karena semata kaki mereka terendam. Sekilas terlihat lautan biasanya, namun begitu diperhatikan lebih jelas ...


“Benda ini semakin tinggi?”


“Tidak, tunggu!”


Terlihat seperti air hitam meninggi, namun nyatanya mereka sendirilah yang terhisap ke dalam secara perlahan. Tak hanya itu, ketika satu persatu dari mereka terluka tanpa disadari, seseorang tertawa di balik layar pertarungan.